04 November 2015

Sumur Terakhir di Muka Bumi


Dulu, ada sebuah sumur tua, sumur batu, di dekat rumah kakekku. Dindingnya berlumut. Di sekitarnya, rumput liar tumbuh meranggas. Dulu,  orang-orang mengangsu airnya yang melimpah; dengan gayung di musim hujan atau cukup tambang sedepa di kala kemarau. Pak Sarpati, yang menghibahkan tanah ini, telah berpulang. Pak Sarudin, juru galas yang setia, telah meninggal. Hanya mata air itulah yang terus hidup hingga sekarang.

Bertahun-tahun berikutnya, sumur tua itu ditutup. Dindingnya dirubuhkan dan permukaannya diratakan. Aku menduga, barangkali karena kami telah memiliki pompa mesin yang dapat menghisap air dengan belalah adalah alasan. Barangkali juga karena kemurahan inilah kami lantas begitu mudah berhambur-hambur dalam menggunakan.

Di musim kemarau panjang, saat sendalu bertiup kencang dan silara gemerisik berguguran, kami terdiam, menyaksikan alam bermain drama; mata air mati, sumur-sumur menyusut, kali-kali kecil menyisakan bebatuan saja. Murung mewarnai siang. Cemas melurupi malam. Sejak kini, hari-hari kelam di masa yang akan datang telah membayang.

Di tempat lain, masih di atas bumi, demi  kemajuan dan teknologi, pohon-pohon besar yang menjadi pasak bagi bentala, dicerabut untuk pelebaran jalan namun pejalan kaki tetap tak dapat bagian. Ada pula sekelompok orang meneroka sawah menjadi rumah-rumah sehingga makin sempitlah lahan bagi padi dan jagung untuk ditanam, namun kami terus mengeluh karena pangan terus berkurang. Kemajuan ekonomi digalakkan: menghancurkan bebatuan demi membangun yang lain. Ada pula yang membakar hutan demi memudahkan persemaian. Itulah ironi, sandiwara manusia dan kemanusiaan di muka bumi. Ia senantiasa dimainkan tak henti-henti di sekitar kami: menanam seratus, menebang seribu; membangun sepetak, merusak segunung.

Yang kami tebang adalah hutan.
Yang kami tanam bernama modal.

Kini, di musim kemarau ini, aku kembali teringat sumur tua itu. Saat sumber-sumber mata air telah mengering, airnya justru melimpah ruah, padahal terik matahari masih menyengat meskipun hujan telah turun di beberapa tempat. Dalam doaku, di antara terima kasih dan syukur, kuselipkan nama-nama orang yang telah berbuat baik kepada anak cucu. Merekalah nenek moyang, pemilik tanah, penggali sumur, serta siapa pun yang masih percaya kepada rahmat-Nya yang tak henti mengucur.

Di setiap rumah kalian, sama seperti di rumahku, terdapat sumur tua. Ia yang kini tidak terpakai, kelak akan dibuka kembali. Anak cucu berinda akan berkumpul mengelilinginya pada saat kemarau mahapanjang berlangsung, manakala pergantian musim telah berada di luar kehendak kuasa alam. Tak takutkah engkau jika ia menjadi sumur terakhir di muka bumi? Pada saat sekelompok ilmuwan menemukan air di Mars, ketika sebagian lagi dapat bertahan dari sulingan comberan, sebagian besar justru menangis di tepi sumur itu, menunggu doa yang tak kunjung terkabul, menyesali keangkuhan yang tidak terampun, mengucurkan air mata ke dalam sumur untuk kemudian menimbanya kembali hanya sekadar untuk minum.

Dalam keadaan tak berdaya seperti ini, engkau tampak gundah gulana, namun bagaimana engkau bisa congkak sementara untuk membuat setetes air pun engkau tak bisa?