24 Mei 2024

Mimbar Penyair di Festival Pesantren Tebuireng

 

Mimbar Penyair Tebuireng adalah bagian dari Festival Pesantren Tebuireng (FPT) yang diselenggarakan selama 4 hari. Mimbar penyair menempati rangkaian acara di hari ketiga, Jumat tanggal 3 Mei 2024. Lokasinya diletakkan di MAPM (Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat) Qur’ani yang merupakan madrasah yang terintegrasi dengan PP Walisongo, Cukir. Acara ini berlangsung selama empat hari (1-4 Mei 2024. Menurut panitia, jika kegiatan ini dapat berlangsung lagi tahun depan, insya Allah akan dilaksanana berdasarkan kalender Hijiriyah, yaitu pekan akhir bulan Syawal).

Yang menarik dari acara ini adalah kehadiran para kiai dan nyai, termasuk Gus Riza (cucu Hadratus Syaikh) dan Nyai Farida (istri Kiai Sholahuddin Wahid), juga Nyai Hafsoh, dan entah siapa lagi, mengikuti acara hingga selesai. Bagi saya, peristiwa ini bahkan lebih menarik daripada acara itu sendiri. Kehadiran beliau-beliau itu yang secara anteng mengikuti acara akan berdampak kuat pada para santri, pada memorinya, bagaimana perhatian guru-guru mereka terhadap kegiatan (termasuk sastra), bagaimana kiai dan nyai itu mendampingi mereka. Anak (didik) itu akan meniru.

Adanya kegiatan sastra dalam festival ini membuat saya terjengat pada suatu kondisi bahagia yang dampaknya saya kembali bergairah untuk mengurus puisi dan berkecimpung dengan sastra kembali setelah vakum nyaris 4 tahun terakhir ini. Saya kira, puisi sudah ditinggalkan di mana-mana. Ternyata, di pesantren, gairahnya masih menyala. Kesan festival puisi yang capek dengan urusan dana, capek menghadapi arogansi awak atau pengambil kebijakan, capek dalam tekanan pesimisme, di tempat ini tertolak sama sekali, masih bergairah.

Hadir di acara tersebut; Walidha Tanjung Files (Fileski), D Zawawi Imron, Nasruddin Anshory Ch, Gus Chamim Kohari, Dr Abdul Haris, HM Ghufron Rofii, Khoirul Anwar, Martina Susanti, M Faizi (saya sendiri), Muhammad Hasan Turki, Iqbal Sapujagad, serta beberapa santri aktif, seperti Ahmadi Nejad, Daffa Afif Hizbullaah, Fahira Hayatin Nufus, Ghaitsa Fauziah. Saya juga melihat kehadiran Fathurrahman Karyadi (Atunk) yang sejauh ini menekuni naskah-naskah kuno meskipun tidak tampil dalam sesi pembacaan puisi.

Nama-nama di atas tidak semuanya alumni Tebuireng. Tidak juga karyanya dimuat di buku antologi “Senyum Hadratus Syaikh” (terbitan Ilmu Giri, 2024). Saya juga kurang tahu sistem kuratorialnya. Sepertinya, panitia hanya mengundang beberapa nama saja tanpa saya ketahui prosedurnya. Saya diundang, maka saya datang. Barangkali, keterundangan saya disebabkan karena saya pernah mondok di Madrasatul Quran Tebuireng meskipun sebentar (ketika itu, saya sering tinggal di Pesantren Tebuireng dan menginap berhari-hari—dan soal ini saya sudah sempat saya haturkan kepada alm. Kiai Salahuddin Wahid [Gus Solah] meminta agar diakui santri Tebuireng di bulan Juni, 2011).

Acara mimbar penyair adalah pembacaan puisi dan sambutan. Acara ini dilangsungkan setelah “Jumatan Bersama Pengasuh”. Akan tetapi, saya hanya mengikuti kegiatan siang dan satu sesi malam harinya, yaitu “Ngopi Bersama Alumni” yang ditempatkan di halaman masjid. Selesai acara, saya langsung pulang ke rumah dengan oleh-oleh kesan yang mendalam, yaitu kesan yang saya tulis di paragraf kedua di atas.

Jika para kiai dan nyai serta pemangku teras di suatu institusi, lebih-lebih pesantren, sangat memperhatikan suatu kegiatan di pondok pesantren secara serius, seperti menghadiri acara sampai selesai, baik diwakili satu orang atau bahkan lebih, besar kemungkinan kegiatan tersebut akan sukses. Tema atau penekanan kegiatan tertentu yang dimaksud akan berkesan dan membekas di hati para hadirin, mulai dari pembicara dan santri dan lainnya.



25 Februari 2024

Huwan Nur


هُوَ النُّورُ يَهدِى الحَا ئِرِينَ ضِيَاؤُهُ
وَفِى الحَشرِ ظِلُّ المُرسَلِينَ لِوَاؤُهُ
Dialah pelita, membimbing si bimbang dengan cahyanya
Di Mahsyar, yang jadi naungan adalah panjinya
تَلَقَّى مِنَ الغَيب المًجَرَّدِ حِكمَةً
بِهَا اَمطَرَت فِى الخَافِقِينَ سَمَاؤُهُ
Hikmah menyambang dari Kegaiban sarwa
hingga langit pun mengucur hujan untuk semesta
وَمَشهُودُ اَهلِ الحَقِّ مِنهُ لَطَائِفٌ
تُخَبِّرُ اَنَّ المَجدَ وَالشَّأ وَشَأوُهُ
Adapun Ahlul Haq mendaku: pesonanya
menandakan bahwa adiluhur itulah karsanya
اَيَانَازِحًاعَنِّى وَمَسكَنُهُ الحَشَا
اَجِب مَن مَلاَ كُلَّ النَّوَاحِى نِدَاؤُهُ
Engkau nan jauh, namun tinggal dalam dada
Jawablah, hai insan yang seruannya memenuhi hala
اَجِب مَن تَوَلاَّهُ الهَوى فِيكَ وَامضِ فِى
فُؤَادِى مَايَهوَىَ الهَوى وَيَشَاؤُهُ
Sambutlah, Tuan, di mana cinta menghela
padamu, dan seisi hati berhasrat beranta
مرضتُ فكأن الذِّكر براء لِعِلّتي
فيا حبِّذا ذِكرا لِقلبي شِفاؤه
Menyebutmu dalam sakitku laksana euforia
Betapa indah! Sebab mengingatmu itu obatnya
اذا علم العشاق داي فقل لهم
فان لقا احباب قلبي دواؤه
Jika perindu tahu sakitku, silakan dikata:
tambar duka bagi kekasih adalah berjumpa
ايا سيدي قلبي بحبك بايح
وطرفي بعد الدمع تجري دماؤه
Tuanku, hati risau padamu gara-gara cinta
tangisku berdarah setelah habis air mata
فوادي بخير المرسلين مولع
واشرف مايحلو لسمعي ثناؤه
Gandrung hatiku pada Rasul nan pokta
Yang termanis di telinga adalah memujinya
فَيَارَبِّى شَرِّفنِى بِرُؤ يَةِ سَيِّدِى
وَاَجلِ صَدَى القَلبِ الكَثِير صَدَاؤُهُ
Rabbi, agungkan daku supaya melihatnya
hingga hatiku melimpah ruah gemanya
عَلَيهِ صَلاَةُ الله مَاهَبَّتِ الصَّبَا
وَمَااَطرَبَ الحَادِى فَطَابَ حِدَاؤُهُ
Salawatullah, sepanjang semilir, untuknya
sealun gembala melagu merdu senandungnya
مَعَ الالِ وَالاَصحَابِ مَاقَالَ مُنشِدٌ
هُوَالنُّورُ يَهدِى الحَائِرِينَ ضِيَاؤُهُ
Keluarga-sahabat seberinda a la fatwa pujangga:
Dialah pelita, membimbing si bimbang dengan cahyanya

11 Februari 2024

Tafsir Puisi "Penemuan" (Ahmadul Faqih Mahfudz)


Siapakah “orang pertama” yang disebut kamu/mu dalam baris-baris berikut ini? Yang diulang-ulang dalam pelbagai macam redaksi berbeda dalam setiap repetisi? Ia adalah unsur yang sama, zat yang sama, mahia yang sama. Sebetulnya, itu saja kunci memahami puisi Ahmadul Faqih Mahfudz ini.


Meskipun hanya urusan kata ganti “mu” ini tampak sepele, akan rumit dan panjang kalau ada perbedaan pandangan akan “persona ke-2” (mu; kamu), tentang ke-siapa-annya. Ingat puisi “Padamu Jua”, kan? Puisi yang dianggap bernilai religus, mistik-sufistik oleh H.B. Jassin, A. Teeuw, Sutan Takdir Alisjahbana, A.H. Johns, bahkan hingga dan Abdul Hadi WM ini tiba-tiba dimentahkan oleh Damiri Mahmud. Dalam esai yang berjudul “Menafsir Kembali Nyanyi Sunyi: Amir Hamzah Penyair Sufi?” (Horison, XXXV/10, 2001), Damiri mengangap alamat persona kedua (“mu” dalam Padamu Jua) dalam puisi itu bukan untuk Tuhan, melainkan untuk kekasih hati si penyair. Menurutnya, ia puisi emotif ‘biasa’ yang mengadukan patah hati dan menjeritkan kerinduan, kemarahan dan kekalahan. Damiri mengajukan beberapa frasa (di dalam puisi) yang menguatkan pendapatnya.

Terkait puisi “Penemuan” ini, demi cari aman dan untuk langkah awal, kita tetapkan saja sementara bahwa “mu” di sana adalah ‘kebijaksanaan’, ‘kebenaran’  atau ‘Kebenaran’ (Al-Haq). Anggap saja si penyair sedang melalukan senandika. Kita bisa menggantikan ‘mu’ dengan kata-kata tersebut sebagai ujicobanya.

(1)Aku menemukan (kebenaran) pada sungai-sungai yang mengalir
Juga (menemukan kebenaran) pada batu-batu yang menjaga mereka di pinggirnya

(2)Aku menemukan (sekarang kita ganti dengan ‘kebijaksan’: aku menemukan adanya kebijaksanaan) pada (peristiwa) gunung yang memuntahkan api (menciptakan lahar, dan demikian juga aku menemukan kebijaksanaan)
Juga pada orang-orang yang berhamburan karenanya (jika dampak lahar dapat menggemburkan tanah, maka orang yang berhambur, berlarian akan ketakutan, barangkali akan mendapatkan kebijaksanaannya dengan cara yang tidak langsung: setelah mereka berpikir, karena bersyukur masih selamat, lalu bertambahlah keimanannya, atau entah karena cara yang lain)

(3)Aku menemukanmu pada laut yang tak henti berdebur
Juga pada ikan dan mutiara yang berzikir di dalamnya

Pada bagian ini, penyair agaknya mengacu pada ayat pertama At-Taghabun atau Al-Jumuh yang keduanya sama-sama menyatakan bahwa segenap sarwa semesta itu bertasbih kepada Allah, semua tanpa terkecuali. Hal yang sama juga dinyatakan penyair pada tempat yang lain, yaitu pada masa awal (bayi) dan masa akhir (uban di kepala). Katanya:
(4)Aku menemukanmu pada mata bayi yang mungil
Juga pada uban yang menyala di kepala orang tuanya

***

Terkait anugerah, dengan cara yang mudah—tentu saja bagi kita yang berposisi sebagai ulil abshar, yang berpikir—kita akan melihat adanya karunia Allah pada hujan (sebagai rahmat bagi warga Bumi sebagaimana firman dalam Asy-Syura 28: وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ
 وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

Maka, sang penyair menulis: (5)“Aku menemukanmu pada hujan yang menumbuhkan kembang”. Akan tetapi, untuk menemukan rahmat atau kebenaran atau kebijaksanaan pada situasi yang terbalik, misalnya banjir, seperti tergambar pada baris selanjutnya; “Juga pada kota dan perkampungan yang tenggelam karenanya”, kita harus berpikir keras. Dan rangkaian proses berpikir ini tentu saja panjang hingga sampai pada kesimpulan akan adanya kebaikan tersebut. Jika mau simpel, anggap saja ia karunia yang bentuk peringatan, atau karunia yang belum terpecahkan oleh nalar. Inilah cara berpikir husnuzan atau ‘main aman’.

Adapun bagian yang ini; (6)“Aku menemukanmu pada kerontang padang pasir / Juga pada kawanan binatang yang mati kehausan di sana”, sedikit berbeda dengan bait-bait di atas. Satu bait dua baris ini saling melengkapi, tidak seperti sebelumnya yang menunjukkan adanya sesuatu pada dua hal yang bertolak belakang/terbalik. Dan dengan pola yang sama diterapkan oleh penyair pada dua bait berikutnya, yakni pada bagian;
(7)Aku menemukanmu pada burung-burung yang terbang di angkasa
Juga pada para penyair yang terbang dengan sayap-sayap jiwanya

Bedanya, di bagian atas ini, penyair menerapkan gaya perbandingan, antara literal (burung terbang) dan metaforis (terbang dengan sayap jiwa), lalu dipadukan dengan gaya satire (mengejek) pada bait selanjutnya.
(8)Aku menemukanmu pada buku-buku yang terus ditulis
Juga pada manusia yang mengejar nama dengan itu semua

***

Penyair Faqih kembali menggunakan gaya paradoks pada bait seterusnya, seperti pada awal, dengan membenturkan status kemegahan dengan duka cita, antara raja dengan rakyatnya:
(9)Aku menemukanmu pada megahnya istana raja-raja
Juga pada duka cita di setiap wajah rakyat mereka

Lebih  dari itu, dengan cara lebih ekstrem, penyair bahkan membenturkan kemiskinan versus kekayaan; keimanan lawan kekufuran, bahwa dalam kesemua elemen itu, ia (yang disebut “mu”) itu sejatinya akan selalu ada, bahwa rahmat Allah Ar-Rahman itu selalu ada, termasuk kepada orang-orang yang menentang-Nya yang seakan-akan tetap dimanjakan-Nya dengan istidraj.
(10)Aku menemukanmu pada kemiskinan dan kekayaan
Juga kutemukan kau pada keimanan dan kekufuran

(11)Aku menemukanmu pada mereka yang diusir dari negerinya
Juga pada tiap kebijaksanaan yang dijadikan pembenarnya

***

Sementara pada dua bait di bawah, penyair menyentil pembaca melalui visi ekologis, malalui tambang dan pencemaran. Karena, dalam dua hal yang (seolah) bertentangan itu, “ia” hadir. Maka, seperti apakah sebetulnya kita memaknai kehadiran itu? Bagaimana seorang hakim yang bijak dapat memuaskan dua pihak yang sama-sama bertikai? Barangkali, yang dimaksudkan bukan tepat begitu, tapi kira-kira demikianlah maksdunya: bahwa kebijaksanaan terkadang ada pada dua sisi mata uang yang berbeda. Ia hadir ketika kita sama-sama melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Katanya; (12)Aku menemukanmu pada bukit yang jadi lembah karena ditambang / Juga pada sawah ladang yang babak belur dan laut yang tercemar.

Sementara pada tiga bait berikutnya (13, 14, 15) penyair mengubah visinya pada nasionalisme dengan memakni patriotisme.
 (13)Aku menemukanmu pada sepatu dan senjata para tentara
Juga pada mereka yang dibisukan dengan keduanya
(14)Aku menemukanmu pada bangsa-bangsa kaya tanah dan air
Juga pada orang-orangnya yang kehilangan tanah dan air
(15)Aku menemukanmu pada negeri yang ditumbuhi buah dan emas
Juga pada anak-anaknya yang mati kelaparan dengan tubuh memelas

Tiga bait berurutan di atas, yaitu ke-13, 14, dan 15, adalah bait “satu napas”, bait yang memotret kondisi tanah air kita, tepatnya pada kondisi terkini akibat perampasan kekayaan oleh Negara dan SDA sejak Orde Baru yang langgeng terus sampai sekarang. Meskipun penyair menyebut secara umum (nakirah) dengan sebutan “bangsa-bangsa”, tapi sebetulnya ia bermaksud pada makrifat, yaitu bangsa (kita). Gaya seperti ini kita temukan dalam Alquran, seperti dalam Surah Ali Imron, ayat 173, yang menyebut “mereka” tapi maksudnya adalah “Nu’aim bin Mas’ud”. Yang disebut totem, yang dikehendaki parte dan begitulah kebanyakan puisi bekerja: mengatakan suatu hal,  maksudnya lain hal, say something and mean another.

(16)Aku menemukanmu pada boneka kayu yang disulap jadi pemimpin
Juga pada penyembah-penyembahnya yang seniman dan para alim
Bait di atas ini sebetulnya masih juga berhubungan dengan tiga bait sebelumnya. Biar saya jeda dulu. Sekarang, giliran Anda yang merenungkannya!

***

(17)Aku menemukanmu pada kawanan merpati yang tiba membawa kabar
Juga pada si kaya yang memakani mereka hingga sayapnya menggelepar

Bait ini tidak kontekstual dengan masa sekarang. Pembaca Gen-Z mungkin tidak pernah tahu apa itu “merpati yang membawa kabar”, karena tidak pernah tahu ada merpati pos. Bagi yang cermat, mereka pasti bertanya-tanya perihal logo PT Pos Indonesia yang logonya menggunakan burung merpati dengan garis arsir untuk menimbulkan kesan cepat. Pada bait ini, yang dikehendaki penyair sebetulnya hanyalah membuat jurang perbedaan yang dalam, antara perilaku orang awam dan orang kaya kepada sesuatu yang berjasa, yaitu merpati. Jika ada banyak orang yang merasa berutang jasa pada merpati, bagi orang kaya, hal itu justru hanya dijadikan hiburan untuk kepuasan dirinya, bahkan meskipun harus kerangkeng bagi kebabasan merpati itu sendiri.

(18)Aku menemukanmu pada syair dan lukisan yang ditukar dengan dirham
Juga pada pujangga dan perupanya yang berkedip mata dengan kekuasaan

Penggunaan kata dirham di sini mengesankan puisi seolah ditulis oleh penyair zaman kekhalifahan Abbasiyah, lebih-lebih ditabalkan dengan gambaran pujangga yang dekat dengan kekuasan (dengan asumsi mendapat fasilitas sehingga mereka menjadi tidak kritis, pada saat mestinya memang menjadi tukang kritik dan suaranya menakutkan karena memiliki banyak pengaruh [follower di masa sekarang]. Sejatinya, ia hanyalah simbol saja yang dipakai si penyair untuk membuat puisinya tidak serta-merta langsung dipahami oleh awam. Dengan cara seperti itulah seorang penyair menunda pemahaman pembaca puisinya. Kita bisa mengganti “dirham” dengan “rupiah” karena saat ini pun, kondisi yang demikian masih terjadi di lingkaran mereka, di lingkaran penyair dan seniman, meskipun tidak sebanyak zaman dulu tentunya.

(19)Aku menemukanmu pada wabah mematikan yang sengaja didatangkan
Juga pada ramuan dan kebijakan yang menobatkan mereka jadi saudagar

Bagian ini, penyair merespon Covid-19 yang baru lalu dan menyetujui pandangan sebagaian pakar bahwa ia adalah proyek “bisnis kematian” (dalam ekonomi disebut monkey business; yang penting dapat untung besar, setelah itu pelaku akan cuci tangan). Bait ini menunjukkan bahwa penyair berada di pihak ini, pihak yang menduga kuat bahwa bisnis kematian tersebut telah melibatkan pesohor-pesohor dunia yang meraup keuntungan dari segala transmisi dan peredaran apa pun dalam lingkaran Covid-19, termasuk farmasi dan efek ketenagakerjaan.

Artinya, Subjek—dengan posisi sebagai objek dalam puisi si penyair (mu)—tetaplah selalu terlibat dalam apa pun bentuk peristiwa dan aktivitas manusianya, dalam ranah apa pun: kasih sayang maupun kematian. Kritik tajam di atas berlaku sama untuk bait berikitnya, di bawah ini. Penyair membuat ironi tentang pendidikan, benteng terakhir moralitas yang justru menjadi penyalur musuh utama kemanusiaan, yaitu perbudakan. Sarkastik, penyair memadukan baris awalnya dengan memperbandingkan peran mereka semata-mata hanya sebagai figuran dalam permainan kapitalisme global. Coba saja diperhatikan!

(20)Aku menemukanmu pada gedung sekolah yang menjelma pabrik perbudakan
Juga orang-orangnya yang menjadi penari latar dalam orkestra para taipan
Ironisme dalam bait di atas masih berlanjut pada bait berikutnya, di bawah ini:
(21)Aku menemukanmu pada kawanan bandit yang dikubur di makam pahlawan
Juga pada para pahlawan yang dianiaya lalu mati sebagai kaum buangan

Mudah bagi kita untuk memahami bait ini. Banyak contoh di sekitar kita, bagaimana orang jahat bisa berubah reputasinya menjadi baik, atau dilupakan kejahatannya secara perlahan dengan cara membelokkan sejarah, direhabilitasi namanya dengan berbagai cara, seperti ditonjolkan jasanya dan ditutup kejahatannya. Caranya banyak, misalnya dengan dibuatkan patung atau diberikan penghargaan dan tanda jasa dan semacamnya. Cara ini bisa berlaku saat dia masih hidup atau bahkan sesudah tiada.

(22)Aku menemukanmu pada tukar-menukar barang yang ditiadakan
Lalu menggantinya dengan uang agar arah dunia mudah dikendalikan

Bagian ini tentang bisnis dan kapitalisme, tentang kiprah orang-orang pintar yang telah mengubah sistem jual beli yang semula berdasarkan tukar-menukar menjadi simplifistik ke penukaran kertas dan simbolisme nominal, tepatnya melalui uang kertas dan bank. Visi penyair tentang uang kertas adalah karena ia alat tukar yang rentan inflasi karena hanya berupa pelambangan nominal (sedangkanya mahianya tidak berharga [kertas], berbeda dengan koin emas dan perak dalam dinar dan dirham yang alat tukarnya memang berharga sejati).

(23)Aku menemukanmu pada para kombatan yang ditembaki tanpa ampun
Juga pada mesiu pelurunya yang disuling dari tanah mereka yang ranum
Untuk puisi ini, mari alihkan pandangan kita ke Palestina sebagai contoh. Penyair mengibaratkan tentara-tentara yang ingin merebut hak tanah mereka sendiri itu sebagai kombatan, tapi ditembak dengan peluru yang didapat justru dari hasil mencaplok kekayaannya. Atau, gambaran yang lebih halus, tapi mirip, juga dapat diambilkan contoh dari keadaan penduduk asli suatu wilayah yang tersingkir (atau ‘terusir’) dari areanya sendiri, seperti Indian, Aborigin, maupun orang-orang Betawi.

(24)Aku menemukanmu pada anak-anak pejabat yang bersekolah tinggi-tinggi
Juga pada anak rakyatnya yang mengais sampah demi mencari sesuap nasi
Bait ke-24 adalah ironi pendidikan dan kemiskinan. Penyair seperti sedang terbang tinggi lalu melihat gambaran berseberangan di bawahnya. Pendidikan yang mestinya membuat manusia terdidik, yang dengan demikian akan membuat kehidupannya membaik, tetaplah tidak terjadi. Jurang seperti ini tetap akan tampak di mana-mana. Yang dipersolakan penyair sebenarnya adalah keseimbangan: ada yang kaya, ada yang miskin, tapi (idealnya) tentu tidak setimpang itu.  

(25)Aku menemukanmu pada nisan para moyang yang diarak ke mana-mana
Juga pada anak-cucu mereka yang mendapat singgasana dengan itu semua
Dalam mengkritik, penyair ini pukul rata, tanpa tebang pilih. Dia tidak semata-mata mengkritik pemerintah atau siapa pun, bahkan termasuk orang-orang mulia yang di antaranya jahat dengan cara menjual nama besar orang tua atau nenek moyangnya sedangkan dia sendiri dapat menikmatif efek dominonya, mendapat keuntungan dari menjual nama besar itu.

(26)Aku menemukanmu pada bayi-bayi yang lahir dengan tubuh kecil dan kurus
Juga pada orang tua mereka yang nomaden karena diburu terus-menerus
 

Nah, yang nomor 26 ini berbeda. Baris kedua dalam bait ke-26 bukan kebalikannya, melainkan penguatnya. Dua barisnya sama-sama menggambarkan kemiskinan dan penderitaan. Bait ini terasa sangat berbeda dengan bait-bait yang lain, entah hal ini disadari penuh oleh si penyair atau muncul begitu saja karena dia berpatokan pada pakem “satu bait. dua baris”. Nomaden, dalam puisi ini, bermakna harfiah, yaitu sekadar berpindah-pindah tempat, meskipun pada dasarnya istilah tersebut digunakan untuk suku gurun yang memiliki tradisi berpindah tempat, tidak menetap, bukan karena diteror oleh kekuasaan.
Bocah menderita. Orangtuanya menderita. Dua-duanya menderita. Begitulah gambaran bait di atas, berbeda dengan gambaran pada bait berikutnya, ketika  penyair kembali pada pola awal, yaitu “satu bait, dua baris, konftradiktif”,

(27)Aku menemukanmu pada bocah-bocah yang meninggal karena rusak paru dan ginjal
Juga pada tabib dan wazir yang membagi laba dengan peracik obat beracun yang dijual


Sebagai kritik, ia masih berupa kelanjutan bait sebelumnya, tapi dalam puitika, ia berbeda. Baris pertama merupakan kritik terhadap “bisnis penyakit”—bisnis yang tidak mempedulikan dampak penyakit sistemik yang bakal diderita konsumen dalam jangka waktu panjang karena telah disiapkan penawarnya. Baris kedua adalah keuntungan dari bisnis itu, keuntungan finansial dari menjual makanan atau produk yang dapat mematikan secara perlahanan karena mengandung bahan-bahan kimia berbahaya, seperti zat pewarna tekstil yang dipakai untuk mewarnai makanan ringan, atau obat-obatan kategori non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) yang berbahaya dalam penggunaan jangka panjang. 


(28)Aku menemukanmu pada negeri yang diluluhlantakkan atas nama nuklir
Juga pada sumber-sumber minyak di bawah tanahnya yang terus mengalir
(29)Aku menemukanmu pada negara-negara yang tak henti berperang
Juga pada mafia yang berbisik dengan pemilik pabrik persenjataan

Pada dua bait di atas, penyair merujuk pada gambaran dunia internasional. Dia menyebut tiga kata kunci: nuklir, minyak, senjata. Ketiganya adalah hipogram. Ketiga kata kunci inilah yang menjadi penyebab perang. Negara-negara yang menggunakan nuklir untuk energi maupun sebagai senjata sama menyeramkannya dengan minyak sebagai sumber perekonomian suatu negara yang dapat memakmurkan tapi juga bisa menjadi bumerang karena bisa menjadi pemicu perang dengan alasan beragam. Maka, perang pun menjadi ladang bisnis, monkey business, yaitu bisnis peredaran senjata.

Dengan dua bait di atas, penyair seakan tetap berhusuzan kepada Allah, bahwa berdasarkan kehendak-Nya, keindahan, kebenaran, bahkan diri-Nya, bisa muncul di dua tempat dan dua kondisi yang oleh mata manusia dianggap bertentangan. Takdir dan kehendak-Nya masih tetap menjadi tameng kemisteriusan kekuasaan Allah swt. Seakan penyair berkata: “Allah ada di Jepang, Allah juga ada di Uni Emirat. Allah ada di Afganistan, juga ada di Amerika dan Rusia.”

***

(30)Aku menemukanmu pada puisi yang menggigil sendirian di tepi sejarah
Juga pada rezim yang didirikan lalu dipagari dengan tumpukan jenazah

Bait ke-30 diposisikan sebuah kesimpulan. Ia menjadi gambaran umum penyair mutakhir: tugasnya mengingatkan, mengajak refleksi, mengajak berpikir kritis, tapi keberadaannya terpinggirkan, tidak diperhitungkan, dimarginalkan oleh masyarakat (menggigil sendirian di tepi sejarah) karena demikianlah keberadaan mereka saat ini dan sudah berlangsung selama beratus-ratus tahun. Mereka hanya berjaya di masa  lalu, di saat mereka berperan sebagai juru bicara suku, berperan seperti nabi, berperan sebagai pembawa berita (wartawan), dan berperan sebagai tokoh sentral dalam kabilah/marga, serta berperan sebagai pengambil keputusan.

Begitu besar peran mereka hingga Allah membuat surah khusus bertajuk As-Syuara (para penyair) dalam Alquran. Akan tetapi, dalam konteks kepenyairan di masa lalu, Allah menegur keberadaan dan kecerdasan mereka (yang biasanya memiliki kecerdasan di atas masyarakat pada umumnya) justru digunakan untuk menjual kepalsuan, menjual kebohongan, menjual harga marga dan kabilahnya demi uang dan kekuasaan. Penyair saat ini justru kebalikannya: mereka terpinggirkan dari lintasan sejarah dan peran penting suatu bangsa. Kecuali mau menjilat kekuasan dan mendekat dengan pejabat, barulah mereka mendapat tempat (lihat bait 16).  

(31)Aku menemukanmu pada segala yang dicari tanpa ditemukan tajalliyat
Juga pada segala yang ditemukan tanpa perlu pencarian iman

Puisi panjang ini ditutup dengan bait refleksi tentang semua pernyataan di atas. Penyair telah selesai melakukan pencarian kebenaran, pencarian keindahan, juga menemukan kekuasaan Tuhan yang tampak dalam wujud kauniyah dan tajalliyat-Nya pada semua nama, tempat, dan benda yang disebutkannya dari awal. Mengapa “menemukan” dibenturkan dengan frasa “tanpa ditemukan”? Yang pertama adalah menemukan wujudullah dalam kauniyah, sebagai ekspresi Umar al-Khayyam dalam Rubaiyatnya:
تُخفي عن الناس سنا طَلعتِك
وكل ما في الكونِ من صَنْعَتِك
فأنت مَجْلاهُ وأنت الذي
ترى بَديعَ الصُنْعِ في آيَتِك
Kau sembunyikan gemilang wujud-Mu
padahal segenap sarwa adalah pancaran ciptaan-Mu
Kau sang pencipta dan Engkau pula yang menunjukkan
rumitnya keindahan adikarya dalam para lambang-Mu

sementara dzatiyah-Nya tetap menjadi misteri, yang bahkan hingga Nabi Musa as.—sebagai kalimullah [yang diajak bicara oleh Allah] pun tidak mampu menemukannya secara nyata. Lantas, bagaimana hasilnya? Kata penyair, (aku telah menemukan) “Juga pada segala yang ditemukan tanpa perlu pencarian”, yakni sesuatu yang ada tanpa perlu dicari, yang eksis tanpa perlu dianalisis, yaitu rasa dalam sanubari dan itulah iman.
 
Wallahu a’lam
11/02/2024

UNTUK MEMBACA PUISINYA, klik tautan ini