03 Februari 2018

Masjid Jami' Bluluk (Abdul Wachid BS)


kau selalu ingat sebuah masjid di masa kecil yang
setiap adzan memanggil dari puncaknya
terbuat dari genuk, tiada orang mengangguk
orangorang bersitahan di ladang, di hutan, di punuk

sapisapi, terus memamahbiak, tanpa koma
tukang ojek ngakak di prapatan, suaranya menggema
ke balik hutan, kau berlari menuju satunya masjid itu
seorang pria tua dengan wajah wudlu, telah menunggu

seorang bapak yang
mengadzankan khayalash shalaa .....
kepada setiap telinga hati
seorang simbah yang
menyerukan khayalal falaa .....
kepada segenap hati, lisan, perbuatan

bila ada satu dua pria lain
hadir untuk berjama’ah
itu pun keduanya orang yang telah tua
tersebab, berangkat ke masjid

hanyalah bagi orangorang yang
telah tua, sudah dekat dengan keranda
begitulah seloroh orang yang
bertahan di pasar: kau masih ingat

sebuah masjid di masa kecil yang
setiap adzan memanggil dari puncaknya
terbuat dari genuk, tiada orang mengangguk
orangorang bersitahan di silang jalan, entah .....

sampai kapan, kau kembali menuju masjid itu
seorang pria tua dengan wajah wudlu, menunggu rindu
di shaf terdepan, kau berusaha selalu menuju
ke shaf itu, sembari melewati empat tiang yang

terbuat dari kayu jati, menghayati
sejati hidup dalam cinta yang sederhana, sedari
adzan, shalawatan, iqamat, hingga shalatnya
meluas sapa kepada setiap tetangga

dalam kasihsayang , setiap orang yang
lalulalang, di sebuah desa
yang bluluknya tidak sempat menjelma
menjadi kelapa

yogyakarta, 21 agustus 2017

***

Puisi ini, “Masjid Jami’ Bluluk”, merupakan puisi nostalgia sang penyair Abdul Wachid BS saat mengenang masa mudanya. Barangkali, di suatu momen, di masa kini, penyair mengalami deja vu, atau mungkin mengalami suatu momen puitik yang nyaris sama dengan sewaktu ia mengalaminya dulu, ketika masih kecil dan tinggal di desa kelahirannya. Berikut ulasan saya dengan pola #tafsirpuisimanasuka.


MASJID JAMI’ BLULUK (arti asal bluluk adalah buah kelapa yang masih kecil dan gagal menjadi buah; tetapi  di sini digunakan sebagai nama daerah. Masjid jamik adalah istilah untuk masjid yang digunakan bersama, masjid kampung/desa, dan biasanya dibina’ [digunakan] sebagai tempat melaksanakan shalat Jumat)

kau (disampaikan kepada orang/pembaca yang dalam pengandaian penyair dianggap tahu atau mengenal memori yang terjadi di Masjid Jamik Bluluk itu) selalu ingat sebuah masjid (yang ketika itu ia menjadi bagian penting) di masa kecil (kamu/kita. Itulah masjid yang)
setiap adzan memanggil dari puncaknya (dari kubah atau dari tempat pengeras suara yang digambarkan berada di dekat kubahnya yang tidak terbikin dari seng atau cor sebagaimana umumnya, melainkan)
terbuat dari genuk (gentong kecil untuk menyimpan gabah atau beras; memang terkadang dipakai sebagai ganti kubah di beberapa masjid kuno, model lama),
tiada orang mengangguk (tidak ada respon dari masyarakat sekitar. Artinya, mereka tidak juga berangkat ke masjid untuk shalat meskipun sudah ada panggilan azan. Terus? Orang-orang di sekitar masjid itu pada ngapain?)
orangorang bersitahan (bergeming; tetap berada) di ladang, di hutan, di punuk (mengapa punuk? Saya ragu. Barangkali, kepentingan penyair terhadap kata ini adalah unsur kesamaan rima dengan “genuk”, meskipun tidak seimbang dengan latar tempat; ladang dan hutan. Barangkali pula, punuk dimaksud adalah tempat menopangkan beban pikulan. Artinya, orang-orang tetap memikul beban tanpa mempedulikan meskipun ada panggilan adzan, karena hal demikianlah yang dilukiskan penyair pada baik berikutnya, yakni perihal ketidakpedulian).

sapisapi, terus memamahbiak, tanpa koma (gambaran pemandangan yang biasa, tentang pemandangan keseharian yang berjalan wajar dan lazim belaka, begitu pula seperti pemandangan)
tukang ojek ngakak di prapatan (sama juga pemandangan yang biasa), suaranya menggema
ke balik hutan (penyangatan, gambaran ketidakpedulian yang dilebih-lebihkan), kau berlari menuju satunya masjid itu (makna daripada “satunya masjid” adalah satu-satunya masjid yang ada di situ, yang Anda kita pergi ke sana, kita akan menjumpai)
seorang pria tua dengan wajah wudlu (seorang pria tua yang berwajah cerah berseri karena pancaran air wudu. Dijelaskan dalam hadis bahwa orang yang senantiasa dawam berwudu, kelak, mukanya akan bercahaya, sebagaimana anggota-anggota tubuh lain yang pernah dialiri air wudu. Sebab itu, sebagian masyarakat ada juga meyakini, muka orang muslim tetapi tidak pernah [jarang] terkena air wudu [jarang shalat] pun telah menampakkan pertandan selagi di dunia, yakni ‘somok’ [istilah dalam Basa Madura yang artinya wajah yang auranya muram, tidak bercahaya]. Ada pun orang tua—yang digambarkan oleh penyair—yang selalu ada di dalam masjid itu adalah lelaki tua yang mukanya bercahaya karena mungkin ia mengamalkan dawam wudu atau rajin berjemaah di sana, dan saat itu dia) telah menunggu

Adalah gambaran umum pada beberapa masjid desa, di mana muazin selalu diperankan oleh orang-orang tua [sepuh] atau sebaliknya, anak-anak. Para remajanya entah ada di mana.

Tetapi, di desa-desa, terutama di pelosok Jawa, tukang azannya itu-itu saja. Biasanya orang tua seperti tergambar pada bait di atas. Lagunya pun terkadang telah berasimilasi, bahkan sama sekali berasa Jawa, seperti yang pernah saya temukan di Ponorogo, di sebuah masjid dekat rumah Pak Sutejo. Suaranya yang menggeletar karean pita suaranya telah renta, lagunya pun mirip seorang yang sedang ‘nembang’. Pria itulah yang sedang menunggu  kedatangan para jamaah yang akan naik ke masjid untuk shalat berjemaah. Lelaki itu adalah...

seorang bapak yang
mengadzankan khayalash shalaa ..... (ini bukan salah tulis. Penyair hanya menggambarkan kenyataan, terkadang yang gigih pergi ke masjid itu justru orang yang secara bacaan dan apalagi tajiwidnya tidaklah fasih, semisal mengucapkan “hayya alas shalaah” malah menjadi “khayalash shalaa”. Namun, ia menyerukannya) 
kepada setiap telinga hati (menggambarkan hati sebagai pusat memori manusia juga memiliki indra pendengaran, ‘telinga’, yang dapat bekerja ganda: mendengar sekaligus merasakan. Lelaki renta itu adalah)
seorang simbah yang
menyerukan khayalal falaa ..... (lagi-lagu sama dengan yang sebelumnya, tidak fasih, tetapi bersemangat untuk menyerukan ajakan shalat)
kepada segenap hati, lisan, perbuatan

Di Ponorogo, di masjid dekat kediaman Bapak Sutejo SSC, suara muazinnya menggeletar karena berusia lanjut. Beberapa kali saya mendengarkan langgam azannya malah mirip orang lagi nembang [jika saya tidak salah dengar/menilai]. Di Madura pun, beberapa kali saya mendengar hal serupa di sebagian tempat, suara dan langgam muazin yang berlanggam ‘macapat’. Di mana para muazin remaja yang bersuara lantang dan merdu? Padahal, azan adalah ajakan yang karenanya muazin dianggap bagian dari ‘kunci’ ajakan tersebut. Ulama ada juga yang tidak menganggap baik jika azan dikumandangkan dengan terlalu banyak langgamnya [diantaranya dikhawatirkan mengundang sifat sum’ah].

Konon, di beberapa masjid di Turki, ‘maqamat’ [lagu] azan disesuaikan dengan perubahan waktu shalat wajib lima waktu [maktubah]. Dari rangkuman data yang saya himpun, rinciannya adalah sebagai berikut;
  • 1.      Subuh menggunakan maqam Shaba yang bernuansa gembira. Dalam esainya yang panjang tentang musik, “Al-Musiqa”, Kahlil Gibran melukiskan maqam ini laksana semilir angin pagi yang melintas, yang menggerakkan bunga-bunga di taman dalam ketakjuban;
  • 2.      Duhur menggunakan maqam Hijaz
  • 3.      Ashar menggunakan maqam Rast [seperti azan TVRI, biasanya dibawakan oleh Syaikh Mahmud Khalil Husari]. Gibran melukiskan maqam lagu ini laksana perpaduan antara langgam Nahawand yang berkesan dan Shaba yang menggembirakan.
  • 4.      Magrib menggunakan Sika [sedikit cepat]; termasuk langgam yang terkadang diadaptasi ke dalam musik diatonis
  • 5.      Isya menggunakan maqam Husaini [lambat dan melenggok]; maqam ini spesifik, tidak secara luas dikenal dalam tradisi ‘maqamat’ perlaguan Arab


Dari sini, barangkali dapat dijadikan pijakan untuk penelitian tingkat lanjut, seberapa jauh dan penting kesesuaian maqam lagu yang diterapkan untuk azan dalam hal memberikan pengaruh secara psikologis terhadap batin orang yang mendengarnya.


bila ada satu dua pria lain
hadir untuk berjama’ah (jika ada orang lain—di luar tokoh yang disampaikan si penyair sebelumnya—yang akan ikut berjemaah di masjid)
itu pun keduanya orang yang telah tua (sebagaimana mudah ditemukan di tempat lain, anak mudanya justru lebih jarang yang hadir meskipun mereka lebih bugar secara tenaga. Hal ini, salah satunya, barangkali disesuaikan dengan lelucon yang kerap jadi ledekan di dalam masyarakat)
tersebab (yang biasa dijadikan contoh kasus, tindakan atau amal), berangkat ke masjid

hanyalah (pekerjaan yang cocok) bagi orangorang yang
telah tua (yaitu mereka yang), sudah dekat dengan keranda (ungkapan ‘gojekan’ yang ditujukan kepada kaum manula dan sangat sepuh)
begitulah seloroh orang yang
bertahan di pasar: kau masih ingat (dan seloroh semacam ini terdengar di sembarang tempat, seloroh yang menyiratkan bahwa kaum muda seolah-olah tidak perlu datang ke masjid, cukup keluyuran saja, sebab yang layak ke masjid adalah kaum tuanya. Yang muda sibuk bercinta dan melayani syahwat sedangkan yang tua sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa mati)

Memang betul, pemandangan seperti ini mudah dijumpai di banyak tempat, tetapi kejadian yang dilukiskan di dalam puisi ini terjadi di suatu tempat, di...

sebuah masjid di masa kecil yang
setiap adzan memanggil dari puncaknya (yaitu menara tempat melantunkan azan atau kubah kecil yang)
terbuat dari genuk (Akan tetapi, panggilan itu membentur tembok, karena), tiada orang mengangguk (untuk menjawab panggilan azan dengan cara berangkat menuju masjid untuk shalat, malahan)
orangorang bersitahan di silang jalan, entah ..... (mereka mendenar suara azan itu, tetapi tidak memenuhi panggilannya, tidak tergerak untuk melaksanakan shalat, apalagi hadir ke masjid tersebut demi menunaikan shalat berjamaah. Mereka begitu sibuk sehingga masih keleleran di simpang-simpang jalan, di entah mana-mana tempat).

Pada bait berikut, penyair lantas mengajukan sebuah pertanyan yang sulit dijawab, pertanyaan yang mungkin memang tidak perlu dijawab karena yang diharapkan penyair adalah renungan untuk mempertimbangkan keadaan diri-sendiri adresser [orang yang ditanya]:

sampai kapan, kau kembali menuju masjid itu (Masjid Jamik Bluluk itu? Di sana, ada)
seorang pria tua dengan wajah wudlu (yaitu orang yang dijelaskan di atas, orang yang dawam wudu), menunggu (para hadirin dengan penuh) rindu
di shaf terdepan, kau berusaha selalu menuju
ke shaf itu (Tersurat dalam banyak kitab yang mengutip hadis tentang fadilah shalat berjamaah; akan keutamaan duapuluh tujuh derajat. Jumlah ini tidak sama, melainkan lebih utama, bahkan andaipun seseorang melakukan shalat hingga 27 X untuk mengimbanginya sebagaimana dijelaskan dalam sebuah mimpi seorang sahabat Nabi yang karena ketika itu dia tidak nututi bermakmum kepada Nabi, maka dia menyesal lalu mengulang shalatnya sebanyak 27 X salam. Namun, dalam mimpi itu dia mendapatkan isyarat bahwa apa yang dilakukannya itu masih kalah derajat dengan shalat berjamaah meskipun satu salam saja.
Shaf terdepan, oleh beberapa pendapat, dianggap sebagai asal mula sebutan untuk kelompok “sufi”, di samping pendapat lainnya tentu. Ada anjuran agar kita ‘berebut’ tempat terdepan itu—dan seperti juga yang terjadi di bangku-bangku bis yang sering dijadikan tempat perburuan penumpang. Namun, yang juga sering dilupakan adalah ‘adab’ yang tetap harus dijunjung dalam perburuan tempat itu, tidak boleh berlaku ‘serampangan’ kepada hadirin lainnya, seperti mengangkangi orang yang sedang duduk iktikaf, sedang shalat sunnah, sedang berzikir, dlsb. Oleh karena itu, penyair menggambarkan laku terpuji lelaki berwajah wudu itu dengan larik-larik berikut): sembari melewati empat tiang yang

terbuat dari kayu jati (sekadar ungkapan dan penggambaran interior masjid; masjid yang tua, karena masjid yang baru rata-rata menggunakan tiang cor), menghayati
sejati hidup dalam cinta yang sederhana, sedari
adzan, shalawatan, iqamat (gambaran keadaan bahwa lelaki itu telah berada lama di masjid sebelum shalat jamaah didirikan, yang artinya telah iktikaf di sana. Sikap dan sifat istikamah seperti ini benar-benar akan membuat dampak yang baik bagi shalatnya, semacam indikator untuk ‘kesahihan’ amaliahnya [semacam ‘ruh al-qabul’], semacam isyarat diterimanya amalan di dunia karena ganjarannya yang utuh akan diberikan kelak, di Yaum al Hisab), hingga shalatnya
meluas sapa kepada setiap tetangga

dalam kasihsayang, setiap orang yang
lalulalang, di sebuah desa
yang bluluknya (kata ganti “nya” di sini tampak ambigu, seolah merujuk kepada frase “setiap orang” dan/atau kepada “sebuah desa”. Agaknya, ia akan lebih pas jika dirujuk kepada yang nomor dua, atau malah bersama-sama. Yang dikehendaki penyair, intinya, adalah semacam “ketidakberhasilan” yang digambarkannya ke dalam ungkapan “bluluk yang)
tidak sempat menjelma
menjadi kelapa

(Kalimat penutup pada bait terakhir ini menunjukkan proses kembang yang untuk pertama kalinya menjadi calon buah dalam bentuk bluluk. Adapun “proses menjadi” selanjutnya adalah proses menjadi cengkir, lalu degan, lalu kelapa. Artinya, bluluk punya identik ‘kejatuhan’, terlepas dari tangkai sehingga gagal menjadi cengkir dan seterusnya, apalagi menjadi kelapa. Inilah ibarat yang dituju, bagaimana sebuah masjid yang dibangun puluhan tahun silam ternyata hadirinnya masih tetap orang-orang itu saja sampai sekarang. Ironisnya, ia berada di desa atau di wilayah yang pemeluk agama Islamnya sangat banyak, tetapi masyarakatnya enggan untuk mendirikan shalat [jamaah] di sana)

Wallahu a’lam

M. Faizi 

2 komentar:

  1. Kami dulu di SMA, mendapat tugas seperti ini. Apresiasi sastra, bagian tema dan amanat. Supaya keren, selain dalam bentuk tulisan, kami juga membuat rekamannya.

    BalasHapus
  2. Terima kasih, Opa, sudah berkenan meluangkan waktu untuk membaca

    BalasHapus

Terima Kasih Jika Anda Mau Berkomentar untuk Persahabatan...