15 Januari 2018

Pohon Shahabi (Nana Ernawati)



Aku jatuh cinta pada daun, ribuan rumpun memujamu.
Ranting-ranting yang kokoh terus mecintaimu walau
kau telah pergi sejauh-jauh semua bisa berangan.
Padang pasir Buqa’awiyya, titip bukti cintaku ini

Aku jatuh cinta pada air, puluhan samudra menggamit
penuh rindu, juga padamu. Aku jatuh cinta pada langit,
awan, Bimasakti, dan segala gugusan milyar galaksi,
jutaan salam terkirim. Selawat panjang menujumu selalu.

Kukirim tangis dukaku lewat waktu, masihkah kau akan
mendengarku setelah berkali-kali kukhianati.

Jakarta, 0215/new


Secara umum, puisi ini merupakan gambaran tawasul (baca: tawassul) kepada Rasul, yaitu suatu tindak perantara mendekatkan dua-di-antara: diri & Rasul. Jika lazim dipahami bahwa tawasul adalah mendekat diri kepada Allah melalui Nabi terkasih, maka puisi ini mendekat kepada Rasul melalui sesuatu yang mencintai Rasul. Contoh: jika sang kekasih mencintai anak yatim, maka ia juga akan mencintai anak yatim sebagai bentuk wujud cintanya kepada sang kekasih. Bukan berarti ia tidak mencintai kekasih secara langsung, melainkan ini bentuk ekspresi yang lain dalam hal cara mencintai. Hal ini kiranya lazim dan kaprah dalam kehidupan sehari-hari. Itulah gambaran umum dalam #tafsirpuisimanasuka kali ini untuk puisi “Pohon Shahabi” yang diambil dari buku “Perempuan yang Melukis di Atas Air” (Lembaga Seni & Sastra ‘Reboeng’/Elamtera, 2015), karya Nana Ernawati.

* * *


POHON SHAHABI

Aku jatuh cinta pada daun (jatuh cinta di sini tidak dimaksudkan dengan cinta syahwati yang penuh nafsu, melainkan sebentuk sukacita namun dalam derajat yang berbeda. Mengapa cinta kepada daun? Karena daun-daun mencintai Sang Rasul. Kesimpulan ini lahir setelah saya melalukan pembacaan utuh atas puisi secara menyeluruh, hingga di akhir baris. Mengenai “cinta daun kepada Rasul” ini dikisahkan di dalam lektur-lektur Islam, seperti dikisahkan bahwa pada malam kelahiran Baginda Nabi, tetumbuhan pun khidmat dan tenang dalam menyambutnya. Sekurang-kurangnya, itulah yang dilukiskan penyair pada bait selanjutnya, yaitu), ribuan rumpun memujamu.
Ranting-ranting yang kokoh terus mecintaimu (ranting pun, tempat daun tumbuh, juga mencintainya, maka wajar jika cinta sang penyair menggunakan ‘tawasul’ (perantara), yakni mencintai Baginda Nabi melalui cintanya kepada daun yang tumbuh di ranting yang juga mencitai Sang Nabi. Dalam gambaran yang lain, seperti di dalam kitab Taklim Mutaallim, salah satu cara mencintai ilmu adalah dengan mencintai ahli ilmu, seperti guru, keluarga guru, majlis ilmu, serta segala hal yang berhubungan dengan ilmu dan guru. Begitu pula, menghormati dan mencintai Nabi itu, salah satunya, dapat diejawantahkan dengan mencintai zurriyah (keturunan)-nya juga semua orang yang mencintai Nabi saw.) walau (walaupun/meskipun)
kau telah pergi sejauh-jauh semua bisa berangan (“pergi sejauh-jauh” adalah penggambaran  “ruang” meskipun yang dikehendaki penyair adalah tentang “waktu”. Yang dimaksud “jauh” di sini adalah masa antara ‘engkau’ (Rasul) dengan ‘aku’ (penyair) yang terpaut begitu lama, berabad-abad. Penyair mengesankannya seakan-akan dengan sudut pandang “ruang” karena penyair melakukan relfleksinya—kemungkinan besar—di lokasi tempat Sang Nabi dilahirkan. Demikianlah reminiscence itu terjadi dan bekerja di dalam perasaan penyair, yaitu dengan cara menahbiskan cintanya di)
Padang pasir Buqa’awiyya, titip bukti cintaku ini.

Aku jatuh cinta pada air (tafsir sama seperti di atas), puluhan samudra menggamit
penuh rindu (penyangatan [over-statement] untuk mendapatkan kesan kuat hubungan antara “air” dan “samudra”), juga padamu (yakni bahwa jika samudra menggamit padanya dengan penuh kerinduan, maka selayaknya jika si-aku-penyair mencintai dirinya melalui “air” yang juga pada akhirnya akan mengarah ke samudra. Sebetulnya, Konsep “setetes air sama dengan samudra” atau “samudra adalah setetes air” dapat juga ditemukan dalam beberapa pandangan penyair, seperti pada rubaiyat ke-14 karya Umar Al-Khayyam (versi terjemahan Ahmad Ramy [Mesir]) dan juga di dalam beberapa puisi Gibran Khalil Gibran, seperti—di antaranya—pada baris ke-16 di dalam puisi “Ma Dza Taqul as-Saqiyah” yang ada di dalam antologi “Al-Bada’i’ wa at-Thara’if”). Aku jatuh cinta pada langit,
awan, Bimasakti, dan segala gugusan milyar galaksi,
jutaan salam terkirim (cinta dengan alur tawasul semakin jelas pada bagian ini. Penyair menyusun secara urut dari daun, air, dan langit. Akan tetapi, mengapa hanya tiga item tersebut yang dijadikan media? Kemungkinannya berkaitan dengan lokasi ketika puisi ditulis, yaitu di tanah tandus (semacam padang pasir), di mana daun dan air menjadi sangat penting dibicarakan, juga langitnya yang pastinya akan lebih cerah karena terbebas dari polusi udara di siang hari atau polusi cahaya di malam hari. Referensi eksternal yang dapat dijadikan rujukan dari bagian ini adalah karya Imam Abdurrahman Ad-Dayba’i [bagian prosa liriknya]. Di dalam narasi Ad-Dayba’i tersebut, dilukiskan pertanda-pertanda alam pada saat menjelang kelahiran Nabi Muhamad, seperti ungkapan... “dan langit dipenuhi warna-warni, seiring para malaikat yang bertahlil, bertahmid, dan memuliakannya karena sukacita...”. Demikianlah gambaran yang hendak dilukiskan oleh penyair yang diwujudkannya dalam bentuk) Selawat panjang menujumu selalu.

Kukirim tangis dukaku lewat waktu (bagaimana mungkin jika tadi, di bagian awal, penyair berbicara cinta tetapi lalu ada tangisan di akhirnya? Tangisan di sini adalah tangis penyesalan yang sejatinya juga merupakan bagian dari rasa cinta. Maka dari itu, penyair mengajukan pertanyaan retoris yang senyatanya ia sendiri sudah mengetahui jawabannya. Atau, sekurang-kurangnya, penyair dapat mengharapkan sesuatu dari yang ditanyakannya) masihkah kau akan
mendengarku setelah berkali-kali kukhianati (menyadari ia telah melupakan banyak hal terhadap sang kekasih, namun kini, setidaknya di tempat itu, di tempat puisi ditulis, penyair mengakui dengan cara membuat pengakuan akan rasa cintanya, rasa cinta yang bercampur malu: menyatakan cinta tetapi tak terhitung kali ia berkhianat, seperti melanggar perintah sang kekasih sembari menyatakan cinta kepada sang kekasih. Semua orang maklum, betapa besar cinta sang Nabi kepada umatnya. Inilah yang juga disadari oleh si penyair, sebagaimana ia juga sadar dan tahu, apa saja syarat taubat sang pengkhianat, salah satunya adalah bertaubat dari keraguan di dalam cinta).

Wallahu a’lam.
M. Faizi (admin, penafsir)





13 Januari 2018

Pada Sebuah Acara Turun Tanah (Iman Budhi Santosa)


Setelah waktunya sampai, engkau akan dilepaskan
Dari pelukan diturunkan dari pangkuan
Serupa benih yang ditabur di persemaian
Sebelum tumbuh sendiri pada sebuah pilihan

Hari ini engkau belajar duduk dan berdiri
Menapakkan kaki, meraih mainan
Dengan tangan kanan untuk memiliki
Dirusak, dan dimengerti

Maka, mereka pun bersorak ketika pensil buku
Menggantikan air susu ibu, tak ada tangis
Ketika jatuh menerobos kurungan ayam
Seperti paham langkahmu bakal menuju ke depan

Keluarlah anakku, dari kurungan demi kurungan itu
Berbekal azimat di tanganmu, ada kiblat
Bakal menunjukkan tempat
Di mana seharusnya engkau berguru

2010

Puisi ini diambil dari buku “Ziarah Tanah Jawa”, karya Iman Budhi Santosa (Interlude, 2015). Nama beliau dulu dikenal bersama Ragil Suwarna Pragolapati dan Umbu Landu Paranggi saat membidani Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas seni/sastra yang mangkal di Malioboro dan banyak melahirkan sastrawan-seniman.

PADA SEBUAH UPACARA TURUN TANAH

Setelah waktunya sampai, engkau akan dilepaskan (waktu sampai adalah masa kemandirian atau sebuah tahap dalam hidup seorang anak ketika ia harus meninggalkan rumah, seperti pergi merantau; dilepaskan ke rumah mertua, dll. Namun, dalam hal ini, waktu sampai adalah prosesi “turun tanah”, yaitu dilepas dari pangkuan ke tanah)
Dari pelukan diturunkan dari pangkuan (ke tanah. Inilah penjelasan proses waktu sampai di atas. Adapun proses pelepasan tersebut)
Serupa benih yang ditabur di persemaian (yakni, perbandingan perihal “pelepasan”. Bahwa melepas anak dari pangkuan ke tanah itu sama seperti yang dilakukan para petani dalam melepas benih, menanam, melepasnya ke tanah)
Sebelum tumbuh sendiri pada sebuah pilihan (penjelasan waktu bahwa pada tahapan ini, gagasan “melepas” datang dari orangtua, bukan dari anak sendiri. Sebeb itulah penyair menggunakan kata pasif; ‘dilepaskan’)

Hari ini engkau belajar duduk dan berdiri (yakni di hari turun tanah)
Menapakkan kaki, meraih mainan (menapak kaki adalah memulai langkah pertama, belajar berjalan, karena di hari turun tanah, hari di mana anak mulai menginjak tanah di saat sebelumnya hanya berada di dalam gendongan, adalah hari mula-mula ia belajar melangkah/menapak. Ia pun mulai mengenal dan menyukai mainan)
Dengan tangan kanan (penyair menyelipkan pelajaran tatakrama di sini, yakni tangan kanan yang selalu diidentifikasi sebagai salah satu langkah baik. Tradisi Jawa yang sangat kental dan penuh petitih tentu saja sebagiannya bersumber dari ajaran Islam (dan mungkin saja dalam ajaran/tradisi yang lain) yang mengajarkan agar selalu memulai sesuatu yang baik “dari yang kanan”. Tentu, penyebutan tangan kanan di sini bukan dimaksudkan berhadapan secara frontal dengan orang kidal. Ia hanya simbol semata-mata. Pasalnya, anak kecil yang belum mampu menyampaikan gagasannya melalui wicara, umumnya mereka menyampaikan isyaratnya melalui bahasa tubuh. Dan tangan adalah perwakilan bahasa tubuh yang paling utama dan pertama) untuk memiliki
Dirusak,  dan dimengerti (penyair menggunakan kata aktif untuk memiliki namun menggunakan kata pasif untuk “dirusak” dan “dimengerti”. Boleh jadi, penyair menghendaki sifat aktif karena berdasarkan hasrat, sementara yang pasif cenderung bersifat instinktif).

Maka, mereka pun (orangtua dan sanak kerabat serta orang-orang yang berada di dalam acara turun tanah tersebut) bersorak ketika pensil buku (salah satu barang yang disediakan di atas nampan menjadi barang pertama yang dipegang si anak. Orangtua menafsir tindakan itu sebagai langkah yang baik)
Menggantikan air susu ibu (yang artinya, si anak mulai menemukan dunia yang baru, bukan sekadar dunia yang selama ini dijalaninya, yaitu hari-hari di dalam gendongan sang ibu), tak ada tangis (bagian ini mengacu khusus kepada si anak yang disebut penyair di dalam puisi, bukan mengacu umum. Sebab, menangis atau tidak itu bergantung anaknya, yang artinya, tidak setiap anak bisa tenang saat menjalani proses turun tanah, karena terkadang ada juga yang menangis)
Ketika jatuh menerobos kurungan ayam (sebagaimana diketahui, salah satu  bagian dari upacara turun tanah di dalam tradisi Jawa itu adalah dengan memasukkan anak ke dalam sebuah kurungan [yang mirip kurung ayam] dan—konon—kurungan itu justru dianggap sebagai simbol “dunia baru”. Jadi, kurungan tidak dimaknai “tawanan”. Bagi orang yang memiliki tradisi non-Jawa, baris ini tentu membingungkan, bahkan sangat mungkin dapat dicitrakan buruk karena menganggap posisi anak sejajar dengan ayam atau bahkan salah satu simbol kungkungan. Dalam tradisi berbeda, seperti di sebagian Madura, upacara turun tanah tidak menggunakan simbolisasi kurungan, hanya bubur dan beberapa bagian lain yang relatif sama)
Seperti paham langkahmu bakal menuju ke depan (penyair menduga—lebih tepatnya berharap—agar si anak sudah dapat memperkirakan dan mengarahkan langkah hidupnya di masa yang akan datang melalui pralambang dalam upacara ini)

Keluarlah anakku, dari kurungan demi kurungan itu (nah, pada bagian inilah penyair Iman justru menunjukkan sesuatu yang berbeda: memahami kurungan dengan sudut pandang denotasi, yakni kurungan yang sesungguhnya, tidak memahaminya sebagai “dunia baru” sebagimana terjadi pada bait sebelumnya. Ia meminta si anak agar melepaskan diri dari kurungan yang mengangkanginya, kurungan yang akan membuat dunianya menjadi terbatas. Penyair—yang dalam puisi ini mengambil peran sebagai seorang ayah—menunjukkan rasa yakin dan tanpa adanya keraguan, bahwa si anak akan mampu menjalaninya dengan)
Berbekal azimat di tanganmu (azimat merupakan simbol kekuatan spiritual, supra; simbol dari tekad kuat dan itikad baik (di dalam diri). Azimat dalam makna sesungguhnya lazimnya tidak dipegang, melainkan dikalungkan atau disabukkan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan lanjutan) ada kiblat (yakni “arah menuju”, seperti mercusuar bagi nelayan)
Bakal menunjukkan tempat (yang benar)
Di mana seharusnya engkau berguru (dan inilah intinya. Bahwa setelah anak memasuki babak baru [menginjak tanah; mulai melangkah; menjalani tapak kehidupan] dari sekian banyak tahapan di dalam hidup, maka pesan yang paling mula disampaikan sang ayah adalah “kiblat tempat berguru”. Bahwa berguru kepada orang yang tepat (ahli) mestinya menjadi harapan pertama ayah kepada anaknya, ide awal yang harus ditancapkan ketika anak hendak melangkah. Sebab, tidak sedikit sekarang: mereka yang gara-gara salah memilih guru, akhirnya tidak tahu kiblat, merasa berjalan lurus dan tepat, namun sayangnya hanya dalam pemahamannya sendiri, alias merasa benar dalam keadaan tersesat. Pesan “mencari guru yang benar” di “upacara turun tanah” merupakan dua hal yang saat ini mulai jarang ada yang memperhatikan).

Wallahu a’lam

(M. Faizi, admin/penafsir)


2010

sampul buku:



12 Januari 2018

Suatu Sore di Stasiun UI Depok


oleh Zeffry J. Alkatiri

Tiada dentang lonceng berseru
Bisu dan debu mengisi bangku-bangku

Stasiun,
Kita tidak lagi bercakap
Tidak ada lagi penjual yang berteriak:
Yang nyaring hanya jeritan besi baja
Memecah kesangsian.

Kemudian wajah-wajah layu dan kuyu
Memenuhi pintu dan jendela kereta
Mereka tampak tidak peduli
Bahwa kita pernah menantinya.

1998

***

Puisi ini dicuplik dari buku “Dari Batavia Sampai Jakarta 1616 – 1999” (Tera, 2001), karya Zeffry J. Alkatiri. Buku pemenang I Anugerah Buku Puisi Terbaik DKJ tahun 2000 ini memotret perjalanan kota Jakarta selama 3 abad di dalam bentuk puisi. Dan  puisi berjudul “Suatu Sore di Stasiun UI Depok” adalah satu di antaranya. Saya akan melakukan pembacaan #tafsirpuisimanasuka untuknya.

SUATU SORE DI STASIUN UI DEPOK

Tiada dentang lonceng berseru (deskripsi simbolik dari sebuah stasiun yang 'mati'. Sebab, lonceng stasiun [yang biasanya bernama ulang-alik: do-mi-sol-do dan do-sol-mi-do] berdentang sebagai isyarat perihal kedatangan/keberangkatan kereta api di sebuah stasiun aktif [seperti stasiun UI Depok], sebagaimana terlukis pada bait terakhir dari puisi ini, tetapi di sini digambarkan 'matisuri', seperti tampak pada suasana stasiun yang terkesan...)
Bisu dan debu (yang) mengisi bangku-bangku (bagian ini memperkuat suasana dari larik pertama. Adanya debu di bangku tanda sudah lama tidak ada orang yang duduk di situ; kebisuan merupakan pralambang kesunyian atau kelesuan sebuah aktivitas di stasiun)

Stasiun, (berposisi sebagai "orang kedua" jikalau penyair menempatkan diri sebagai "orang pertama", tetapi, dalam puisi ini, ada juga kemungkinan hanya sebagai penjelasan keterangan tempat dari dua larik pembuka)
Kita tidak lagi bercakap (menguatkan kebekuan suasana dan memposisikan stasiun dan diri penyair ke dalam kata ganti ‘kita’)
Tidak ada lagi penjual yang berteriak: (asongan yang menjajakan jualan, menandakan puisi ditulis sebelum terbitnya larangan pengasong berjualan di dalam peron)
Yang nyaring hanya jeritan besi baja (yang dimaksud jeritan adalah suara mesin lokomotif dan paduan roda dengan rel tanda datangnya kereta)
Memecah kesangsian (mestinya "kesunyian". Mengapa stasiun yang biasa ramai, kok, mendadak sunyi? Itulah yang disangsikan)

Kemudian wajah-wajah layu dan kuyu (menandakan suasana stasiun yang benar-benar tidak seperti biasanya, yaitu orang-orang yang yang bergegas dan penuh kesibukan)
Memenuhi pintu dan jendela kereta (gambaran wajah-wajah penumpang yang antri masuk ke dalam gerbong dan mereka yang sudah duduk di dalam saat pemandangan itu dipotret dari luar)
Mereka tampak tidak peduli (karena lelah [sebagaimana dilukiskan pada baris pertama di bait ini] dalam menghadapi situasi yang tidak dijelaskan secara gamblang oleh penyair)
Bahwa kita pernah menantinya (kata ganti “orang pertama jamak” ini [kita] seakan-akan mewakili aku-stasiun dalam menangkap situasi pergerakan orang-orang yang lelah di sebuah tempat orang berkumpul dan berpindah, tempat yang biasanya ramai namun menampakkan suasana lain, yaitu kebekuan dan kesunyian).

1998 (keterangan waktu di akhir puisi ini menjadi penting bagi #tafsirpuisimanasuka karena ia bukan sekadar sebentuk sikap nostalgia, melainkan lebih dari itu. Akan lebih mudah dalam menafsir andaikan penyair berkenan juga mencantumkan datum—misalnya tanggal 22, 23, atau likuran yang lain sesudah 21 Mei 1998—sehingga pembaca dapat mendatangkan referensi [di luar teks] yang akan turut melahirkan rujukan lahirnya teks tersebut, seperti waktu di sekitar terjadinya Peristiwa Semanggi 1998, misalnya. Sayangnya, penyair memang tidak melakukan itu. Toh, itu hak dia. Boleh jadi, penyair Zeffry memang bermaksud demikian dengan berbagai pertimbangan, salah satunya—mungkin—agar puisi tetap menyisakan rahasia sebab bagi mereka yang ingin mendapatkan informasi secara nyata dan cepat sudah disediakan melalui koran dan televisi.


Wallahu A’lam
M. Faizi (penafsir/admin)

sumber: Googread