11 Juli 2018

Hanoman di Prambanan (Martin Jankowski)


Hanoman di Prambanan (Martin Jankowski)


saat Hanoman sang raja kera
diam-diam menyerahkan cincin Rama
Sinta tahu dia akan selamat
dan Rahwana akan kalah

sementara ketujuh anak Hanoman duduk
di depan teve di rumah dan menonton
film kartun jepang sedang istri Rahwana
memasak nasi dengan ikan asin dan suami Sinta
menyopir kijang usangnya sebagai taksi liar di Yogya

di Prambanan busur-busur emas berkilauan
cinta akhirnya menang dan para penari
membungkuk dengan anggun di hadapan tamu-tamu
untuk foto digital yang penghabisan

membungkuk di hadapan tamu dari belanda
dari jepang prancis dan jerman sebab
orang indonesia hanya menginjak tempat pertunjukan
mewah di depan candi suci Prambanan
itu sebagai penari atau pelayan

yang lain terlalu mahal


***



Martin Jankowski adalah penyair dari Jerman yang lebih dulu masyhur sebagai penulis lagu dan penyanyi folk. Ia sering melawat ke Indonesia. Martin menulis sebuah novel Rabet, sebuah novel yang mengungkap ‘sejarah yang tak terkuak’ dari gerakan oposisi dalam memperjuangkan demokratisasi. Latar novel tersebut adalah peristiwa reunifikasi Jerman dengan penandaan runtuhnya Tembok Berlin.

Dalam buku “indonesisches sekundenbuch”, ia merekam jejak-jejak budaya perjalanan ke beberapa kota di Indonesia. Salah satunya berjudul “Hanoman in Prambanan”. Buku tersebut diterjemahkan oleh Katrin Bandel dan diberi judul “Detik-detik Indonesia”.

“Hanoman di Prambanan”

Judul di atas merupakan gambaran singkat sendratari Ramayana yang dilangsungkan di pelataran candi Prambanan. Pertunjukan ini bersifat kolosal dan banyak menyedot wisatawan, terutama pelancong dari mancanegara. Tentu saja, pertunjukan yang ditonton oleh si penyair ini bukanlah sekadar pertunjukan tentang Hanoman, melainkan drama penculikan Sinta, sebuah pertunjukan yang salah satu adegannya yang paling terkenal adalah keterlibatan Hanoman.

saat Hanoman sang raja kera (yang di dalam epos Ramayana memang disebut sebagai wanara [kera], ditugaskan oleh Sri Rama untuk menjemput Sinta di Alengka, lalu secara)
diam-diam menyerahkan cincin Rama (sebagai “sandi khusus”, pada saat itu pula)
Sinta tahu dia akan selamat
dan Rahwana akan kalah (Kenyataan ceritanya memang demikian).

Yang digambarkan oleh penyair pada bait pertama ini adalah pengantar untuk masuk ke dalam ruang tafsirnya yang baru dalam memandang Ramayana sebagai wiracarita, juga sebagai pertunjukan, juga sebagai fenomena sosial-budaya. Martin tidak perlu berpanjang lebar dalam menggambarkan agedan “Hamoman obong” ini karena yang sebetulnya ingin dia sampaikan adalah hal lain, yakni konteks masyarakat Jawa-Indonesia yang menyambutnya serta latar sosial dan budaya yang meligkupinya.

sementara ketujuh anak Hanoman duduk
di depan teve di rumah (Nah, pada bait kedua inilah sudut pandangnya mulai diubah. Jika Hanoman pada paragraf pertama adalah tokoh cerita di atas panggung, pada bagian ini, yang dimaksud Hanoman adalah “orang yang berperan sebagai Hanoman di atas panggung”. Makanya, penyair menggambarkan identitas Hanoman melalui “tujuh orang anaknya”, bukan “dua orang anaknya” sebagaimana diketahui dalam pewayangan (Trigangga dan Purwaganti). Tetapi, mengapa di sini ada tujuh? Jumlah itu mungkin untuk menggambarkan situasi ekonomi yang sulit jika ditakar bagi seorang seniman panggung sebagai tulang punggung, tapi memang boleh jadi demikian adanya. Dilukiskan, mereka yang tujuh itu tampak sedang) [dan] menonton
film kartun jepang (gambaran tontonan berdasarkan selera kebanyakan ketika puisi ini ditulis) sedang(kan) istri Rahwana (nah, dalam wiracarita Ramayana, istri Rahwana tidak menempati posisi sentral cerita karena Rahwana sendiri masyhur sebagai penakluk wanita, mempunya banyak istri. Sebab itu, yang dimaksud istri Rahwana pada bagian ini sama seperti pada contoh sebelumnya, yakni “istri daripada pemeran Rahwana”. Rupanya, si istri tersebut juga miksin, tergambar dalam frase).

memasak nasi dengan ikan asin (yang notabene merupakan gambaran kehidupan masyarakat kelas bawah. Penyair juga tidak lupa menggambarkan kehidupan pemeran yang lain, yakni Rama, yang terlukis dengan ungkapan “suami Sinta”, dan penyair tidak menggunakan istilah “Sri Rama”) dan suami Sinta

menyopir kijang usangnya sebagai taksi liar di Yogya (bagian ini juga menggambarkan hal yang sama dengan potret kehidupan keluarga para seniman pemain pementasan Ramayana di Prambanan itu. Yang ini, kebetulan, secara harian bekerja sebagai sopir taksi liar dengan mobil Toyota Kijang sebagai lambang keusangan)

di Prambanan busur-busur emas berkilauan (pada bagian ini si penyair membuat gambaran pertentangan: Jika di dalam kehidupan nyata para seniman panggung itu hidup dalam situasi kesederhanaan, tetap di panggung, mereka tampil dalam keserbamewahan yang dilambangkan dengan “busur emas berkilauan”. Salah satunya adalah karena pertunjukan tersebut adalah pertunjukan kolosal di pelataran candi suci Prambanan. Adapun bagian perebutan Hanoman yang ditugas Rama untuk menejmput Sinta diamsalkan pertarungan antara cinta dan kesumat, di mana)

cinta akhirnya menang (sampai pada baris inilah akhir daripada pertunjukan itu. Kalau diibaratkan, bagian di atas merupkan latar dan pada bagian berikutnya, setelah ini, merupakan kritik penyair dalam menyikapi fenomena sosial secara umum. Penyair Martin menggambarkan) dan para penari
membungkuk dengan anggun di hadapan tamu-tamu
untuk foto digital yang penghabisan (sebagai bagian daripada rentetan acara ‘seremonial’ yang biasa terjadi dan ditemukan di setiap pertunjukan. Biasanya, setelah menyelesaikan pertunjukan, para penampil akan berdiri berjajar di atas panggung, menjura dan membungkuk bersama-sama sebagai salah satu bentuk penghormatan. Di saat yang sama, juru foto dan penonton secara bersamaan akan mengabadikan momen tersebut lewat kamera. Penghormatan yang diejawantahkan dengan cara “membungkuk” sebagai bagian dari tradisi Timur yang juga ditemukan di negara lain di Asia, terutama Jepang dan Cina, menjadi perhatian penting bagi si penyair karena hal itu barangkali tidak mudah ditemukan di negaranya, di Eropa. Sebab itulah, penyair merasa perlu menggunakan repetisi untuk bagian ini, bahkan mengulangnya dalam bait terpisah).

(Para seniman dan awak panggung itu) membungkuk di hadapan tamu dari belanda
dari jepang prancis dan jerman (bagian ini [penyebutan nama-nama negera] sekadar merupakan ilustrasi keterwakilan saja, bahwa pertunjukan yang dilaksanakan di pelataran candi suci Prambanan itu adalah pertunjukan besar dan hebat dan/atau kolosal yang digambarkan si penyair dalam ilustrasi kehadiran para penonton yang datang dari berbagai negara. Hal ini menjadi butir penting) sebab (kata si penyair)
orang indonesia hanya menginjak tempat pertunjukan
mewah di depan candi suci Prambanan
itu sebagai penari atau pelayan (jika bukan penari atau pelayan, penyair melihat pertunjukan itu hanya dihadiri dan ditonton oleh orang-orang asing, orang bule, bukan penduduk dan warga. Tentu saja, orang Indonesia pada umumnya, orang Jogja dan Jawa pada khususnya, juga menonton sendratari di tempat yang lain, di ruang yang lebih kecil. Adapun pertunjukan di Prambanan hanya ditonton oleh mereka yang rela merogoh koceknya lebih dalam. Inilah titik tekan ironi sebagaimana tergambar pada bagaian akhir puisi yang hanya terdiri dari satu baris satu bait saja, satu bagian frase yang sebetulnya secara tata bahasa dapat menjadi serangkai dengan paragraf sebelumnya. Penyair Martin menyendirikan frase di dalam bait tersendiri itu dengan maksud memberikan penekanan melalui tipografi. Dia merasa penting untuk menyampaikan adanya kesenjangan sosial, di mana sebuah pertunjukan kolosal ditonton oleh para bule yang menganggapnya sebagai kebutahan sekunder dan sebagian lain menganggapnya sebagai kebutuhan mewah karena tiket pertunjukan masih tidak terjangkau.

Menurut Martin, “orang kita”, berperan di luar sebagai pelayan atau pemain—misalnya dengan menjadi penonton—di sebuah pertunjukan kolosal di pelataran candi Prambanan itu adalah sesuatu yang mewah dan mahal. Maka dari itu ia menulis: “yang lain terlalu mahal”.

Wallahu a’lam

11/07/2018 © M. Faizi

28 Juni 2018

Di Atas Bukit Kapur


foto oleh Pangapora

oleh M. Faizi

Aku berdiri di atas bukit kapur
melihat pecahan batu-batu
tanpa perlawanan, tanpa senjata
terhadap mesin gerinda

Dari balik serpihan jerubu
samar-samar negeriku tampak maju

Di atas bukit kapur yang tidur membujur
dari Rembang hingga timur ujung pulau Madura
kakiku menggigil, imanku gemigil
tak yakin kalau aku benar-benar berpijak
di tanahku sendiri, tanah leluhur yang berdaulat

Perbukitan kapur tidur membujur,
batu-batu karst tetaplah keras
alam nan hening, terjaga oleh derum mesin
kemarau yang semakin panas

Aku berdiri di atas bukit kapur
melihat pecahan batu-batu
tercacah jadi kerakal, hancur di dadaku

Lalu, apakah guna rintihan
untuk sesuatu yang bukan milikku?
Perbukitan itu, ia seperti dirimu
yang lahir dari rahim seorang Ibu
hanya titipan untuk dirawat dan dijaga
sebab selain itu, tugas ayah memberi nama

Aku berdiri di atas bukit kapur
yang bergeming, tidur di dalam hening
di atasnya tumbuh tembakau
di bawahnya tersimpan mineral
dan aku melihatmu berdiri di bawah
menatapku dengan mata penuh gairah
memanggilku turun demi menyambut cinta
tapi aku tahu, engkau akan naik setelah itu:
untuk menghancurkannya

14/10/2017

27 Juni 2018

Nujum Maut (Mashuri)




dalam remang epitaf, aku temu namamu tanpa penanda waktu
aku mencatat jejak tanggal yang tanggal dari batu
tapi api itu masih berapi dan menyepi di tepi prasasti
segalanya terpendam seperti matahari dalam malam
seperti janji kata pada bunyi, seperti hasrat yang diam di urat
nadi, seperti aku sepasang mata yang lelah membaca
nujum yang tergurat di dedaunan nasib, yang bakal terbelah atau menyatu
di ujung titik atau berbalik...
dalam bayang-bayang, ketika cahaya papa, aku mengetuk jendela rahasia
tapi di baliknya, tak ada sungkawa, tak ada maut, hanya kabut tak habis-habisnya
dalam remang nisan itu, hanya kelahiran
juga perpindahan bentang angka-angka

Yogyakarta, 2011

Kitab puisi "Munajat Buaya Darat" adalah buku kumpulan puisi Mashuri. Di dalamnya ada sekian puisi, tapi saya memilih "Nujum Maut" karena beberapa alasan, salah satunya adalah karena ia cukup pendek sehingga tidak terlalu menguras waktu untuk ditafsirkan. Proyek #tafsirpuisimanasuka ini tidak disokong oleh pariwara atau iklan dari penerbit maupun orangnya meskipun saya ulas dan saya terbitkan berbarengan dengan pemilukada Jawa Timur. Semua ini seperti hidup, serba suka-suka, meskipun yang sedang dibicarakan adalah maut.

"Nujum Maut"

Nujum artinya bintang-bintang. Dalam tradisi Indonesia kebanyakan, yang dimaksud nujum adalah ramalan, terutama yang berpangkal pada rasi bintang. Ilmu perbintangan tidak hanya astronomi, melainkan juga astrologi. Dalam tradisi Islam, perbintangan diaplikasikan dalam ilmu falak untuk menentukan waktu shalat. Namun, sebagian juga menggunakannya sebagai ramalan nasib. Abu Ma'syar al- Falaki adalah satu nama penting di bidang ini.

Melalui ilmu ini, seorang mumpuni bahkan bisa memprakirakan hal-hal rumit dan misterius, seperti kapan helai-helai daun pohon tertentu akan gugur, dsb. Apa pun dapat dinujum. Sebatas memprakirakan, bukan menebak apalagi menentukan sembari meyakini bahwa keputusan tertinggi tetap berada di tangan Tuhan, begitulah pandangan masyarakat umum. Akan tetapi, dalam puisi ini, nujum tidaklah bermaksud ke situ, malah sebaliknya. Penyair sedang ‘meramal’ masa hidup seseorang justru ketika dia sudah mati. Alasannya adalah karena dia ingin tahu jejaknya semasa hidup karena tak ada kabar dan data yang tersisa.

* * *

dalam remang epitaf (epitaf adalah tulisan pada nisan, tapi remang yang dimaksud penyair pada puisinya ini bukanlah penanda suasana, melainkan kesamaran data-data atau riwayat perihal jasad orang yang terbaring di baliknya, di dalam tanah. Hal itu tergambar pada kalimat berikut), aku temu namamu tanpa penanda waktu/ (artinya, penyair hanya sekadar menemukan nama orang, tetapi tidak menemukan data yang lebih dari itu, termasuk soal tanggal dan waktunya: kapan. Penyair juga meneguhkan hal ini pada baris selanjutnya)
aku mencatat jejak tanggal yang tanggal dari batu/ (“tanggal yang tanggal” adalah permainan homograf. Yang pertama bermakna perhitungan hari/bulan, yang kedua bermakna lepas. Penyair menggambarkan data tanggal itu seolah terlepas dari batu nisan. Akan tetapi, meskipun data-data semacam itu penting bagi “dia yang hidup” tetapi “tidak bagi yang mati”, ia menganggap bahwa nilai kesejarahan dan perjuangan si jasad terkubur tetaplah bergelora, seperti api. Pada larik berikutnya, penyair Mashuri menggambarkan)
tapi api itu masih berapi dan menyepi di tepi prasasti/ (di bagian ini, penyair lagi-lagi bermain bunyi pada kata-katanya. Artinya, semangat dan hasil perjuangannya tetap terbaca, tetap kelihatan bagi mata penyair yang nanar meskipun ia sepertinya tersamar, pada prasasti yang ada di areal kuburan. Situasi seperti ini ia gambarkan seperti matahari yang menyebabkan “malam di sini” tetapi “siang di tempat lain”. Ungkapnya:)
segalanya terpendam seperti matahari dalam malam/ (dan karena merasa penting untuk menggambarkan jasa-jasa mendiang yang berkalang tanah itu, ia membuat dua perumpamaan lagi) seperti janji kata pada bunyi (yang terkadang memang dibutuhkan unsur auditifnya, wabil khusus dalam puisi mantra), seperti hasrat yang diam di urat/
nadi/ (bagaimana hasrat seseorang yang tidak tersurat dan bisa ditangkap oleh mata inderawi, melainkan nampak nyata mengalir di urat nadi, pada syaraf-syaraf, sehingga seseorang yang terkena stroke—misalnya—hanya tinggal punya hasrat, tetapi perintahnya tidak dapat ditunaikan melalui ‘urat-urat nadi’ itu karena ada masalah pada sistem sensornya, pada motoriknya. Penyair juga menjadikan dirinya sebagai tamsil), seperti aku sepasang mata yang lelah membaca/ (merasakan dirinya menjadi mata yang lelah membaca, yang capai dalam meramal dengan)
nujum yang tergurat di dedaunan nasib/ (“dedaunan nasib” adalah metafora rahasia [sebagaimana dijelaskan di muka: tentang ramalan daun melalui nujum], yang bakal terbelah atau menyatu/
di ujung titik atau berbalik.../(maksud daripada dua larik ini adalah sama, yakni tentang kemungkinan dari hasil nujum; terbelah atau menyatu; ujung titik atau berbalik. Dengan demikian, penyair tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa nujum adalah upaya mendekat untuk ‘melihat’ takdir berdasarkan tanda-tanda, dengan peta langit atau tanda alam lainnya, bukan meramal dan memastikan, apalagi menetapkan keputusan).

dalam bayang-bayang, ketika cahaya papa (bagian ini sama seperti baris pembuka, akan tetapi, remang pada bagian ini bermakna denotatif, remang sungguhan, yakni situasi nisan/makam di malam hari karena rendah cahaya, cuma penyair menggunakan diksi ‘papa’ yang artinya miskin atau yatim. Upaya ini adalah untuk menyangtkan, terbukti penyair lantas membenturkannya dengan upaya penggalian rahasia yang mestinya membutuhkan limpahan penerangan, banyak data), aku mengetuk jendela rahasia/ (dan pernyataan ini pun masih dipertentangkan lagi dengan baris berikutnya)
tapi di baliknya, tak ada sungkawa, tak ada maut (sudah situasi makamnya remang, tidak ada petunjuk apa pun, malah digambarkan dengan tiadanya kedukaan, bahkan tiadanya tanda kematian, di balik tempat yang didiami oleh “orang yang mati” itu. Lalu, apa yang tersisa?) hanya kabut tak habis-habisnya/ (kabut adalah perlambang kesamaran. Dengan begitu, situasinya semakin dekat dengan diksi “remang” dan “cahaya papa” di atas)
dalam remang nisan itu, hanya kelahiran/
juga perpindahan bentang angka-angka/ (puisi ditutup dengan lukisan perihal proses manusia menjalani hidup, bahwa sebetulnya kita hanyalah angka-angka di tahun lahir dan disudahi dengan angka di tahun terakhir. Di bentangan itulah manusia hidup, menjalani kehidupan. Adapaun karya, jasa, dan amalnya akan melampaui itu semua).

Wallahu a’lam.

© M. Faizi, 27 Juni 2018

Keterangan:
1.      Lambang “ / “ adalah tanda akhir baris
2.      Semua huruf memang ditulis dengan huruf kecil