11 April 2018

Ode Buat Seorang Penyanyi Dangdut (Acep Zamzam Noor)



Di tengah melambungnya harga-harga
Suaramu semakin merdu saja

Di tengah membengkaknya hutang negara
Wajahmu semakin cantik saja

Di tengah ruwetnya masalah sosial, politik dan agama
Tubuhmu semakin sintal saja

Di tengah merebaknya teror dan berbagai bencana
Goyanganmu semakin heboh saja

Di tengah langkanya pemimpin yang bisa dipercaya
Kehadiranmu semakin berarti saja

Di tengah terpuruknya kehormatan bangsa
Pakaianmu semakin gemerlapan saja

2007

* * *

Puisi ini merupakan bagian dari "Bagian dari Kegembiraan", buku kumpulan puisi Acep Zamzam Noor yang terbit di tahun 2013. Puisi yang berjudul "Ode Buat Seorang Penyanyi Dangdut" ini bertahun cipta 2007, tahun-tahun terakhir masa proses kreatifnya di dalam buku yang menghimpun karyanya selama 13 tahun tersebut (1996-2009). Selain menulis puisi, penyair Acep Zamzam Noor juga melukis.

ODE BUAT SEORANG PENYANYI DANGDUT (judul bersifat khusus, ditujukan kepada "seseorang", mungkin Inul atau Anisa Bahar. Menilik tahun penciptaan [2007], maka tidak mungkin jika puisi ini dibuat untuk Van Halen, eh, Via Vallen. Ode adalah puisi pujian, kadang dilagukan. Orang Arab punya istilah 'madah' untuk tujuan yang sama dan biasanya bersifat liris.

(Apakah puisi ini untuk penyanyi dangdut tertentu? Tidak begitu penting sungguhnya, karena bisa saja penyair menyebut "seorang" namun secara politis yang dikehendakinya adalah prototipe penyanyi kebanyakan. Dia ingin melakukan 'pars pro toto' dengan cara seperti itu, seperti menyebut Rhoma Irama namun tujuannya adalah untuk ABRI [Anak Buah Rhoma Irama] seluruhnya. Perihal keterwakilan ini, tinggal kita lihat konteksnya: kapan, di mana, dan tentang apa penyair/puisi itu bicara).

Di tengah melambungnya harga-harga (yakni pada saat harga bahan-bahan popok, eh, pokok, terus melonjak karena keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM sementara rakyat melakukan protes di mana-mana, tetapi suaramu, wahai biduanita, mampu menghibur rakyat untuk sejenak melupakan itu semua. Di liang telinga dan perasaan kami,)
Suaramu semakin merdu saja (sehingga kami tersihir dan lupa kalau kami, eh, kita, ini sedang menderita).

Di tengah membengkaknya hutang negara
Wajahmu semakin cantik saja (cantik dipertentangkan dengan hutang. Apakah hubungan? Piutang cenderung membuat roman muka murung. Kalau orang berwajah murung biasanya akan mengurangi aura kencantikan. Jadi, bait ini sama seperti sebelumnya, berisi pertentangan untuk mendapatkan kesan ironi).

Di tengah ruwetnya masalah sosial, politik dan agama
Tubuhmu semakin sintal saja (masih sama dengan yang di atas, hanya saja "perbandingan-bertentangan" dibuat lebih melebar, lebih jauh lagi hubungannya jika dibandingkan dengan pernyataan sebelumnya: "keruwetan" lawan "kesintalan". Kok bisa begitu? Barangkali, penyair menemukan titik kesamaan di tengah-tengahnya, yaitu "syahwat": syahwat kekuasaan melalui politik dan syahwat kebirahian melalui goyangan.

Yang kita saksikan, banyak sekali goyangan biduan di pentas-pentas dangdut itu, terutama sejak munculnya genre (atau subgenre [?]) dangdut koplo, yang memantik erotisme. Apakah pendapat ini seksis, "berwawasan kedagingan", subordinatif? Untuk mendapatkan jawaban yang ilmiah, kita harus mengujinya dulu di "Laboratorium Dangdut" (bisa tanya sama Mashuri soal alamatnya), misalnya dengan mengukur "sex appeal" penonton dengan metode "simple-random-sampling" untuk diuji. Bagaimana teknisnya, biar yang lain saja yang mengurus, jangan semua persoalan kepada saya, terutama soal yang beginian, soal angka-angka dan kesesuaian datanya.

Tanpa harus menyudutkan kualitas musik atau genre tertentu, dangdut yang dulunya sangat berwawasan Melayu dan sangat merakyat, menjadi semacam blues-nya "orang kita", kini, perlahan-lahan tampak berubah/mengubah selera. Hal ini mirip dengan “blues” yang mula-mula menjadi ekspresi musikal etnis Afro-Amerika dan sekarang telah berangsur berubah. Salah satu penandanya adalah dengan naiknya Vanessa Williams ke peringkat satu Miss America di tahun 1984. Apakah ini juga mirip dengan naiknya Nella Kharisma ke jenjang kemasyhuran artis tanah air pada umumnya?

Balik lagi ke puisi... ini sudah terlalu ngelantur.

Akibatnya tidak puas dengan "perbandingan-bertentangan" di atas, penyair Acep menambah satu bait lagi, di bawah ini, untuk menegaskannya.

Di tengah merebaknya teror dan berbagai bencana
Goyanganmu semakin heboh saja (teror dan bencana sudah ada yang mengurus, yakni detasemen antiteror dan Basarnas. Tapi, bukankah yang mereka tanggulangi berdua adalah teror dan bencana literal, sementara "teror tersirat" dan "bencana metaforis", teror yang merusak tatanan syaraf untuk berpikir rasional  dan bencana kemanusian yang tampak mencolok pada masyarakat mileneal yang begitu enteng menghujat siapa pun, tak peduli tokoh/panutan, meskipun modal mereka hanya paket data gratisan di medsos? Malah, jangan-jangan, ini dia sesungguhnya teror dan bencana itu.

Menghadapi kenyataan demikian, kehebohan goyangan penyanyi dangdutlah yang akan turut meredakan masalah ini sehingga masyarakat sejenak mampu untuk melupa). Oleh karena itu, si akang penyair dari Tasikmalaya ini [sekampung dengan Rhoma Irama] lantas membuat statemen, bahwa...

Di tengah langkanya pemimpin yang bisa dipercaya
Kehadiranmu semakin berarti saja (Pada bagian ini, penyanyi dangdut tetap disanjung karena perannya dianggap berarti, mungkin karena mampu menghibur orang banyak di saat sedikit orang di negeri ini yang menjadi pemimpin, yang dipilih secara demokratis, pada akhirnya hanya gemar berdusta saat bicara; berjanji tanpa menepati; berkhianat ketika telah dipercaya.

Akan tetapi, pada bait terakhir, kehadiran penyanyi dangdut (tersebut) justru ditampilkan secara ironis oleh penyair, yaitu manakala kehormatan bangsa sedang terpuruk, pakaian dia malah semakin gemerlap. Pasalnya, kita tahu, “gemerlapan” adalah simbol kemewahan. Lantas, apakah kemewahan itu salah? Itu adalah hak, tapi manakala ditampakkan pada saat yang lain sedang berduka, maka ia salah penempatan.

Berikut penutup puisi tersebut:

Di tengah terpuruknya kehormatan bangsa
Pakaianmu semakin gemerlapan saja

(Dari sudut pandang yang lain, bait terakhir puisi “Ode Buat Seorang Penyanyi Dangdut” di atas menggambarkan potret umum kehidupan masyarakat. Rakyat asyik sendiri  ketika kehormatan bangsa sedang terpuruk dan butuh pertolongan. Nah, mengapa "ode" yang mestinya "memuji" tetapi di akhir puisi malah menyelipkan "caci"? Wallahu a'lam, barangkali ini adalah “satire”, bukan untuk penyanyi dangdut yang sebetulnya “tidak benar-benar ada walupun mungkin juga ada”, melainkan ini untuk para pembaca, untuk kita).

© M. Faizi: 2018


1 komentar:

Terima Kasih Jika Anda Mau Berkomentar untuk Persahabatan...