—ulasan singkat buku Satu Bumi Dirusak Bersama Karya M. Faizi
Oleh R.H. Authonul Muther
Puisi, dalam sebuah lihatan tertentu, merupakan respon terhadap kondisi zaman. Jika saya boleh berspekulasi: siasat bentuk itu dipengaruhi oleh semacam kecemasan pengaruh dari capaian estetik sebelumnya; sedangkan isi dipengaruhi oleh permenungan si penyair atas apa yang ia bayangkan atas dunia. Dalam konteks buku puisi Satu Bumi Dirusak Bersama, bentuk yang mengemuka, bagi saya, adalah bentuk yang mempertahankan mimetisme atas suatu kenyataan tertentu. Ada sesuatu yang ditunjuk-tunjuk oleh si sajak ke dunia luar sana.
Sebab ia mempertahankan ceciri mimetik, maka sehimpun puisi dalam buku ini bersiasat sederhana dalam konstruk sintaksis maupun semantik. Inilah, bagi saya, ciri penting dari realisme. Sebab aturan sintaksis normal belaka, maka pembayangan semantik (baca: makna, isi) sajak bisa langsung diandaikan oleh si pembaca. Artinya, alusi sajak begitu terang dan jelas.
Membaca sajak-sajak Ki Faizi ini, saya jadi teringat sajak-sajak epik di era Yunani Kuno. Sajak-sajak epik di era Yunani Kuno, kita tahu, misalnya sajak epik Iliad karya Homeros itu, ia memimik atau meniru heroisme tertentu. Dalam konteks Iliad, ia memimesis heroisme kegagah beranian Achilles. Singkat kata, dalam tradisi mimetik dan realisme seperti ini, estetika selalu berkelindan erat dengan etika, dengan moral. Dalam tradisi Yunani Kuno, sebuah sajak dianggap berhasil jika, dan hanya jika, mampu meniru atau menyalin alam kenyataan.
Sajak, tragedi, atau teater, misalnya, bagi Aristoteles, dalam buku Poeticsnya itu, mesti jadi katarsis bagi si pembaca atau penonton. Katarsis yang dimaksud Aristoteles adalah karya seni harus mampu membangkitkan teror dan welas asih; singkatnya, melahirkan melankolia dan “isi” karya bisa dijadikan kompas moral. Melalui skema tipologi ini, puisi-puisi Ki Faizi, bagi saya, berada di wilayah realisme yang seperti itu. Keindahan satu gerbong dengan kebaikan. Itulah skema dasar, hemat saya, siasat persajakan buku Satu Bumi Dirusak Bersama. Penyair tak boleh menjadi pemalsu realitas. Sebab itulah sajak ini tak akan didepak dari republik Platonian.
Artinya, terdapat suatu kenyataan di luar sana, yakni kerusakan ekologis, yang disalin ke dalam bahasa sajak. Hal penting, kemudian, bagaimana kerusakan ekologis itu terjadi dalam bahasa, terjadi dalam siasat persajakan. Dari segi diksi, misalnya, kita akan akrab dengan apa-apa yang menyehari. Meja makan, popok, plastik, tangan, kulkas, daging, dst., dst., menjadi wahana pembayangan realis dalam sajak. Di seberang lainnya, tidak terjadi semacam permainan metafora yang “hermetik”. Artinya, metafora lurus dan ajeg, sehingga muncul koherensi dan kelurusan antar baris ke baris, antar baris ke bait, dan antar bait ke satu keutuhan sajak. Ciri kelurusan atau koherensi ini, pada akhirnya mengantar kita pada ciri prosa atau naratif sajak. Misal di sajak Mengapa Sendok dan Garpu Sering Hilang di Dapur, tampaklah di situ koherensi dan ciri naratif. Di sajak ini ada alur, ada cerita, ada plot dengan tokoh utamanya adalah benda-benda (sendok dan garpu). Ini unik, jika personifikasi terjadi di tingkat kalimat atau frasa; di sajak ini personifikasi tampil utuh dan menjadi jantung skema sajak. Sendok dan garpu bercakap-cakap, menjadi tokoh yang manusiawi.
Saya juga tertarik masuk ke tiga puisi gurindam ini: Gurindam Sampah (Plastik), Gurindam Air, dan Gurindam Makanan. Kita tahu gurindam memiliki ceciri berikut: 1) setiap bait terdiri dari dua baris; 2) setiap baris terdiri dari 10-14 suku kata; 3) setiap baris berima A-A-B-B; 4) baris pertama berisi sebab; 5) baris kedua berisi akibat; dan 5) merupakan sebuah kesatuan yang utuh dan berisi nasihat atau kata-kata mutiara. Dalam struktur gurindam, juga terdapat peribahasa. Di dalam baris pertama merupakan sebab, dan baris kedua adalah akibat. Gurindam patuh pada rima akhir a-a-b-b. Di dalam buku puisi ini, gurindam digunakan dengan tepat untuk menyampaikan semacam etos anti berbuat kerusakan. Gurindam, dan sajak yang hendak mengejar rima akhir, saya kira, berada di jalur kelisanan; artinya, sajak yang ketika dibaca nyaring-nyaring akan membangkitkan harmoni bunyi. Kesan bunyi ini juga hadir intens nyaris di semua tubuh sajak, ada hasrat untuk merangkul harmoni bunyi. Saya bisa saja mengatakan ini: sepanjang sejarah perpuisian, realisme dekat hubungannya dengan bunyi, dengan tuturan. Dan, di seberang lainnya, berurusan dengan urusan-urusan publik; seperti ciri arkais puisi yang dibacakan di hadapan kelimun orang. Ini selaras jua dari spirit keseluruhan buku puisi ini yang hendak menyaran sebuah etos anti antroposen sebagai respon atas kerusakan lingkungan.
Meskipun sajak ini dipintal melalui kenyataan linguistik yang, katakanlah, sederhana—saya meminjam cara-pikir Zen Hae atas sajak-sajak Sapardi Djoko Damono—sajak-sajak Ki Faizi sebenarnya tidaklah semudah yang dibayangkan. Kita mungkin saja dihadirkan sebentang pesan-pesan dan peringatan-peringatan, akan tetapi makna pesan-peringatan di dalam sajak tidak sesederhana tampakannya. Pembayangan sajak yang terkesan mudah ini, dengan diksi yang begitu menyehari dan metafora yang lurus-lurus belaka, justru membawa kita kepada jagat kompleks benda-benda.
Benda-benda yang kita anggap sederhana punya sejarah kompleks. Sejarah kompleks si daging sapi; sejarah kompleks plastik yang kita pakai; sejarah kompleks listrik yang menerangi malam-malam manusia; dan seterusnya, dan seterusnya. Kemudahan teks puisi ini menyajikan sesuatu yang begitu kompleks di belakangnya. Benda-benda yang kita pakai saat ini, punya daya rusak terhadap dunia di seberang sana. Kita akan merasakan sebuah sensasi anti antroposentrisme—titik ekstrimnya anti humanisme—ketika mengungkai subjek-lirik dalam sehimpun kumpulan puisi ini.
Ini tanda juga, sebenarnya, Ki Faizi menerapkan except from personality; puisi anti curhat, puisi yang lolos dari curhatan penyairnya. Kompleksitas tidak berada dalam tataran bentuk, melainkan pada makna sajak. Kompleksitas di belakang sajak, pada akhirnya, akan menampil banyak paradoks dan ironi. Misalnya, kita akan membayangkan betapa jahilnya manusia ketika merusak satu-satunya rumah yang mungkin ia tinggali. Sajak-sajak dalam buku ini semacam preambul untuk memasuki sebab-asasi dari kerusakan dan kerakusan manusia.
Bagi saya, pembaca yang baik adalah pembaca yang—separadoks atau seironi apa pun—punya keberanian menyeburkan diri ke dalam kompleksitas sajak.
*
Perihal realisme: saya tidak membenci realisme dengan total. Realisme dalam seni itu, dalam arti memimesis suatu kenyataan tertentu, tak pernah bisa berakhir. Saya bisa menyodorkan lukisan Guernica karya Pablo Picasso sebagai salah satu contoh. Lukisan itu, secara bentuk, sangat kubis dan tak linier seperti lukisan lanskap Hindia Molek. Beberapa kritikus mungkin percaya diri belaka menganggap tak ada ciri mimetik dalam karya Picasso. Baik, saya juga sepakat dengan itu, tapi hanya dalam segi pengolahan “bentuk” lukisannya; namun, secara isi, secara proses kerajinannya, Guernica karya Picasso benar-benar politis dan memimesis kediktatoran juga kejahatan perang Francisco Franco. Bentuk kubisme Picasso di Guernica itu sangat anti-mimetik; tapi, bukan berarti Picasso tidak menyalin sebuah dunia atau kenyataan tertentu.
Nah, begitu pula dengan sajak. Sajak tak akan pernah bisa lolos dari sebuah “dunia” tempat ia dikonstruksi; sajak tak pernah muncul tiba-tiba dari sebuah pembayangan hampa. Sebuah sajak anti realisme paling radikal sekalipun datang dari bayangan dunia tertentu; ia mesti punya alusi, punya sesuatu yang ditunjuk dan dirujuk.
Baiklah, mimetisme ada terus, sebab seorang penyair mesti except from personality, yang berarti ia keluar dari jagat subjektivitasnya. Keluar dari jagat personalitas, itu berarti mendirikan sebuah dunia-mandiri, di mana dunia sajak tak sama dengan dunia kenyataan; atau menciptakan subjek-mandiri (alter-ego) di mana si aku-lirik bukanlah aku-penyairnya. Puisi anti curhat sekalipun, itu mesti mengandung juga sebentuk mimetisme—meski yang dimimesis adalah dunia-fiksi mandiri yang mungkin tak ada sangkut pautnya dengan dunia kenyataan.
Puisi surealisme, misalnya, itu menunjuk pada jagat alam mimpi yang serba tak tertib—segila apa pun siasat linguistiknya. Dan, jika ikon-ikon atau simbol-simbol tak tertib itu ditempatkan pada sebuah situasi dunia tertentu, ia akan punya sejumput makna.
Atau puisi konkret. Bagi saya, puisi konkret merupakan skema visual atau bunyi murni yang akan mendapat makna jika disituasikan ke dalam suatu dunia atau konteks tertentu. Sajak yang telah mendapati dunia yang dirujuknya, ia akan mendapat pemaknaannya. Dalam puisi konkrit, dunia yang dirujuk adalah bahasa itu sendiri; bentuk adalah isi atau makna. Vice versa, berlawanan dengan itu, kita bisa mengatakan bahwa puisi Ki Faizi dalam buku ini, isi atau makna adalah bentuk itu sendiri—sebab kelaziman dan kesederhanaan sintaks, kompleksitas isi menampil langsung dalam bentuk.
Jika pun diperas ke dalam suatu maksim yang super padat akan menjadi demikian: “Si telos, atau makna, atau isi, atau deonia, akan terus eksis sejauh ia berada pada suatu situasi dunia yang lengkap. Telos akan tetap ada; makna akan tetap ada; meskipun tak pernah bisa diraih seutuh-utuhnya.” Ini mirip dengan hipotesa aporia keadilan berikut ini: keadilan ada di sana, di ujung sana, dan itu mustahil diraih. Namun, justru karena ia mustahil, ia harus selalu diperjuangkan. Dengan demikian, makna dalam puisi konkrit bisa jadi mustahil, tapi ia mesti diperjuangkan dan ditempatkan pada sebuah situasi yang memberinya makna—meskipun nanti si makna berasal dari bentuknya.
Hal ini merupakan sebuah usaha untuk menghindar mengasumsikan teks sastra semata-mata dilihat dari segi struktur yang murni internal, murni formal. Sastra sebagai sistem yang tertutup. Dan, persis di situlah problem dan paradoksnya, yakni tegangan antara bentuk-isi. Menyigi bentuk belaka akan menjadikan sastra jadi sistem yang serba tertutup; dan mengungkai semata-mata isi akan mengerdilkan karya sastra, sebab si karya hanya jadi karya kelas dua di bawah ilmu-ilmu.
Sembarang asumsi perihal bentuk-isi di tulisan ini, tetap saya ragukan. Barangkali, dengan permenungan lanjutan, asumsi ini bisa berbelok arah. Proposisi-proposisi di atas masihlah sebentuk hipotesa.



