29 Juli 2023

Tafsir Puisi Kedai Kopi Karya Emi Suy

foto ilustrasi: Kafe MainMain

KEDAI KOPI
(oleh Emi Suy)

di kedai kopi
orang-orang datang membawa sepi
bersama hujan
sepasang mata menatap lekat buku menu
mereka memesan kopi dan ciuman
melumat keriuhan kota dan binar
lampu yang berpijar
seseorang mengulum sunyi
bertukar sukar di riuh dada yang belukar
seperti hutan pinus yang berselimut kabut
segelas kopi huzelnut late itu
membunuh waktu
percakapan bibir dengan cangkir
kata-kata yang tumpah,
menyusup dalam pikir


orang-orang masih khusyuk
menyesapi malam yang zig zag
dari secangkir kopi yang mereka pesan
ada yang menyusun serpihan puzzle
agar kembali menjadi rindu
yang utuh
hati yang penuh
yang sering luluh
oleh jarak terjauh
bernama diam

2019

TAFSIR PUISI "KEDAI KOPI"-NYA EMI SUY

Peristiwa di dalam puisi ini, oleh penyair, dipotret di suatu tempat, yaitu
(di kedai kopi), tempat yang menurutnya merupakan tempat
(orang-orang datang membawa sepi
bersama hujan)

Dua kata ini, sepi dan hujan, memang pasangan kata yang sering digunakan oleh banyak penyair untuk menggambarkan nostalgia atau romantisme atas suatu tempat, dan tempat yang paling tepat adalah kedai kopi, kafe. Jadi, penyair memasukkan dua kata tersebut supaya menjadi pintu bagi pembaca yang akan masuk pada suasana yang akan dibangun oleh si penyair pada babak berikutnya.

Penyair Emi lalu menangkap seseorang orang, yang barangkali sedang menunggu pasangan atau sekadar ingin menyendiri. Semula saya kira dua sejoli, laki dan perempuan, bisa jadi suami istri tapi bisa juga hanya sepasang kekasih yang tak terjalin akad pernikahan, dan menerjemahkannya secara pars pro toto dengan menyebut
(sepasang mata menatap lekat buku menu), sebuah aktivitas yang biasa kita lihat di kedai kopi saat orang baru datang pertama kali. Tapi kok
(mereka)? Saya agak khilaf karena saya berpikir lagi, yang saya tangkap pada "sepasang mata" itu hanyalah seorang, bukan sepasang mata kali dua sehingga menjadi dua orang. Entah, biar nanti si penyair yang menjelaskannya meskipun itu bukan kewajibannya.
Oh, iya, mereka itu—jika benar sepasang kekasih, dua anak manusia yang sedang memadu cinta—tampak (memesan kopi dan ciuman). Kopi adalah literal, sementara ciuman adalah metaforis jika ia ada di daftar menu. Saat keduanya dipadukan, lahirlah nuansa puitik.

Kegiatan sepasang kekasih itu digambarkan penyair dalam kalimat berikut: bahwa yang dilakukan mereka di dalam kesepian—barangkali yang dimaksudkannya adalah kesyahduan suasana—bahkan mampu
(melumat keriuhan kota dan binar
lampu yang berpijar). Kesepian dapat mengalahkan keriuhan. Hujan dapat meraibkan lampu-lampu yang terang. Kok bisa? Karena cintalah yang menjadi lakon dan sutradaranya.
Akan tetapi, tampaknya, penyair memotret sudut yang lain di tempat yang sama, di sebuah kedai kopi, sehingga hasil jepretannya menangkap
(seseorang) yang (mengulum sunyi). Anda bisa bayangkan, bagaimana sunyi sebagai metafor bibir sehingga pantas dikulum? Saya tidak mampu. Ia terlalu sensitif untuk ditelusuri, khususnya bagi saya yang sedang tidak bisa objektif dalam keadaan labil seperti sekarang ini. Bagi saya, pada bagian itu, Penyair Emi ingin menampilakn sosok tersebut sebagai 'binary' bagi sepasang kekasih di meja lainnya.

Ternyata, orang-seorang yang sendirian pun dapat melakukan aktivisme yang sejatinya hanya bisa dilakukan oleh dua orang atau lebih, yaitu
(bertukar). Bertukar apa? Bertukar pendapat? Bukan! Karena seorang diri, maka yang dipertukarkan adalah “problem” atau masalah pribadi atau benang kusut pikiran yang diwujudkan dalam kata (sukar). Hal ini diperkuat oleh pernyataan berikutnya, keterangan tempat, yaitu (di riuh dada yang belukar). Artinya, seseorang itu sedang bertukar pendapat dengan dirinya yang lain, sedang menimbang, sedang menekur, sedang tafakaur, menghadapi persoalan atau masalah yang dilambangkan dengan "belukar". Belukar adalah kata sifat yang diposisikan sebagai adjektif, yang sebetulnya ia bisa berposisi sebagai menotimia, yaitu rangkaian-rangkain pertautan pemahaman yang panjang untuk sampai pada maksud si penucap: masalah di dalam dada, masalah itu identik dengan kerumitan, dan kerumitan biasanya digambarkan dengan keruwetan yang dalam hal ini digambarkan sebagai belukar alias lawan dari taman yang biasanya tertata dan terpola.

Kondisi seperti ini ia asosiasikan dengan perbandingan
(seperti hutan pinus yang berselimut kabut). Kondisi sepi, temaram, redup, dingin, dan mungkin saja ‘gelap dan murung’ terkesan dari pemandangannya.
(segelas kopi huzelnut late itu) yang dipesan oleh si orang tadi, telah berhasil
(membunuh waktu), yaitu kesendiriannya, yang seakan-akan ia tidak benar-benar sendiri karena oleh si penyair digambarkan sedang terlibat dalam sebuah obrolan, yaitu
(percakapan bibir dengan cangkir). Apa saja yang terjadi? Yang telah terjadi adalah
(kata-kata yang tumpah), tapi tidak ke tanah, melainkan
(menyusup) ke (dalam pikir).

Dua situasi di atas adalah potret dua sudut, dua tempat, dua situasi yang berbeda tapi penyair berhasil menemukan beberapa kesamaannya, yaitu interaksi, percakapan. Nah, berikutnya, penyair membuka area lensanya, melebar, sehingga di kafe itu, sekarang, tampaklah
(orang-orang) yang (masih khusyuk) dan mereka kelihatannya
(menyesapi malam yang zig zag). Kok zigzag? Entahlah, malam zigzag itu kayak apa? Tak terbayangkan dalam pikiran saya, apalagi ia muncul dan bermuasal
(dari secangkir kopi yang mereka pesan). Barangkali, ia disebut zigzag karena begitu tercerai-berainya situasi yang ditangkap oleh si penyair, tapi bisa jadi, orang ketiga yang disebut di sini itu sebetulnya adalah si penyair itu sendiri. Ini masuk akal karena sepertinya si penyair tidak hanya sekadar memotret situasi di sebuah kedai kopi, tapi ia juga ingin dirinya berada di dalam potret itu, menjadi bagian dari foto, namun—ibarat kata—tanpa harus melakukan selfie. Sosoknya ia wakilkan pada
"(ada) seseorang, yaitu si penyair sendiri (yang menyusun serpihan puzzle
agar kembali menjadi rindu
yang utuh
hati yang penuh
yang sering luluh
oleh jarak terjauh)".

Dari serangkaian kata ini, di samping penyair menjaga rima “uh” pada setiap akhir lariknya, penyair juga berusaha untuk menggambarkan kenangan-kenangannya itu laksana puzzle yang tercerai-berai dan berusaha disusun ulang sampai utuh sehingga sempurna kembali menjadi rindu, suatu hal yang sering terjadi karena jarak yang jauh. Dan apakah yang dilakukannya? Menahan? Melepaskan? Meronta? Yang dilakukannya itu...
(bernama diam)

2019 -2023

#tafsirpuisimanasuka

26 Februari 2023

CIPTAAN TERBAIK, NAMUN EDISI CACATNYA

 

Maafkan aku mengecewakanmu
jika aku berdiri
di luar pagar definisi
yang engkau bangun
dari tumpukan kamus umum

Inilah aku begini rupa
manusia perkecualian:
ciptaan terbaik, namun edisi cacatnya

Mengapa aku sering diam?
Aku buta
karena itulah tak mencari tuan
supaya menjadikanku cukongnya,
Aku bisu
karena itulah tak bisa merayu,
agar hati puan jadi terharu

Akan tetapi, tuan-puan sekalian—
ciptaan terbaik, edisi sempurna,
yang hidup dalam sorot cahaya,
yang ingar oleh puja-puja—
bertanyalah padaku jika ingin tahu
tentang makna cahaya dan suara.
Tentang itu, belajarlah kepadaku:
kepada ciptaan terbaik,
namun edisi cacatnya

17/01/2023


30 September 2022

Membayangkan Nasib Lagu Tito Sumarsono Jika Liriknya Dibaca Secara Harfiah

 

 

Saya tidak bisa membayangkan andaikan teks puisi—yang cenderung metaforis—itu harus ‘dibaca’ apa adanya, dipahami secara harfiah. Yang akan lahir adalah pemahaman yang rancu, yang tidak masuk akal, yang terlarang sebab yang literal tidak akan mampu selaras membaca yang metaforis, begitu pula sebaliknya.


Pada gaya asosiasi saja, misalnya di dalam partikel “seperti”, secara tersirat juga terkandung kopula negasi yang andai saja ditulis kira-kira menjadi; “tidak merupakan” atau “adalah bukan” (contoh: “engkau laksana bulan” dan dalam waktu yang sama juga bermakna; “engkau itu manusia, indah seperti bulan, tapi tidak seperti bulan karena engkau manusia”). Itu baru asosiasi yang di dalamnya terkandung “pembanding” sekaligus “yang dibandingkan”. Bagaimana dengan metafora yang perbandingannya langsung? Tanpa partikel seperti atau sejenisnya? Kesenjangannya akan lebih dari itu, lebih jauh lagi ketegangannya.


Orang yang melarang hormat kepada apa pun selain Allah, seperti hormat bendera di dalam upacara Agustusan karena alasan tidak ada ajaran dasarnya, atau karena alasan tidak ada penghormatan yang diperbolehkan kecuali hanya kepada Tuhan, saya kira alasan dasarnya kurang lebih sama dengan penjelasan ini: menyamaratakan penggunaan kata “hormat” dalam berbagai penggunaan, padahal ia digunakan secara berbeda pada frasa “hormat bendera”, “hormat orangtua”, atau hormat pada yang lainnya. Apalagi puisi, tanpa ada penafsiran, akan ada ketimpangan di dalam memahaminya.


Di bawah ini, secara iseng saya mencoba menulis “tafsirmanasuka” untuk lirik lagu karya Tito Sumarsono yang dipopulerkan oleh Ruth Sahanaya. Tentu saja, ini tafsir gurauan saja. Saya sedang berandai-andai betapa akan kacaunya pemahaman andaikan lirik lagu di bawah ini harus dipahami secara harfiah dan polosan saja.


Liriknya sebagai berikut:

Mungkin hanya Tuhan

yang tahu segalanya

Apa yang ku inginkan

Di saat-saat ini


Kau takkan percaya

Kau selalu di hati

Haruskah kumenangis

'Tuk mengatakan yang sesungguhnya


Kaulah segalanya untukku

Kaulah curahan hati ini

Tak mungkin

Ku melupakanmu (tiada lagi yang ku harap hanya kau)

Tiada lagi yang ku harap hanya kau seorang (Kau seorang)

Ha-ha-ha-aa hai-ya-ye he


Baik, kita mulai…


MUNGKIN HANYA TUHAN (baru saja mulai, lirik ini langsung bermasalah. Mana mungkin Tuhan masih di-mungkin-kan dalam keadaan maklum bahwa Dia memang memiliki sifat Mahatahu atas segalanya. Dengan demikian, frase berikutnya, yaitu) YANG TAHU SEGALANYA (itu menjadi nonsense karena adanya kebermungkinan di saat yang sama kita meyakini secara pasti akan kemahatahuan-Nya atas segala-gala. Mestinya, jika kata “mungkin” pada awal larik itu dipasang hanya demi kesesuaian irama dan birama dalam lagu, Pak Tito bisa menggantinya dengan “yakin” karena secara ‘scansion’, suku katanya juga mirip dengan “mungkin”). Sementara teks APA YANG KU INGINKAN, DI SAAT-SAAT INI tidak perlulah dibahas karena posisinya tidak krusial. Ia hanyalah pelengkap saja, ekspresi biasa saja, ngasih tahu aja.


KAU TAKKAN PERCAYA (bagian ini adalah upaya membuat negasi demi menguatkan posisi teks sesudahnya, yaitu kalimat) KAU SELALU DI HATI. Tujuannya seakan-akan meragukan, padahal maksudnya memastikan. Lalu, si penulis menambah penguat yang lain, yang sekiranya dapat mendukung pernyataan sebelumnya, yaitu pertanyaan retoris—yakni pertanyaan yang sebetulnya tidak perlu dijawab karena dianggap “sudah selesai” alias diketahui jawabannya oleh ‘addresse’. Sebetulnya, dan semestinya, HARUSKAH KUMENANGIS itu tidak perlu jika hanya un- 'TUK MENGATAKAN YANG SESUNGGUHNYA, karena mestinya ‘addresse’ tersebut tahu diri. Masa enggak nyadar, sih?



KAULAH SEGALANYA UNTUKKU (ini merupakan pernyataan yang mengandung syirik. Tidak boleh kita menyegalakan apa pun selain Tuhan. Lagi pula, di awal-awal sudah disebutkan kemahasegalaan-Nya, eh, kok di sini yang di-segala-kan malah pacar? Bid’ah sekali lirik/nyanyian ini. Jika dinyatakan bahwa KAULAH, alias si doi yang dimaksudnya itu, adalah CURAHAN HATI INI, yakni hatinya si penyanyi, bukan hatinya Pak Tito Soemarsono selaku penulis dan pengarang lagu untuk Ruth Sahanaya, masih mendinglah, standar dan datar saja pemahamannya.


Sementara pernyataan TAK MUNGKIN, KU MELUPAKANMU itu gombal. Mana mungkin manusia itu akan berstatus “tidak mungkin” sementara manusia adalah ciptaan yang paling berubah-ubah karena dia punya hati dan perasaan, akal dan pikiran? Yang serba-pasti itu hanya Tuhan, hanya Allah. Nah, syirik lagi, kan? Dan syirik pun kian menjadi-jadi gara-gara penutup lirik lagu ini, yakni TIADA LAGI YANG KU HARAP HANYA KAU SEORANG. Berharap, kok, sama manusia?! Kalau manusianya selingkuh, dia kecewa; kalau berbohong, dia bakal marah. Makanya, berharaplah hanya kepada Yang Tahu Segalanya. Dan hentikan nyanyi-nyanyi, apalagi mengumbar kepalsuan dan kesyirikan semacam ini.


***

Ya, namanya juga fantasi, ya, begitulah. Sejujurnya, saya tidak tahu, apa saja atau semacam apa yang terlintas di dalam pikiran orang dengan cara pandang yang polos begitu. Tapi, saya meyakininya kok kira-kira tidak begitu jauh dari yang saya tulis di atas ini.