01 Agustus 2009

Kisah Pak Madi, Budi, dan Kancil yang Suka Mencuri Timun

Betul, lirisme telah menguasai jagad perpuisian tanah air. Tidak seorang pun yang luput dari ketetarikan untuk menulis gaya begini. Yang membedakan hanyalah kekerapan, konsistensi, kecenderungan. Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad telah melakukan penjelajahan untuk menemukan ramuan-ramuan baru, dengan cita rasa yang segar, tetapi tetap saja, aroma lirisme menguap dari sana.

Lirisme itu mendayu, tetapi gagah
lirisme itu menyayat, tetapi nikmat
saya pun turut, larut, dan juga menulis 'ala wazni lirisme, tetapi sesekali slengekan dan sembarang, meletup dan wajib pula tertuang:

KISAH PAK MADI, BUDI,

DAN KANCIL YANG SUKA MENCURI TIMUN



Kerbau Pak Madi ada tiga ekor

dari dulu, hanya tiga ekor


Budi anak Pak Madi

masuk perguruan tinggi favorit

seekor kerbau keluar kandang

modal pintar ternyata cukup mahal

Pak Madi membanggakan Budi

seperti ia mengandalkan kerbaunya

ia rela membayar mahal, demi fasilitas

buat apa biaya minim

tetapi sarana serbamiskin?


Pak Madi berbahagia

Budi sukses meraih beasiswa

lulus dan langsung bekerja

karena sangat pintar

Budi dilamar perusahaan multinasional


Kini Pak Madi buka usaha baru

tandur palawija, menanam mentimun

tapi sayang, ada kancil yang selalu mencurinya

Pak Madi seorang diri, tak mampu menjaga taninya

sementara Budi berda di luar negeri

sebab terlalu pintar, ia tak dapat membantu ayahnya

orang pintar selalu jadi komoditas non-migas

karena itu, Budi lebih bangga jadi Eropa

dari pada punya KTP Indonesia

dan karena itu,

ia bahagia bersama anak-bininya di sana


Kerbau Pak Madi tiada lagi

mentimun pun habis sama sekali

kancil yang cerdik dan pintar mencuri

atau Pak Madi yang bodoh dan mudah dikibuli?


Oh, pendidikanku

mencetak siswa pinter seperti kancil,

nanti kepinteren, malah meminteri

seharusnya, pendidikan menanamkan moral

karena moral adalah modal

dan kancil tidak mau mencuri moral

ia hanya suka mencuri timun


4/2/2007



06 Juni 2009

JEMPUTAN

—Terminal Bis Tirtonadi


Malam ini, di terminal ini
masa lalu tiba-tiba membayang
déjà vu, dalam lirik pilu reminiscence
suasana hangat di gagang telepon
setiap lepas pukul 20 lewat sekian

“Yah, aku Pulang..”
“Ya, aku jemput!”

Cakap kelu
bertahun lalu
romansa
memorabilia

Malam ini, di Terminal Tirtonadi
selepas pukul 20 lewat sekian
seperti pada tahun-tahun yang silam
aku mencari, di mana letak wartel itu?
aku ingin menelepon seseorang:
“Yah, aku pulang
jemput aku besok pagi..”

Malam ini, wartel itu tak ada
nomer tujuan juga tiada
seiiring pula tak kubayangkan:
siapakah yang akan menggubit
menyambutku pulang
begitu kaki menjejak tanah
di pertigaan itu?

“Ayah, aku pulang!”

Aku terisak
alangkah mahal jemputan
bagi sebuah kepergian

4/06/2009

12 Mei 2009

DIGRESI DALAM ROMAN HIDUPMU



Dalam cerita panjangmu
bab-bab dibuang oleh redaktur
aku menjadi orang ketiga
dalam roman yang kaususun

Apa yang kutahu dalam imajinasi
adalah mereka-reka jalan cerita
ke mana hendak aku akan kauletakkan
dalam konflik batinmu?

Ini adalah roman terakhirmu
yang untuk pertama kalinya
meletakkan aku sebagai tokoh utama
dari sudut pandang orang pertama
dan sebelum roman itu diterbitkan
engkau mengutip diktum objektivisme:
“membuang sebanyak mungkin yang tidak kausuka
bukan menambah sebanyak mungkin yang engkau cinta”

Hmm…
jadilah aku digresi,
serpihan cerita tak perlu
maka sebagai cerita,
romanmu telah kehilangan roh prosa
ia telah menjadi lirik
yang hanya butuh pendengar,
tak butuh pembaca

5/11/2008