29 Mei 2022

Bunga Mimpi di Taman Itu

 

Di taman impian itu,
kulihat tumitmu menjejak tanah
menapak tanpa alas, di atas rumput basah
 
Bunga-bunganya mekar ketika malam
dan mencapai puncak keindahannya
sebelum fajar
terlewat oleh orang yang lelap di balik selimut
juga oleh yang nanar, namun tidak bersujud
 
Aku selalu mengimpikan diriku
ada di sana bersamamu:
taman yang ada hanya ada di sana,
atau yang jika ia ada di sini,
pastilah hanya maujud di dalam mimpi
 
Sebab itu, haruslah aku tidur
untuk mensyukuri ajaibnya kesadaran:
wahyu bagi nabi, ilham bagi penyair
Namun aku mesti juga terjaga
untuk meragukan “gubuk nyata lebih baik
daripada istana tapi di dalam mimpi”
karena di taman impian itu,
ungkapan tersebut tidak berguna
sebab ia hanya pantas bagi mereka
yang bunga tidurnya adalah mimpi
tapi tidak bagiku,
yang bunga mimpinya adalah dirimu
 
4/12/2021


1
foto ini saya dapatkan dari orang lain yang mengaku ngambil dari postingan IG almarhumah istri saya, dulu, sebelum akunnya dihapus olehnya

07 April 2021

Umbu Landu Paranggi

Umbu/tatkala.co/lukisan Wayan Redika/2016
Sejak masa remaja dulu, saya punya keinginan bertemu dengan Umbu Landu Paranggi. Dari kabar tersiar, saya tahu beliau tinggal di Bali. Semula, saya mengenal namanya lewat sebutan demi sebutan orang-orang di dalam tulisan mereka yang tersebar rubrik sastra mingguan, di koran-koran yang kala itu berjaya, seperti di Jawa Pos, Suara Karya, Suara Pembaruan, Pelita, Kedaulatan Rakyat, dll.

Waktu mendapatkan berita adanya lomba cipta puisi yang diselenggarakan oleh Sanggar Minum Kopi, kisaran tahun 1994, saya langsung ikut serta. Pasalnya, konon, Umbu adalah salah satu jurinya. Ketika dengar kalau beliau mengampu rubrik sastra di Bali Post, saya kirim. Semua itu terjadi pada usia saya belum 20 tahun. Walhasil, untuk kedua hal itu, saya tidak berhasil.

Salah satu hal yang membuat saya ngotot ingin lebih dekat dengan Presiden Penyair Malioboro tersebut adalah tangan dinginnya dalam membimbing. Ini masyhur bagi banyak orang. Penyair-penyair yang ditemaninya belajar dipastikan ‘jadi’. Salah satu contoh yang saya tahu adalah Raudal Tanjung Banua. Saya menguntit karya-karya Raudal di koran, tanpa sepengetahuannya dan tanpa merasa perlu kenal langsung dengannya sebab hanya seusia dengan saya. Sekurang-kurangnya, saya terpikat pada cara Raudal dalam mengungkapkan suasana ke dalam puisi dan catatannya, ‘masuk’.
 
Lalu, saya mencari cara yang lain, yaitu mendekat kepada Umbu melalui orang yang pernah dekat dan sezaman dengannya. Sebetulnya, ada nama lain yang saya tahu, yaitu Ragil Suwarna Pragolapati. Akan tetapi, karena Ragil dikabarkan menghilang secara moksa, kini yang tersisa tinggal satu nama: Iman Budi Santosa. Menurut teman-teman, nama terakhir ini merupakan orang terdekat Umbu semasa bergulat di Persada Studi Klub, di Malioboro, di kala itu, ketika Malioboro masih menjadi pusat penyair dalam menggali jati dirinya.

Akhirnya, saya pun sering bertemu dengan Mas Iman di Sanggar Teater ESKA, namun tidak sekali pun kami terlibat dalam bicara. Entah, saya merasa sungkan. Kalaupun terjadi obrolan sepatah kata, pasti itu tentang hal lain, seperti tentang kartu, tentang makanan, atau gosip para sastrawan, bukan tentang sastra. Namun, itu sudah cukup, kata saya. 'Tidak kenal dengan Umbu tidak apa-apalah, cukup kenal dengan orang terdekatnya.' Demikianlah saya menghibur diri.

Baru pada tahun 2016, saya bisa intens berkomunikasi dengan Mas Iman, di saat saya justru tidak lagi tinggal di Jogja. Kami terlibat proyek penerbitan buku “Ketam Ladam Ladang Ingatan” dan buku saya sendiri, “Nyalasar”, yang secara kebetulan ditebitkan oleh penerbit yang sama,  Lembaga Seni Reboeng. Melalui kesempatan itulah saya sering bercakap-cakap dengan beliau, lebih serius tentang kekaryaan, tentang sastra, tapi masih belum satu kunci pun tentang Umbu. Dan saya tetap menunggu.

Hingga akhir 2017 atau setahun kemudian, lewat Raudal Tanjung Banua yang sudah saya kenal, saya berhasil terhubung dengan Nuryana Asmaudi. Beliau meminta saya menulis kata pengantar untuk bukunya, “Doa Bulan untuk Pungguk”. Sejatinya, saya menolak karena banyak pertimbangan, salah satunya adalah—tentu saja—faktor kelayakan. Akan tetapi, akhirnya saya tetap menulis karena beliau menyangkutpautkan proyek buku puisi tersebut dengan nama Umbu Landu Paranggi, tentu saja, berkat tulisan saya. Jadi, melalui perantara Mas Nur ini, akhirnya pikiran dan tulisan saya bisa sampai juga akhirnya ke Umbu Landu Paranggi.

Mengapa saya begitu ngotot melakukan ini semua? Saya terpukau pada kesunyiannya: suatu momentum puncak dalam kepenyairan. Begitu pula, selain ketabahan, saya menemukan hal itu pada rekannya, Iman Budi Santosa. Dari mereka, saya menemukan pelajaran, bahwa puisi merupakan salah satu tempat bertafakur dengan cara yang paling sublim. Dan mencintai puisi tidak harus menjadi penyair, lebih-lebih haus—eh, maaf—harus masyhur.

Kini, keduanya telah pergi dan kita nyaris tidak mungkin bertemu lagi. Saya sepakat jika ada yang meringkuk dalam kesendirian lalu bergumam di dalam sepi: “Bahwa tidak mungkin bertemu lagi adalah satuan waktu yang lama sekali.”

Lirik Santri (Video Puisi)

Aku adalah seorang santri. Pesantrenku alam raya, kiaiku hati nurani, dan kitab kajianku tutur panjang para wali.


Aku adalah seorang santri; seorang tawanan di penjara dunia. Akan tetapi, semangatku tak bisa dibendung, seperti angin mencari arah, menelusup melampaui sekat, berkisar, bertiup, melesat.


Aku adalah seorang santri. Pesantrenku adalah sebuah gudang besar di mana tersimpan berbagai macam pusaka, sebuah rumah besar dengan banyak pintu yang selalu terbuka. Tetapi, setelah sekian lama aku pergi meninggalkannya, kini aku melihat, dari kejauhan jarak di peta, tapi sejengkal jarak di dada, diriku tak ubahnya seorang nelayan yang telah menepi, meninggalkan lautan di mana mutiara, ikan­ikan, dan selaksa misteri Tuhan tersimpan. Aku merasa, seolah diri seorang perantau: pergi mencari sesuatu, meninggalkan sesuatu yang membuatku akan kembali kelak.


Aku adalah seorang santri; seorang musafir di negeri badai, seorang miskin di Kota Benda. Orang­orang melihatku kasihan karena tak punya, walaupun sebenarnya aku kaya, sebab hartaku tabah dan derana.


Aku adalah seorang santri dari sebuah kampung bernama kesederhanaan: tempat aku bertolak dan rumah untuk kembali.




video oleh: Bongkar Pasang Production
lokasi: bukit Lancaran, Guluk-Guluk