02 Januari 2020

Selamat Tahun Baru, Sajadah



Berdiri untuk shalat.
bilang menyembah Allah
padahal hanya menyembah rakaat
Kau tahu kenapa?
Karena tak ada shalat
bagi yang pongah dalam maksiat

Merunduk untuk rukuk.
bilang menyembah Allah
padahal hanya membungkuk
Kau tahu kenapa?
Karena tak ada yang rukuk
sejauh merduk dalam pelupuk

Merendah untuk sujud
bilang menyembah Allah
padahal sedang dirundung kalut
Kau tahu kenapa?
Aku tak tahu mengapa kamu tak tahu
menyembah seperti pengecut

setelah biut terbayang maut

1/1/2020

13 November 2019

Perintah Literat



Menafsirkan puisi secara suka-suka (atau yang saya sebut dengan tafsir puisi manasuka) adalah kegiatan selingan saya. Tujuan kerja ini adalah upaya menjelaskan sebuah puisi (yang ditafsir) kepada pembaca melalui sudut pandang saya. Dengan kata lain, saya ikut menyumbang “cara membaca” suatu teks dengan cara sendiri supaya muncul ada kemungkinan pandangan yang berbeda. Kata “manasuka” yang saya pasangkan dengan “tafsir puisi” adalah teknik berlindung dari serangan “ngawur secara teoretik”.

Termasuk bagian suka-suka adalah dalam hal memilih puisi. Artinya, suka-suka saya saja dalam memilih: memilih puisi dia dan bukan puisi kamu, memilih punya Pak Ahda dan bukan punya Pak Hadi, dst. Kita tahu, banyak orang menganggap puisi sebagai sesuatu yang sangat rahasia dan sulit dimengerti. Dan yang paling membuat saya senang adalah ketika ada komentar dari pembaca yang—sebab yang saya lakukan ini—merasa telah dibukakan hijabnya dari melihat keindahan sebuah puisi.

Kali ini, saya akan menulis tafsir suka-suka untuk puisi Ahda Imran. Puisi ini saya dapatkan dari seseorang lewat kotak pesan. Puisi ini berjudul “Perintah”. Inilah puisi dimaksud.

PERINTAH

Tulislah atas nama Tuhanmu
yang telah menciptakanmu
dari

Bagaimana menulisnya
sedang tak ada manusia dalam kata
melainkan ular yang menetaskan
telurnya di pangkal lidah?

Bacalalah atas nama Tuhanmu
yang telah menciptakan kata
dari sederas darah

Berapa abad kata mesti
mencari manusia sedang ular
menaruh sisiknya dalam darah?

Minumlah!

***

Puisi karya Ahda Imran ini, konon, dimuat di koran dan Facebook sekaligus. Saya tidak membaca teks di koran karena memang tidak berlanggganan dan tidak tahu saat dimuat di Facebook beliau karena kami tidak terhubung dalam jaring pertemanan.

Tulislah atas nama Tuhanmu (kalimat ini merupakan resepsi penyair Ahda terhadap teks yang lebih besar, yaitu ayat pembuka Surah Al-Qalam yang secara harfiah bermakna "pena". Teks asli berbunyi “Bacalah atas nama Tuhanmu [yang telah menciptakan]”. Tindakan ini disebut 'iqtibas' [kutipan] di dalam puisi Ahda, sedangkan rujukannya, yaitu teks Al-Quran, sebagai "ekserp"-nya. Namun, penyair Ahda telah memodifikasinya dengan mensubstitusi "bacalah!" ke "tulislah!". Surah Al-Qalam memang berarti "pena", tapi perintah dalam ayat pertama adalah perintah membaca, yakni "bacalah!".
Iqtibas populer dalam tradisi sastra Arab, dan mungkin juga dalam khazanah sastra Inggris yang memiliki sejarah panjang dan tua. Belakangan, dapat juga kita temukan dalam sastra Indonesia [seperti puisi Nanang Suryadi yang berjudul “Kepada Sapardi”]. Iqtibas berbeda dengan plesetan karena plesetan mengandung "parodi" dan "perlawanan atas kemapanan" [terkait plesetan dan anti-kemapanan ini, Faruk HT pernah menulisnya di Harian Bernas, tahun 1994 kalau ndak salah], sedangkan operasi iqtibas tidak demikian, hanya sekadar mengutip adagium atau ayat atau maksim atau pepatah dan menggunakannya sebagai bagian dari karya si pengutip tanpa perlu menyebutkan sumber sebagaimana terjadi pada puisi esai)
yang telah menciptakanmu (tidak perlu tafsir, sudah jelas)
dari
(Bagian di atas ini memang tertulis demikian, “yang telah menciptakanmu / dari”, tanpa ada kelanjutan. Apakah ini disengaja? Kayaknya ini, karena demikian yang tertulis di Facebook maupun yang terpampang dalam versi cetaknya. Namun, jika ia dibuat rumpang, mestinya ‘kan diberi titik tiga […] atau beberapa ketukan, tapi yang ini tidak? Yang jelas, jika menilik kalimat lanjutan pada bait kedua, tindakan tersebut disengaja karena ada pernyataan keraguan sesudah kalimat di atas, pada bait berikutnya, yaitu kalimat pada bait berikutnya, yakni...)

Bagaimana menulisnya (maksudnya, menulis kata yang mestinya ada di dalam kalimat rumpang alias titik-titik tersebut, alias menulis “nama ciptaan” yang pada akhir bait pertama di atas itu tidak diterakan).
sedang (sedangkan) tak ada manusia dalam kata (yang tak jadi dituliskan itu. Tak ada apa pun di sana)
melainkan ular yang menetaskan
telurnya di pangkal lidah?
(Apa pula ini? Setahu saya, referensi ular ketika ia disandingkan dengan manusia selalu mengacu peristiwa Nabi Adam di Surga. Biasanya, ia mengacu pada kisah iblis yang menyamar dan masuk ke mulut ular untuk kembali menggoda Nabi Adam. Kejadian ini menjadi “tipa induk”—dalam istilah Abdul Rahman Napiah—bagi semua karya yang ditulis oleh manusia mengingat peristiwa di atas adalah peristiwa yang dialami oleh manusia pertama, dan demikian pula ia adalah “tipa induk” bagi puisi Ahda Imran ini, maupun puisi “Di Kebun Binatang”-nya Sapardi Djoko Damono atau karya lain dengan tema yang sama. Peristiwa ulat dan manusia di Surga adalah sejenis “super-ordinat” dalam silsilah hiponim dan hipernim kata atau sebagai “indeks utama”).

Bacalah atas nama Tuhanmu
yang telah menciptakan kata (Inilah iqtibas itu: mengutip redaksi yang sama dengan ayat pertama Surah Al-Alaq, tapi memodifikasi “insan” dengan “kata” dan dengan tetap memosisikannya sebagai cikal-bakal penciptaan, yaitu kata-istilah yang disebut “'alaq” alias “segumpal darah”. 
dari sederas darah (Penyair juga mengubah segumpal darah ‘alaq dengan “sederas darah”. Mengapa demikian? Boleh jadi, si penyair  ingin menerapkan gaya hiperbola, bahwa begitulah proses yang terjadi pada semua manusia: gumpalan-gumpalan darah yang banyak sekali).

Berapa abad kata mesti
mencari manusia (“abad” di dalam kalimat ini memiliki arti "masa yang lama", bukan sekadar 100 tahun, lebih-lebih karena frasa "berapa abad" tersebut ditujukan kepada sesuatu yang secara hakiki sebetulnya tidak pernah sirna, yaitu ras manusia) sedang ular
menaruh sisiknya dalam darah?

(Di dalam puisi “Di Kebun Binatang”, Sapardi Djoko Damono menggambarkan seorang lelaki yang sedang berwisata ke kebun binatang bersama istrinya. Di sana, sang istri lalu melihat ular dan tergoda, merasa tertarik dan merasa senang, sambil membayangkan andaikan kulit ular yang 'gemerlap' karena sisiknya itu dibuat tas dan sepatu [yang kita tahu ia menjadi lambang aksesori wanita yang mahal]. Namun, si suami lalu mengajak istrinya pergi dari tempat [yang dianggapnya terkutuk] itu karena ia ingat sesuatu, ingat peristiwa yang tak lain merupakan pemahaman yang menyatakan bahwa Nabi Adam telah digoda dan akhirnya tergoda ular di Surga sehingga tinggal di dunia yang fana).

Minumlah!

(Lah, kok minum? Wah, saya tidak paham. Saya kira ujungnya bacalah, tapi kok minumlah? Untuk yang ini, saya mundur pelan-pelan saja. Mari, bantu saya membereskannya).


10 Oktober 2019

Joglitfest, Saya, dan Annuqayah


Joglitfest adalah kependekan dari Jogjakarta Literary Festival atau Festival Sastra Jogjakarta. Penggunaan istilah english ini saya kira karena acaranya diagendakan secara internasional, maksudnya karena melibatkan pembicara dari luar Indonesia. Joglitfest pertama kali diadakan tahun ini, 2019. Rangkaian acaranya diselenggarakan selama beberapa hari di bulan Agustus dan September. Agenda di bulan Agustrus adalah pra-acara (special events) sedangkan 27-30 September merupakan acara puncaknya (main events).



foto milik panitia























Acara ini tergolong acara besar karena melibatkan lintas instansi. Di antara yang terlibat adalah  Dinas Kebudayaan DIY, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, sastrawan/penggerak sastra, akademisi, perguruan tinggi, komunitas, penerbit, lembaga pemerintah dalam bidang literasi, dan banyak lembaga swasta lainnya. Ide festival bertujuan untuk mendekatkan dunia sastra dengan publik, sekaligus menjalin keterhubungan antarmasyarakat sastra di dalam dan luar Jogjakarta.

Adapun ketua SC (steering committee) acara ini adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X, dibantu oleh sepuluh orang anggota. Sedangkan ketua umum pelaksananya adalah Bapak Suharmono, M.A., dibantu oleh tiga orang ketua bidang, dua orang sekretaris, dan satu staf produksi. Acara ini juga melibatkan panel ahli. Mereka adalah Iman Budhi Santosa, Prof. Faruk, Dr. Aprinus Salam, dan Drs. Dhanu Priyo Prabowo.

Tema festival adalah “Gregah Sastra”. Kata “gregah” diambil dari bahasa Jawa, yang berarti kebangkitan, kesiapsediaan, atau ketangkasan dalam menyambut dan menyerap sesuatu yang datang dari luar dirinya. Adapun kata “sastra” dapat diasumsikan sebagai segala hal yang meliputi wacana kesastraan dan karya sastra baik yang bersifat tradisional maupun modern. Gregah Sastra dimaksudkan untuk memetakan ulang berbagai kecenderungan budaya yang terkait dengan wacana dan isu-isu kesastraan, apresiasi, dan resepsi karya sastra, serta kemungkinan kreatif dan estetik dalam proses penciptaannya. Demikian latar belakang acara yang saya kutip dari laman panitia.

Acaranya beragam, mulai dari workshop, pameran dan diskusi  manuskrip, hingga pasar sastra dan bazar buku. Agenda terpusat di Museum Vredeburg. Adapun kegiatan satelitnya dilaksanakan di beberapa titik, di antaranya di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Adapun acara 'pertunjukan' pada kegiatan intinya berupa diskusi buku, talkshow, dan pertunjukan sastra, termasuk pentas musik.

Saya datang ke acara ini sejak hari pertama, Jumat, 27 September 2019. Saya mengikuti rangkaian pembukaannya yang diresmi dibuka oleh (wakil dari) Menteri Pendidikan & Kebudayaan dan Gubernur DIY. Selanjutnya, pada acara yang diletakkan di halaman Monumen Serangan Oemoem 1 Maret itu, ada pentas musik dari Silampukau dan Gabriella Fernandez serta Jogja Hiphop Foundation. Acara diselingi dengan pembacaan puisi oleh Joko Pinurbo dan Aan Mansyur.

foto milik bustan basir 
Acara Joglitfest berlangsung selama 4 hari menurut angka kalender tapi efektif hanya 3 hari saja. Sebab, hari pertama (27 September) adalah pembukaan dan hari terakhir (Senin, 30 September 2019) adalah penutupannya. Peserta banyak yang check-out dari hotel di malam itu juga, termasuk saya, dan sebagian masih menghabiskan jatah menginap di Melia Purosani hingga hari Selasa esoknya, 1 Oktober).

Acara inti di hari pertama adalah ceramah literasi dan seminar. Temanya “Yogyakarta dalam Konstelasi Sastra Global-Lokal” dan seminar “Arah Pengembangan Sastra dan Kebudayaan Indonesia ke Depan” dengan nara sumber Eka Kurniawan yang secara khusus membidik isu ‘glokalitas’ (global-lokal) di dalam sastra. Adapun sesi siang diisi oleh Bapak Tirto Suwondo dan Prof Suminto A Sayuti. Masing-masing keduanya mengangkat tema “Dinamika Kesusasteraan Yogyakarta, Karya, dan Pengarangnya” serta “Yogyakarta sebagai Inspirasi Karya”.

Pada hari berikutnya, Ahad, 29 Oktober, Joglitfest menampilkan Nirwan Arsuka yang mengangkat tema "Budaya Global-Lokal dalam Sastra Indonesia" dan sesi siangnya diisi oleh Nanang Suryadi dan Ahda Imran, mengangkat isu “Dinamika Sastra di Dunia Maya” dan “Makna Sastra di Dunia Nyata”.

Acara Senin paginya, hari terakhir, tidak ada kegiatan seminar lagi. Acaranya adalah jalan-jalan ke museum dan rembuk budaya di salah satu aulanya, dilanjutkan dengan wisata ke kraton. Tapi, saya undur diri karena harus ngisi sesi siang, yakni tema Pesisir dan Gunung dalam Sastra. Tema ini mungkin dimaksudkan tema binari "agraris dan maritim" dalam wacana sastra. Saya bicara tentang banyak hal karena acaranya talkshow dan bisa sedikit 'menyimpang' dari topik pembicaraan. Di selasar Vredeburg itu, saya juga ingatkan kepada teman-teman yang bergiat di dalam sastra, utamanya puisi, agar tidak melulu sibuk berdandan dengan kata-kata saja. Kita harus kembali ke zaman dulu, mengambil "semangat zaman" mereka yang berjaya di masa lalu.

Saya contohkan bagaimana ilmu sosial atau gramatika dan juga sains bisa diungkapkan dengan baik di dalam puisi sebagaimana kita temukan di dalam nazam-nazam (puisi akademik) di pesantren. Salah satu contoh yang sempat saya kutip adalah Alfiyah dalam hal puisi yang membahas tata bahasa, begitu juga antologi puisi “Al-Qashidah li Ibni Majid dan al-Qashidatul Musammah bil Mahriyyah” yang merupakan karya Syihabuddin Ahmad bin Majid yang berisi “teori dan teknik pelayaran”. Jadi, menjadi penyair itu tidak cukup hanya bermodalkan kemampuan memilih diksi dan pengetahuan berbahasa saja, apalagi "gaya-gayaan bahasa" alih-alih gaya bahasa. Penyair harus melampaui itu, misalnya dengan membiasakan survei dan melakukan penelitian lebih dulu sebagaimana dulu sempat dilontarkan oleh Ariel Heryanto dengan gagasan "Sastra Kontekstual"-nya.

Memang, acara Joglitfest ini tidak menggunakan sistem seleksi terbuka, melainkan kuratorial tertutup. Para kurator menyunting nama-nama lalu panitia mengundang mereka. Kelak, di masa yang akan datang, tentu apabila Joglitfest ini masih berkelanjutan, panitia mungkin akan membuka seleksi karya untuk menjadi (sebagian atau salah satu) syarat undangan dalam menghadiri acara ini. Tapi, itu juga mungkin, saya tidak tahu.

Bagaimana sastrawan-sastrawan diundang? Kata panitia, untuk kali pertama ini, undangan bersifat seleksi tertutup, yakni dengan pengajuan nama-nama oleh tim dan diseleksi oleh tim kurator (Hamdy Salad, Tia Setiadi, Irwan Bajang, Purwadmadi, Saut Situmorang). “Jika Joglitfest diadakan lagi, insya Allah kami akan buka undangan terbuka,” begitu yang saya dengar dari salah seorang panitia.

Hal yang sangat menyenangkan dari kegiatan sastra seperti ini sebetulnya acara silaturahminya. Saya banyak berkenalan dengan teman baru yang selama ini saya kenal di Facebook, atau tahu namanya saja. Saya juga bisa bernostalgia dengan kawan-kawan lama yang dulu pernah bertemu di dalam kegiatan-kegiatan serupa atau kegiatan sastra lainnya. Silaturahmi merupakan “agenda terselubung” di dalam setiap kegiatan sastra meskipun nyatanya, menurut saya, merupakan hal penting dan sangat utama sebab para penyair itu sering salah paham (penyair itu 'kan suka tensi tinggi biasanya, he he he) kalau tidak bertemu langsung dan tidak ngopi bersama. 

Yang juga menggembirakan dari kegiatan ini adalah karena saya masih sempat “curi waktu” di sela waktu kosong antar-diskusi dan antar-acara yang sangat padat. Saya menyempatkan diri menghadiri undangan Aguk Irawan ke pesantrennya, Baitul Kilmah, di Bantul. Di sana saya diminta untuk bercerita tentang proses kreatif saya, terutama bidang penerjemahan. Pondok Baitul Kilmah memang notabene “pondok penerjemahan”. Makin heran saya karena ternyata, dari lima orang pengampu atau pengasuh madya di pondok itu adalah santri Annuqayah, almamater kami.

Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah; dari enam bidang di kepanitiaan Joglitfest 2019 ini (administrasi, komunikasi, pertunjukan, nonpertunjukan, produksi, dan pengelolaan pengetahuan) yang total jumlahnya ada 48 orang, ada 3 orang alumni Annuqayah yang menjadi panitia (Bernando, Akmal, dan Khairul Fatah); 2 orang yang didapuk menjadi moderator (Mawaidi & Farisi); 2 orang yang menyumbang tulisan di buku antologi (Nurul Ilmi & Ali Fakih); serta 1 orang relawan atau volunteer  (Muafiqul Khalid). Mereka semua adalah alumni Annuqayah, makin banyak kalau ditambah dengan 9 peserta workshop di acara tersebut.

Dari pengalaman ini, saya mulai tahu, bahwa meskipun tidak dimasukkan ke dalam AD/ART, pondok pesantren Annuqayah tidak menggunakan slogan-slogan literasi dan sangat jarang mengadakan workshop menulis atau kepenulisan, kehidupan literer dan literasi di pondok pesantren yang terletak di desa (dan sering disebut dengan Pondok) Luk-Guluk itu hidup dan dinamis karena telah menjadi nafas kehidupan santri dan pesantren. Jadi, kalau sudah menjadi nafas, ya, tidak perlu digembar-gemborkan lagi karena tanpa nafas mereka bakal mati.

_____________________________________________
Selengkapnya bisa dicek di : https://joglitfest.id/agenda/