Tampilkan postingan dengan label Diva Press. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diva Press. Tampilkan semua postingan

20 Mei 2025

Duli di Terompah Nabi dan Madah Makkiyah



 

Di semester kedua tahun 2024 ini, saya menerbitkan dua buku puisi baru bersamaan. Dua-duanya tentang cinta. Yang pertama adalah mahabbatur rasul. Yang kedua adalah puisi-puisi cinta kepada kekasih yang telah tiada.

Menerbitkan dua buku puisi bersamaan, lebih-lebih itu buku puisi, nyaris dianggap sebagai pekerjaan paling gabut di masa sekarang. Tidak banyak penerbit yang mau menerbitkan buku puisi kecuali atas uluran tangan dari sepenulis, semisal dalam pendanaan atau jaminan pertanggungjawaban dalam hal distribusinya setelah terbit. Pernyataan ini bukan berdasarkan data survei, hanya mengacu pada keluh-kesah teman-teman dalam jaringan dekat. Dalam kasus seperti ini, mereka berbisik atau bicara pelan-pelan soal penerbitan buku puisi. Kebetulan, saya tidak termasuk dalam kelompok itu. Dua buku puisi saya ini diterbitkan nyaris bersamaan oleh Diva Press.

Jika buku “Duli di Terompah Nabi” terbit, akal bisnis saya yang cetek masih dapat menjangkaunya, tentu saja penerbitnya juga, mengingat buku itu adalah puisi-puisi yang berisi madah puja-puji terhadap Kanjeng Nabi Muhammad saw. Jadi, jika terbit dan diacarakan di beberapa tempat, apalagi di bulan Maulid, masih ada lah kemungkinan lakunya. Kenyatannnya, saya kurang tahu karena belum mendapatkan kabar cetak ulang dari penerbit sejauh ini. Setidaknya, dengan melihat adanya beberapa pemesan kepada saya secara langsung atau minat membeli para pengunjung di acara tempat saya melaksanakan kegiatan bedah buku sudah cukup menjadi alasan bahwa masih ada penyuka puisi. Boleh jadi di antara mereka memang tidak suka puisi namun tetap membeli buku Duli di Termpah Nabi hanya karena ada unsur shalawat dan unsur nabawinya. Mungkin pula sang pembeli tidak menyukai puisi tapi suka madah nabawi seperit Diba’, Barzanji, Burdah, Simtudduror, atau sejenis itu yang secara kebetulan buku tersebut memuat dua terjemahan Maulid Dayba’i dan Simtud Duror (sesi mahallul qiyam). 



Yang mengherankan adalah buku satuya, yaitu buku puisi Madah Makkiyah. Buku ini  juga diterbitkan oleh Diva Press. Puisi-puisi di dalam buku tersebut adalah puisi-puisi personal (yang biasanya hanya ditulis di dalam diari dan disimpan sendiri) untuk almarhumah istri saya. Apakah kemungkinan unsur bisnis dari puisi-puisi semacam itu? Bahkan saya pun nyaris menafikannya. Saya menduga, jangan-jangan penerbit merilis buku ini bukan karena pertimbangan bisnis, tapi “kasihan saja”, atau bentuk timbal balik kerena saya telah menerbitkan banyak buku di penerbitnya.

Atau, jangan-jangan, ia melihat ada sesuatu yang penting di dalam buku itu namun justru tidak tampak di mata saya sendiri?

Madah Makkiyah adalah puisi-puisi pujian yang saya tulis dan saya persembahkan untuk mendiang istri saya, Makkiyah. Yang pasti, puisi ini eksklusif karena puisi-puisi yang dimuat di dalamnya adalah puisi-puisi awal sejak saya baru mengenalnya, hidup bersamanya, dan saya tetap menulis puisi untuknya sebagai persembahan dan doa setelah beliau tiada. Mungkin tidak banyak orang yang membuat arsip seperti ini, terutama terkait hubungan kasih-kinasih dengan pasangan hidupnya, lebih-lebih jika sampai diterbitkan secara resmi. Dalam hal ini, dengan diterbitkannya buku Madah Makkiyah oleh Diva Press, saya merasa diistimewakan.
 
Mungkin, ada juga penyair yang menulis puisi dengan cara serupa itu: menulis puisi personal untuk kekasihnya yang kelak menjadi istrinya, lalu tetap menuliskannya hingga ia tiada, namun saya cukup bangga dan yakin, buku Madah Makkiyah ini menjadi istimewa—setidaknya di mata saya—karena hubungan cinta yang diungkapkan di dalam buku puisi itu bukanlah hubungan asmara biasa, melainkan dipertautkan oleh ‘kehadiran’ pihak ketiga, yaitu DIA yang disanjung di dalam buku puisi sebelumnya, Duli diTerompah Nabi, yaitu nabi Muhammad saw.

Jika Anda membaca puisi-puisi Duli di Terompah Nabi kemudian membaca Madah Makkiyah, Anda akan menemukan kenyataan bahwa pujian yang saya sanjungkan kepada Nyai Makkiyah tetaplah selalu berkelit-kelindan terhadap pujian yang saya tautkan kepada Rasulullah. Betapa bahagia saya dengnn kedua buku puisi ini, bahkan melampaui kebahagian saya terhadap buku-buku puisi saya yang lainnya.


26 Desember 2024

Enam Pemenang Lomba Buku Puisi Madah Nabawi


Tahun 2024 menjadi tahun ajaib bagi saya. Banyak buku yang saya kerjakan terbit di tahun itu, termasuk dua buku puisi saya sendiri. Dua buku di Pustaka Jaya cetak ulang. Buku di Cantrik dicetak yang ketiga kalinya dengan sampul baru. Ada juga buku anak-anak yang terbit di KANAK. Tahun 2024 pokoknya asyik sekali.

Menerbitkan puisi terakhir di tahun 2019 sempat membuat saya pesimis bakal bisa menerbitkan puisi lagi. Sepertinya, energi saya sudah kendor. Memang benar, sesekali saya masih tetap menulis puisi, tapi tidak seproduktif tahun-tahun yang  silam dan juga tidak ada hasrat untuk diterbitkan. Apa ini tanda penuaan dalam kreativitas? Begitulah pertanyaan retoris yang sering saya ajukan kepada diri sendiri.

Pada akhirnya, saya menerbitkan dua buku puisi bersamaan, Duli di Terompah Nabi dan Madah Makkiyah. Kedua buku ini tidak terbit serta-merta. Ia ada pemantiknya, yaitu terbit gara-gara adanya Lomba Cipta Naskah Puisi Tunggal (Diva Press) Tentang Kanjeng Nabi Muhammad saw di bukan September 2023. Setelah pengumuman lomba tersebut ditutup di akhir September, saya didapuk panitia untuk memilih naskah-naskah buku madah yang akan dipilih untuk menjadi juara, hingga akhirnya di awal Januari tahun 2024, diputuskanlah para pemenangnya:
Juara 1 Muttaqin - Mengerjakan Cinta,
Juara 2 I.R. Zamzami - Seperti Nama yang Dikisahkan, dan
Juara 3 Muhammad Ali Zulfikar - Bolehkah Menggunakan Cara Lain untuk Mencintai Muhammad?.
Di samping para pemenang ini, ada apresiasi khusus dari penerbit untuk puisi “Burdah” karya Eko Sabto, juga untuk Alexander Robert Nainggolan untuk “Fragmen-Fragmen Bagi Sayyidina Muhammad” dan Arif Rahman Hakim untuk “Bulan Kopi dan Empat Imaji Nafas Nabi”. Enam buku penyair itu diterbitkan serentak oleh Diva Press dan tentu saja mereka mendapatkan penghargaan.

Nah, terpantik oleh buku-buku puisi madah nabawi itulah akhirnya saya punya ide untuk mengumpulkan puisi-puisi saya yang ditulis selama kurang lebih 30 tahun dengan tema serupa, yaitu pujian kepada Kanjeng Rasul. Akhir cerita, terbit pula kumpulan puisi tersebut dengan judul Duli di Terompah Nabi. Berbarengan pula, terbit pula puisi saya yang lain, Madah Makkiyah. Kerja kuratorial yang saya lakukan untuk enam buku pemenang di atas telah melengkapi kebahagiaan saya dengan terbitkan dua buku puisi sendiri secara bersamaan.

10 Februari 2024

Catatan Kuratorial untuk Lomba Cipta Naskah Puisi Tunggal (Diva Press)



oleh M Faizi

Beruntung sekali ada lomba ini, baik bagi saya sebagai juri atau bagi siapa pun sebagai peserta. Awalnya, ketika mendapat tawaran menjadi juri, saya menolak karena merasa tidak memiliki kapasitas yang memadai dalam ilmu sastra maupun puitika. Panitia meyakinkan bahwa dalam hal teknis penjurian, mereka bisa menunjuk orang lain. Mereka memilih saya justru karena ada unsur nonteknis sekaligus dan ekstrinsik puisi, yaitu karena alasan terkait tema nabawi.  

Sayembara ini membawa memori saya ke beberapa ratus tahun yang lalu, berfantasi pada masa Jakfar Al-Barzanji saat menulis puisi-puisi madah nabawi, saat membawanya ke sayembara lalu  memenangkannya. Meskipun suasana dan kualitasnya jelas berbeda dengan masa sekarang, tapi tetap ada kesamaan, yaitu girah dalam memuji Sang Tercinta saw.

Dalam sayembara kali ini, yang menang mendapatkan kesempatan menulis dan penghargaan dan yang tersisih, meskipun tidak mendapatkan penghargaan, mereka berhasil mendapatkan kesempatan untuk menulis dan telah memiliki manuskrip buku sendiri, manuskrip yang istimewa, yaitu madah nabawi. Secara spiritual, yang menang dan kalah sama saja, sama-sama mengalami pengalaman berharga karena telah menulis pujian untuk sosok yang sangat istimewa.

Saya sebagai juri satu-satunya sebetulnya telah mengajukan teman pendamping kepada panitia, tapi ditolak. Akhirnya, saya melakukannya sendirian, membaca 140-an manuskrip sampai tuntas hingga titik akhir halaman, satu per satu. Itulah mengapa saya butuh waktu hingga sekitar dua bulan setengah untuk menyelesaikannya karena meskipun menghadapi naskah yang amburadul, saya tetap membacanya sampai tuntas. Akan tetapi, bukan itu pekerjaan terberat, melainkan karena saya harus bergulat melawan perasaan jika yang harus dipertimbangkan dari naskah-naskah itu bukanlah sekadar unsur-unsur intrinsik naskah puisi (mencakup diksi, metafora, dlsb.), melainkan ekstrinsiknya juga, eksternalnya.

Adakah spirit nabawi pengarang muncul dan menyertai karyanya? Sejauh mana ketulusan pengarang melatarbelakangi penciptaannya? Tulus apa tidak si pengarang ini mengarang? Hal-hal seperti ini yang terkadang muncul dan ikut-ikutan ‘mengganggu’ perasaan saya di saat membaca, persoalan yang sebetulnya bukanlah urusan struktur puisi, yang tidak ada hubungannya dengan penilaian. Tetapi, saya tetap harus adil pada perasaan dan instink supaya tidak hanya selalu berpandangan materialistik. Melibatkan unsur dzauqiyah (selera) dalam menilai akan berisiko terhadap pertimbangan pendukung puisi, seperti diksi, rima, dan cara padang. Inilah sebabnya mengapa terkadang saya mengingkari perspektif objektivisme atau struktural dalam menilai, sebab terkait puisi, lebih-lebih madah nabawi, unsur subjektif dan ketertarikan dzauqiyah—dalam pandangan saya--harus ikut campur tangan.

Tentu saja, selama saya berkecimpung dalam penyeliaan dan pengamatan baris demi baris, bait demi bait, hingga buku secara keseluruhan, saya bertahan untuk menilai hanya hal-hal teknis kebahasaan dan puitika saja. Sementara faktor ekstrinsik—sebagaimana disebut di paragraf di atas—tentu saja hanyalah referensi impulsif, di luar ranah scoring, semata-mata pandangan berdasarkan selera saja. Yang pasti, saya merasa percaya diri—dan harus percaya diri—karena panitia telah memasrahkan penilaian secara penuh kepada saya. Termasuk salah satu usaha tersebut adalah dengan sebisa mungkin menghindari membaca biografi pengarang lebih dulu (menjadikan naskah seolah-olah anonim) supaya lebih adil dalam menimbang.

Pusparagam manuskrip yang disetorkan panitia kepada saya ditemukan secara lengkap bentuknya, mulai dari yang “sungguh sangat sederhana sekali” hingga yang bagus (yang benar-benar bagus, yang sempurna dari segi swa-sunting pengarangnya tanda ia dibuat tidak tergesa-gesa, pilhan metafor yang sangat unik/baru, nyaris tidak ada). Ada yang bagus, tapi diselipi satu-dua puisi yang dibuat asal-asalan. Ada yang asal buat saja, seolah yang penting ikut serta.

Soal urusan teknis, dalam pandangan saya, seorang penyair/penulis itu bahkan tidak boleh melakukan kesalahan, seperti kesalahan penulisan (pengetikan), lebih-lebih jika naskah tersebut akan disetor untuk sayembara. Mengapa? Karena karya, apalagi puisi, merupakan “anak ideologis”. Tentu tabu bagi seorang ‘sang ayah’ untuk memamerkan cacat anaknya kepada publik. Ayah hanya boleh bersikap bijak jika cacat si anak ideologis ini dikomentari publik. Mestinya, para peserta menyetor naskahnya dalam keadaan awasalah, tanpa tipo.

Banyak sekali, nyaris semuanya, saya temukan naskah yang dipenuhi dengan kesalahan fundamental, seperti kata penghubung di awal kalimat, keawaman penyair dalam membedakan imbuhan dan kata depan, dlsb. Penyair itu mestinya pasca-linguis, karena penyair—mengutip Kahlil Gibran—adalah ayah sekaligus ibu bahasa. Celakanya, yang tidak mempedulikan dan salah meletakkan tanda baca pun aduhai banyaknya. Bukan pengetahuan ketatabahasaan adalah bagian penting dari pondasi kepenyairan? Bagaimana mungkin seorang tukang bisa menyusun bata dengan kokoh jika pengetahuan membuat pondasinya saja tidak ada? Seorang arsitek yang dapat membuat bangunan posmodernis atau arsitektur unik (seperti Dynamic Tower di Dubai) tentu saja telah ‘selesai’ dalam hal pengetahuan arsitekturnya tentang dasar-dasar pondasi (komposit, tulang beton, rangka baja, dll). Masa iya dia mau membuat bangunan aneh-aneh sementara soal “cakar ayam” saja dia tidak tahu? Kira-kira, hubungan tata bahasa dengan puisi tak jauh pula beda-bedanya dengan perbandingan seperti ini.

Mengapa kasus seperti ini banyak terjadi? Apakah karena mereka berpemikiran bahwa penyair itu boleh berbuat apa saja? Atau mereka berpandangan bahwa yang penting menyampaikan (seperti orang mudah memahahi ragam percakapan orang lain) sehingga bahkan tanda baca pun dianggap tidak penting? Atau karena mereka salah memahami licencia poetica?
 
Ada beberapa penyair yang terlalu larut dengan unsur kesejarahan, kehidupan para Sahabat, sampai ia lupa untuk menulis madahnya, menulis refleksi dan ekspresi tentang Nabi itu sendiri. Sayembara kali ini bagaikan bazar puisi. Yang gelap dan yang polos sama-sama ada. Yang ngawur dan buruk hingga yang bagus tapi menjiplak sama-sama dipertaruhkan.

Di samping itu, dalam sekilas pandangan saya, penyair-penyair yang terlibat dalam sayembara kali ini kemiliki kesamaan selera berbahasa, terutama terkait diksi. Saya menemukan banyak sekali kata tugur, lindap, buhul, ingatan, garba, gelambir, getah, membersamai, rengkuh, ruap, tetiba, hingga kata aneh seperti “sesiapa”. Semua itu muncul di banyak karya dan oleh banyak penyair. Yang asyik-masyuk dengan kata-kata arkais dan Melayu Klasik pun tak kalah banyaknya, sampai-sampai saya bertanya: adakah setiap angkatan atau generasi punya selera diksi tersendiri?

Di antara peserta yang iseng adalah mereka yang menyetor naskah bukan puisi, melainkan artikel sejarah. Sepintas ia tampak seperti puisi secara visual karena disusun ke bawah. Rupanya, itu hanya langkah manipulatif, karena sebenarnya ia adalah cuplikan dari buku (atau makalah) tentang sejarah Nabi. Si penyair hanya bermodal keterampilan meng-‘enter’ sehingga naskahnya—secara tipografi—seolah-olah puisi. Akan tetapi, saya berusaha berbaik sangka: barangkali, orang seperti ini benar-benar ingin ikut berbahagia dan mendapatkan perhatian dari Nabi dengan mengikuti sayembara ini puisi yang memuji beliau saw., dengan cara apa pun. Ada pula yang, secara umum, puisinya bagus, hanya saja memaksakan diri dengan cara memasukkan puisi-puisi lain yang sangat berbeda dan tampak terburu-buru dibuat. Dugaan saya, hal ini terjadi karena puisi-puisinya yang siap belum cukup memenuhi syarat ketebalan sebagaimana diminta oleh panitia penyelenggara sayembara. Maka, darinya, lahirlah “terpaksa puisi” di antara “puisi yang sudah jadi”.

Satu-satunya yang menyedihkan adalah adanya plagiarisme. Bentuknya macam-macam. Ada yang mengambil puisi orang lain dan mendakunya, ada yang memasang terjemahan kitab Maulid populer (seperti Barzanji dan Simtud Duror) dan tanpa menyebutkan sumbernya (dan hal ini sama saja dengan mengakui miliknya sendiri—karena yang disebut ‘iqtibas’ atau “quotes style” [seperti mengutip ayat atau hadis atau quotes populer) itu hanya satu kalimat atau satu ungkapan saja sehingga ia tidak dikategorikan sebagai pelanggaran atau plagiarisme). Andai saja saya tidak punya pengalaman menerjemahkan sumber rujukan tersebut, kemungkinan besar naskah semacam itu akan lolos dari pemindaian kelancungan.

Terpilihnya karya A Muttaqin (Mengerjakan Cinta) adalah atas pertimbangan; ia menggunakan metafora-metafora yang baru, banyak memuji tapi tidak menghapus jejak kesejarahan Nabi saw., bahkan menggambarkan fragmen sejarah tersebut dalam ungkapan yang berbeda dengan referensi yang pernah saya baca, seperti keunikan cara si penyair dalam menggambarkan runtuhnya Kisra dan Persia. Ia juga menggambar syamail muhammadiyah sesuai asosiasi referensial, seperti frasa “yang bagaikan alif hidungnya” hingga ke bentuk kreasi dia sendiri, seperti “yang mripat dan telinganya menjangkau langit ketujuh”. Muttaqin sangat gemar menggunakan partikel “yang” untuk menjabarkan subjek dengan panjang lebar, atau dalam membuat perumpamaan. Buku “Mengerjakan Cinta” merupakan satu-satunya buku puisi yang menggunakan pola refrein (frasa/kalimat yang diulang-ulang). Hal ini menjadi penahbis bahwa buku ini memang buku puisi utuh yang siap dan dipersiapkan, ditulis dalam satu momen puitik sehingga relatif stabil dan bercita rasa yang sama satu dengan lainnya (bukan beberapa puisi yang ditulis terpisah dan kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku).

Sementara puisi-puisi karya IR Zamzami (Seperti Nama yang Dikisahkan) lebih mengedepankan citraan manis dalam membuat gambaran suasana, namun dia tidak mendayu-dayu, bahkan terkadang berani mengambil risiko pada sinestesia dengan membuat citraan yang tidak populer. Puisinya bertutur tentang banyak peristiwa, namun tidak detil. Penyair sepertinya menggangap serangkian kisah seputar Nabi itu sebagai common sense yang telah jamak diketahui pembaca. Ia juga menyelipkan metafora di antara narasi mukjizat, sehingga ketika ia membuat pengandaian tentang—misalnya—“pelepah kurma yang menangis”, tampaklah ia sebagai majas, padahal itu adalah ungkapan literal dalam ranah mukjizat.

Secara umum, gaya puisi IR Zamzami itu rata, konsisten, nyaris bergaya sama dalam semua puisinya.

Adapun manuskrip “Bolehkah Menggunakan Cara Lain untuk Mencintai Muhammad?” karya Muhammad Ali Zulfikar tampak sebagai buku yang paling memiliki syarat lengkap sebagai buku madah (pujian). Dengan banyak gaya mendayu, penyair sengaja memilih kata-kata ‘bercitarasa puisi’ seperti gelung, rindang cahaya, untuk kepentingan ornamentalnya. Penyair bahkan sering meletakkan Nabi sebagai teman bicara, sehingga ia seperti sedang curhat, berhadap-hadapan, antara “aku dan engkau”.

Ketiga puisi yang lain, yang sebelumnya tidak direncanakan untuk dipilih, baru muncul ide untuk juga diterbitkan setelah usul saya disetujui penyelenggara, yaitu Bapak Edi Mulyono & Diva Press. Ketiganya adalah karya Eko Sabto (Burdah), Alexander Robert Nainggolan (Fragmen-Fragmen bagi Sayyidina Muhammad), dan Arif Rahman Hakim (Bulan Kopi dan Empat Imaji Nafas Nabi). Sebetulnya, saya mengajukan 5 manuskrip lagi untuk dipilih. Tapi, panitia hanya menerima usul saya yang sebelumnya, yakni hanya mengambil 3 nomine saja.

Demikianlah pengalaman saya menjadi juri tunggal untuk sayembara cipta buku puisi tunggal yang diselenggarakan oleh Diva Press dalam rangka merayakan Maulid Nabi Muhammad saw. Sekali lagi, pengalaman ini sekaligus menandai pengalaman pertama bagi saya: menjadi juri tunggal untuk lomba cipta naskah puisi tunggal. Sejauh ini, pengalaman saya hanyalah menjadi juri lomba baca puisi di madrasah-madrasah di desa saya (berhenti menjuri sejak tahun 2007) serta menjadi bagian dari tim kurator buku antologi puisi bersama.

Yang tersisa dari pengalaman menjadi juri kali ini, di antara kesan mendalamnya, adalah; setiap kali membaca manuskrip demi manuskrip, rasanya saya sedang membaca ulang pelajaran kitab “Khulasoh Nurul Yaqin” (kitab sejarah Nabi) dalam bentuk puisi karena nyaris semua manuskrip yang masuk pasti menyitir kehidupan Nabi, mulai fase Mekkah hingga Madinah. Momen penjurian ini juga membuat efek baik bagi kreativitas pribadi. Ia membuat saya mencari-cari kembali puisi saya yang lama dan bertema nabawi. Di atas itu semua, momen ini telah membuat saya terlibat dalam suatu kegiatan yang di dalamnya ada pusaran magnetis alam semesta, yaitu Nabi Muhammad saw. Hanya karena alasan terakhir inilah saya mau menjadi juri dalam sayembara kali ini, tidak ada yang lainnya.