14 November 2012

Romansa Hijriyah


Aku mencium bau waktu
pada asap yang mengepulkan lelatu Alhambra dan Alexandria
di balik punggung tanganmu
membumbung, mengikuti jejak Ibnu Malik
di sepanjang jarak dari Jaén ke Syiria
dan dari debu di tepian Nil
saat Laut Merah terpecah
Nabi Musa menyusun kisah-kisah penting millatu Ibrahim

Nabi berhijrah membangun kota pengetahuan
reruntuhan Yatsrib dari kerakal cemerlang kalabendu

Hijrah bukanlah kebetulan
yang memuncak di akhir-luar duga
di antara alur cerita deus ex machina
tak ada kebetulan dalam perencanaan yang matang
sebab ia adalah angka merah
untuk cerita pendek
yang dipajang di koran mingguan

Mana tanganmu?
aku akan segera menemukan bau waktu
melarung perasaan ke masa lalumu
hingga zikir yang tak lengkap
menyesakkan indra penciumanku
pada saat tersedak dalam peta leluri-leluhur
lalu lopak dalam wawasan yang makul

Ah, aku mencium bau peta di punggung tanganmu:
bukan Tanjung Harapan dalam peta Vasco da Gama
atau jejak Syekh Jumadil Akbar ke jazirah Nusantara
peta yang dibaca, bukan diraba
peta data, bukan peta loka

Oh, hijrah dari masa lalu
ratusan ribu mil waktu
sejarah memang ditulis untuk dibaca, dan diterbacakan
karena peradabanmu adalah fakta
pada saat kami sibuk memanipulasi data

Julurkan tanganmu, Hijriyah!
aku mau pamit sekarang
aku pergi berhijrah

17/3/2007

18 Juni 2012

Liebesbrief an die Nacht


Das Licht blitzt auf, bricht sich
ermattet, flackert
wie mein Herz, das sich schlieβt und aufblüht
gestatten, ich heiβe Nacht


>>Ich stehe unter dem Himmelsgewölbe
Auge in Auge mit dem Polarstern
Zenit, ist dies mein poetischer Himmel?
Der Himmel, das nicht entwirrte Sinnbild
wie Buchstaben in der Macht des Alphabets<<


>>Nun gut, ich werde weiterziehen
um Schlüsse aus der Reise zu ziehen
Lichtjahre des Universums in den Pupillen:
Schluβfolgerungen als Vermutung
denn jede Theorie soll nur
den Verstand verjüngen
um immer falsch zu liengen
mit der richtingen Entscheidung


>>Ich entwerfe eine Gewiβheit
In hinkenden Schritten: Versuche und Vermutungen
Wissenschaft, ich gehe dir entgegen,
Die Wahrheit liegt in der Vorläufigkeit
und der Fehler in der Anspannung


Sterne am Himmel
wie schön ist das Licht
vom Nadir zum Zenit
nur eine Handbreit
winzig nicht von Gestalt
doch im Auge des Betrachters


Du näherst dich an mit dem Teleskop
entfernst dich jedoch im Verstehen
wir bewegen uns; heran und hinweg
in Annahmen denkend
in Unerreichbarkeit wachsend
unsicher, in welcher Galaxis
unsere Wahrheiten sich einst begegnen


Laβ uns weiter unsere Blicke verschränken
bis einstmals du und ich erkennen,
ich wurde geschaffen, dich du verstehen
oder wurdest Du geschaffen, meine Gestalt zu stützen?


Ihr Sterne am Nachthimmel,
blinzelt nicht!
und verschwindet nicht
ihr, Milliarden Augen, hierher schauend
lächelt ihr erstaunt bei unserem Anblick?
weshalb kann jener kleine denkende Punkt
keinen Grund dafür finden
warum dies gigantische Lichtmeer entzündet wurde


Ihr Funken und Nebel der Galaxien
solltet ihr der Ort der Wahrheit sein
dann erlaubt
daβ es mein Leben lang Nacht bleibt

(14.08.2007)

Übertragen von Lucia Sieβler und Martin Jankowski (Orienttierungen 2/2011, S. 110-120)

















* * *

Surat Cinta untuk Malam


Kilatan cahaya yang berpendar

redup dan berdenyar

seperti jantungku, mengatup dan mekar

perkenalkan, aku bernama malam


“Saya berdiri di bawah kubah langit

beradu pandang dengan polaris

zenit, inikah langit yang puitis?

langit ibarat yang tak tersingkap

sebagai ejaan di ujung abjad


“Baiklah, saya akan bergerak menjauh

untuk membuat kesimpulan lama perjalanan

tahun cahaya semesta dalam bola mata:

kesimpulan dalam pengandaian

sebab, tugas teori hanya untuk

meremajakan akal-pikiran

agar selalu salah

dalam mengambil keputusan benar


“Saya merancang sebuah kepastian

langkah tertatih: ujicoba dan praduga

sains, saya berjalan ke arahmu

yang benar dalam kesementaraan

dan salah dalam ketegangan”


Bintang-bintang di langit

alangkah indah cahaya

dari nadir menuju zenit

hanya sejengkal

kecil bukan pada wujud

tapi pada mata orang yang memandang


Engkau mendekat dalam teropong

tapi menjauh dalam pengertian

kita bergerak; mendekat-menjauh

berpikir dalam pengandaian

berkembang dalam ketakterjangkauan

entah di galaksi mana

kebenaran kita akan saling berpapasan


Mari kita terus beradu pandang

hingga kelak engkau dan aku sama-sama tahu

aku diciptakan untuk memahamimu

atau engkau diciptakan untuk menopang wujudku?


Bintang-bintang di langit malam

janganlah berkedip!

dan engkau tak berkesip

kalian, bermilyar-milyar mata memandang ke mari

tersenyum takjub memandang kami:

mengapa titik kecil yang berpikir itu

tak mampu mencari alasan

untuk apa gugusan cahaya raksasa ini dinyalakan


Pendar gugus bintang semesta raya

jika engkaulah alamat kebenaran

maka perkenankan,

sepanjang hidupku menjadi malam


14/08/2007


28 Februari 2012

Jarak Maghrib ke Isya’


Ottoman,

apakah kamu tahu bahwa saat ini

seorang lelaki dari desa nun jauh

sedang mengambil air dari tanahmu

untuk membasuh mukanya

berwudlu, sambil menyesap sedikit air darinya,

berharap Emre atau Hakan

mengajaknya mampir untuk minum kahve

di beranda rumahnya?


Lelaki itu, saat ini,

hendak membayar rasa bersalah

di atas sajadah, tikar lembut hasil karya negerimu

dengan kening yang basah


Malam itu,

di antara Maghrib dan Isya’

waktu istijabah, waktu terjepit asak

dia mencicil rasa syukur

menghitung ingat dan lupa

pada banyak lembar sejarah


Di mushalla kecil terpencil itu

ia mengukur jarak nikmat dan kufur

mengukur jarak menang dan kalah

jarak antara kening dan sajadah


3/07/2011










04 Februari 2012

Puisi Maulid Nabi Muhammad Saw


LEMBAR-LEMBAR CAHAYA

Lembar-lembar cahaya
dibuka satu demi satu
menyibak rahasia
ke rahasia berikutnya

Dayang-dayang malam
mengipasi bumi dengan hujan buatan:
hujan bintang-bintang,
dan serbuk cahaya bulan

Aku membuka lembaran
pada halaman ke-11 almanak kamariah
rehat sejenak, seteguk dzikrayat
perjamuan untuk syaikh dari Jilan
tapi harus kubuka selembar lagi
agar tiba di tanggal lahir sang Nabi

Hai,
kini aku tiba di lembar cahaya itu
saat ada bayang-bayang tak terlihat
melintas di atas puadai bulan Maulid
mengiringmu membacakan puisi tak sembarang puisi
burdah-barzanji, puisi shalawat nabi

Shallu ‘ala Muhammad!
Allahumma shalli wa sallim wa barik alaih

16/2/2010