14 November 2016

Menemani Tidur


Di ubun-ubunmu, kubacakan Shalawat Ibrahimiyah 
saat engkau lelap dan aku menemanimu

Aku tidak pernah tidur, Nak, tidak pernah
jika kaulihat mataku berpejam, itu hanya tipuan
supaya engkau segera tidur lalu lupa: 
pada sepatu roda yang tak terbeli;
pergi ke pasar malam yang tak jadi-jadi

Kusamarkan sedihku dengan tertawa, Nak
supaya engkau tidak paham getirnya hidup 
di saat engkau baru belajar mencecap manisnya

Di ubun-ubunmu, kutiupkan doa
seiring getar-getar sebutan Asma Agung 
yang tiada tasbih pun mampu menghitung

Bagaimana mungkin aku akan menjelaskan ini padamu 
menjalani hidup begini rupa 
sedangkan engkau tidak pernah menjadi diriku? 
Ya! Kamu hanya melihat aku menjalaninya, 
tetapi tidak pernah benar-benar menjalaninya sebagai diriku

Tempuh usia sampai kelak engkau dewasa
hingga pada saat itulah engkau akan tahu 
betapa ciptaan agung bernama manusia 
begitu rumit dan sukar dipahami
ketika engkau berhadapan dengan anak dan cucu
seperti aku menghadapimu dahulu

Tidurlah, Nak, biar aku menjagamu
supaya kelak engkau dapat senantiasa terjaga
di saat aku tidur panjang dan engkau berkirim doa

3/11/2016

06 Oktober 2016

Menghidupkan Apresiasi Puisi


Di awal tahun 2000 hingga kisaran 2007, saya sering kondangan untuk menghadiri lomba baca puisi di madrasah-madrasah di sekitar rumah. Yang dimaksud 'sekitar' adalah madrasah yang berada dalam radius 5-20 kilometer dari tempat saya tinggal. Lomba baca puisi ini biasanya marak menjelang tutup tahun pelajaran, menjadi bagian rangkaian acara 'akhir sanah' atau 'haflatul imtihan'.
Saya masih ingat kenangan saat menjuri lomba baca puisi di madrasa Raudatul Iman, 6 kilometer dari tempat tinggal saya. Kala itu, panitia terus membuka pendaftaran hingga lewat pukul 23.00. Banyak pula anak kecil yang mendaftar, diantar dan ditemani orangtuanya hingga acara bubar. Akibatnya, lomba berakhir pada pukul 02.00. Capek, sih, tapi saya senang bilamana mengingat perhatian masyarakat pedesaan pada kegiatan seperti ini yang mungkin di antara mereka masih bertanya-tanya semisal 'apa guna puisi bagi pembangunan?'.
Hal serupa juga saya alami di madrasah Tarbiyatul Banat, Moncek, di komplek madrasah yang lokasinya lembah dan pelosok, yang jaringan seluler pun susah didapat. Sungguh, yang hadir dalam lomba baca puisi itu bukan saja siswa dan anak muda, tapi orang tua, masyarakat dusun, bapak-bapak dan ibu-ibu juga. Masih ada beberapa nama tempat yang saya sebutkan nama ini hanya soal contoh saja, jadi saya kira tidak perlu disebutkan semua.
Kini, saya sudah jarang menjuri, namun kenangan di atas begitu kuat hingga terus melekat sampai sekarang. Saya kembali ingat, betapa bersemangatnya masyarakat menghadiri dan menonton orang membaca puisi. Apakah motif masyarakat berduyun-duyun ke lapangan perlombaan itu karena apresiasi atau semata karena mencari hiburan? Belum ada survei dari LSI, terutama apabila contohnya mengambil masyarakat pedesaan yang notabene petani.
Itulah tradisi lomba baca puisi sangat marak di tempat di sini. Karena itu, kami tidak menutup mata terhadap peran madrasah-madrasah penyelenggara lomba ini sebagai dapur pemasok 'makanan jiwa' siswa/santri dalam hal mengapresiasi puisi, termasuk juga menulis dan membacakannya. Saya tidak tahu, apakah yang demikian ini juga terjadi di tempat lain di Madura, atau di Lombok, atau di Sumatra?
Sebetulnya, apa sih manfaat puisi itu?
















Mari kita lihat foto ini: ribuan (menurut pengurus pesantren, ada sekitar 3000-an santri) yang tumpek-blek di halamam PP Mambaul Ulum, Bata-Bata, Pamekasan, kala itu, 21 November 2013 (tahun berikutnya, saya hadir kembali untuk seminar sastra di komplek putri). Acara tersebut adalah  pentas seni. Jelas, di dalamnya ada pembacaan puisi. Saya bertanya, apakah para hadirin sebanyak itu mengapresiasi pembacaan puisi? Tentu tidak. Apakah semua yang hadir di situ bercita-cita menjadi penyair atau karena dasar cari tontonan gratis? Lagi-lagi, tentu tidak karena saya pun tidak ngurus atau tidak tahu, tapi yakin jawabannya adalah ‘tidak’.
Satu hal yang membuat saya senang, baik ketika melihat foto ini ataupun saat mengisahkan cerita sebelumnya, adalah adanya anggapan bahwa kegiatan semacam ini dianggap baik. Sekurang-kurangnya, apresiasi puisi, termasuk pembacaannya, akan; mendekatkan puisi kepada santri; mengingatkan kita bahwa di dunia yang serba-instan dan wadag ini ada teks-teks yang tidak dapat dipahami secara lugu; mengajak berpikir karena pesan yang disampaikannya tidak sepolos berita/koran. Intinya, puisi itu bukan hanya indah, tapi berguna, sesamar apa pun wujudnya.
Dengan menyimak pembacaan puisi, apalagi mencintainya, menulisnya, mengapresiasinya, siswa/santri tidak mudah terjerumus ke dalam pemikiran hitam-putih, terutama ketika membaca teks-teks keagamaan. Bukankah rujukan utama hukum Islam itu sangat puitis sehingga bahkan dibutuhkan hadis untuk memahaminya, bahkan terkadang pula dibutuhkan pemikiran ulama yang mumpuni untuk mencernanya?
Pola pikir yang lugu jelas tidak dapat memahami teks 'puitis' (apalagi 'puisi'). Maka, cukuplah disebut kerancuan apabila memahami teks metaforis dengan pendekatan literal. Nah, puisi lah yang akan mengajari kita supaya tidak malas berpikir sebab untuk dapat mengapresiasinya tidak dapat dilakukan secara polos dan lugu. Mengapa tidak puisi harus dibikin seperti itu, kok harus mikir panjang dulu untuk memahaminya? Sesungguhnya, cukuplah suatu bangsa itu mendapatkan musibah besar ketika melahirkan generasi-generasi muda yang kekar tapi malas berpikir.





16 Agustus 2016

Riwayat Juang Kiai Abdullah Sajjad Senarai Kisah dalam 17 Ruba'iyat


Oleh M. Faizi

Lukisan Kiai Abdullah Sajjad oleh Kiai Khazin bin Ilyas (mengalami 'kerusakan ringan' karena
ditemukan dalam keadaan kotor di bilik pondok dan sempat diberi warna tambahan oleh orang yang tidak diketahui) 


Wahai pemirsa, mari berlarut di dalam khidmat
Menyimak kisah pejuang kita Kiai Sajjad
Ia pahlawan yang wafat oleh bedil penjajah
Tujuhbelas bait untaian dalam ruba’iyat

Abdullah Sajjad adalah kiai fenomenal
Ia pendidik, juga pejuang, serta pengarang
putra Kiai Syarqawi dari Nyai Mariyah 
layak ditiru tekadnya jadi suri teladan 

Beliau nyantri, belajar ngaji, pergi melanglang
Dari Guluk-Guluk mengelana ke Kademangan 
Mengaji pada Syaichona Khalil bin Abdul Lathif
Lantas dilanjut ke Tebuireng lalu Buduran

Daerah Latee adalah mula tempat berpindah 
Itulah tanda dimulainya awal berhijrah
Demikianlah pengembangan yang pertama kali 
Pemekaran pondok pun terjadi di Annuqayah

Kiai Sajjad adalah tokoh ulet dan tangguh
Giat mengajarkan kitab nyaris sehari penuh
Hanya rehat di awal malam dan akhirnya saja
Demi mulang Al Quran sehabis Maghrib dan Subuh

Sikap merakyat bermasyarakat adalah sifat
Kiai Abdul Basith putranya menutur singkat
Jikalau ada tetangga sakit kan disambangi
Bersama santri mendaras Burdah sebagai obat

Kiai Ilyas Syarqawi






















Jika Kiai Ilyas bertugas mulang di dalam
Kiai Sajjad atur siasat gerak di luar 
Bahkan akhirnya beliau jadi kepala desa
sebagai cara dakwah di jalur pemerintahan

Abdullah Sajjad kiai kita tegas wibawa
Membela paham dan keyakinan dengan digdaya
terhadap orang yang melecehkan tak akan gentar
silang pendapat, beradu dalil, dan wawansabda

Fushusul Hikam karya Muhyiddin Ibnu ‘Arabi 
Beliau baca, mempelajari, dan menanggapi
Itulah ciri alim ulama yang bijaksana
Tak antipati namun berhujjah aqli dan naqli

Bala tentara Belanda datang kembali lagi
Tahun 47, dua tahun pasca-Proklamasi
Kiai Ilyas menyerahkan Laskar Sabilillah 
Pada Kiai Abdullah Sajjad jadi pengganti

Dibantu oleh Kiai Khazin sang kemenakan
Kiai Sajjad mengatur taktik di medan perang
Namun karena laskar terdesak oleh Belanda
Santri terancam, akhirnya pondok pun dikosongkan

Kiai Khazin bin Ilyas 






















Kiai Ilyas ngungsi ke Berca di Guluk-Guluk
Kiai Sajjad bersembunyi di Desa Karduluk
Dengan pengikut dan para santri yang mengiringi
atur strategi tak kan menyerah mengaku takluk

Selama empat bulan beliau di pengungsian 
Tersiar kabar bahwa Lu’-Gulu’ sekarang aman
Kiai dengan semua pengikut pulang kembali
Namun ternyata, itu siasat, hanya tipuan

Pada seusai Maghrib yang kelam, langit kelabu
Datanglah tiba- tiba sembilan orang serdadu 
mereka sergap Kiai Sajjad selepas shalat
diangkut ke Lapangan Kemisan di malam itu

Di tempat itu, Kiai Sajjad dihukum mati
Peluru mental, namun kompeni menembak lagi 
Setelah wafat, jasadnya dilarikan ke Latee 
Penggotong bilang, darah kiai wangi kesturi


Kisah Kiai Abdullah Sajjad adalah tamsil
pejuang-pengarang kitab Mandzumatul Masa’il
sebuah kitab yang menguraikan cara bertauhid
perihal iman agar yang benar tak samar batil

Putra-cucunya kini meneruskan perjuangan
Mengajar santri pondok pesantren dan pendidikan
Semoga senantiasa mendapatkan anugerah
Menempuh jalan berjuang melawan kebodohan

Guluk-Guluk, dari Maghrib sampai Isya, 11 Agustus 2016

KETERANGAN: Disusun dan dibacakan oleh M. Faizi untuk pertama kali dalam rangka “Napak 
Tilas Sang Pahlawan Kiai Abdullah Sajjad” di Lapangan Kemisan, Guluk-Guluk, Malam Jumat, 11 
Agustus 2016. Acara ini diselenggarakan oleh badan otonom Nahdlatul Ulama Kecamatan Guluk-
Guluk.