08 Januari 2010

Andai Ayahku Masih Ada



Pernahkah engkau menangis untuk ayahmu?
selagi dia di dekatmu, menangislah
pikirkan semua amal kebajikanmu
lalu takarlah dengan kebaikannya

Pernahkah engkau bekerja untuk ayahmu?
selagi dia di dekatmu, berbuatlah
andai seluruh hidupmu kaupersembah
belum cukup bekerja menukar upah

Pernahkah engkau berpikir untuk ayahmu?
selagi ada kesempatan, berpikirlah
karena jika ia mendahuluimu
engkau hanya akan diganggu pikiran itu

Kini, ayahku telah tiada
aku menangisi kepergiannya
tapi yang terdengar hanya tangisku
air mata yang gemericik
meleleh, melewati pancuran telingaku

Aku tak menghendaki kepergiannya
tapi maut menjemput
memberi tahu aku laksana mimpi
dan kepergian ayahku sebagai kesadarannya

Pernahkah engkau menangis untuk ayahamu?
karena ia bekerja untuk menghidupimu dan
engkau hidup tanpa berterima kasih padanya?
berpikirlah, menangislah, dan bekerjalah selagi bisa
itulah cara yang baik mencicil kebaikan
karena sesungguhnya,
seluruh hidupmu adalah utang
yang tidak mungkin lunas akan terbayar

7/12/2007

31 Desember 2009

Di Maqbarah Tebu Ireng


—من لم يحـزن بموت العـالم فهو منـافـق—


Aku mencium karomah di sini
wewangian yang tersedak
manakala aku terlalu dalam menarik napas
tapi terlalu menyengat
kalau kubiar saja melintas

Di maqbarah ini,
betapa tubuh jadi kaku
melihat senarai nama
ulama-ulama yang berjuang membela negara
ataupun yang gugur melawan kebodohan

Santri yang membaca dan menghapal Al-Quran
para tamu, dan juga mereka yang hadir
di luar batas mata-penglihatan
berkumpul di sini, di maqbarah ini

Aku bergidik:
adalah ilmu sebagai tanju
merawat si empunya dari gelap waktu
aku menakik:
adalah istiqamah ‘ainul karomah
kemuliaanlah bagi seisi maqbarah

Tiba-tiba, serasa seseorang menepuk bahu
saat aku meninggalkan tempat itu
seolah melarangku pergi
“Hendak ke mana?”
aku tak menjawab dan terus melangkah
ke luar areal maqbarah
menjejak, tertunduk memandang ke bawah

“Alangkah bahagia engkau, Tanah
dipilih alim-ulama jadi maqbarah…”

23/8/2008

28 Desember 2009

Mertajasa




Apakah engkau mendengar salamku?
atau mencium wangi dupaku?

Aku datang
menabur bunga
menabur doa
tanpa benar-benar tahu
apa sesungguhnya yang terjadi di sana

Dalam hukum ruang-waktu, kami di sisimu
tanpa benar-benar tahu
karena dekat dan jauh
menyatu, menjadi satu, dalam rahasiamu

7/11/2009