05 November 2011

Ternate


Matahari yang lebih dulu bersinar di sini
dan malam yang hangat oleh aer guraka
menandai Ternate sebagai pendar di khatulistiwa

Tuas apa namanya yang dapat mencungkil mutiara
yang tersimpan di balik Gamalama?
bukan puisi, pasti
ia bernama rasa memiliki
bahwa tanah ini, menanjak dan menurun
lurus dan menikung
mirip alur cerita yang penuh kejutan
penuh sanjung dan pepindan

“Mengapa kamu begitu mencintai laut?” tanyaku
“padahal rempah-rempah tumbuh di darat?”
matamu berkilat dalam ucapan,
“Pulau-pulau memisahkan
bahasa menyenjangkan
laut yang mempersatukannya.”

“Mengapa kamu pergi dari Kie Raha?
tak takutkah kamu ia berpindah letak di dalam peta?”

Kamu menunjuk langit
ya, aku melihat kabut di puncak Gamalama
pohon-pohon yang lebat seperti jambang
Kamu menunjuk laut
ya, aku melihat air yang jernih kemilau
asin saat dicecap, tawar saat dipandang

Kamu diam tak berkata
kamu tersenyum tanda bersuka

Tempat ini telah lama diberi nama
Orang-orang tahu, nama untuk dikenal
meskipun juga demi upaya penaklukan
aku berusaha melihat dan merasa

Lalu, kamu antar aku ke suatu tempat
“Inilah tahi lalat di pelipis khatulistiwa.”
Aku berdercak
“Ah, rupanya, surga itu tak begitu jauh letaknya.”

29/10/2011




5 komentar:

  1. tidore tak kalah sama pantai-pantai yang ada di indonesia

    BalasHapus
  2. @obat herbal penyakit darah tinggi: betul seperti yang Anda katakan. Ternate dan Tidore merupakan salah satu taman terindah di khatulistiwa

    BalasHapus
  3. “Ah, rupanya, surga itu tak begitu jauh letaknya.”

    Membaca itu, saya jadi teringat Lan Fang dalam Janji Puisi; "Ternyata surga itu dekat dan sederhana," tulisnya.

    ( paling tidak, sama-sama bicara tentang jarak sorga.)

    BalasHapus
  4. @Kuli: Anda mendesah karena sedang menyanyi dangdud? hehe..
    @Edi Winarno: oh, begitu, ya. Sayang saya belum membaca buku puisi itu

    BalasHapus

Terima Kasih Jika Anda Mau Berkomentar untuk Persahabatan...