06 Desember 2014

Duabelas Gurindam Pengantin


oleh M. Faizi

Sidang faqir duhai mempelai
inilah khutbah dalam gurindam

Wahai pengantin yang bahagia
ikutlah sunnah sabda mulia

Gelimang hidup bukanlah harta
tabah derana itulah dia

Rumah tanggamu bagai madrasah
tempat belajar tingkah dan polah

Bila terjadi khilaf dan salah
mohon wali-mu memberi petuah

Dengan tetangga dan handai taulan
saling berbagi dan pengertian

Tak ada insan yang sendirian
mampu bertahan tanpa bantuan

Janganlah kikir dan juga congkak
di bumi Allah hanya berlagak

Janganlah langgar adat leluhur
pahami ia dengan tafakkur

Jika tersiar orang bergunjing
kuatkan hati jangan terpancing

Kepada mertua sila berkhidmah
seperti menghormat ibu dan ayah

Kepada Allah mari berserah
semua urusan supaya mudah


*) puisi ini dipesan oleh KH Abdul Basith AS kepada saya pada suatu hari di bulan puasa 1435 H, tepatnya 5 Ramadhan  atau 3 Juli 2014 untuk dipersembahkan sebagai bagian dari kado pernikahan putrinya, Fikriyah dengan Ainul Haq

03 Oktober 2014

Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan: Ulasan Puisi oleh Rusdi Umar


NENEK MOYANG ILMU PENGETAHUAN

(Sebuah Memoar Masa Kecil Yang Kian Menghilang di Kehidupan)


oleh Rusdi Umar 



Kilatan berkas cahaya di langit

melintas rendah sehabis Maghrib

"Seorang malim segera pergi..."


Itu bukan meteor, itu bukan benda langit

hanya cahaya yang melintas dekat

selepas ghurub


Lalu, ada kala seberkas cahaya

melintas tinggi di jumantara malam

membawa curiga dalam hati

"Itu cerawat yang dibawa setan

seseorang akan buncit perutnya

lalu meninggal dengan sengsara"


Itu juga bukan benda langit

sebab, ia tak jatuh melayang ke bumi

membuat kerusakan


Kami belajar pada alam

membaca tanda duaja dan perubahan

pada angin, pada cahaya dan gelap

pada nanar, pada mimpi dan kenyataan


Pengetahuan beranak pinak

dari pengalaman dan khayalan

kami belajar melapangkan ruang penafsiran

belakangan, sarjana-sarjana setelah kami

mencari wahyu-wahyu ilmiah

di laboratorium dan perpustakaan


Pengalaman dan khayalan

puisi dan pepindannya

merupakan leluhur kami

nenek moyang ilmu pengetahuan


25/08/2009


Menjadi seorang penikmat sastra lebih mudah dan lebih enjoy ketimbang menjadi apresiator, apalagi penikmat yang apresiator. Seorang penikmat sastra tidak dituntut untuk memberikan ide, penilaian, ataupun apresiatif terhadap karya sastra yang dimaksud. Berbeda dengan apresiator yang dituntut untuk memberikan penilaian baik-buruknya(?) sebuah karya sastra.


Maka saya di sini mencoba menjadi yang pertama. Yaitu sebagai penikmat sastra agar tidak dituntut memberikan penilaian, yang notabenenya, saya bukan seorang kritikus atau apresiator sastra. Saya hanya mampu mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman pribadi, terkait dengan sebuah karya sastra.


Bermula dari sebuah 'ranah' kebetulan, seorang teman saya sekitar awal September 2014 bercerita kepada saya bahwa ia punya sebuah buku kumpulan puisi. Pengarangnya adalah M. Faizi, dengan judul ''Permaisuri Malamku; Buku Kumpulan Puisi." Saya pun tertarik dengan buku tetsebut, dan Alhamdulillah, saat ini buku yang dimaksud sudah ada di tangan saya.


Pertama kali saya bersinggungan dengan buku ini, ada kesan realitas kehidupan di malam hari. Hubungannya dengan gelap, kelam, purnama, bintang, dan semacamnya. Seperti yang diungkapkan pengarang dalam pengantarnya, meski buku kumpulan puisi ini berbicara 'perbintangan', tetapi bukanlah sebagai buku astronomi, akan tetapi tetap sebagai buku sastra puisi yang harus diperlakukan sebagai lingua puitika.


Salah satu puisi yang saya garis-bawahi, dari beberapa puisi (sebanyak 41 judul puisi) adalah seperti yang saya tulis di atas; Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan.


Membaca puisi ini mengingatkan saya pada masa kecil, ketika listrik masih sebuah hayalan. Pada saat itu, biasanya, malam hari saya dan anggota keluarga lainnya, menggelar tikar di halaman. Menikmati taburan bintang-bintang di langit, atau cahaya rembulan jika pas purnama. Kami biasanya menikmati malam sambil memandang lekat ke cakrawala. Menghitung bintang, atau mencakapkan rasi bintang yang nampak di penglihatan. Dalam bahasa saya (Madura Batuputih), ada bintang karteka, bintang kiblat, ada bintang ngaysongayan, bintang nanggala, dan bintang lainnya. Semua ada dalam percakapan yang seakan tidak berkesudahan.


Dalam puisi Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan, saya diingatkan pada salah satu garis cahaya, yang dalam pemahaman kampung saya adalah 'pana(h)'. Sebentuk cahaya, yang dalam diskripsi puisi M. Faizi ini adalah,


"Kilatan berkas cahaya di langit

melintas rendah sehabis Maghrib

"Seorang malim segera pergi...""


Ya, di kampung saya juga ada kepercayaan seperti itu. Bahwa cahaya yang dalam pemahaman orang dulu 'bukan' meteor, adalah sebentuk sihir yang dilepaskan oleh para tukang sihir. Cahaya tersebut terlahir dari sebab ritual seseorang untuk mencelakai orang lain tersebab oleh sesuatu yang tak pasti.


Lalu, ada kala seberkas cahaya

melintas tinggi di jumantara malam

membawa curiga dalam hati

"Itu cerawat yang dibawa setan

seseorang akan buncit perutnya

lalu meninggal dengan sengsara"


Cerita teman-teman saya, juga yang dewasa saat saya masih bocah ingusan, cahaya tersebut berasal dari pisau, beling, paku, dan lainnya, ditaruk dalam sebuah mangkok, kemudian dibacakan mantra atasnya, dan melesatlah sebagai cahaya 'pana(h)'. Jika seseorang melihat cahaya tersebut (cerawat), maka ia harus berteriak 'pana(h) tae', dan dipercaya sihir tersebut tidak akan mempan. Maka, gema 'pana(h) tae' seringkali akan terdengar pada setiap waktu dan kesempatan. Itu dulu, sekarang hal tersebut sudah musnah. Tinggal kenangan saja.


Membaca alam, termasuk legenda di dalamnya adalah bagian dari proses keilmuan. Dari melihat, memperhatikan, memprediksi, atau bahkan menghayal, adalah cikal-bakal terbukanya pengetahuan. Katakanlah, di zaman 'batu' kepercayaan geosentris masih berurat berakar. Bahkan, jika ada yang menyalahi kesepakatan saat itu, maka taruhannya adalah penjara, bahkan nyawa.


"Pengetahuan beranak pinak

dari pengalaman dan khayalan

kami belajar melapangkan ruang penafsiran

belakangan, sarjana-sarjana setelah kami

mencari wahyu-wahyu ilmiah

di laboratorium dan perpustakaan"


Walaupun pada akhirnya yang nyata adalah heliosentris, matahari sebagai pusat tata surya, maka proses menuju jalan realita ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka saya setuju, jika kurikulum 2013 mengutamakan proses daripada hasil, meski seharusnya hasil juga harus mencerminkan sebuah logika.


Pada bait terakhir puisi M. Faizi ini menjelaskan tentang cikal bakal keilmiahan.


"Pengalaman dan khayalan

puisi dan pepindannya

merupakan leluhur kami

nenek moyang ilmu pengetahuan"


Membaca buku puisi M. Faizi, akan dibawa ke ruang-ruang kegelapan, malam. Akan mengingatkan kita pada zaman 'tanpa listrik'. Sinar bulan adalah harapan pasti untuk menemani perjalanan malam. Dan masih banyak lagi, pembacaan malam yang akan menjadi kenangan saat ini. Bahkan, anak cucu kita, kemungkinan, sudah tidak dapat menikmati malam seperti yang kita (khususnya saya) pernah alami di masa awal-awal kehidupan dulu.


Tidak hanya itu, menikmati kumpulan puisi ini pembaca diajak untuk bernustalgia dengan malam, berserta segala kisah yang melatarbelakanginya. Disamping juga, perbendaharaan kata yang begitu kasat, hingga kita disuguhi kosa kata baru yang koheren. Benarnya lagi, di penghujung halaman buku ini terdapat perbendaharaan kata yang termaktub, terjabarkan makna dan artinya.


Membaca puisi 'Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan', saya juga diajak untuk kembali pada memoar puisi D. Zawawi Imron. 'Nenek Moyangku Air Mata' adalah salah satu judul puisi Zawawi yang kental di ingatan saya, semasa masih di Annuqayah. Kebetulan juga, pemuisi si Celurit Emas ini seringkali diundang untuk mengisi acara sastra di PP. Annuqayah. Tentu saja, nenek moyangnya M. Faizi berbeda dengan nenek moyangnya D. Zawai Imron. Kontemplasi makna dan jabaran puitiknya mempunyai ke-khasan masing-masing, disamping latar belakang lahirnya puisi-puisi yang dimaksud.


Di penghujung sesobek catatan ini, saya mohon maaf kepada semuanya, tanpa kecuali, utamanya M. Faizi sebagai pihak yang terlibat langsung dalam penciptaan puisi ini. Harapan saya, kreatifitas sastra Beliau tertular dan terjabarkan dalam jiwa saya. Wassalam.



Sumenep, 30/09/2014


Sumber: http://mawarberduri99.blogspot.com/2014/10/nenek-moyang-ilmu-pengetahuan.html

27 Agustus 2014

Malam dan Dua Rute Kepulangan (Ulasan Buku "Permaisuri Malamku")


oleh : Achmad Faqih Mahfudz

Selain keheningan dan kesunyian, adakah yang dapat kita tangkap sekaligus kita rasakan dari malam? Malam berbeda dengan siang, tentu. Tentu bukan hanya dengan seumbul alasan bahwa di siang hari ada matahari yang membuat bumi cerah sekaligus panas serasa dipanggang, bukan pula karena di malam hari seisi bumi gelap gulita atau indah oleh kerlip bintang dan benderang rembulan. Lebih dari itu, malam hari adalah waktu yang tak biasa, waktu yang sublim, waktu yang tepat untuk sejenak istirah dari segenap aktivitas hidup. Istirah dari segenap keriuhan yang berkelindan dan centang perenang.

Manusia mengenal malam sebagai waktu istirah, setelah sehari penuh, kala siang, membanting tulang demi mencari mata-pencaharian. Tapi sekali lagi, bertolak dari segenap ihwal yang demikian, selain gulita, selain geriap gemintang maupun marang cahaya bulan, adakah yang kita kenal dari malam? Adakah kita benar-benar mengenal “makhluk” bernama malam? Patah waktu yang menyunggi gulita dan menjinjing hening tak tepermanai, sunyi yang menghunjam.

Adalah M. Faizi, penyair yang mencoba mengurai dan mengungkap fenomena—langit—malam dengan puisi. Lewat kumpulan puisi Permaisuri Malamku ini, Faizi mengungkap ketakjubannya sebagai penyair—maupun sebagai seorang manusia—yang memiliki hubungan sublim dengan malam. Meski kita tahu, malam dan penyair adalah sepasang kekasih yang tak dapat dilepaskan. Hampir semua penyair pernah mengungkap malam dalam sajaknya. Hampir setiap penyair pernah menulis sajak perihal malam. Namun dalam konteks ini, sepertinya hanya Faizi, yang secara penuh-seluruh memuisikan malam dalam sebuah antologi puisi utuh. 41 puisi dalam antologi ini tak ada satu pun yang tak bertajuk malam. Tapi meski demikian, meski keseluruhan tema puisi dalam kumpulan ini bertajuk malam, buku ini tetap buku puisi, bukan buku astronomi.

Muasal dan ilham sekumpulan puisi dari buku setebal 114 halaman ini adalah pada sebuah malam di pertengahan agustus 2007 silam. Tepatnya ketika Faizi bertemu Hendro Setyanto, astronom muda yang ia kenal dan malam itu membawanya pada perbincangan seputar langit malam. Perbincangan ini rupanya membekas dan membuat sang penyair tak nyenyak tidur semalaman. Ia kemudian pergi ke halaman, mematikan lampu seraya menikmati pemandangan langit malam. Ketakjubannya pada malam, saat itu, tak sudi ia nyatakan dengan teleskop hanya untuk melihat dan menghafal nama-nama bintang. Malam itu, ia pun tidak merasa perlu mempersoalkan kegandrungan masyarakat pada rasi dan astrologi daripada astronomi. Sebagaimana diungkapkannya pula, saat itu, ia hanya ingin menuangkan ketakjuban-ketakjubannya pada langit malam ke dalam puisi. (hlm 6-7).

Dalam puisi-puisi Faizi ini, malam bukan hanya bagian dari makhluk bernama waktu, tapi jagad kosmik tempat ia bercermin pada alam dan kehidupan. Baginya pula, malam menjadi ruang di mana ia mengkaribkan gurun-gurun jiwanya dengan semesta keteduhan, keheningan, yang kemudian membuatnya harus pasrah bertekuk-lutut pada apa yang mungkin dapat disebut sebagai keimanan.

Selain malam sebagai bagian dari waktu, sebagai fenomena yang membuat sang penyair takjub tak berkesudahan, ada dua hal yang amat mendasar dan dominan dalam Permaisuri Malamku. Pertama, penyair memulangkan seluruh anasir puitiknya pada Ia Yang Transenden, Yang Tunggal dan Yang Tak-Tepermanai. Ini dapat ditemukan dalam hampir keseluruhan buku puisi ini, misalnya:
...
rukyatul hilal
mengapung lalu tenggelam
di dalam dua kubangan
angka dan pandangan
fana, fana, fana
sebab yang baka
hanyalah untuk Yang Esa
...

(Rukyatul Hilal, hlm. 23)

...
iman untuk yang baka
amal untuk surga
seperti hamparan imajinasi
yang maujud namun perlina
seperti warna kelam pada malam
...

(Catatan Malam, hlm. 28)

Atau ketika dengan pasrah dan samar-samar batinnya berkata:
 ...
wahai pemilik nasib
panjangkanlah malam
aku ingin menjamu tamu dini hari
sebagai cahaya di bilik gelap

sehingga nikmat ini
tak menyiarkan iri-dengki
saat besok pagi terbit matahari
...

(Tamu Dini Hari, hlm. 32)

Puisi-puisi demikian, yang meneguhkan maqam (tingkatan) aku-lirik (penyair) sebagai seorang hamba dari Ia Yang Tak Tepermanai begitu mendasar dalam Permaisuri Malamku. Bait-bait puisi yang demikian, dapat kita temui dengan mudah dalam buku keempat dari penyair yang juga kiai di sebuah pesantren di pedalaman Madura ini.

Kedua, kepulangan pada bahasa. Inilah mungkin ciri-khas yang membedakan Faizi dengan penyair lain. Bila penyair-penyair kebanyakan—barangkali—telah merasa "cukup" dengan perbendaharaan bahasa yang ada, Faizi berbeda, ia mencoba mengeruk-ngeruk kembali kata demi kata yang telah lapuk dan aus dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bagi Faizi, estetika dalam (ber)bahasa mungkin tak hanya ketika kata dan daya ungkap penyair penuh majaz atau metafora, tapi juga ketika ia adalah kata yang selama ini di-"anak-tirikan" dalam (ber)bahasa. Sehingga tak aneh bila kemudian ketika membuka lembar demi lembar buku puisi ini kita akan bertemu pada beberapa kata yang begitu asing di telinga, semisal: arku, arik, danguk, duaja, jumantara, kadru, penaka, pepindan, perbani, perlina, puadai, serlah, janabijana, peterana, taram, rujah, peresih, nebula, dan banyak lagi yang lainnya.

Suku kata seperti di atas banyak ditemui dalam buku ini, meski sebenarnya usaha demikian telah Faizi terapkan semenjak tiga buku puisi yang ia tulis sebelummnya: 18+ (Diva Press, 2003), Sareyang, Lirik Penunggu Kesunyian (Pustaka Jaya, 2005), dan Rumah Bersama(Diva Press, 2007). Dengan upaya ini, upaya untuk kembali pulang ke "kampung bahasa", Faizi seakan menegaskan kerisauannya pada bahasa kita: Bahasa Indonesia. Ketika saat ini kita lebih merasa nyaman dan damai menggunakan bahasa asing, bahasa bangsa lain, bahasa yang bahkan—kadang—membuat kita kehilangan identitas dan jati diri budaya bangsa sendiri.

Permaisuri Malamku adalah risalah puitik perihal malam. Malam sebagai ketakjuban, malam sebagai anugerah yang menawan, malam yang membawa dua rute kepulangan: pada Ia Yang Tak-Tepermanai, berikut kepulangan ke "kampung bahasa".

Buku kumpulan puisi ini, mungkin akan semakin hikmat bila dibaca dengan cara duduk atau rebahan di halaman rumah sambil menikmati desir angin di bawah langit malam, menikmati kerlip bintang dan marang cahaya bulan, sembari sesekali melihat serta mendengar semayup lirih batin Faizi yang berdenyar-denyar lalu menyerlah di awal kalam: ...

pendar gugus bintang semesta raya
jika engkaulah alamat kebenaran
maka perkenankan, sepanjang hidupku menjadi malam..

(Surat Cinta untuk Malam, hlm 15).

Selamat malam, selamat membaca..

Yogyakarta, Juni 2011

14 Juli 2014

Nisfu Ramadhan


Setelah dilurup gelap dalam semalam
subuh datang mengantar cahaya
putik-putik pendarnya
berjatuhan dari atas jumantara

Ada yang jaga mengintai malam
bersama cemas pada bekal amal
ada yang lelap digulung kerja
tanpa takut kecuali upah tertunda

Dingin dan sunyi
memangkas malam jadi pendek sekali
doa panjang seorang pendosa
dan air matanya, menetes dari langit
tak habis-habis untuk menangis
bulan istimewa yang lewat begitu saja

24/07/2013

30 Juni 2014

Tahu dan Tidak Mau Tahu


Guru: Mengapa engkau tak mau duduk dalam pengajianku?

Murid: Karena andai engkau katakan bahwa berbohong itu salah, maka aku akan berdosa sebab aku masih suka berbohong.

Guru: Baiklah, jika engkau tak mau mendengar, tapi mengapa engkau tak pernah membaca?

Murid: Jika membaca membuatku tahu bahwa kikir akan mengeraskan hati, aku takutkan itu karena aku memang demikian. Bukankah lebih baik aku tidak tahu dan aku tidak mendapatkan hukuman karena ketidaktahuanku?

Guru: Tak sempat mendengar hikmah tentang kejujuran membuatmu tak bersalah jika engkau berbohong; tak membaca hikmah berderma juga tak membuatmu bersalah jika engkau kikir. Namun, kamu harus belajar untuk itu semua. Sebab, dengan tidak mau belajar, engkau akan salah dalam segala-galanya.

23 April 2014

Kamu Mirip Kue Tart


Kamu mirip kue tart, kena senggol sedikit langsung rusak
mengapa kamu rapuh, padahal elok tubuhmu itu seluruh?

Kalau kamu ingin aku mengikutimu
jangan ikat aku diseret, tapi buat dirimu menarik
berjubah amanah, tak mudah goyah
tak perlu cocok hidungku dengan jarimu
khawatir, nanti terkena colek pula mataku

Kamu mirip kue tart, kena senggol sedikit langsung rusak
engkau kekar dalam bentuk, tapi kerempeng dalam isi
orang lapar tak butuh muluk, nasi dan lauk lebih dicari

Kalau kau ingin aku manis memuji, bersifatlah kanaah
hanya kepada rakyat, memberi; hanya kepada Tuhan, menadah
namun, jika imanku kamu bayar dengan rupiah
di dalam pestamu, 5 menit aku sih bisa setia

tapi untuk 5-10 tahun lamanya, mana mungkin aku percaya?

23/4/2014

01 April 2014

Tahajjud Pantura



Di sepertiga malam yang terakhir
engkau menekur di atas sajadah, betapa indah
kaulihat anak istrimu terlelap saat kaujaga
kaukhusyuk dan tenang dalam berdoa

Di sepertiga malam yang terakhir
aku mengelih dengan tajam, betapa capai
kulihat hanya kegelapan atau lampu kendaraan
dipermainkan tempo lalu lintas yang sinkop
ngebut di jalan lurus, macet karena perbaikan jalan

Putar tasbihmu, kumainkan setirku

Kalau engkau tergoda rasa kantuk
aku pun begitu, tergoda suntuk
engkau mengantar diri; khusyuk ke alam masyuk
aku menahan diri; rindu keluarga menghiruk-pikuk

Lantas, di mana kita bertemu?
jika itu kelak, tempatnya bernama surga
jika itu kini, tempatnya bernama doa
dalam khusyukmu menaklukkan malam
dalam khusyukku menyelinapi banyak kendaraan

Sungkan aku bertanya,
doa siapa yang akan segera terkabul?
engkau selamat dari ragu, dari takbir sampai salam
aku selamat dari celaka, dari agen sampai terminal
bukan karena amal dan kepiawaian kita
namun karena kasih Tuhan yang sama semata


2/2/2014