20 April 2009

Untuk adik-adik kelas akhir SLTA, saya ucapkan "selamat menempuh ujian nasional, semoga selamat sampai tujuan!"

UJIAN

Pilihlah jawaban di bawah ini yang menurut Anda paling benar:

1. Di bawah ini, yang mengacu kepada nasib bangsa Indonesia saat ini adalah, kecuali:
A. Stabilitas nasional
B. Biaya pengobatan dan kesehatan gratis
C. Pendidikan murah dan merata
D. Pajak dipergunakan sesuai mestinya

2. Sejak lengsernya rezim Orde Baru, kondisi pemerintahan kita berada dalam keadaan:
A. Rupiah bersaing dengan dolar
B. Harga BBM sangat terjangkau
C. Korupsi diberantas ke akar-akarnya
D. Semua pencoleng dipenjara

3. Yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki kualitas hidup rakyatnya adalah:
A. Diberi pinjaman supaya ngutang tanpa membayar
B. Disubsidi beras agar tidak mengamuk ketika lapar
C. Diberi janji-janji, meskipun nanti diingkari
D. Dibiarkan menuntut, tetapi kehendak dibatasi

Sementara aku masih sibuk berpikir:
‘sekolahnya beda, gurunya beda
fasilitas dan prasarananya pun berbeda
kok standar penilaiannya bisa sama?’
tiba-tiba, kriiing…
waktu habis, jawaban dikumpulkan
padahal belum semua soal kukerjakan

Aku deg-degan
sebab kusadar semua yang kuinginkan
tidak tersedia di dalam kotak lembar jawaban

14/5/2005

16 April 2009

AKU, KEAGUNGANKU, DAN KELUPAAN

Betapa agung diriku
betapa aku diciptakan oleh diriku sendiri
si pemimpi yang dapat mewujudkan semua mimpi
tapi tak dapat menciptakan kesadarannya

Aku digerakkan oleh sekeping chip
yang menabung semesta data;
seperti data dalam memori
yang diam dan bergerak
seperti degup jantung
aku yang menciptakan, aku yang mengendali
tapi dialah yang memberi nilainya
aku memberinya sistem, nadi, kelenjar, pikiran
karena kehidupan adalah sebuah hierarki sistemis
sistem yang beranak-pinak sistem
sistem yang menciptakan dan diciptakan oleh sistem

Di bawah kubah langit, jagad semesta
sistem yang rapi, dawam, terkendali
sistem yang terkontrol, semilyar data
dalam kungkung kangkang “kun”
masya Allah “fayakun”
kita bergerak dalam database
membangun peradaban angka-angka
ringkas dan mampat

Makhluk agung ini dapat menciptakan apapun
ia menciptakan sistem sebagai bagiannya
sistem yang menciptakan sistem
yang menciptakan sistem
yang menciptakan sistem
yang menciptakan…
ia menciptakan kehidupan pada benda-benda
instrumentalia, komputerisasi, hidup dan mati
dengan dan oleh data

Meskipun dapat mewujudkan semua mimpi
makhluk agung ini tidak dapat melawan lupa
sementara basis sistem adalah kesadaran
rahasia penciptaan ada pada kelupaan
siapakah yang mampu melawan lupa?

Memori dan sistem tak punya perasaan
sistemisasi berusaha melawan kelupaan

Aku, betapa agung diriku
yang mampu mewujudkan mimpi-mimpi
tapi tak bisa memimpikan kesadaran
dari kelupaannya

15/12//2007


PETANI DAN PENYAIR

Petani? Bukan-nya buruh tani?
mereka yang punya nyali
berani menukar otot dengan napasnya

Subsidi? Subsidi apa?
subsidi buat apa jika lahan sudah tak ada?

Buruh tani membanting tulang
melawan harga tengkulak dan penimbun
melawan harga yang ditentukan pembeli
alangkah gelapnya!

Rakyat miskin memang selalu ada
untuk memberi perimbangan bagi kaum kaya

Pialang cemas pada fluktuasi
tidak takut pada yang lain
para petani mengkhawatirkan hama
tidak takut pada yang lain
kaum terpelajar memprihatinkan pestisida
tidak takut pada yang lain
sementara buruh tani tidak takut pada apa pun
apa yang hendak ditakutkan?
tak mungkin: takut pada diri sendiri

Barisan buruh tani, maaf
(ini bukan untuk para petani)
jika ratapanku kurang mewakili
karena saya juga sedang berduka
atas lahan bahasa yang penuh pestisida
atas berton-ton lema tanpa diketahui nasabnya
juga barangkali karena saya bukan penyair
hanya buruh kata-kata

17/05/2007

27 Januari 2009

LIRIK PALESTINA



Palestina!

Wahai bunda bagi bermilyar manusia. Gerangan apakah yang membuat air matamu berlinang tak selesai-selesai? Duka maha laksana apa kautanggung sehingga tangismu bagaikan drama tanpa penghujung; lakon panjang anak-anak menyandang senjata, bermain bersama martir, sementara para ibu menjadi janda di waktu muda, atau mati sebelum melihat anaknya dewasa, para pejuang yang gagah karena cinta tanah air, meskipun lemah karena hidupnya semakin rengkah?

Ke manakah anak cucumu jauh melanglang? Adakah para Yahudi itu tahu bahwa tanahmu selalu gembur karena basah oleh air mata, sementara engkau, ibu pertiwi yang menghidupinya, tersengal bila melenguh, tersendat saat bernapas, menahan sesak, memikul tragedi abadi semenjak awal mula drama kehidupan dimulai? Adakah para Kristiani itu membesuk engkau terbaring, terbujur, terlentang menahan sakit, mungkinkah mereka akan melupakanmu; tempat yang sangat mereka agungkan itu? Mungkinkah kaum Muslimin melupakanmu; tanah penuh sejarah tempat tonggak perjuangan ditancapkan?

Apakah mungkin derita ini adalah hikmah mulia yang terselubung kasat mata? Namun, mengapa mereka bertikai, ataukah hal itu merupakan wujud rasa cinta pada bundanya sebagai pembelaan?

Hingga sekarang, kecuali lirik ini, aku tak punya sapu tangan bagi air matamu yang tak habis berlinang.

Palestina!

Duhai bunda bagi bermilyar manusia. Apa kabar Yerusalem, yang kian tua oleh usia, tapi selalu muda untuk dicinta? Para nabi yang pernah singgah di sini, kalau saja sekarang mereka ada, sanggupkah tidak menangis ketika melihat kota­kotamu porak­poranda, bergelimang darah, bermandikan peluru, sementara di lain tempat, anak-anakmu hidup mewah dan pesta pora? Dan apakah pernah terbayang oleh nenek moyangmu para Punisia, bahwa bumi yang dulu mereka temukan itu bakal menjadi sebuah tanah subur bagi tumbuhnya pertikaian? Apakah mereka pernah menduga kalau tanah yang mereka puja selalu menangis tak ada habis­habisnya?

Palestina!

Sampai saat ini aku tak tahu, apakah dunia cukup kaya menyediakan air mata untuk menangis atas drama lukamu yang tak terhingga? Sampai saat ini aku tak tahu, dengan doa apa aku memohon kesejahteraan untukmu. Atau karena aku memang tak tahu, jangan-jangan pada kesedihanmu itulah terletak kebahagiaan semesta, dan di lukamu itulah, dunia mencurahkan isi hatinya yang kancap oleh air mata?

Hingga sekarang, kecuali lirik ini, aku tak punya sapu tangan bagi air matamu yang tak habis berlinang. Sampai saat ini aku tak punya cerita untuk melipur lara ataupun kata-kata yang tepat untuk mengucapkan belasungkawa.

Dunia, mari hentikan drama Palestina. Turunkan layar dan akhiri pertunjukan. Cukup pedih mata menangis. Cukup perih hati teriris.
Berakhirlah penderitaanmu, Palestina.

Damai dan sejahtera bagimu.

Amin.

(dicuplik dari buku kumpulan lirik "Sareyang", Pustaka Jaya, 2005)