Artikel oleh Yohan Fikri, makalah untuk diskusi buku puisi "Surat Cinta untuk Malam" di Kafe Pustaka, Malang, 21 Juni 2025. Artikel ini pertama kali dimuat di Sivitas Kotheka, 21/06/2025
***
Memandang langit malam membentang lapang bertatahkan
bintang-bintang, barangkali adalah pengalaman purba sekaligus selalu
baru. Di sanalah puisi dan astronomi bertemu. Yang satu menggubah
bintang menjadi kata, yang lain menghitung cahaya dalam almanak. Tapi
di antara keduanya itu, ada sebuah jarak: kehampaan yang dipenuhi
pertanyaan. Dan di sanalah M. Faizi—selanjutnya, dengan tanpa
mengurangi takzim, saya sebut Faizi—melantunkan “Himne untuk
Malam”.
Alam semesta senantiasa mencawiskan tapis-tapis misteri. Setiap
kali satu tapis itu tersingkap, kejutan pun menyeruak, bagaikan
kelopak bunga yang terburai oleh angin tak terlihat. Si manusia pun
gugup. Namun, serentak dengan itu: takjub! Gugup dan takjub, atau
yang dalam ungkapan Rudolf Otto disebutnya dengan tremendum et
fascinans itu, adalah sepasang perasaan yang acap menjadi akar
dari spiritualitas. Barangkali, dari sanalah agama
pertama-tama lahir: dari satu malam yang sunyi, di bawah kubah langit
bertatah bintang, dan dari seorang manusia yang tak tahu kepada siapa
ia harus bicara, kecuali kepada cahaya di nun jauh itu.
Sejak awal peradabannya—bahkan mungkin jauh sebelum peradaban
itu sendiri—manusia senantisa memandang langit malam, dengan rasa
keingintahuan yang tak terbendung. Berkurun-kurun yang lalu,
bintang-bintang adalah kawan bagi para penakluk lautan. Manusia
memandang setiap konstelasi bintang-gemintang itu dengan sepasang
mata telanjang yang dipenuhi oleh ketakjuban. Adakah itu berarti
bintang-bintang, lebih dahulu dikenal manusia ketimbang aksara?
Mereka adalah huruf-huruf purba yang dibaca para pelaut untuk
mengarahkan sekoci bernavigasi semenjana. Sekali waktu, ia merupa
penunjuk jalan, penanda arah pulang. Tapi mungkin juga lebih dari
itu, ia adalah isyarat bahwa manusia, bahkan dalam kehampaan lautan,
tidak pernah benar-benar sendiri!
Kemudian datang Galileo membawa mata yang baru. Teleskop pertama
membuat yang jauh terasa lebih dekat, yang samar menjadi terbilang
terang. Sejak itu, manusia makin bernyali mendekatkan mata ke paras
langit, bahkan ingin menembus tapis misterinya. Lalu, mereka tak
hanya ingin melihat, tapi juga melampaui. Wahana-wahana antariksa pun
diciptakan. Voyager dikirim jauh menembus ruang antarplanet. Dan hari
ini, Webb membuka kelopak pandang yang bahkan bisa menatap awal mula
semesta. Tapi semakin jauh kita menjelajah, semakin terasa bahwa
satu-satunya kemegahan yang menyambut di antara sekat galaksi,
rupa-rupanya hanyalah gelap dan sunyi, yang
perkasa, yang meraja, yang digdaya!
Laut itu, kita menyebutnya kosmos. Dan manusia, untuk
pertama kalinya benar-benar sadar bahwa ia bukan penguasa panggung.
Ia hanya serpih dari puing-puing bintang mati. Debu—yang
berpendar hanya karena cahayanya dipinjam dari sesuatu yang lebih
dulu lenyap. Carl Sagan menyebut perjalanan menuju ke angkasa luar
sebagai perjalanan pulang menuju ke asal-usul, sebab debu-debu
bintang itulah rupa-rupanya yang membentuk jasad wadak kita. Maka,
menjelajahi angkasa luar adalah juga upaya menjelajahi diri dengan
maksud bukan sekadar untuk mengetahui lebih banyak apa yang
sebelumnya urung diketahui, melainkan untuk memahami lebih dalam.
Lalu bertanya: siapa sejatinya kita di dalam semesta? Pertanyaan itu,
saya bayangkan bergetar, mengguncang dinding-dinding rohani Faizi,
ketika ia membuka puisinya dengan:
Aku menyaksikan bintang-bintang di langit,
berdiri tegak, kepala mendanguk
tatapan tajam tapi terasa rabun,
berpijak kaki tapi terasa limbung.
Dibuka dengan adegan visual: “Aku menyaksikan
bintang-bintang di langit”, secara tiba-tiba, Faizi segera
membelokkan teropong pembacaan dan kesadaran kita. Si aku lirik
itu berdiri tegak, tetapi kepala mendanguk, tatap mata yang tajam itu
ternyata rabun, dan kaki yang berpijak pun rupanya limbung. Kita
dihantam oleh konfrontasi sejak bait pertama. Seolah-olah,
pertentangan-pertentangan itu mengisyaratkan sebuah disorientasi
eksistensial yang segera saja menyesaki diri si aku lirik. Ketegangan
antara yang tampak dan yang tak tertangkap pun mulai terasa.
Setelahnya, penyair mempertemukan dua kata kunci, iman dan
ragu, yang saling berpagutan.
“Berpagutan”, kata yang dipilih Faizi itu, saya percaya, tak
asal dicomot dari kamus diksi berlimpahan di tubuh kepenyairannya.
“Berpagutan” menyiratkan adanya tarik-menarik yang tak kunjung
usai, saling berebut dominasi, laiknya adegan dua kekasih saling
beradu cium. Adakah pandang terhalang embun/atau mataku yang
mulai tumpul?// Hamparan-hamparan pertanyaan/memayungi langit malam,”
tanya si aku lirik kemudian, dan kita tahu, puisi ini
mulai menggeser citraan visualnya menuju senarai pertanyaan
epistemologis: Bagaimana kita tahu bahwa kita tahu?
Mari kita sejenak melesat ke lain persoalan, yang, dalam hal ini,
sebetulnya masih mengandung centang-perentang keterkaitan. Carl
Sagan, suatu kali pernah menulis bahwa kita semua terbuat dari
partikel bintang. Pernyataan Sagan tersebut tentu bukan dalam
semangat kepenyairan, tetapi dalam kenyataan kosmologis. Bahwa
atom-atom dalam tubuh manusia, adalah residu dari bintang-bintang
yang meledak miliaran tahun yang lampau. Maka kita, para pengamat
malam, sebenarnya sedang menatap muasal tubuh kita sendiri yang
bersinar dari kejauhan itu.
Namun, seperti dalam puisi Faizi, tatapan itu tak cukup. Kita
mampu menatap, tetapi tak mampu melihat. Kita membaca bintang seperti
“sandi yang sukar dibaca.” Di sinilah puisi bersetubuh dengan
fisika—taruhlah begitu, sebab saya bingung pula mencari padanan
impresi yang saya tangkap sendiri. Bahwa cahaya bintang yang kita
lihat di malam ini, adalah juga masa lalu. Apakah itu berarti, kita
sejatinya tak pernah benar-benar melihat langit sebagaimana adanya,
melainkan sekadar sebagaimana ia pernah ada? Dalam bait-bait
berikutnya, Faizi membawa kita menuju pusat renungannya: keterbatasan
manusia dalam menatap semesta dan makna. Ia menulis:
Di antara mata yang menatap namun tak mampu melihat,
jantung berdetak namun tanpa takut dan harap.
Aku membaca larik-larik panjang bentala berhias cahaya
seperti sebuah sandi yang sukar dibaca.
Tertunduk ragu,
di antara batas terjauh kemampuan melihat
dan titik terendah tempat kaki menapak,
memikirkan hidup yang singkat dan tahun cahaya,
antara maut dan supernova,
aku tersedak saat bertanya:
Seberapa lama orang akan mampu mengenang
dan menghargai sebuah karya pemikiran?
Dua bait itu membawa ingatan saya terbang pada larik-larik puisi
“Manusia Pertama di Angkasa Luar” karya Subagio
Sastrowardoyo, pertanyaan yang disodorkan si aku lirik di atas
agaknya tak sekadar bicara soal ingatan, tetapi juga tentang kefanaan
intelektual. Di tengah galaksi yang tak memedulikan makna, bisakah
pemikiran manusia tugur bertahan? Seberapa lama orang akan mampu
mengenang/dan menghargai sebuah karya pemikiran? tukas aku
lirik. Namun, struktur puisi Faizi kemudian seperti
berpindah arah. Berangkat dari sebentang langit, ia mengajak kita
pulang ke palung hati. Dus, penyair barangkali hendak membawa
imajinasi kita membayangkan bagaimana guncangan keberadaan aku lirik,
yang pada akhirnya diubah dari sebentuk pengamatan menjadi
perenungan secara radikal. Walhasil, ia tak lagi hanya
seorang yang bertanya, tapi menjelma seorang yang
belajar.
Aku lirik menyadari bahwa melihat saja rupanya tak cukup
tanpa berpikir. Jika mata melihat namun tanpa
berpikir/yang tampak hanyalah gugusan, galaksi, bimasakti, dan
berpikir belaka, ternyatalah juga tak lagi berarti tanpa zikir,
tanpa mengingat. pApakah gunanya berpikir jika tak
berzikir? Apakah gunanya ilmu pengetahuan jika hanya menghitung
jumlah dan jarak?” resah si aku lirik, menegaskan sebuah
kesadaran yang nyaris metafisik, bahwa pengamatan, perhitungan,
bahkan pengetahuan ilmiah sekalipun, tidak menjawab kehampaan batin
yang mengguncang telak eksistensi manusia. Kita simak kembali
bait-bait Faizi.
Aku menyaksikan bintang-bintang yang berserakan
luas, indah, dan tak terhingga.
Manusia menjangkaunya dengan ilmu pengetahuan
namun langit selalu menjauh di dalam pengertian.
Faizi melanjutkan puisinya dengan kalimat yang seakan membangun
pialang antara rasionalisme dan spiritualitas. Manusia
menjangkaunya dengan ilmu pengetahuan/namun langit selalu menjauh di
dalam pengertian,” tulisnya, dan saya lantas tercenung. Dengan
ilmu pengetahuan yang mereka miliki, manusia dapat mengukur jarak
antargalaksi, tapi ia tak bisa mengukur makna keberadaan diri di
dalamnya. Langit, yang berupaya digapai dengan ilmu pengetahuan,
justru “selalu menjauh di dalam pengertian”. Kita bisa
merumuskan hukum-hukum gravitasi, tetapi toh kita tetap
tertunduk—sebagaimana ditulis Faizi—di antara maut dan
supernova. Ada juga sejenis renungan teologis; sebuah tafakur
tentang penciptaan. Faizi menulis:
Sesungguhnya, aku adalah ciptaan yang mahapelupa
karena itu belajar mengingat dengan cara memberi nama.
Sedangkan Pencipta senantiasa menegur
agar di saat berdiri, duduk, dan berbaring hati bergetar
tak pernah tidur, tak pernah tidur, tak pernah tidur.
Hanya ketika jagalah aku harus berpikir,
namun setiap detak jantung iring-seiring berzikir.
29/09/2017
Pada bait di atas, kita saksikan bagaimana penyair
menggambarkan si aku-lirik mengaku sebagai makhluk “mahapelupa”.
Dan karena itulah, ia mestibelajar mengingat dengan cara memberi
nama. Maha Pelupa; frasa ini mengingatkan saya tentang satu
istilah dalam ilmu nahwu, yakni isim tafdhil atau juga jamak
disebut sebagai af’alut tafdhil. Barangkali saya perlu
menyinggungnya sepintas.
Sesuai dengan maknanya yang mengandung unsur perbandingan, ism
tafdhil tergolong sebagai kata benda (isim) dan
mengikuti pola أَفْعَلُ
(af‘alu). Isim ini terbentuk dari
kata sifat dengan mengambil akar katanya terlebih dahulu, lalu
dibentuk mengikuti pola tersebut. Secara bentuk, ism tafdhil
memang menyerupai fi’il karena memakai pola yang juga
dikenal dalam bentuk kalimat kerja. Namun, meski secara gramatikal ia
adalah isim, fungsinya adalah untuk membandingkan dua hal
dan menunjukkan bahwa salah satunya memiliki kelebihan dibanding yang
lain. Dalam struktur kalimat, jenis kata ini digunakan untuk
mengungkapkan makna superlatif (paling/ter-) atau komparatif (lebih
dari).
“Mahapelupa” pada bait di atas ialah semacam pengakuan
eksistensial bahwa manusia, tidak hanya “pelupa”. Lebih dari itu,
ia adalah “makhluk yang paling pelupa”. Nyatanya memang manusia
tidak hanya lupa pada hal-hal kecil, tetapi juga acapkali lupa bahkan
pada hal yang paling hakiki. Ia mudah lupa dengan sangkan-parannya,
asal-usulnya, makna keberadaannya, bahkan pada Pencipta yang
menciptakannya. “Mahapelupa” ialah bentuk ungkapan superlatif.
Ia mirip fungsi isim tafdhil dalam bahasa Arab
yang—sebagaimana sudah disinggung—digunakan untuk menandai “yang
paling…” atau “lebih dibanding yang lain”. Dalam bahasa Arab,
isim tafdhil dibentuk dari kata sifat, lalu diberi pola
أَفْعَلُ
(af‘alu). Misalnya saja, منسيّ
(mansiyy) yang berarti “yang dilupakan”,
begitu mengikuti wazan (pola) tafdhil-nya, ia bisa
menjadi أَنْسَى
(ansā) yang berarti, “paling terlupa”
atau “yang maha pelupa”.
Dus, “mahapelupa” secara fungsi semantik sejajar dengan
struktur isim tafdhil. Ia bukan hanya kata sifat, tapi
sebuah pengakuan superlatif sekaligus komparatif
yang menyatakan bahwa manusia—dibanding ciptaan lainnya—tidak
saja lebih pelupa, bahkan mungkin yang maha pelupa.
Tapi Faizi, kita melihat, tidak berhenti cukup sampai di situ. Ia
mengarihkan semacam kelokan semantik: justru karena manusia adalah
makhluk mahapelupa, manusia belajar mengingat melalui nama-nama.
Dalam kerangka pemikiran Qur’ani—misalnya, tentang pengajaran
nama-nama kepada Adam—menamai adalah tindakan mengenang,
mengenali, sekaligus memahami. Maka dalam kekurangannya
itulah, manusia justru diberi potensi kelebihan, yakni melawan
lupa dengan nama, dengan bahasa.
Dari sini, kemudian kita akan menyaksikan sebuah ambivalensi.
Manusia—yang paling pelupa itu—pada saat yang sama, jugalah
makhluk yang paling mampu mengingat. “Mahapelupa” dalam larik
Faizi, dengan demikian, menjadi cermin keterbatasan di satu
sisi, tetapi juga keistimewaan di sisi yang lain: manusia
itu ansā, maha pelupa, tetapi serentak dengan itu, yang
juga paling dicatat. Tapi dengan apakah manusia menjadi yang
paling dicatat? Faizi menunjukkan, yakni dengan teguran. Terhadap
makhluk yang mahapelupa itu, Tuhan digambarkan penyair sebagai
Pencipta yang “senantiasa menegur”. Teguran itu—berbeda
dengan teguran dalam sinetron-sinetron azab di mana misalnya, jenazah
seorang penyabung ayam dipatuki sepasukan pitik misterius
sebagai pengingat bagi umat yang lalai—berupa detak hati yang
bergetar; kewaspadaan yang tak pernah tidur. Bahkan ketika jasad
manusia diam, batin mesti tetap menyala. Sedangkan Pencipta
senantiasa menegur/agar di saat berdiri, duduk, dan berbaring hati
bergetar/tak pernah tidur, tak pernah tidur, tak pernah tidur/
“Bagaimana manusia berdiri di bawah langit yang maha luas?
Mampukah ia melihat, mengerti, dan mengingat? Carl Sagan, dalam Pale
Blue Dot, menatap bumi dari jarak 6,4 miliar kilometer dan
menyebutnya “a mote of dust suspended in a sunbeam.”
Sebuah titik debu yang mengambang dalam cahaya. Begitu
kecil. Begitu rentan. Amatlah rapuh. Tapi di situ, di titik debu yang
mengambang dalam cahaya itu, seluruh sejarah manusia berlangsung:
cinta, perang, filsafat, puisi. Segala macam! Apakah Faizi bermaksud
menempatkan manusia dalam skala semesta, lalu mempertanyakan bobot
keberadaannya? Sebagaimana ia tulis dalam himnenya? Apa makna
berpikir jika tak disertai kesadaran akan keterbatasan? Apa gunanya
puisi, atau bahkan sains, jika tak membawa kita pada zikir, pada rasa
gentar terhadap kesadaran akan keberadaan?
Saya sebetulnya tak mengerti, dan karena itulah saya
bertanya-tanya, mengapa secara formal, puisi ini terasa menghindar
dari bentuk yang terlalu padat? Padahal, saya secara pribadi
membayangkan, dalam bentuk yang padat, puisi ini barangkali akan
begitu menjadi bertenaga. Larik-larik seperti “Sesungguhnya,
aku adalah ciptaan yang mahapelupa/ karena itu belajar mengingat
dengan cara memberi nama” hemat saya, akan lebih cantik begitu
ditulis lebih ringkas menjadi, misalnya: “Aku ciptaan yang
mahapelupa/ karenanya belajar mengingat dengan memberi nama”.
Namun, segera saja tajuk puisi ini menyergah angan-angan saya.
Ia mengingatkan bahwa apa yang ditulis penyair adalah sebuah himne,
bahkan dalam artinya yang paling literal, yakni nyanyian malam
untuk yang tak terkatakan. Tapi mungkin puisi ini adalah
juga zikir itu sendiri. Oleh sebab itu, ia mungkin
memang tak ingin tergesa-gesa dalam menyampaikan makna. Dan tidakkah
repetisi seperti “tak pernah tidur, tak pernah tidur, tak
pernah tidur” memanglah menyerupai bentuk zikir itu
sendiri—sebuah getaran ritmis yang menandai kesadaran batin?
Betapa pun saya telah coba mengait-hubungkan pembacaan saya dengan
astronomi, saya sejatinya insyaf bahwa Faizi, dalam himnenya,
sepertinya tidak sedang menjelaskan langit. Ia sedang berdialog
dengannya. Ia menyusun pertanyaan-pertanyaan sebagai cara untuk
mendekat alih-alih memahami. Mungkinkah si penyair bermaksud untuk
menegaskan bahwa pemahaman pada akhirnya tidak pernah jangkap? Bahwa
pemahaman bukanlah ujung dari pencarian, tetapi justru keheningan
yang memeluk ketakmengertian? Saya tak tahu. Jawaban itu, biarlah dia
jawab di atas bangku Kafe Pustaka yang memar nanti.
Malam, kita tahu, adalah saat di mana langit terbuka, sekaligus
saat ketika kesendirian dan kesunyian menjadi terasa begitu digdaya.
Dalam dunia yang telah kebak oleh angka dan aksioma ini, “Himne
untuk Malam” seakan-akan hendak mengingatkan bahwa tidak
semua hal dapat diukur, dapat diskalakan, sebagaimana halnya tak
semua cahaya bisa dipahami sebagai panjang gelombang. Ada saat-saat
di mana cahaya itu adalah “sesuatu”, adalah metafora untuk
mengungkapkan bagaimana “sesuatu” yang tak dapat direduksi oleh
bahasa itu datang menyesaki dada, tapi tak pernah kuasa terukur oleh,
katakanlah, spektrometer. Bolehkah kita menyebutnya cahaya iman?
Ketika Faizi kemudian menutup puisinya dengan sebaris titimangsa
“29/09/2017”, saya bayangkan ia mengabadikan malam saat di mana
puisi itu pungkas dianggitnya. Dan dengan cara itu, ia menandai bahwa
malam dalam puisinya adalah malam yang sebetulnya terus terjadi. Ia
adalah malam dalam diri setiap manusia yang memandang bintang, lalu
mendapati dirinya kecil, rapuh, dan disesaki beragam tanda tanya.
Saya ingat, dalam The Demon-Haunted World: Science as a Candle in
the Dark, Sagan suatu kali berkata, “Science is not only
compatible with spirituality; it is a profound source of
spirituality.” Sains, demikian kata Sagan, tidak hanya cocok
dengan spiritualitas; sains merupakan sumber spiritualitas yang
mendalam. Faizi, dalam puisinya pun, saya kira menegaskan hal yang
kurang lebih serupa dengan Sagan. Di batas antara bintang
dan doa, di tubir antara taksir dan zikir,
manusia berdiri di tengah-tengahnya. Ia mendongak, tetapi kemudian
tertunduk ragu. Dan dalam setiap detak jantung yang iring-seiring
berzikir itu, ia mengingatkan kita seluruhnya: berpikir
dan beriman barangkali tidak selalu bertentangan. Keduanya,
mungkin hanyalah dua sisi dari paras malam yang sama.
Yohan Fikri adalah penyair dan kritikus sastra.