04 Mei 2019

Rumah Tak Berpenghuni


Berada di antara kerumunan tempat tinggal dan perkampungan, rumah itu tampak biasa. Tetapi, karena halamannya jembar, ia kelihatan sedikit berbeda. Selebihnya, tak ada yang mengistimewakannya dibandingkan dengan yang lainnya. Namun, jika engkau melintas di depannya, di malam hari, barulah engkau akan tahu, rumah itu tak berpenghuni.

Saat aku memasuki halamannya, tapak langkahku terantuk sesuatu. Di antara rumputnya yang semata kaki, tersangkut aku pada sebuah gelas keramik. Kupungut dan kuamati: ini sisa bahan tembikar dari masa lalu. Astaga, betapa kenangan silam itu kecil, tapi, ah, kadang mengganggu.
foto tidak merujuk kepada teks, foto hanya ilustrasi,
foto oleh Haris Santoso

Pintu-pintu mulai rusak. Beberapa harus dibuka dengan cara didorong sembari sedikit dihentak. Udaranya pengap menyergap, padahal ubinnya keramik dan atapnya tinggi bersirap. Ada sarang laba-laba di beberapa pojoknya, menandai rentang masa tertentu nan lama: rumah ini tidak disambangi manusia.

Seperangkat sice, meja papan jati Jawa dan kursi rotan dari Manau, tanpa piring dan gelas, juga pot tanpa bunga, berlurub debu dikangkang waktu. Ada lemari kayu berkaca lebar. Mungkin ia tempat menyimpan cangkir dan mangkuk keramik serta barang pecah-belah, atau pula menyimpan kemegahan dalam wujud perabotan-perabotan rumah. Semuanya, kini kosong tiada tersisa, kecuali sepasang garpu dan sendok yang bengkok ada di pojok, serta patahan gagang gelas yang teronggok.

Aku menyapu pandangan, mengeliling, mengitar.
"Hai, para penghuni, ada di mana kalian?"

Panggilan membentur dinding. Keheningan mengembalikan suara. Yang kuterima hanyalah perasaan berdesir, serupa kuduk dielus semilir.

Kenangan-kenangan laksana peri, berkelebat, di antara tembok putih yang mulai pucat. Ia seperti kelir, tapi pertunjukan wayang sudah lama berakhir. Manakala aku berada di antara suasana terpikat dan tercekat, keheningan rumah itulah yang seakan-akan ganti bercakap-cakap.

Di ruang tengah yang lebar, ada sofa panjang. Ujungnya lapuk dan bertelutuh, pertanda kayu kasau hancur tak kuat menopang. Mungkin, terlalu lama tak ada orang yang duduk di sana, sehingga ketika ada tetes air hujan yang mengucur dari layas yang rubuh, tak orang yang sempat memperbaikinya. Karpet tebalnya sudah tiada. Televisi sudah tiada. Mainan anak-anak, yang biasanya berserakan di sana, juga tiada.

Di manakah benda-benda itu kini berada?

Aku melongok ke kamar tidur: tersisa dipan tanpa kasur. Sandarannya patah, rapuh dimakan rayap. Gantungan baju tetap terpasak, tapi sama sekali tak ada pakaian. Yang tersisa hanyalah sebuah lemari dengan pintu terbuka, tapi engsel bagian atas sudah rusak. Ia tidak bisa ditutup dan terus terbuka.
Aku merasa: ada kemesraan di kamar ini, percakapan pelan di bantal yang lembut dan wangi. Barangkali, ada pula jejak pertengkaran, suara keras di tengah malam yang sepi. Ada tawa yang kini hilang, sebagaimana tangisan dan sesenggukan yang dulu menyelai.

Sejurus, aku berdiri di tengah pintu. Setelah memasuki ruang-ruang kosong dan menilik setiap pojok ruangan, kini aku hendak pulang. Aku menoleh: tak ada apa pun, tak ada siapa pun. Di belakangku hanya ada bayang-bayangku.

Aku menatap ke depan, menarik nafas panjang, menunduk, melangkah ke luar.

Setelah beberapa langkah menjauh, rumah itu tampak samar dalam keheningan. Semua perabotan di dalamnya telah membeku oleh waktu: tak ada tangan yang memegang sendok dan piring, tak ada lagi tubuh yang rehat berbaring, tak ada suara dan percakapan. Ia yang dulu besar dan megah, kesendirian membuatnya tampak kusam tanpa kimah.

Sebelum menghilang di ujung jalan, aku menoleh, sejurus melihat. Ah, seperti diriku dan dirimu ada di sana, duduk di berandanya. Tapi, begitu kuamati sekali lagi, aku sadar, kita tidak lagi tinggal bersama di sana. Dan rumah itu benar-benar tanpa penghuni.

Kelak, kalian, semua yang pernah hidup, akan mengalami perjalanan waktu seperti ini. Kita akan meninggalkan rumah yang kita huni karena harus pergi, harus pergi, ke tempat yang jauh sekali. Sementara rumah itu tetaplah ada, selalu ada, menjadi bagian dari saksi apa saja yang kita lakukan selama tinggal di sana.

14 April 2019

2 komentar:

* Biasakan Mengutip Sumber/Referensi
* Terima Kasih Telah Membaca/Berkomentar