10 Oktober 2019

Joglitfest, Saya, dan Annuqayah


Joglitfest adalah kependekan dari Jogjakarta Literary Festival atau Festival Sastra Jogjakarta. Penggunaan istilah english ini saya kira karena acaranya diagendakan secara internasional, maksudnya karena melibatkan pembicara dari luar Indonesia. Joglitfest pertama kali diadakan tahun ini, 2019. Rangkaian acaranya diselenggarakan selama beberapa hari di bulan Agustus dan September. Agenda di bulan Agustrus adalah pra-acara (special events) sedangkan 27-30 September merupakan acara puncaknya (main events).



foto milik panitia























Acara ini tergolong acara besar karena melibatkan lintas instansi. Di antara yang terlibat adalah  Dinas Kebudayaan DIY, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, sastrawan/penggerak sastra, akademisi, perguruan tinggi, komunitas, penerbit, lembaga pemerintah dalam bidang literasi, dan banyak lembaga swasta lainnya. Ide festival bertujuan untuk mendekatkan dunia sastra dengan publik, sekaligus menjalin keterhubungan antarmasyarakat sastra di dalam dan luar Jogjakarta.

Adapun ketua SC (steering committee) acara ini adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X, dibantu oleh sepuluh orang anggota. Sedangkan ketua umum pelaksananya adalah Bapak Suharmono, M.A., dibantu oleh tiga orang ketua bidang, dua orang sekretaris, dan satu staf produksi. Acara ini juga melibatkan panel ahli. Mereka adalah Iman Budhi Santosa, Prof. Faruk, Dr. Aprinus Salam, dan Drs. Dhanu Priyo Prabowo.

Tema festival adalah “Gregah Sastra”. Kata “gregah” diambil dari bahasa Jawa, yang berarti kebangkitan, kesiapsediaan, atau ketangkasan dalam menyambut dan menyerap sesuatu yang datang dari luar dirinya. Adapun kata “sastra” dapat diasumsikan sebagai segala hal yang meliputi wacana kesastraan dan karya sastra baik yang bersifat tradisional maupun modern. Gregah Sastra dimaksudkan untuk memetakan ulang berbagai kecenderungan budaya yang terkait dengan wacana dan isu-isu kesastraan, apresiasi, dan resepsi karya sastra, serta kemungkinan kreatif dan estetik dalam proses penciptaannya. Demikian latar belakang acara yang saya kutip dari laman panitia.

Acaranya beragam, mulai dari workshop, pameran dan diskusi  manuskrip, hingga pasar sastra dan bazar buku. Agenda terpusat di Museum Vredeburg. Adapun kegiatan satelitnya dilaksanakan di beberapa titik, di antaranya di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Adapun acara 'pertunjukan' pada kegiatan intinya berupa diskusi buku, talkshow, dan pertunjukan sastra, termasuk pentas musik.

Saya datang ke acara ini sejak hari pertama, Jumat, 27 September 2019. Saya mengikuti rangkaian pembukaannya yang diresmi dibuka oleh (wakil dari) Menteri Pendidikan & Kebudayaan dan Gubernur DIY. Selanjutnya, pada acara yang diletakkan di halaman Monumen Serangan Oemoem 1 Maret itu, ada pentas musik dari Silampukau dan Gabriella Fernandez serta Jogja Hiphop Foundation. Acara diselingi dengan pembacaan puisi oleh Joko Pinurbo dan Aan Mansyur.

foto milik bustan basir 
Acara Joglitfest berlangsung selama 4 hari menurut angka kalender tapi efektif hanya 3 hari saja. Sebab, hari pertama (27 September) adalah pembukaan dan hari terakhir (Senin, 30 September 2019) adalah penutupannya. Peserta banyak yang check-out dari hotel di malam itu juga, termasuk saya, dan sebagian masih menghabiskan jatah menginap di Melia Purosani hingga hari Selasa esoknya, 1 Oktober).

Acara inti di hari pertama adalah ceramah literasi dan seminar. Temanya “Yogyakarta dalam Konstelasi Sastra Global-Lokal” dan seminar “Arah Pengembangan Sastra dan Kebudayaan Indonesia ke Depan” dengan nara sumber Eka Kurniawan yang secara khusus membidik isu ‘glokalitas’ (global-lokal) di dalam sastra. Adapun sesi siang diisi oleh Bapak Tirto Suwondo dan Prof Suminto A Sayuti. Masing-masing keduanya mengangkat tema “Dinamika Kesusasteraan Yogyakarta, Karya, dan Pengarangnya” serta “Yogyakarta sebagai Inspirasi Karya”.

Pada hari berikutnya, Ahad, 29 Oktober, Joglitfest menampilkan Nirwan Arsuka yang mengangkat tema "Budaya Global-Lokal dalam Sastra Indonesia" dan sesi siangnya diisi oleh Nanang Suryadi dan Ahda Imran, mengangkat isu “Dinamika Sastra di Dunia Maya” dan “Makna Sastra di Dunia Nyata”.

Acara Senin paginya, hari terakhir, tidak ada kegiatan seminar lagi. Acaranya adalah jalan-jalan ke museum dan rembuk budaya di salah satu aulanya, dilanjutkan dengan wisata ke kraton. Tapi, saya undur diri karena harus ngisi sesi siang, yakni tema Pesisir dan Gunung dalam Sastra. Tema ini mungkin dimaksudkan tema binari "agraris dan maritim" dalam wacana sastra. Saya bicara tentang banyak hal karena acaranya talkshow dan bisa sedikit 'menyimpang' dari topik pembicaraan. Di selasar Vredeburg itu, saya juga ingatkan kepada teman-teman yang bergiat di dalam sastra, utamanya puisi, agar tidak melulu sibuk berdandan dengan kata-kata saja. Kita harus kembali ke zaman dulu, mengambil "semangat zaman" mereka yang berjaya di masa lalu.

Saya contohkan bagaimana ilmu sosial atau gramatika dan juga sains bisa diungkapkan dengan baik di dalam puisi sebagaimana kita temukan di dalam nazam-nazam (puisi akademik) di pesantren. Salah satu contoh yang sempat saya kutip adalah Alfiyah dalam hal puisi yang membahas tata bahasa, begitu juga antologi puisi “Al-Qashidah li Ibni Majid dan al-Qashidatul Musammah bil Mahriyyah” yang merupakan karya Syihabuddin Ahmad bin Majid yang berisi “teori dan teknik pelayaran”. Jadi, menjadi penyair itu tidak cukup hanya bermodalkan kemampuan memilih diksi dan pengetahuan berbahasa saja, apalagi "gaya-gayaan bahasa" alih-alih gaya bahasa. Penyair harus melampaui itu, misalnya dengan membiasakan survei dan melakukan penelitian lebih dulu sebagaimana dulu sempat dilontarkan oleh Ariel Heryanto dengan gagasan "Sastra Kontekstual"-nya.

Memang, acara Joglitfest ini tidak menggunakan sistem seleksi terbuka, melainkan kuratorial tertutup. Para kurator menyunting nama-nama lalu panitia mengundang mereka. Kelak, di masa yang akan datang, tentu apabila Joglitfest ini masih berkelanjutan, panitia mungkin akan membuka seleksi karya untuk menjadi (sebagian atau salah satu) syarat undangan dalam menghadiri acara ini. Tapi, itu juga mungkin, saya tidak tahu.

Bagaimana sastrawan-sastrawan diundang? Kata panitia, untuk kali pertama ini, undangan bersifat seleksi tertutup, yakni dengan pengajuan nama-nama oleh tim dan diseleksi oleh tim kurator (Hamdy Salad, Tia Setiadi, Irwan Bajang, Purwadmadi, Saut Situmorang). “Jika Joglitfest diadakan lagi, insya Allah kami akan buka undangan terbuka,” begitu yang saya dengar dari salah seorang panitia.

Hal yang sangat menyenangkan dari kegiatan sastra seperti ini sebetulnya acara silaturahminya. Saya banyak berkenalan dengan teman baru yang selama ini saya kenal di Facebook, atau tahu namanya saja. Saya juga bisa bernostalgia dengan kawan-kawan lama yang dulu pernah bertemu di dalam kegiatan-kegiatan serupa atau kegiatan sastra lainnya. Silaturahmi merupakan “agenda terselubung” di dalam setiap kegiatan sastra meskipun nyatanya, menurut saya, merupakan hal penting dan sangat utama sebab para penyair itu sering salah paham (penyair itu 'kan suka tensi tinggi biasanya, he he he) kalau tidak bertemu langsung dan tidak ngopi bersama. 

Yang juga menggembirakan dari kegiatan ini adalah karena saya masih sempat “curi waktu” di sela waktu kosong antar-diskusi dan antar-acara yang sangat padat. Saya menyempatkan diri menghadiri undangan Aguk Irawan ke pesantrennya, Baitul Kilmah, di Bantul. Di sana saya diminta untuk bercerita tentang proses kreatif saya, terutama bidang penerjemahan. Pondok Baitul Kilmah memang notabene “pondok penerjemahan”. Makin heran saya karena ternyata, dari lima orang pengampu atau pengasuh madya di pondok itu adalah santri Annuqayah, almamater kami.

Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah; dari enam bidang di kepanitiaan Joglitfest 2019 ini (administrasi, komunikasi, pertunjukan, nonpertunjukan, produksi, dan pengelolaan pengetahuan) yang total jumlahnya ada 48 orang, ada 3 orang alumni Annuqayah yang menjadi panitia (Bernando, Akmal, dan Khairul Fatah); 2 orang yang didapuk menjadi moderator (Mawaidi & Farisi); 2 orang yang menyumbang tulisan di buku antologi (Nurul Ilmi & Ali Fakih); serta 1 orang relawan atau volunteer  (Muafiqul Khalid). Mereka semua adalah alumni Annuqayah, makin banyak kalau ditambah dengan 9 peserta workshop di acara tersebut.

Dari pengalaman ini, saya mulai tahu, bahwa meskipun tidak dimasukkan ke dalam AD/ART, pondok pesantren Annuqayah tidak menggunakan slogan-slogan literasi dan sangat jarang mengadakan workshop menulis atau kepenulisan, kehidupan literer dan literasi di pondok pesantren yang terletak di desa (dan sering disebut dengan Pondok) Luk-Guluk itu hidup dan dinamis karena telah menjadi nafas kehidupan santri dan pesantren. Jadi, kalau sudah menjadi nafas, ya, tidak perlu digembar-gemborkan lagi karena tanpa nafas mereka bakal mati.

_____________________________________________
Selengkapnya bisa dicek di : https://joglitfest.id/agenda/



17 Agustus 2019

Rubaiyat Manaqib Kiai Syarqawi dan Annuqayah


Satu Delapan / Delapan Tujuh / di Tahun Syamsi

Datang seorang / lelaki saleh / ke tempat ini

membuat rumah / menanam dua / Sawo Manila 

Konon katanya / itulah pijak / sebagai sandi


Kiai Muham / mad As-Syarqawi / membuka tanah

awalnya kandang / dari Pak Aziz / hibah jariyah

sepetak huma / darinya jadi / asal-muasal 

bagi pondok pe / santren yang berna / ma “Annuqayah”


Dari Kudus Ki / ai Syarqawi / beliau datang 

bersama janda / Kiai Gemma / ke Perenduan 

Ngaji ke Lasem,/ Hijaz, konon ju / ga ke Pattani

Di Guluk-Guluk,/ Madura jadi / akhir jujukan


Duapuluh li / ma putra-putri / keturunannya

duabelas o / rang yang berjuang / meneruskannya

sedangkan tiga / belas lainnya / telah berpulang 

selagi kecil / dan juga belum / berkeluarga


Nyai Salehah, / Zubaidah, Jauha / ratun Naqiyah

Abdullah Siraj, / Abdullah Sajjad, / serta A'isyah

adik Kiai / Bukhari, Idris, / As’ad, dan Ilyas

Yang terakhir Ha / midah dan Hali / matus Sa’diyah


Said, Zainal A/ bidin, Sa’duddin,/ dan juga Rahmah

Jawahir, Yahya, / dan As’ad sebe / lum Qomariyah

Yasin, Abdul Ma / lik, dan Na’imah, / barulah Maryam

Mereka itu / wafat belia / juga Aminah


Dari enam ka / li pernikahan / dan istri-istri 

lahirlah banyak / anak dan cucu / putra dan putri

Merekalah yang / melanjutkan lang / kah perjuangan

berkahnya Maula / na Ja'far Shadiq / Sunan Kudusi 


Anak seberin / da menyebar ke / berbagai tempat

mengabdi dan men / jadi pengayom / rakyat dan umat

Ada petani, / dan niagawan, / juga pegawai

Tapi terbanyak / di bidang ilmu / dalam berkhidmat 


Bukan saja se / mata-mata di / Pulau Madura 

anak cucu Ki / ai Syarqawi / di mana-mana

Jawa, Sumatera, / di Sulawesi, / dan Kalimantan

bahkan tercatat / juga tinggal di / mancanegara


Di Guluk-Guluk,/ empat orang put / ra yang bermukim

Kiai Idris / di Lempong, barat / laut patobin

Kiai Ilyas, / Kiai Sajjad / Lubangsa - Latee

Nyai Aisyah / hijrah dan pindah / ke Sabajarin 


Pada tahun sem / bilan belas ti / gapuluh tiga

“Annuqayah” ba / ru disematkan / sebagai nama

artinya bersih, / namun mengandung / maksud ilmiah

karena menga / cu pada kitab / dasar agama


“Annuqayah” i / tu kitab karya / Imam Suyuthi

yang menisbatkan / Kiai Khazin / Ilyas Syarqawi

menjadi tanda / peralihan ben / tuk pengajian

ke bentuk kelas / dan pengajaran / ala madrasi


Inilah wari / san agung dan se / bagai leluri

Maka putranya / wajib mengajar / kepada santri

menyebarkan il / mu di madrasah / maupun di langgar

cara berdakwah / teladan bil-hal / itulah suri 


Kiai Idris / bangun jaringan / jauh di luar 

Kiai Ilyas / atur strategi / juga mengajar 

Kiai Sajjad / maju melawan / para penjajah

Kiai Husin / ayomi masya / rakat sekitar


Kiai Sajjad / ditembak di La / pangan Kemmisan

karena taktik / licik penjajah / sang kolonial

Darah syahidnya / menguar tajam / wangi kesturi 

para penggotong / mereka membe / ri kesaksian


Itulah jejak / perjuangan me / nuju merdeka

Satu malam pa / da Agresi Mi / liter Belanda

Di ujung tahun / Empat Tujuh mu / ramlah pesantren 

Kiai Khozin / menyusul wafat / menanggung duka  


Pahlawan pergi / membawa mati / tinggal sejarah

anak cucu tak / boleh berhenti / sampai menyerah

pendidikan dan / pengajaran ser / ta pengajian

wajib berlanjut / haram berakhir / tak boleh sudah


Wahai para san / tri Annuqayah,/ janganlah lemah!

kalian wajib / terus berjuang / tegar dan gagah

Tak boleh redup / haruslah mela / wan kebodohan 

biarlah Sang Sya / hid yang wafat me / lawan penjajah 


mfaizi @17 Agustus 2019 


10 Juni 2019

Menggambar Kota dengan Kapur Tulis (Sainul Hermawan)



Dunia Kapur Rudy Tabuti (Sainul Hermawan)

Nauka berteriak semangat memanggil ayahnya
“Lihat Ayah, Rudy mau menggambar Banjarmasin.”

Sungai Martapura digambar tanpa sampah
Selalu penuh jukung hias  mengantar para pelesir menyisir banua
Sepanjang tepiannya orang-orang bercengkrama santai
Menikmati soto Banjar, untuk-untuk, binka, buras, lontong Kandangan
Bernaung di warung-warung beratap sirap ulin
Asyik menyantap musik panting dan madah-madah madihin

Tapi Rudy tiba-tiba berhenti
Penghapus sudah siap di tangan kirinya
Nauka tiba-tiba menyeru layar kaca itu
“Teruskan Rudy sang pencipta, kamu tak pernah salah.”

Rudy tentu tak bisa dengar karena ia manusia kartun di layar kaca
Tapi kenapa dia berkata, “Maaf anak-anak di seluruh dunia
Ini bukan gambar kota yang benar. Aku harus menghapusnya.”
Papan Rudy kembali hitam dan dia siap menggambar kota lain

Nauka berteriak lagi mengajak ayahnya terus nonton
Lihat ayah, Rudy mau menggambar Banjarbaru.”

Dengan kapur hijau dia menggambar perbukitan
Di atasnya digambar kampus pendidikan termegah: the
center of excellence
Setiap gedung rata-rata berlantai tiga tanpa sampah
Sampah orasi mahasiswa
Sampah cermah dosen-dosennya
Sampah birokrasi

Tapi, lagi-lagi Rudy tiba-tiba berhenti
Penghapus sudah siap di tangan kirinya
Nauka tiba-tiba menyeru layar kaca itu
“Teruskan Rudy sang pencipta, kamu tak pernah salah.”

Rudy pasti tak bisa dengar karena ia manusia kartun di layar kaca
Tapi kenapa dia berkata, “Maaf anak-anak di seluruh dunia,
Ini bukan kota dengan sekolah yang benar.
Aku harus menghapusnya.”
Papan Rudy kembali hitam dan dia siap menggambar kota lain

Kayutangi, 29 Maret 2006



Ini adalah puisi karya Sainul Hermawan, seorang penyair cum dosen di Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan. Puisi ini dicuplik dari bukunya, Mata untuk Mama (Scripta Cendekia, 2009), yang notabene merupakan kumpulan cerpen dan puisi.

Dunia Kapur Rudy Tabuti

Nauka berteriak semangat memanggil ayahnya
“Lihat Ayah, Rudy mau menggambar Banjarmasin.”

Kita dapat dengan mudah menduga, bahwa tokoh Nauka dalam puisi ini adalah anak si penyair dan yang disebut ayah adalah si penyair itu sendiri: Sainul Hermawan. Kita dapat berfantasi soal ini, terutama bagi mereka yang telah menjadi ayah dan punya anak kecil. Demikianlah cara anak mencari perhatian ayahnya, memanggil-manggil dengan suara yang tinggi meskipun sedang berada di sampingnya, lebih-lebih jika yang ingin ditunjukkan si anak merupakan hal baru dalam dunianya.

Adapun Rudy Tabuti sendiri adalah tokoh dalam Chalkzone, kartun kapur ajaib yang mewujudkan apa pun yang diinginkan si penggambar. Kartun ini menggambarkan fantasi anak-anak yang dapat meluruhkan segala ketidakmungkinan di dunia nyata. Gajah masuk pipa ledeng tidak mungkin terjadi, itu hal itu ada dalam kartun Tom & Jerry. Anak-anak menerima itu sebagai suatu fantasi yang (mungkin) nyata karena mereka tidak pernah membantahnya.

Kejutan dalam dua kalimat pembuka di atas tersebut bukanlah Rudy, melainkan karena ia menggambar kota tempat si Nuaka tinggal, yaitu Banjarmasin, suatu hal yang mungkin istimewa karena kota tersebut dikenal pula oleh pemeran film kartun dunia. Akan tetapi, yang mengambil peran berikutnya adalah si ayah, yaitu sang penyair, karena ia menggambarkan gaya ironi si Rudy, sebagaimana
Sungai Martapura digambar tanpa sampah (padahal mestinya kotor dan berlimbah. Sungai tersebut ditampilkan sisi indahnya saja, seperti)
Selalu penuh jukung hias (sampan kecil untuk pariwisata) mengantar para (orang yang ber-) pelesir menyisir banua (banua adalah sebutan untuk suku Dayak yang tinggal di sepanjang bantaran sungai, khususnya di Kalimantan. Keintiman wisata itu juga terlukis dalam bait berikut:)
Sepanjang tepiannya orang-orang bercengkrama santai
Menikmati soto Banjar, untuk-untuk, binka, buras, lontong Kandangan (jenis-jenis kuliner khas lokal)
Bernaung di warung-warung beratap sirap ulin
Asyik menyantap musik panting dan madah-madah madihin (“madah” berarti pujian dan “madihin” adalah pelakukan, yakni orang yang memuji. Namun, “madah madihin” sendiri merupakan kesenian Kalimantan Selatan, yang biasanya dipentaskan bersama alat musik berdawai yang disebut panting, sejenis gitar khas Tapin)

Ketika si tokoh terpesona pada gambar Rudy, ia terkejut karena gambar indah itu akan dihapusnya. Nauka tidak terima. Ia memberi semangat Rudy agar melanjutkan kerjanya.
Tapi Rudy tiba-tiba berhenti
Penghapus sudah siap di tangan kirinya
Nauka tiba-tiba menyeru layar kaca itu
“Teruskan Rudy sang pencipta, kamu tak pernah salah.”

Nah, pada bagian ini si penyair mengambil peran, menekankan ironi menemukan tempatnya di dalam larik-larik puisi, bahwa apa anak-anak (dan begitu pula orang dewasa yang kekanak-kanakan) cenderung hanya ingin melihat kenyataan berdasarkan sisi baiknya saja, serta cenderung menutupi sisi gelapnya. Pada bagian ini adalah gambaran bagaimana si Rudy harus bersikap: menggambarkan kenyataan.

Rudy tentu tak bisa dengar karena ia manusia kartun di layar kaca
Tapi kenapa dia berkata, “Maaf anak-anak di seluruh dunia
Ini bukan gambar kota yang benar. Aku harus menghapusnya.”
Papan Rudy kembali hitam dan dia siap menggambar kota lain

Pada dasarnya, puisi “Dunia Kapur Rudy Tabuti” ini terdiri dari dua bagian dan keduanya, secara pola dan susunannya mirip. Yang berbeda hanya pada bagian latar saja. Yang sudah saya ulas di atas anggap saja sebagai pertama dan yang berikut ini adalah bagian kedua. .

Nauka berteriak lagi mengajak ayahnya terus nonton
Lihat ayah, Rudy mau menggambar Banjarbaru.”

Sama dengan pola dua bari pertama, bagian ini kembali Nauka meminta perhatian si ayah (penyair). Yang membedakan dengan bagian pertama di atas, bagian ini menampilkan kota Banjarbaru sebagai latarnya. Suasana yang dibanugn pun berbeda,

Dengan kapur hijau dia menggambar perbukitan
Di atasnya digambar kampus pendidikan termegah: the
center of excellence
Setiap gedung rata-rata berlantai tiga tanpa sampah
(Tiga larik di atas ini merupakan gambaran lembaga pendidikan tinggi yang oleh penyair,melalui tangan Rudy dan kapurnya, digambarkan sebagai lambang rujukan, asri pula, dan megah. Sempurnalah ia. Tapi, mengapa gedung berlantai disandingkan dengan sampah? Sama seperti bagian pertama, sungai diandaikan bersanding dengan kebersihan, tanpa sampah. Barangkali, begitulah satire dibuat, bahwa sungai Martapura itu kotor dan gedung yang megah itu banyak sampah. kita tidak tahu, kampus apakah yang dimaksud si penyair, tapi besar kemungkinan adalah kampus tempat dia mengabdi. Kok bisa dia mengejek rumah sendiri? Bukan mengejek, agaknya ini refleksi, kritik untuk diri sendiri, karena sejauh ini ia menemukan)
Sampah orasi mahasiswa
Sampah cermah dosen-dosennya
Sampah birokrasi
(di kampus yang katanya the center of excellence tersebut).

Masih seperti sebelumnya, gayanya masih sama: mengulang ucapan Nauka dalam memberi semangat terhadap si tokoh cerita, Rudy Tabuti.
Tapi, lagi-lagi Rudy tiba-tiba berhenti
Penghapus sudah siap di tangan kirinya
Nauka tiba-tiba menyeru layar kaca itu
“Teruskan Rudy sang pencipta, kamu tak pernah salah.”

Rudy pasti tak bisa dengar karena ia manusia kartun di layar kaca
Tapi kenapa dia berkata, “Maaf anak-anak di seluruh dunia,
Ini bukan kota dengan sekolah yang benar.
Aku harus menghapusnya.”
Papan Rudy kembali hitam dan dia siap menggambar kota lain

Kayutangi, 29 Maret 2006

Ada dua gagasan penting di sini: pertama, “bukan gambar kota yang benar” dan “bukan kota dengan sekolah yang benar”. Itulah mengapa Rudy harus menghapus dan membuat gambar yang lain, yang meskipun tidak fantastis dalam karya, tapi lebih ikonik, lebih dekat dengan kenyataan. Begitulah cara penyair mengkritik, tidak harus dengan kata dan tangannya sendiri. Sainul Hermawan meminjam kapur Rudy dan tokoh Nauka untuk menjelaskan gagasannya, bahwa Banjarmasin dan Banjarbaru adalah dua kota yang meskipun punya sejarah yang hebat, tapi menurutnya belum benar-benar seperti yang diharapkan oleh masyarakatnya.
  
Wallahu a’lam