foto oleh Pangapora |
oleh M. Faizi
Aku berdiri di atas bukit kapur
melihat pecahan batu-batu
tanpa perlawanan, tanpa senjata
terhadap mesin gerinda
Dari balik serpihan jerubu
samar-samar negeriku tampak maju
Di atas bukit kapur yang tidur membujur
dari Rembang hingga timur ujung pulau Madura
kakiku menggigil, imanku gemigil
tak yakin kalau aku benar-benar berpijak
di tanahku sendiri, tanah leluhur yang berdaulat
Perbukitan kapur tidur membujur,
batu-batu karst tetaplah keras
alam nan hening, terjaga oleh derum mesin
kemarau yang semakin panas
Aku berdiri di atas bukit kapur
melihat pecahan batu-batu
tercacah jadi kerakal, hancur di dadaku
Lalu, apakah guna rintihan
untuk sesuatu yang bukan milikku?
Perbukitan itu, ia seperti dirimu
yang lahir dari rahim seorang Ibu
hanya titipan untuk dirawat dan dijaga
sebab selain itu, tugas ayah memberi nama
Aku berdiri di atas bukit kapur
yang bergeming, tidur di dalam hening
di atasnya tumbuh tembakau
di bawahnya tersimpan mineral
dan aku melihatmu berdiri di bawah
menatapku dengan mata penuh gairah
memanggilku turun demi menyambut cinta
tapi aku tahu, engkau akan naik setelah itu:
untuk menghancurkannya
14/10/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
* Biasakan Mengutip Sumber/Referensi
* Terima Kasih Telah Membaca/Berkomentar