28 Februari 2012

Jarak Maghrib ke Isya’


Ottoman,

apakah kamu tahu bahwa saat ini

seorang lelaki dari desa nun jauh

sedang mengambil air dari tanahmu

untuk membasuh mukanya

berwudlu, sambil menyesap sedikit air darinya,

berharap Emre atau Hakan

mengajaknya mampir untuk minum kahve

di beranda rumahnya?


Lelaki itu, saat ini,

hendak membayar rasa bersalah

di atas sajadah, tikar lembut hasil karya negerimu

dengan kening yang basah


Malam itu,

di antara Maghrib dan Isya’

waktu istijabah, waktu terjepit asak

dia mencicil rasa syukur

menghitung ingat dan lupa

pada banyak lembar sejarah


Di mushalla kecil terpencil itu

ia mengukur jarak nikmat dan kufur

mengukur jarak menang dan kalah

jarak antara kening dan sajadah


3/07/2011










9 komentar:

  1. Saya lebih tertarik pada 'Emre dan Hakan' dan 'minum kopi'-nya dari pada waktu shalat-nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Mahalli: selama kurang lebih 19 bulan, komentar Anda ini masuk ke folder spam. entah kenapa. Sekarang sudah tayang dan saya hadiahi kopi online

      Hapus
  2. muantab djaya kembali, Mas Sulaiman...

    BalasHapus
  3. Ehm.... smeoga saya juga menjadi ia yang bisa berwudhu di Istanbul.

    BalasHapus
  4. @Bernando: salam saya untuk Muazzez Abbaci, juga untuk Osman Murat Tugsuz. Kalau kesulitan menjumpai keduanya, ya, sekurang-kurangnya salam sama si penjaja kopi, Nihat Kahveci.

    BalasHapus
  5. jarak memang sangat dekat hubungannya dengan tour & travel

    BalasHapus
  6. Setelah di Turki, saya baca lagi sajak ini. Tetap nikmat. Pesan ke penjaga kopinya belum kesampaian. Tapi kalau sembarang pelayan kopi, dan semuanya cantik-cantik, akan bisa disampaikan....

    BalasHapus

Terima Kasih Jika Anda Mau Berkomentar untuk Persahabatan...