16 April 2018

Sudah (Yuli Nugrahani)


SUDAH

Sungai tempat kita bercengkerama sudah diuruk.

Jika pun engkau datang
kita tak lagi bisa bersama
berenang atau menghanyutkan batang ilalang.

Tak ada lagi lubuk biasa kita mengayuh biduk.

Yang tersisa hanya tungkal bambu,
daun kering di atas tanah menggunduk,
kaki-kaki penyu dan hati yang tak pernah tunduk.

2013

Yuli Nugrahani adalah penyair dan cerpenis dari Lampung. Puisi ini diambil dari buku puisinya, “Sampai Aku Lupa” (Komunitas Kampoeng Jerami, 2017). Ia juga menulis dan menerbitkan cerpen, antara lain “Daun-daun Hitam”. Selain berkarya sastra, Yuli juga bergiat di dalam banyak gerakan keadilan dan perdamaian serta buruh migran.

* * *

SUDAH (tidak ada yang sulit dari puisi ini untuk dipahami. Sebetulnya, tafsir tidak perlu dibutuhkan karena puisi ini menjabarkan hal-hal yang relatif mudah dicerna oleh awam. Menguraikan puisi dengan parafrase atau menafsir kata per kata adalah cara untuk membuat puisi lebih dekat kepada pembaca. Saya tidak berhak menentukan, ke mana arah puisi sebetulnya ditujukan. Maksud penyair, maksud saya, serta pembaca umum, boleh saja berbeda. Judul “sudah” dalam puisi ini menandakan peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi dan tampaknya tidak dapat dikembalikan lagi alias “terlanjur terjadi”).

Sungai tempat kita bercengkerama sudah diuruk. (Bait pertama hanya berisi satu baris, satu larik. Ini adalah pernyataan prinsip dalam keseluruhan puisi. Penyair menyampaikan kabar tentang sungai tertentu, entah itu Way Kuala atau yang lain [penyair juga menulis puisi perihal “Way Kuala” dan “Way Sekampung” di dalam buku ini], yang dulunya dijadikan tempat bercengkerama penyair dengan seseorang lainnya, tetapi kini tidak dapat lagi dijadikan tempat bercengkerama, karena dirusak atau karena alif fungsi atau karena perubahan iklim).

Jika pun engkau datang (anak kalimat; pengandaian terhadap kehadiran kawan dari jauh, atau entah siapa, yang disebut “kita” di dalam puisi ini, karena mungkin dia akan menyambangi penyair kembali di suatu waktu)
kita tak lagi bisa bersama
berenang atau menghanyutkan batang ilalang. (ini adalah induk kalimatnya, sebuah pernyataan tentang adanya kemungkinan bersua tapi sekaligus tertutupnya kemungkinan bercengkerama. Tentu saja, kalimat ini menampilkan rasa kecewa karena sungai itu menjadi tempat mereka bercengkerama dan bernostalgia. Hal itu tersirat  dalam frase “berenang atau menghanyutkan batang ilalang”, sebuah gambaran momen romantis).

Sebetulnya, kehadiran orang ketiga yang disebut sang penyair di dalam puisi ini mungkin saja memang tidak ada, alias entah-siapa atau bukan-siapa-pun. Ia hanyalah pengandaian yang tujuannya adalah untuk menegaskan hilangnya fungsi sebuah tempat dan hilangnya momen terbaik dalam sebuah peristiwa yang dapat dirasakan bersama. Kita tidak tahu, siapa dia sebenarnya).

Tak ada lagi lubuk biasa kita mengayuh biduk. (lubuk adalah bagian terdalam dari sungai; biduk adalah perahu kecil. Di bagian, ibarat foto, penyair berusaha membingkai gambar yang paling indah dan romantis, sebagaimana juga digambarkan pada bait sebelumnya).

Yang tersisa hanya tungkal bambu,
daun kering di atas tanah menggunduk,
kaki-kaki penyu dan hati yang tak pernah tunduk.

(Bait terakhir dari puisi ini adalah “jawaban” bagi pertanyaan: mengapa momen romantis itu telah hilang dan tidak bisa terjadi lagi? Tungkal bambu dan daun kering menunjukkan kesedihan yang timbul karena kerusakan atau pengrusakan atau perubahan iklim, sedangkan kaki-kaki penyu adalah ekspresi harapan penyelamatan, sebagaimana kita tahu ada penangkaran penyu di Lampung [meskipun pada bagian ini saya merasa kesulitan mencarikan korelasi tanda-tandanya kecuali hanya  karena ia muncul sejajar dengan frase “hati yang tak pernah tunduk”]. Penutup puisi, “hati yang tak pernah tunduk”, merupakan statemen perlawanan, bahwa penyair harus mengambil keputusan untuk tidak pernah tunduk terhadap pengrusakan alam, harus melawan).


Wallahu a'lam
© M. Faizi (2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Jika Anda Mau Berkomentar untuk Persahabatan...