
Berkesempatan bisa melihat-lihat pameran turots karya masayikh Sukorejo adalah suatu rezeki tersendiri. Kesempatan seperti ini terkadang malah sulit didapatkan oleh orang yang jaraknya ke lokasi lebih dekat daripada yang jauh (seperti saya, yang jaraknya 400 km). Meskipun tidak secara persis menegaskan statemen ini, ungkapan “Kedekatan terkadang justru menjadi penghalang” (yang konteksnya ditujukan kepada orang yang terlalu dekat dengan orang alim namun tidak dapat mengambil istifadah darinya) seakan berlaku dalam cerita ini.
Keberuntungan saya hingga bisa tiba di lantai dasar aula utama PP Salafiyah Syafiiyah Sukorejo ini bukan tanpa wasilah. Bedah buku Syair Madura Kiai As’ad Syamsul Arifin-lah penyebabnya. Saya bertugas untuk memberikan masukan dan mengkritisi tafsir psikologi konseling karya Bapak Samsul A Hasan atas Syair Madura karya Kiai As’ad tersebut. Maka, kesempatan hadir ke sudut Pameran Turos dalam rangka Islamic Book Fair 2026 pun terjadi. Seakan-akan, kesempatan ini merupakan sebagian upah untuk buku 402 halaman tersebut yang saya baca dalam 4 hari.
Lantai bawah yang lebar itu ditata sedemikian apik juga epik. Dindingnya dilapisi latar hitam redup. Di situ dipajang karya-karya masayikh, foto-foto penting, linimasa perkembangan pondok dan kepengasuhan. Beberapa karya lukisan santri juga tampak di sudut lainnya. Di ruang yang sama, di pojok yang berbeda, ada pameran digital library. Masa lalu, masa kini, dan masa depan seoalah bertumpuk di dalam satu ruangan.
Saat berkeliling untuk mencermati, muncul dalam lintasan pikiran: ingatan pada karya-karya Syaikh Abdul Qadir al Jailani yang raib selama ratusan tahun dan baru ditemukan setelah ditelisik selama kurang lebih tiga dasawarsa di pelbagai perpustakaan di banyak negara. Sebelumnya, orang mengenal Syaikh dari Jilan tersebut ‘hanya’ berdasarkan karomah-karomahnya sebagaimana, di antaranya, tercantum di dalam Al Lujjain ad Dani, karya Syaikh Ja’far bin Hassan Al-Barzanji. Karya tulisnya pun hanya sebatas Sir al Asrar yang dibicarakan. Lalu, datanglah Syaikh Dr. Muhammad Fadil al Jailani membawa setumpuk data karya beliau yang hilang selama kurang lebih 8 abad lamanya sehingga dunia terperangah, menyadari suatu hal yang menakjubkan, bahwa ternyata Syaikh Abdul Qadir memiliki puluhan karya penting, termasuk karya Tafsir Al Jailani.
Begitu pula dengan Kiai As’ad yang di mata umum (saya termasuk di dalamnya) yang ‘hanya’ dikenal karena kemasyhuran karomahnya, junil, dan kesaktiannya semata. Pameran turos membukakan mata hadirin tentang suatu kenyataan ilmiah yang lain di balik sosok Kiai As’ad sebagai seorang ulama sejati, suatu martabat tertinggi dalam keislaman sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi Muhammad saw.
Melihat sosok Kiai As’ad lebih dekat yang ternyata memilik banyak karya (termasuk yang membahas perekonomian Islam) telah menyuguhkan pemandangan yang baru, persepktif yang baru, bahwa pengarsipan adalah hal yang buruk dalam khazanah keislaman kita, khususnya dalam tradisi pesantren. Sebab itu, mulai hari ini, ia harus lebih digiatkan. Bukankah mazhab Imam Laits akhirnya hilang—meskipun beliau dikenal sangat alim—karena tidak ada yang mengkodifikasikan fatwa-fatwanya serta kekurangan murid yang memiliki perhatian dan mendokumentasikannya? Ilmu dan khazanah keilmuan seorang ‘alim ‘allamah namun tanpa penerus yang peduli pada karyanya hanya akan melahirkan keterputusan rantai sanad keilmuan pada generasi berikutnya.
Selain karya pendiri (Kiai Syamsul Arifin), dalam pameran ini juga dipajang karya putri dan menantu Kiai As’ad (Nyai Zainiyah As’ad dan Kiai Dhofir Munawwar). Maka, tidak ada alasan untuk tidak memberikan apresiasi setinggi-setingginya kepada para petugas dan panitia pameran ini. Syabas tertinggi tentu saja untuk pengasuh keempat (Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy) yang telah menggagasnya. Tanpa instruksi darinya, pameran ini mungkin tidak terjadi sedetil dan secermat yang kita lihat di dalam pameran yang berlangsung sejak 22 sampai 28 Oktober 2026 tersebut. Sebab kita tahu, Kiai Azaim pun telah melahirkan sejumlah karya.
Dalam buku “Kitab Kiai Pesantren” (Bildung, 2024), Damanhuri membuat catatan penting, bahwa figur kekiaian itu mengharuskan banyak syarat. Menurutnya, setidaknya ada empat syarat utama dan satu syarat “kekuatan tambahan”. Pertama, sang kiai memang berdarah/putra kiai; kedua, memiliki jalur kekerabatan dengan kiai yang lain (kinship); ketiga, memiliki lembaga/pesantren; keempat, ahli dalam bidang agama. Adapun yang kelima, yang dianggap sebagai bonus tetapi menjadi kunci, adalah memiliki karya. Menurut Damanhuri, kiai akan lebih powerful (mempunyai kekuatan atau kuasa yang lebih dibandingkan dengan yang lain) apabila ia punya karya.
Walhasil, pondok-pondok pesantren sudah mulai memikirkan agenda besar untuk kegiatan sejenis ini (sebagaimana Festival Cinta Buku yang diselenggrakan di Aula Annuqayah, atau Pekan Ngaji di PP Bata-Bata, Pena Santri di Banyuanyar, Festival Pesantren Tebuireng, dll). Selayaknya, atau bahkan seharusnya, dunia harus melakukan atau merayakan peristiwa-peristiwa keilmuan seperti ini karena pesantren berkelit-kelindan dengan ilmu dan sastra secara khusus, yang secara etimologis ia terambil dari sumber yang sama: shastri, shastra.
Sumber Foto: S3Tv PP Salafiyah Syafiiyah Sukorejo




