10 Juni 2019

Menggambar Kota dengan Kapur Tulis (Sainul Hermawan)



Dunia Kapur Rudy Tabuti (Sainul Hermawan)

Nauka berteriak semangat memanggil ayahnya
“Lihat Ayah, Rudy mau menggambar Banjarmasin.”

Sungai Martapura digambar tanpa sampah
Selalu penuh jukung hias  mengantar para pelesir menyisir banua
Sepanjang tepiannya orang-orang bercengkrama santai
Menikmati soto Banjar, untuk-untuk, binka, buras, lontong Kandangan
Bernaung di warung-warung beratap sirap ulin
Asyik menyantap musik panting dan madah-madah madihin

Tapi Rudy tiba-tiba berhenti
Penghapus sudah siap di tangan kirinya
Nauka tiba-tiba menyeru layar kaca itu
“Teruskan Rudy sang pencipta, kamu tak pernah salah.”

Rudy tentu tak bisa dengar karena ia manusia kartun di layar kaca
Tapi kenapa dia berkata, “Maaf anak-anak di seluruh dunia
Ini bukan gambar kota yang benar. Aku harus menghapusnya.”
Papan Rudy kembali hitam dan dia siap menggambar kota lain

Nauka berteriak lagi mengajak ayahnya terus nonton
Lihat ayah, Rudy mau menggambar Banjarbaru.”

Dengan kapur hijau dia menggambar perbukitan
Di atasnya digambar kampus pendidikan termegah: the
center of excellence
Setiap gedung rata-rata berlantai tiga tanpa sampah
Sampah orasi mahasiswa
Sampah cermah dosen-dosennya
Sampah birokrasi

Tapi, lagi-lagi Rudy tiba-tiba berhenti
Penghapus sudah siap di tangan kirinya
Nauka tiba-tiba menyeru layar kaca itu
“Teruskan Rudy sang pencipta, kamu tak pernah salah.”

Rudy pasti tak bisa dengar karena ia manusia kartun di layar kaca
Tapi kenapa dia berkata, “Maaf anak-anak di seluruh dunia,
Ini bukan kota dengan sekolah yang benar.
Aku harus menghapusnya.”
Papan Rudy kembali hitam dan dia siap menggambar kota lain

Kayutangi, 29 Maret 2006



Ini adalah puisi karya Sainul Hermawan, seorang penyair cum dosen di Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan. Puisi ini dicuplik dari bukunya, Mata untuk Mama (Scripta Cendekia, 2009), yang notabene merupakan kumpulan cerpen dan puisi.

Dunia Kapur Rudy Tabuti

Nauka berteriak semangat memanggil ayahnya
“Lihat Ayah, Rudy mau menggambar Banjarmasin.”

Kita dapat dengan mudah menduga, bahwa tokoh Nauka dalam puisi ini adalah anak si penyair dan yang disebut ayah adalah si penyair itu sendiri: Sainul Hermawan. Kita dapat berfantasi soal ini, terutama bagi mereka yang telah menjadi ayah dan punya anak kecil. Demikianlah cara anak mencari perhatian ayahnya, memanggil-manggil dengan suara yang tinggi meskipun sedang berada di sampingnya, lebih-lebih jika yang ingin ditunjukkan si anak merupakan hal baru dalam dunianya.

Adapun Rudy Tabuti sendiri adalah tokoh dalam Chalkzone, kartun kapur ajaib yang mewujudkan apa pun yang diinginkan si penggambar. Kartun ini menggambarkan fantasi anak-anak yang dapat meluruhkan segala ketidakmungkinan di dunia nyata. Gajah masuk pipa ledeng tidak mungkin terjadi, itu hal itu ada dalam kartun Tom & Jerry. Anak-anak menerima itu sebagai suatu fantasi yang (mungkin) nyata karena mereka tidak pernah membantahnya.

Kejutan dalam dua kalimat pembuka di atas tersebut bukanlah Rudy, melainkan karena ia menggambar kota tempat si Nuaka tinggal, yaitu Banjarmasin, suatu hal yang mungkin istimewa karena kota tersebut dikenal pula oleh pemeran film kartun dunia. Akan tetapi, yang mengambil peran berikutnya adalah si ayah, yaitu sang penyair, karena ia menggambarkan gaya ironi si Rudy, sebagaimana
Sungai Martapura digambar tanpa sampah (padahal mestinya kotor dan berlimbah. Sungai tersebut ditampilkan sisi indahnya saja, seperti)
Selalu penuh jukung hias (sampan kecil untuk pariwisata) mengantar para (orang yang ber-) pelesir menyisir banua (banua adalah sebutan untuk suku Dayak yang tinggal di sepanjang bantaran sungai, khususnya di Kalimantan. Keintiman wisata itu juga terlukis dalam bait berikut:)
Sepanjang tepiannya orang-orang bercengkrama santai
Menikmati soto Banjar, untuk-untuk, binka, buras, lontong Kandangan (jenis-jenis kuliner khas lokal)
Bernaung di warung-warung beratap sirap ulin
Asyik menyantap musik panting dan madah-madah madihin (“madah” berarti pujian dan “madihin” adalah pelakukan, yakni orang yang memuji. Namun, “madah madihin” sendiri merupakan kesenian Kalimantan Selatan, yang biasanya dipentaskan bersama alat musik berdawai yang disebut panting, sejenis gitar khas Tapin)

Ketika si tokoh terpesona pada gambar Rudy, ia terkejut karena gambar indah itu akan dihapusnya. Nauka tidak terima. Ia memberi semangat Rudy agar melanjutkan kerjanya.
Tapi Rudy tiba-tiba berhenti
Penghapus sudah siap di tangan kirinya
Nauka tiba-tiba menyeru layar kaca itu
“Teruskan Rudy sang pencipta, kamu tak pernah salah.”

Nah, pada bagian ini si penyair mengambil peran, menekankan ironi menemukan tempatnya di dalam larik-larik puisi, bahwa apa anak-anak (dan begitu pula orang dewasa yang kekanak-kanakan) cenderung hanya ingin melihat kenyataan berdasarkan sisi baiknya saja, serta cenderung menutupi sisi gelapnya. Pada bagian ini adalah gambaran bagaimana si Rudy harus bersikap: menggambarkan kenyataan.

Rudy tentu tak bisa dengar karena ia manusia kartun di layar kaca
Tapi kenapa dia berkata, “Maaf anak-anak di seluruh dunia
Ini bukan gambar kota yang benar. Aku harus menghapusnya.”
Papan Rudy kembali hitam dan dia siap menggambar kota lain

Pada dasarnya, puisi “Dunia Kapur Rudy Tabuti” ini terdiri dari dua bagian dan keduanya, secara pola dan susunannya mirip. Yang berbeda hanya pada bagian latar saja. Yang sudah saya ulas di atas anggap saja sebagai pertama dan yang berikut ini adalah bagian kedua. .

Nauka berteriak lagi mengajak ayahnya terus nonton
Lihat ayah, Rudy mau menggambar Banjarbaru.”

Sama dengan pola dua bari pertama, bagian ini kembali Nauka meminta perhatian si ayah (penyair). Yang membedakan dengan bagian pertama di atas, bagian ini menampilkan kota Banjarbaru sebagai latarnya. Suasana yang dibanugn pun berbeda,

Dengan kapur hijau dia menggambar perbukitan
Di atasnya digambar kampus pendidikan termegah: the
center of excellence
Setiap gedung rata-rata berlantai tiga tanpa sampah
(Tiga larik di atas ini merupakan gambaran lembaga pendidikan tinggi yang oleh penyair,melalui tangan Rudy dan kapurnya, digambarkan sebagai lambang rujukan, asri pula, dan megah. Sempurnalah ia. Tapi, mengapa gedung berlantai disandingkan dengan sampah? Sama seperti bagian pertama, sungai diandaikan bersanding dengan kebersihan, tanpa sampah. Barangkali, begitulah satire dibuat, bahwa sungai Martapura itu kotor dan gedung yang megah itu banyak sampah. kita tidak tahu, kampus apakah yang dimaksud si penyair, tapi besar kemungkinan adalah kampus tempat dia mengabdi. Kok bisa dia mengejek rumah sendiri? Bukan mengejek, agaknya ini refleksi, kritik untuk diri sendiri, karena sejauh ini ia menemukan)
Sampah orasi mahasiswa
Sampah cermah dosen-dosennya
Sampah birokrasi
(di kampus yang katanya the center of excellence tersebut).

Masih seperti sebelumnya, gayanya masih sama: mengulang ucapan Nauka dalam memberi semangat terhadap si tokoh cerita, Rudy Tabuti.
Tapi, lagi-lagi Rudy tiba-tiba berhenti
Penghapus sudah siap di tangan kirinya
Nauka tiba-tiba menyeru layar kaca itu
“Teruskan Rudy sang pencipta, kamu tak pernah salah.”

Rudy pasti tak bisa dengar karena ia manusia kartun di layar kaca
Tapi kenapa dia berkata, “Maaf anak-anak di seluruh dunia,
Ini bukan kota dengan sekolah yang benar.
Aku harus menghapusnya.”
Papan Rudy kembali hitam dan dia siap menggambar kota lain

Kayutangi, 29 Maret 2006

Ada dua gagasan penting di sini: pertama, “bukan gambar kota yang benar” dan “bukan kota dengan sekolah yang benar”. Itulah mengapa Rudy harus menghapus dan membuat gambar yang lain, yang meskipun tidak fantastis dalam karya, tapi lebih ikonik, lebih dekat dengan kenyataan. Begitulah cara penyair mengkritik, tidak harus dengan kata dan tangannya sendiri. Sainul Hermawan meminjam kapur Rudy dan tokoh Nauka untuk menjelaskan gagasannya, bahwa Banjarmasin dan Banjarbaru adalah dua kota yang meskipun punya sejarah yang hebat, tapi menurutnya belum benar-benar seperti yang diharapkan oleh masyarakatnya.
  
Wallahu a’lam




04 Mei 2019

Rumah Tak Berpenghuni


Berada di antara kerumunan tempat tinggal dan perkampungan, rumah itu tampak biasa. Tetapi, karena halamannya jembar, ia kelihatan sedikit berbeda. Selebihnya, tak ada yang mengistimewakannya dibandingkan dengan yang lainnya. Namun, jika engkau melintas di depannya, di malam hari, barulah engkau akan tahu, rumah itu tak berpenghuni.

Saat aku memasuki halamannya, tapak langkahku terantuk sesuatu. Di antara rumputnya yang semata kaki, tersangkut aku pada sebuah gelas keramik. Kupungut dan kuamati: ini sisa bahan tembikar dari masa lalu. Astaga, betapa kenangan silam itu kecil, tapi, ah, kadang mengganggu.
foto tidak merujuk kepada teks, foto hanya ilustrasi,
foto oleh Haris Santoso

Pintu-pintu mulai rusak. Beberapa harus dibuka dengan cara didorong sembari sedikit dihentak. Udaranya pengap menyergap, padahal ubinnya keramik dan atapnya tinggi bersirap. Ada sarang laba-laba di beberapa pojoknya, menandai rentang masa tertentu nan lama: rumah ini tidak disambangi manusia.

Seperangkat sice, meja papan jati Jawa dan kursi rotan dari Manau, tanpa piring dan gelas, juga pot tanpa bunga, berlurub debu dikangkang waktu. Ada lemari kayu berkaca lebar. Mungkin ia tempat menyimpan cangkir dan mangkuk keramik serta barang pecah-belah, atau pula menyimpan kemegahan dalam wujud perabotan-perabotan rumah. Semuanya, kini kosong tiada tersisa, kecuali sepasang garpu dan sendok yang bengkok ada di pojok, serta patahan gagang gelas yang teronggok.

Aku menyapu pandangan, mengeliling, mengitar.
"Hai, para penghuni, ada di mana kalian?"

Panggilan membentur dinding. Keheningan mengembalikan suara. Yang kuterima hanyalah perasaan berdesir, serupa kuduk dielus semilir.

Kenangan-kenangan laksana peri, berkelebat, di antara tembok putih yang mulai pucat. Ia seperti kelir, tapi pertunjukan wayang sudah lama berakhir. Manakala aku berada di antara suasana terpikat dan tercekat, keheningan rumah itulah yang seakan-akan ganti bercakap-cakap.

Di ruang tengah yang lebar, ada sofa panjang. Ujungnya lapuk dan bertelutuh, pertanda kayu kasau hancur tak kuat menopang. Mungkin, terlalu lama tak ada orang yang duduk di sana, sehingga ketika ada tetes air hujan yang mengucur dari layas yang rubuh, tak orang yang sempat memperbaikinya. Karpet tebalnya sudah tiada. Televisi sudah tiada. Mainan anak-anak, yang biasanya berserakan di sana, juga tiada.

Di manakah benda-benda itu kini berada?

Aku melongok ke kamar tidur: tersisa dipan tanpa kasur. Sandarannya patah, rapuh dimakan rayap. Gantungan baju tetap terpasak, tapi sama sekali tak ada pakaian. Yang tersisa hanyalah sebuah lemari dengan pintu terbuka, tapi engsel bagian atas sudah rusak. Ia tidak bisa ditutup dan terus terbuka.
Aku merasa: ada kemesraan di kamar ini, percakapan pelan di bantal yang lembut dan wangi. Barangkali, ada pula jejak pertengkaran, suara keras di tengah malam yang sepi. Ada tawa yang kini hilang, sebagaimana tangisan dan sesenggukan yang dulu menyelai.

Sejurus, aku berdiri di tengah pintu. Setelah memasuki ruang-ruang kosong dan menilik setiap pojok ruangan, kini aku hendak pulang. Aku menoleh: tak ada apa pun, tak ada siapa pun. Di belakangku hanya ada bayang-bayangku.

Aku menatap ke depan, menarik nafas panjang, menunduk, melangkah ke luar.

Setelah beberapa langkah menjauh, rumah itu tampak samar dalam keheningan. Semua perabotan di dalamnya telah membeku oleh waktu: tak ada tangan yang memegang sendok dan piring, tak ada lagi tubuh yang rehat berbaring, tak ada suara dan percakapan. Ia yang dulu besar dan megah, kesendirian membuatnya tampak kusam tanpa kimah.

Sebelum menghilang di ujung jalan, aku menoleh, sejurus melihat. Ah, seperti diriku dan dirimu ada di sana, duduk di berandanya. Tapi, begitu kuamati sekali lagi, aku sadar, kita tidak lagi tinggal bersama di sana. Dan rumah itu benar-benar tanpa penghuni.

Kelak, kalian, semua yang pernah hidup, akan mengalami perjalanan waktu seperti ini. Kita akan meninggalkan rumah yang kita huni karena harus pergi, harus pergi, ke tempat yang jauh sekali. Sementara rumah itu tetaplah ada, selalu ada, menjadi bagian dari saksi apa saja yang kita lakukan selama tinggal di sana.

14 April 2019

08 Maret 2019

Renungan dari Meja Makan


Tangan-tangan yang kekar
silang-sengkarut di atas meja
Cumi dan rajungan, rawon dan gulai
bagaikan aurat: kolesterin merangsang selera
Lalu sedih saat melihat pengidap gula
yang bersyahwat tapi tak kuasa

Garpu dan sendok beradu sempat
membalik, menusuk, menyuap
Terdengar gemerincing piring

Pangek Situjuah, foto: Akhyar Fuadi 
Gelas berdenting beradu genting
Cecap mulut dan serdawa
mengiringi orkestra meja makan raksasa

Pramusaji datang dan pergi
mengantar dan bergegas
Orang-orang asyik tak peduli
kecuali menyantap yang dihadapi

Dari tanah manakah ini kentang dikerat dadu?
dari Wonosobo atau kabupaten Bandung?
Seperti apakah bentuk muasalnya dahulu?
Berbentuk bulat atau runjung?

Tangan siapakah yang menyembelih?
dagingnya tebal dan lezat sekali
Adakah si jagal baca basmalah
Atau di pisau-mesinkah ia mati?

Tangan-tangan berjibaku di atas meja
silang-sengkarut di atas meja
ambil yang sini, jangkau yang sana

Makan bukanlah sekadar pesta bagi mulut
bukan pula sekadar ganjal bagi bagi perut
Ia adalah upacara atas nikmat terberi
untuk indera pencecap yang masih berfungsi
untuk tangan yang masih bisa menyuap
untuk hidung yang masih mampu mengendus
untuk mata yang masih bisa memilih
bahwa semua ini tidak datang serta-merta
Ada yang menumbuhkan, ada yang menghidupkan
dan karena itu haruslah engkau tahu
bahwa makanan adalah nyawa ibadahmu

27/2/2019