10 Oktober 2019

Joglitfest, Saya, dan Annuqayah


Joglitfest adalah kependekan dari Jogjakarta Literary Festival atau Festival Sastra Jogjakarta. Penggunaan istilah english ini saya kira karena acaranya diagendakan secara internasional, maksudnya karena melibatkan pembicara dari luar Indonesia. Joglitfest pertama kali diadakan tahun ini, 2019. Rangkaian acaranya diselenggarakan selama beberapa hari di bulan Agustus dan September. Agenda di bulan Agustrus adalah pra-acara (special events) sedangkan 27-30 September merupakan acara puncaknya (main events).



foto milik panitia























Acara ini tergolong acara besar karena melibatkan lintas instansi. Di antara yang terlibat adalah  Dinas Kebudayaan DIY, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, sastrawan/penggerak sastra, akademisi, perguruan tinggi, komunitas, penerbit, lembaga pemerintah dalam bidang literasi, dan banyak lembaga swasta lainnya. Ide festival bertujuan untuk mendekatkan dunia sastra dengan publik, sekaligus menjalin keterhubungan antarmasyarakat sastra di dalam dan luar Jogjakarta.

Adapun ketua SC (steering committee) acara ini adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X, dibantu oleh sepuluh orang anggota. Sedangkan ketua umum pelaksananya adalah Bapak Suharmono, M.A., dibantu oleh tiga orang ketua bidang, dua orang sekretaris, dan satu staf produksi. Acara ini juga melibatkan panel ahli. Mereka adalah Iman Budhi Santosa, Prof. Faruk, Dr. Aprinus Salam, dan Drs. Dhanu Priyo Prabowo.

Tema festival adalah “Gregah Sastra”. Kata “gregah” diambil dari bahasa Jawa, yang berarti kebangkitan, kesiapsediaan, atau ketangkasan dalam menyambut dan menyerap sesuatu yang datang dari luar dirinya. Adapun kata “sastra” dapat diasumsikan sebagai segala hal yang meliputi wacana kesastraan dan karya sastra baik yang bersifat tradisional maupun modern. Gregah Sastra dimaksudkan untuk memetakan ulang berbagai kecenderungan budaya yang terkait dengan wacana dan isu-isu kesastraan, apresiasi, dan resepsi karya sastra, serta kemungkinan kreatif dan estetik dalam proses penciptaannya. Demikian latar belakang acara yang saya kutip dari laman panitia.

Acaranya beragam, mulai dari workshop, pameran dan diskusi  manuskrip, hingga pasar sastra dan bazar buku. Agenda terpusat di Museum Vredeburg. Adapun kegiatan satelitnya dilaksanakan di beberapa titik, di antaranya di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Adapun acara 'pertunjukan' pada kegiatan intinya berupa diskusi buku, talkshow, dan pertunjukan sastra, termasuk pentas musik.

Saya datang ke acara ini sejak hari pertama, Jumat, 27 September 2019. Saya mengikuti rangkaian pembukaannya yang diresmi dibuka oleh (wakil dari) Menteri Pendidikan & Kebudayaan dan Gubernur DIY. Selanjutnya, pada acara yang diletakkan di halaman Monumen Serangan Oemoem 1 Maret itu, ada pentas musik dari Silampukau dan Gabriella Fernandez serta Jogja Hiphop Foundation. Acara diselingi dengan pembacaan puisi oleh Joko Pinurbo dan Aan Mansyur.

foto milik bustan basir 
Acara Joglitfest berlangsung selama 4 hari menurut angka kalender tapi efektif hanya 3 hari saja. Sebab, hari pertama (27 September) adalah pembukaan dan hari terakhir (Senin, 30 September 2019) adalah penutupannya. Peserta banyak yang check-out dari hotel di malam itu juga, termasuk saya, dan sebagian masih menghabiskan jatah menginap di Melia Purosani hingga hari Selasa esoknya, 1 Oktober).

Acara inti di hari pertama adalah ceramah literasi dan seminar. Temanya “Yogyakarta dalam Konstelasi Sastra Global-Lokal” dan seminar “Arah Pengembangan Sastra dan Kebudayaan Indonesia ke Depan” dengan nara sumber Eka Kurniawan yang secara khusus membidik isu ‘glokalitas’ (global-lokal) di dalam sastra. Adapun sesi siang diisi oleh Bapak Tirto Suwondo dan Prof Suminto A Sayuti. Masing-masing keduanya mengangkat tema “Dinamika Kesusasteraan Yogyakarta, Karya, dan Pengarangnya” serta “Yogyakarta sebagai Inspirasi Karya”.

Pada hari berikutnya, Ahad, 29 Oktober, Joglitfest menampilkan Nirwan Arsuka yang mengangkat tema "Budaya Global-Lokal dalam Sastra Indonesia" dan sesi siangnya diisi oleh Nanang Suryadi dan Ahda Imran, mengangkat isu “Dinamika Sastra di Dunia Maya” dan “Makna Sastra di Dunia Nyata”.

Acara Senin paginya, hari terakhir, tidak ada kegiatan seminar lagi. Acaranya adalah jalan-jalan ke museum dan rembuk budaya di salah satu aulanya, dilanjutkan dengan wisata ke kraton. Tapi, saya undur diri karena harus ngisi sesi siang, yakni tema Pesisir dan Gunung dalam Sastra. Tema ini mungkin dimaksudkan tema binari "agraris dan maritim" dalam wacana sastra. Saya bicara tentang banyak hal karena acaranya talkshow dan bisa sedikit 'menyimpang' dari topik pembicaraan. Di selasar Vredeburg itu, saya juga ingatkan kepada teman-teman yang bergiat di dalam sastra, utamanya puisi, agar tidak melulu sibuk berdandan dengan kata-kata saja. Kita harus kembali ke zaman dulu, mengambil "semangat zaman" mereka yang berjaya di masa lalu.

Saya contohkan bagaimana ilmu sosial atau gramatika dan juga sains bisa diungkapkan dengan baik di dalam puisi sebagaimana kita temukan di dalam nazam-nazam (puisi akademik) di pesantren. Salah satu contoh yang sempat saya kutip adalah Alfiyah dalam hal puisi yang membahas tata bahasa, begitu juga antologi puisi “Al-Qashidah li Ibni Majid dan al-Qashidatul Musammah bil Mahriyyah” yang merupakan karya Syihabuddin Ahmad bin Majid yang berisi “teori dan teknik pelayaran”. Jadi, menjadi penyair itu tidak cukup hanya bermodalkan kemampuan memilih diksi dan pengetahuan berbahasa saja, apalagi "gaya-gayaan bahasa" alih-alih gaya bahasa. Penyair harus melampaui itu, misalnya dengan membiasakan survei dan melakukan penelitian lebih dulu sebagaimana dulu sempat dilontarkan oleh Ariel Heryanto dengan gagasan "Sastra Kontekstual"-nya.

Memang, acara Joglitfest ini tidak menggunakan sistem seleksi terbuka, melainkan kuratorial tertutup. Para kurator menyunting nama-nama lalu panitia mengundang mereka. Kelak, di masa yang akan datang, tentu apabila Joglitfest ini masih berkelanjutan, panitia mungkin akan membuka seleksi karya untuk menjadi (sebagian atau salah satu) syarat undangan dalam menghadiri acara ini. Tapi, itu juga mungkin, saya tidak tahu.

Bagaimana sastrawan-sastrawan diundang? Kata panitia, untuk kali pertama ini, undangan bersifat seleksi tertutup, yakni dengan pengajuan nama-nama oleh tim dan diseleksi oleh tim kurator (Hamdy Salad, Tia Setiadi, Irwan Bajang, Purwadmadi, Saut Situmorang). “Jika Joglitfest diadakan lagi, insya Allah kami akan buka undangan terbuka,” begitu yang saya dengar dari salah seorang panitia.

Hal yang sangat menyenangkan dari kegiatan sastra seperti ini sebetulnya acara silaturahminya. Saya banyak berkenalan dengan teman baru yang selama ini saya kenal di Facebook, atau tahu namanya saja. Saya juga bisa bernostalgia dengan kawan-kawan lama yang dulu pernah bertemu di dalam kegiatan-kegiatan serupa atau kegiatan sastra lainnya. Silaturahmi merupakan “agenda terselubung” di dalam setiap kegiatan sastra meskipun nyatanya, menurut saya, merupakan hal penting dan sangat utama sebab para penyair itu sering salah paham (penyair itu 'kan suka tensi tinggi biasanya, he he he) kalau tidak bertemu langsung dan tidak ngopi bersama. 

Yang juga menggembirakan dari kegiatan ini adalah karena saya masih sempat “curi waktu” di sela waktu kosong antar-diskusi dan antar-acara yang sangat padat. Saya menyempatkan diri menghadiri undangan Aguk Irawan ke pesantrennya, Baitul Kilmah, di Bantul. Di sana saya diminta untuk bercerita tentang proses kreatif saya, terutama bidang penerjemahan. Pondok Baitul Kilmah memang notabene “pondok penerjemahan”. Makin heran saya karena ternyata, dari lima orang pengampu atau pengasuh madya di pondok itu adalah santri Annuqayah, almamater kami.

Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah; dari enam bidang di kepanitiaan Joglitfest 2019 ini (administrasi, komunikasi, pertunjukan, nonpertunjukan, produksi, dan pengelolaan pengetahuan) yang total jumlahnya ada 48 orang, ada 3 orang alumni Annuqayah yang menjadi panitia (Bernando, Akmal, dan Khairul Fatah); 2 orang yang didapuk menjadi moderator (Mawaidi & Farisi); 2 orang yang menyumbang tulisan di buku antologi (Nurul Ilmi & Ali Fakih); serta 1 orang relawan atau volunteer  (Muafiqul Khalid). Mereka semua adalah alumni Annuqayah, makin banyak kalau ditambah dengan 9 peserta workshop di acara tersebut.

Dari pengalaman ini, saya mulai tahu, bahwa meskipun tidak dimasukkan ke dalam AD/ART, pondok pesantren Annuqayah tidak menggunakan slogan-slogan literasi dan sangat jarang mengadakan workshop menulis atau kepenulisan, kehidupan literer dan literasi di pondok pesantren yang terletak di desa (dan sering disebut dengan Pondok) Luk-Guluk itu hidup dan dinamis karena telah menjadi nafas kehidupan santri dan pesantren. Jadi, kalau sudah menjadi nafas, ya, tidak perlu digembar-gemborkan lagi karena tanpa nafas mereka bakal mati.

_____________________________________________
Selengkapnya bisa dicek di : https://joglitfest.id/agenda/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

* Biasakan Mengutip Sumber/Referensi
* Terima Kasih Telah Membaca/Berkomentar