12 November 2011

Permaisuri Sang Kiai


Oleh: Malkan Junaidi, penyair tinggal di Blitar

Dibandingkan banyak kawan di ranah sastra nusantara, jujur saya seringkali merasa paling kuper dan udik. Ini, saya tegaskan, bukanlah sejenis sikap tawadhu’ atau low profile yang keren, namun sangat nyata, dibuktikan dengan luputnya salah satu nama, yaitu M. Faizi selama ini dari meja baca saya. Padahal tidak sedikit ternyata karya yang empunya nama tersebut sudah hasilkan (antara lain 18+, Sareyang, Rumah Bersama, dan yang ter-gress dan sedang kita obrolkan Permaisuri Malamku). Saya mengenal sang pendekar tahlil asal Madura ini sebelum mengenal karya-karyanya. Image Faizi sebagai pemimpin sebuah pesantren melekat di benak saya lebih dulu sebelum image-nya sebagai seorang penyair. Saya yakin dongengnya akan terdengar berbeda jika dua proses perkenalan ini disungsang.

Buku Permaisuri Malamku, berdasarkan tarikh penciptaannya memuat puisi-puisi yang ditulis di rentang tahun 2006 hingga 2011. Jumlah seluruhnya ada 41 judul, di mana 75% di antaranya ber-setting dan atau bertemakan ‘malam’. Tentu kita layak penasaran ada apa dengan malam hingga begitu inspiratif bagi kiai penggemar musik rock ini, dan bahkan secara amat romantis ditahbiskannya sebagai sang permaisuri?

Alih-alih menanyakannya langsung, saya justru menyusun sebuah analogi empiris dengan membuka lagi laci kenangan saya, kembali ke masa-masa di mana saya 24 jam sarungan, di sebuah pesantren kecil di pinggir sebuah desa. Jam setengah sepuluh malam, usai bandongan kitab-kitab klasik seperti Alfiyah Ibnu Malik dan Fathul Mu’in, kami para santri membentuk beberapa grup ngobrol, tak ketinggalan lintingan dan (jika ada duit) kopi yang diseduh di cangkir-cangkir bambu. Bahan obrolan bisa apa saja; keluarga di rumah, ilmu-ilmu yang tengah dikaji, kerjaan di sawah atau di kandang ulat, bahkan wanita pujaan pun tak jarang jadi bahan pembicaraan favorit. Suasana terasa lebih magis saat musim pohon kopi berbunga tiba, aromanya yang khas menyelimuti kompleks pesantren. Dari beranda bintang-bintang tampak bagai festival kunang-kunang, bersaing dengan cahaya rembulan. Apakah kiai Faizi memiliki pengalaman yang serupa dengan saya? Tak mustahil.

*****

Penjelajahan pertama saya atas Permaisuri Malamku, jujur, tak membuahkan hasil yang memuaskan. Baru pada penjelajahan kedua saya memanen beberapa kesadaran penting, antara lain: pertama, ternyata nyaris tak ada puisi bernuansa didaktik dan dogmatis di buku ini, sebagaimana biasa saya temui dalam tradisi nadzoman atau syiiran pada kitab-kitab klasik di pesantren. Nyaris tak ada istilah-istilah sufistik, malahan saya dihadang oleh segerombol kata semacam “polaris, zenit, konjugasi, kopula, objektivisme, subjektivitas, voltase, dan amnesia” yang mana sempat membuat saya mengumpat “what the f*ck!” dan tertawa dalam batin. Kedua, saat saya cermati mayoritas tipografi yang dipakai Faizi, saya melihat tak ada pola yang pasti. Kelihatannya lelaki penggemar Colt T-120 ini sangat cuek perihal tampilan fisik. Tapi ini bisa juga dipandang sebagai semacam pemberontakan terhadap kebakuan yang membelenggu dan keteraturan yang semu, dan oleh karenanya justru menjadi salah satu keunikan dari seorang kiai Faizi. Ketiga dan yang terpenting, citra dan tema yang dominan, yakni “malam”, ternyata hadir dan atau dihadirkan sebagai representasi sikap apresiatif dan kontemplatif ala kiai.
Malam dengan gelap, dingin, sunyi, bintang, dan bulan, adalah maha karya yang mempesona. Menjadi manusia biasa (orang kampung?) yang bisa dan sempat menikmati semua itu, oleh karenanya adalah hal yang sangat disyukuri oleh kiai Faizi:

“Indahnya menjadi manusia biasa
yang dapat mendongak dan mendanguk
berpikir dan melihat langit di malam purnama”
(Pulang Manaqiban)

Manusia modern, menurutnya, barangkali tak pernah bisa-dan-sempat mencicipi keriangan sederhana seperti ini, justru karena mereka terlalu terpesona dengan listrik, penemuan ‘revolusioner’ itu. Faizi menyindir keras orang ‘hebat’ semacam astronom, yang logikanya lebih paham perihal bintang, bulan, dan fenomena malam yang lain, namun tak mendapatkan apa-apa dari keahlian observatif mereka kecuali ketertipuan belaka:

astronom mungkin akan kesulitan memetakan langit
seperti penyair yang hendak menulis sajak liris
lalu terjerumus di jurang prosa:
sebuah kebohongan lain yang lebih digemari
(Prosa di Bumi-Langit Tua)

Memang, bagi manusia ‘maju’ seperti kita, agaknya listrik sudah merupakan hal yang niscaya. Kita keukeuh mempertahankan keberadaannya kendati banyak konsekuensi ironis mesti ditanggung. Selain terkikis hebatnya sumber daya alam seperti jamak diketahui, pesona malam pun akhirnya muncul lebih sering sebagai jeda sekilas, sebagai koma kecil di antara dua kalimat panjang. Sangat wajar jika hal ini memantik kerinduan akan kenangan primordial pada diri orang seperti kiai Faizi, di mana kenaifan membuat kehidupan terasa lebih aman dan nyaman:

Sejenak, aku ingin kembali ke dulukala
merasakan gelap dan kejujurannya
tapi hanya sebentar listrik kembali menyala
voltase menyentak
aku terlempar
jatuh berdebam di masa kini
yang terang oleh ilmu dan iman
tetapi digelapkan oleh takabur dan tipu daya
(Sejenak ke Dulukala)

Seorang kiai pada dasarnya memang adalah seorang pemikir, sehingga impresi-impresi sensorik yang ditangkap oleh inderanya tak mungkin hanya berakhir dengan kebengongan dan kata “wah” belaka, melainkan pasti membawa pada sebuah kontemplasi. Al Qur’an, sebagai referensi utama dan standar orientasi moral dan perilaku keseharian seorang muslim, memiliki banyak suplai teks imperatif (implisit maupun eksplisit) berkaitan dengan hal ini, misalnya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang,terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Q.S. Ali Imran: 190), yang selaras dengan salah satu bagian puisi Faizi:

mengapa titik kecil yang berpikir itu
tak mampu mencari alasan
untuk apa gugusan cahaya raksasa ini dinyalakan

(Surat Cinta Untuk Malam)

Memperhatikan alam sekitar, mencermati gejala-gejala yang timbul dan tenggelam, yang mikrokosmos mengingatkan pada yang makrokosmos, yang temporal mengingatkan pada yang eternal, yang nisbi mengingatkan pada yang mutlak, yang relatif mengingatkan pada yang absolut, yang gelap mengingatkan pada yang terang, ketidaktahuan mengingatkan akan adanya kemahatahuan. Singkatnya, hamparan langit dan bumi beserta segenap nomena dan fenomenanya, semua pada akhirnya menjadi samudera metafora yang membawa perahu pemikiran kiai Faizi pada kesadaran eksistensial: siapa aku, kamu, dia, kita? untuk apa aku, kamu, dia, kita ada? dan seterusnya dan sebagainya.

Akan tetapi seberapa pun keren dan canggih hasil sebuah permenungan, seorang muslim yang taat biasanya menghindar sedapat mungkin dari terperosok ke jurang-jurang kesombongan. Ia memang diajarkan untuk senantiasa rasional, namun dengan tanpa mendewakan rasio, sehingga alih-alih menyatakan berbagai ‘kebenaran’, kiai Faizi justru menegaskan bahwa kita sesungguhnya tengah berdiri di dan bicara dari sudut pandang kita masing-masing. Oleh karena itu perbedaan seringkali harus dibiarkan tetap menjadi perbedaan sebagaimana malam tetap menjadi malam dan siang tetap menjadi siang:

tidak, namaku hanya malam
engkau tak bisa memanggilku di luar itu
yang satu tidak dapat menatap lainnya
sebagaimana ‘tahu’ dan ‘tidak tahu’
tak menemukan bangku untuk duduk bersama
(Namaku Malam)

*****

Berpijak pada pendekatan yang serampangan dan amat tergesa di atas, saya memberanikan diri menghunus dugaan bahwa selama ini kiai Faizi telah berusaha mewujudkan sebuah simbiosis dengan malam dan seluruh muatannya. Simbiosis yang cukup unik, karena ia menahbiskan malam sebagai partner kekuasaan2 dan kemesraan sebagaimana terlihat dari penyimbolan malam sebagai permaisuri. Namun meski terlihat intim dan romantis, hubungan ini menurut saya juga paradoks dan dilematis. Paradoks karena walau dekat dan akrab namun ternyata diselimuti dengan begitu banyak ketidakmengertian “aku diciptakan untuk memahamimu, atau engkau diciptakan untuk menopang wujudku?” (Surat Cinta untuk Malam). Dilematis karena “Engkau mendekat dalam teropong, tapi menjauh dalam pengertian” (Surat Cinta untuk Malam), hingga akhirnya hanya sikap pasrah saja yang bisa ia pilih. Dan kita sama tahu “pasrah” dalam semantika keislaman memiliki nuansa makna yang positip dan merupakan pilihan yang sangat rasional.

Permaisuri malamku
selalu datang dengan tanpa kehadiran
dalam rentang yang tak terjangkau pandang
karena jarak yang menghubungkan aku denganmu
semata patahan-patahan garis
yang tak henti-hentinya digabungkan
dalam sebuah pengandaian
(Permaisuri Malamku)

Blitar, 17 Oktober 2011

05 November 2011

Ternate


Matahari yang lebih dulu bersinar di sini
dan malam yang hangat oleh aer guraka
menandai Ternate sebagai pendar di khatulistiwa

Tuas apa namanya yang dapat mencungkil mutiara
yang tersimpan di balik Gamalama?
bukan puisi, pasti
ia bernama rasa memiliki
bahwa tanah ini, menanjak dan menurun
lurus dan menikung
mirip alur cerita yang penuh kejutan
penuh sanjung dan pepindan

“Mengapa kamu begitu mencintai laut?” tanyaku
“padahal rempah-rempah tumbuh di darat?”
matamu berkilat dalam ucapan,
“Pulau-pulau memisahkan
bahasa menyenjangkan
laut yang mempersatukannya.”

“Mengapa kamu pergi dari Kie Raha?
tak takutkah kamu ia berpindah letak di dalam peta?”

Kamu menunjuk langit
ya, aku melihat kabut di puncak Gamalama
pohon-pohon yang lebat seperti jambang
Kamu menunjuk laut
ya, aku melihat air yang jernih kemilau
asin saat dicecap, tawar saat dipandang

Kamu diam tak berkata
kamu tersenyum tanda bersuka

Tempat ini telah lama diberi nama
Orang-orang tahu, nama untuk dikenal
meskipun juga demi upaya penaklukan
aku berusaha melihat dan merasa

Lalu, kamu antar aku ke suatu tempat
“Inilah tahi lalat di pelipis khatulistiwa.”
Aku berdercak
“Ah, rupanya, surga itu tak begitu jauh letaknya.”

29/10/2011