31 Januari 2008

Sareyang (Sepilihan Lirik)


Lirik Sareyang


Akulah Sareyang.

Akulah anak kecil dekil yang berjalan sendiri di pinggiran sejarah. Tak ada orang yang menghiraukanku, kecuali dengan sebelah mata memandang.

“Untuk apa berteriak bagi kebenaran, Sareyang?”

Tapi, aku tak mau diam. Walau telinga tersumbat, biarpun mata tersilap, aku akan tetap berdiri, sekalipun hanya seorang diri di hadapan kebisingan dunia, walaupun serak suaraku, hanya gumam, bahkan mungkin cuma bisikan yang lenyap terbawa angin.

Akulah Sareyang.

Sebuah tanju bagi gerhana sepanjang waktu.
Air merta jiwa bagi kemarau seabad lama.
Melalui malam dan sunyi, yang menjadi guru dalam mengajarkan cahaya dan kebisingan, aku menyeberangi kosmis, mencari percik api bernyala matahari.

“Di mana akan kautemukan itu, Sareyang?”
Dengan mata menerawang, meradai dan menghilau atas kekalahan, lindap di bawah bayang¬bayang ilmu pengetahuan, aku mencari nyanyian di antara deru bising kehidupan.
“Tetapi, masihkah para wali membisik, Sareyang?”

Dengan mata nyalang, aku menatap langit, membaca catatan masa silam; sejarah menyajikan tamsil dan teladan, namun mulut masih cedal. Walau hati merangkum rahasia semesta raya, bahkan hingga ke sebalik fisika, tapi kekuatan sepasang mata cuma mampu menangkap gemerlap mayapada.

Akulah Sareyang.
Sebuah lagu bagi hiruk-pikuk sepanjang waktu.
Cerita pelipur lara bagi kemelut sepanjang masa.

* * *

Aku melambung lepas, menembus atmosfer, melampaui batas dunia, lalu melepaskan diri dari hukum bumi, tetapi pada akhirnya hinggap kembali di dasar hati. Memanjatkan doa untuk orang tua, para guru, kawan-kawan, serta mereka yang mungkin telah terlupa; selamatkan kami dan anak cucu kami dari kemarau panjang di dalam dada; kemarau di luar musim, kemarau di dalam batin.

Berjalan tertatih menghitung langkah.
Hati merintih pikiran membuncah.

Manusia sepercik cahaya dari surga. Tersesat di Kota Benda yang gulita. Diberikan untuknya pelita. Namun, ia terpasah senantiasa. Diberikan untuknya air, dan ia tak habis-habis dahaga.
Sareyang.

Sebuah tanju bagi gerhana sepanjang waktu.
Air merta jiwa bagi kemarau seabad lama.


Lirik Untuk Ayah


Ayah..

Bila kulihat engkau tekun bekerja, tangan kotor penuh debu, peluh mengucur dan letih tegas tersurat di wajahmu, dadaku terasa sesak melihat diri yang kukuh tapi malas. Aku malu, tenaga penuh tapi hasrat tiada. Mengapa engkau begitu tekun, padahal asin keringat yang engkau cucurkan justru aku yang merasakan manisnya. Untuk siapa engkau terus bekerja bila tidak untuk anaknya?
Ayah,

Kapankah datang waktunya, aku ingin membanting tulang dan engkau cukup istirahat saja. Biar kutangung semua urusan duniawi dan aku akan mendampingimu menghabiskan hari-hari tua nanti. Namun, cukupkah dengan begitu aku membalas? Memang, balas tidak engkau pinta, tapi pamrih mesti kurasa. Kutahu sejulang gunung engkau berbudi, tapi bisaku hanyalah mendaki.

Ayah,
Habis puja memuja. Habis rasa merasa. Tak ada neraca menakar jasa. Tiada padan membalas cinta. Selama mulut mampu berucap, selama hati masih mendetap, tekadku berbakti dan selalu berdoa, bahkan hingga kelak engkau tiada.


Lirik Untuk Bunda


Bunda,

Seperti angin bertiup, bagai air mengalir, laksana cahaya menelusup, aku mencari lalu menemukan nyala cintamu yang tak pernah kuntum, bahkan terus bergolak. Untuk melukiskan jasamu, aku menyusun puisi, seloka, pantun, dan bentuk bunga kata¬kata. Dari zaman dahulu, para penyair dan penganjur kebaikan menyanjungmu dengan berbagai tamsil dan teladan, tentang cintamu yang tak terkira dan kasihmu yang tak tertara. Bahkan bila kutulis madah pujian, tetapi aku merasa itu cuma bualan, meskipun engkau akan menganggapnya tulus karena kasihmu tak bergantung apa pun balas.
Bunda, belas kasihmu tak tepermana, walau balasku sepenggal cinta.

Bunda,
Aku berhutang kepadamu, meskipun lunas tidak kautagih. Engkau telah memberiku nilai yang tidak mungkin aku bayar. Adakah yang layak dipersembahkan untukmu selain mengabdi dan berbakti? Bahkan rasanya tak cukup, karena kasih dan budimu tak mungkin terbalas. Terkadang aku merasa seorang Malin Kundang; lupa bunda mengandung, tak ingat dari mana berasal. Alangkah celaka. Namun, bila itu kuingat kembali, barulah aku menyesal dan menangis. Engkau mengandung, melahirkan, dan membesarkanku dengan air mata.
Bunda,

Kasih sayangmu adalah samudera, langit, daratan bahkan bumi keseluruhan tak terpeta. Cinta kasihmu tak akan cukup bila diwakilkan pada perlambang-perlambang bunyi, konfigurasi gerak ataupun pada puncak keindahan kata-kata. Cintamu pada anak tak mungkin sepadan terbalas, karena bagi ruang hati di dalam dirinya, kasih sayangmu terlampau besar, bahkan berada di luar takar.
Bunda,

Aku, anakmu, juga semua orang yang pernah dilahirkan, hanya dapat melukiskan cintamu seperti malam hendak melukis matahari. Teramat banyak puisi, lagu, dan madah puja¬puji yang mengagungkanmu. Aku merasa kelu bahkan bisu untuk melakukannya. Karena apakah guna bila kata¬kata yang hendak kususun itu justru lebih dahulu kaubaca di dalam pikiranku? Sebab itulah, pujianku bukanlah kata¬kata, tetapi adalah dengan menjadi diri yang engkau restui, serta percaya bahwa untuk anaknya, seorang bunda tak akan pernah berhenti berdoa.

Mulialah engkau, Bunda, dan bahagialah aku, lahir sebagai anakmu.


Aku Datang Padamu

Pada kecemerlanganmu yang maha, aku akan bertamu membawa hina. Karena dengan begitu, engkau akan tampak semakin mulia.

Padamu, aku akan datang dengan redup muka; pengemis buruk meminta iba. Karena dengan begitu, engkau akan tampak semakin agung di puncak pesona.

Padamu, aku akan datang berkunjung membawa kekurangan-kekurangan. Karena dengan begitu, yang tampak padamu hanyalah keistimewaan.

Padamu, aku akan datang membawa gelap. Karena dengan begitu, cahayamu akan tampak makin berkilauan.


Perbani


Hari itu, bagi kedatanganmu, adalah penantianku yang terakhir kali. Bekal kesabaran tinggal sekerat, sementara rindu semakin berkarat. Menunggu sepanjang kemarau. Gelisah dan galau sesuntuk musim. Hari-hari mengalir membawa kekosongan. Hasrat membara susut mengalir.
Kapankah engkau datang?

Bahkan hingga hujan awal tengkujuh tumpah ruah, menguapkan segar aroma tanah, memandikan bumi dari panas dan gerah, mengabarkan berbunganya jagung dan kedelai, engkau tak juga datang. Tapi, aku membatin dengan bangga; adakah yang lebih perkasa daripada seorang penanti setia?
Hujan mengertap. Cahaya lindap. Hariku gelap. Rindu terlumat.

Aku membuka jendela; menangkap musim, meraba cuaca. Engkau tetap tak terjamah. Tersiksa batinku resah. Sementara di luar, aku mendengar tetes air hujan menyajakkan sakit hati.

Luka di dasar hatiku
perih dan pedih dalam menunggu
siang berlalu menyimpan berita
malam lantun bersama sepi
hari-hari menikam tepat ke ulu hati
dalam hal melukai
kesepian lebih tajam daripada belati.


Malam itu, dengan semangat kelaki-lakianku, aku menengadah. Memohon kesabaran dalam menunggu. Biar kapan pun tak akan jemu. Aku berdoa, agar dengan kelemahanku aku mampu berdiri perkasa, dengan kekuatan penuh sebagai penanti setia.

* * *

Di pertengahan bulan, hunjam hujan menghunjam. Deru angin menderu. Sambar petir menyambar. Lampu membeku, pergi cahaya. Rumah pun gelap berlurub gulita. Di luar, angin bertiup menderakkan rumpun bambu. Dan langkisan datang mendahului halimbubu.

Ketika hujan benar¬benar deras, ketika halilintar menyambar dan guntur menggelegar susul-menyusul, kukuakkan pintu dan jendela. Menyambutmu dengan rindu kancap di dada.
Di langit yang gelap membentang, dari balik tetes hujan tebal, aku melihatmu datang; perbani yang perawan. Tapi, cahayamu masih seperti di musim lalu, bersinar dalam terang purnama di musim kemarau.


Lirik Untuk Kiai

Suram sinar tanju di saka surau, berkelit dari angin, berjuang melawan gelap. Cahayanya menguntum. Bila lewat semilir, ia seolah menunggu padam. Dari balik kaca bermandi jelaga, sinarnya membias ke wajahmu. Menyiratkan siluet ketekunan dan garis tepi perjuangan pada air mukamu yang tenang. Sementara aku tak henti dan terus membaca perjuanganmu, bagaimana kauajari aku menikmati perjuangan itu sendiri.

“Bacalah, Nak, mulailah mengeja!”
Aku merunduk. Kening hampir menyentuh buku.
“Aiu, babibu, tatitu.”
Aku barulah batu.
“Hahihu, wawiwu, yayiyu.”
Angin mencari halimbubu.
Jangankan membaca, mengeja pun gagap.
Jangankan mengerti, belajar pun gelap.

Bila hidup banyak memberi pilihan, mengapa jalan ini yang kautempuh, menuju ujung perjalanan yang begitu jauh? Badan letih tak terkira sedangkan panas membakar tanah berdebu. Kaki melepuh, wajah mengeruh, tapi semangatmu menjadikan hidup ini penuh gairah.
Serangkum angin, melalui sela-sela anyaman bambu dinding surau, menyelusup, menambah hati risau. Hari semakin malam. Sekarang lagi purnama. Alangkah asyiknya bermain di pematang, begitu semua anak punya pikiran.

“Kita lanjutkan besok malam. Tutup kitabmu dan berdoalah!”
Dalam hati aku berteriak kegirangan.

* * *

Surau itu masih memancarkan cahaya, meskipun redup bertahan hidup. Aku selalu ingat, kiai masih duduk bersila di mihrab. Barangkali ia menyelesaikan dzikir rutinnya yang panjang. Atau terkantuk-kantuk lalu tertidur karena keletihan. Mungkin, ia sedang mengulang-ulang doa panjang pada bibirnya yang kering. Aku yakin, kiai akan selalu memohon agar Allah sudi melapangkan hati para santrinya sehingga cahaya-Nya masuk ke relung setiap rongga dada, lalu kembali memancar menjadi pesona di jiwa. Bukan kecerdasan yang membuat sombong, juga kepandaian yang bisa menipu, tapi ilmu manfaat yang akan memberi selamat.
Pada ratusan jarak di peta, tapi sejengkal cuma di dada, di antara rentang waktu menahun, masih jelas dalam anganku semua tingkah dan lakunya, sikap dan pituturnya. Dan aku pun bertekad bulat tak akan henti mengingatnya dalam segala suasana. Memang, saat itu telah lalu, tapi aku selalu menghadirkannya di ruang hatiku, setiap waktu.

Angin mendesir, merkuri tetap menyala. Cahayanya nyalang di hadapan apa pun angin. Sementara komputer menggantikannya, mendidikku menjadi guru sekaligus muridnya.

Kiai, pada beberapa masa berikutnya, cahayamu masih kulihat mengerdip di kejauhan, dipisahkan waktu, dalam ruang beratus sekat, hingga ia tampak cuma sepercik tanju menjelang padam, tapi di dadaku, lebih kobar dari nyala api apa pun.


Menara Tertinggi

Engkau adalah menara yang tinggi menjulang. Di bawahnya, orang-orang memandangmu mendongakkan kepala. Di tempat itu, engkaulah yang tertinggi karena hanya engkau yang menjulang sendiri.

Engkau adalah mercu suar tempat pelaut menaruh harap. Engkau adalah mata angin bagi para pengelana. Engkau adalah gedung pencakar langit tempat berkumpul para pelaku bisnis. Engkau adalah menara pemancar yang menyebarkan sinyal dan gelombang.

Engkau bagai seorang alim tempat bertanya, tapi suatu ketika engkau kehabisan kata-kata. Mungkin engkau seperti sumur tempat air ditimba, namun kelak kemarau akan membuatmu tinggal batu-batu saja. Atau, engkau adalah ia yang apa pun dipunya, namun di suatu masa, barangkali orang-orang tidak akan mendatangimu lagi meminta iba, karena engkau telah menjadi seorang miskin papa.

Sesungguhnya, engkau adalah sebuah menara yang menjulang tinggi, tapi di dalam dirimu saja. Ia sendiri, menjadi pentunjuk bagi dirimu saja. Itulah sebuah menara yang kaubangun bertahun-tahun dengan pengetahuan dan pengalaman. Engkau selalu merasakan dirimu menjulang paling tinggi. Tapi, engkau tak tahu, mungkin di lain waktu, di lain tempat, ada menara lain yang menjulang lebih tinggi, hingga puncaknya tidak kelihatan.

Engkau adalah menara yang menjulang tinggi. Ia hanya sendiri di dalam hati. Engkau adalah menara tertinggi, namun di dalam dirimu sendiri.

Hikmah

Rata cahaya lampu merata.
Menebar panas dan silau di mata.

Laron-laron mendekat, menghampirinya. Mereka mencari cahaya yang benar-benar terang, menuntun jalan untuk terbang. Karena kegelapan adalah bentuk segala siksaan tak terhingga.

Satu datang berganti yang lain. Begitulah, satu persatu, kawanan itu mati. Namun, mereka tak jera dan tetap mendekati.

“Aku lahir untuk meraih cahaya. Setelah itu, aku lega melepas nyawa.”
Laron lain datang dan mereka tak sempat membawa berita untuk kawannya. Semua laron datang dan tak pulang kembali. Semua laron lahir, lalu mati.

* * *

Lampu dan cahaya.
Laron dan mati.

Manusia dari jauh melihat, mempelajari teladan yang sungguh mumpuni. Manusia dari jauh melihat, tapi tidak sanggup menghayati. Sudah terlalu banyak mursyid, sufi, kiai, dan para mufti menuturkan hikmah, memberi petuah, namun keangkuhan telah benar-benar membuat hatinya mati.

Laron datang mendekati cahaya lampu, dari gelap mencari terang, meskipun pada akhirnya mati. Manusia juga datang mendekati cahaya hikmah, tapi hikmah tak pernah membakar, hanya menyinari. Akan tetapi, banyak manusia yang tak mau mendekati. Ia berada di kejauhan, melihat saja, atau bahkan berdiri beradu punggung dengannya.

Lampu dan hikmah sama¬sama menebarkan cahaya.
Laron mencari cahaya lampu lalu sekarat ketika mendekat. Sementara manusia melihat cahaya hikmah dan mereka melepuh ketika menjauh.


Lirik Cinta


Ucapkan bibirku tasbih setelah tergagap melihat pesona. Gerakkan hatiku tahmid manakala tak silap melihat benda. Allah, getarkan semua anasir kemanusiaanku manakala hendak mengaku kuasa dengan raga tanpa daya.

Cinta yang Engkau letakkan pada kecuraman jiwa, adalah anugerah yang sangat besar. Bias sinarnya terlalu tajam hingga aku tersilau dan aku terbuta. Aku ingin bersuci, membasuh luka dari debu dunia. Mencuci diri dari buaian benda. Terlampau naif menyebut diri seorang kamil sementara masih membanggakan hal-hal yang batil.

Namun, jangan beri aku cinta bila ia akan berakhir benci, karena Engkau menganugerahkannya demi menciptakan damai di bumi. Sementara bila ia telah membutakanku, maka pada akhirnya akan berujung dendam dan dengki. Gusti, tanamkan ia di setiap ruas rusuk, dalam panjang urat nadi, dalam tiap denyut jantung, di pusat energi hati.

Dosa dan kesalahan yang kulakukan, benci dan dendam yang kuperam, telah membuat mata hatiku semakin lamur, tak sanggup membaca petunjuk yang Kauberi. Padahal aku tak henti belajar mencintai seperti orang¬orang yang Kaupilih. Mencintai musuh seperti Isa, atau pemaaf seperti Muhammad. Sering aku dicibir karena hal itu dianggap musykil.

Namun, ya Allah!
Aku hanya percaya pada¬Mu.
Tak ada yang tak mungkin bila Kaumau.




Jangan Kaututup Pintumu


Apa yang sedang engkau renungkan di dalam bilikmu, Kawan? Apakah tak bosan mendekam sendirian? Supaya bisa bertukar kabar denganmu dan bisa saling bertamu, mari kita saling bacakan catatan harian, lalu saling bertanya; apa kabar?

Jangan pintu dan jendela rumahmu rapat kaukunci. Cobalah sekali waktu dibuka, supaya angin segar masuk ke dalam. Lihatlah ke luar, siapa tahu pisang yang dulu masih menghijau, kini telah kuning tandanya matang. Sebaiknya engkau juga tahu, rumput di halaman sudah liar meranggas. Tak sedap dipandang, saatnya dipangkas.

Kesendirian adalah waktu yang tepat untuk munajat. Engkau akan merasa nikmat bila maksudmu hendak berkhalwat. Pikiranmu bisa bebas sebebas-bebas dan emosimu lepas selepas-lepas. Atau, mungkinkah engkau menyepi, mencari inspirasi di dalam sunyi, menunggu esok dengan sendiri? Demikian aku bermungkin. Engkau memilih sendiri, menunggu makhluk bersayap, di tengah malam saat dunia lelap dan matamu nanap, ketika insan terlena sementara engkau bertahan jaga.

Tapi, jangan pintu dan jendela rumahmu rapat kaukunci. Ada baiknya ia kaubuka. Siapa tahu dunia telah berubah warna. Engkau tak gagap bila semua telah bermalih rupa. Ada baiknya kaulihat di luar, siapa tahu anak-anak semakin binal. Kini, bahkan sesama saudara saling berperang. Jangan-jangan engkau juga belum tahu, nilai nyawa semakin tiada harganya. Supaya engkau juga paham, mata dunia kini merah sembab karena air mata.

Jangan kaututup selalu pintu dan jendelamu. Sekali waktu, bukalah ia. Hirup udara segar dan sapalah sekelilingmu; apa kabar?


Lirik Masa Tua
Betapa hidup terasa sekejap, dan usia habis dalam sesaat. Tahun-tahun berlalu bagai selintas. Semua itu, dalam kesementaraan ini, cuma hinggap, lalu lewat.

Bagi seorang alim, hidup terasa sebentar. Ia ingin hidup lebih lama lagi untuk beribadah dan berbuat kebajikan. Sementara bagi orang yang baru saja siuman dari mabuk dunia, seolah ia baru terjaga dari tidur pulasnya. Sementara maut kian mendekat dan tak sempat terpikir taubat. Bagi orang yang terlena, hidup benar-benar tak pernah benar terasa. Nikmat dan keasyikannya menyelimuti selaput hati, selaput otak, dan selaput mata. Karena itu, hidup tampak selalu segar dan indahnya maha.
Masa tua,

Jangan engkau datang di saat aku belum mengerti rasa asin dan engkau sudah lepas manakala garam di tangan masih segenggam. Kini aku bertanya, adakah nanti aku akan menjadi angkuh dan sangat perasa karena menganggap diri paling kenyang makan asam garam kehidupan, akibatnya lupa pada arah datangnya kebenaran?

Masa tua adalah muara bagi sungai-sungai yang mengalir dari jantung kehidupan. Sebentar kemudian, akan dicapainya laut. Sungai-sungai mengalir ke laut. Begitu pula, hidup mengalir menuju maut.
Ya. Duhai, Masa tua.
Sungai-sungai mengalir ke laut.
Hidup bergulir menuju maut.

Engkaulah muara itu, wahai masa tua; di mana ampas dan saripati dikecap, di mana pengalaman dan kenyataan disesap.

Pada suatu saat nanti, akan datang suatu masa. Itulah masa tua; masa yang mana hidup kian meredup dan usia di ambang maut. Itulah masa yang mana orang¬orang akan menyesal; kenapa tak dari dulu beramal?

Rumah yang Sepi


Hidupku dikungkung hiruk¬pikuk, di antara himpitan dinding Kota Benda. Sakit batin, sakit lahir. Maka, kuputuskan pergi untuk mencari sepetak huma yang lain. Hingga akhirnya, kutemukan sebuah padang yang luas dan indah. Tanahnya subur, udaranya segar. Tak teringat lagi berapa tahun panjang perjalanan kutempuh dan berapa lama sudah usia terlewat. Rasa letih dan jemu hilang serta merta begitu kudapati sebuah padang dengan pemandangan memesona. Sedap dipandang mata.

Di salah satu tepinya, aku membangun sebuah rumah kecil. Di atas sebidang tanah dengan halaman dan kebun belakang yang luas. Di tempat yang sepi itu, aku menemukan ketenangan yang benar-benar. Tak ada berisik orang-orang memaki, ataupun bisik-bisik orang-orang memfitnah. Sebab, di sana aku seorang diri.
Beberapa waktu kemudian, datanglah orang¬orang, satu demi satu, kelompok-kolompok, suku, kafilah, dan imigran. Mereka menjadi tetanggaku. Maka, gaduhlah tempat sunyi itu. Aku tak betah dan akhirnya pindah. Hasratku cuma satu, mencari rumah yang sakinah. Yaitu, tempat yang dapat membebaskanku dari segala gelisah.

Aku pergi melanglang. Mencari tempat yang sepi dan tenang. Tapi, setelah banyak tempat kutemukan, setelah banyak rumah aku huni, setelah banyak tetangga berdampingan, setelah ramai hiruk-pikuk kurasakan, tak ada lagi tempat kudapat, tak ada lagi tujuan kujelang.

Tanpa mengenal putus asa, aku terus mencari tempat yang kudambakan itu. Sebuah tempat yang benar-benar tersembunyi, juga sunyi. Supaya tenang ketika berpikir sehingga nyaman bila berdzikir. Hingga akhirnya kutemukan sebuah rumah mungil yang sepi. Letaknya dekat sekali. Di sudut terkucil di lubuk hati.


Sareyang di Penghujung Zaman

Di batas akhir pikiran tentang benda, aku melihat lain inti dunia. Kata hati menyebut cinta, namun lain bibir bicara.

Sareyang, engkau berpejam mata di akhir zaman, mendambakan air kesejukan dari kahyangan; air yang dipercikkan para bidadari dari Firdaus dan Taman Aden, jadilah hujan, tumbuhlah rumput. Angin memperkawinkan putik bunga, maka mekarlah kehidupan, berkembanglah dunia. Dan air surgawi itu, tak boleh habis dalam sekejap. Janganlah ia kauteguk tandas. Ingatlah esok hari, siapa tahu kemarau panjang datang kembali.

Di batas akhir pikiran tentang masa, kembali kosong ke purwakala. Di sana, yang hampa jadi bermakna. Teori¬teori mencari bukti. Rumus¬rumus menyangsikan angka. Sepi bergerak mencari bunyi. Segalanya kemudian kehilangan makna. Segalanya kemudian kembali meraba arti.
Yang dulu dibenci kini dicinta.
Yang dulu dicaci kini dipuja.

Ke mana pergi logika? Rasionalitas dan kenyataan sama¬sama mengeluarkan senjata, siap menikam. Inikah akhir sejarah? Kitab hidup sudah selesai dibaca. Kini saatnya mukadimah harus lagi dibuka.

* * *

Inilah dunia, dan beginilah permainan itu, Sareyang.

Buka matamu dan tataplah semua benda yang ada di panggung drama ini. Orang-orang berjalan beriringan, susul-menyusul, lalu sikat¬menyikat, akal¬mengakali. Yang maju memimpin, yang kolot tertinggal. Yang kuat berkuasa, yang lemah menghamba. Pikiran beradu; Timur dan Barat. Agama-agama mencari titik persambungan iman. Paham-paham pun bermunculan; Kiri dan Kanan. Namun, ini zaman sudah cukup kenyang menampung pengalaman, sejarah, dan peristiwa dari masa silam. Maka kelahiranmu ke dunia adalah untuk membaca kembali kitab sejarah umat manusia dan peradabannya, semenjak Adam bertemu Hawa, semenjak Ibrahim menemukan Tuhannya, semenjak Isa diperdebatkan hingga Muhammad lahir menjadi penghabisan.

Dunia adalah roda berputar.
Bila diam akan tergilas.
Engkau berpikir jadilah kendali.
Engkau membaca tahulah kemudi.

Sareyang, engkau lahir di penghujung zaman, saat cahaya-cahaya semakin muram. Ketika benda berkuasa dan gelap melanda, hanya nurani satu-satunya tanju yang menyala di segala cuaca. Maka, dengannya kaubuka pintu hati. Membaca peristiwa, menakar waktu, mencari makna tentang kelahiran, nasib, dan surga.
Sesungguhnya, manusia adalah para pelaku utama di dalam maha drama kehidupan.
Yang berpikir akan bebas bergerak.
Yang berdiam akan mati berserak.

Sareyang!
Nasib bukan harga mati dan hidup adalah sebuah permainan. Ubahlah ia pada apa saja kaumau, atau ia akan menjadikanmu apa pun permainannya.


Puncak

Mungkin engkau pernah mendengar kisah tentang pendakian Edmund Hillary dan Tenzing Norgay yang pertama kali mencapai puncak Himalaya. Aku juga pernah mendengar cerita tentang Neil Armstrong. Kabarnya, dialah manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan. Mereka sama-sama telah tiba di puncak yang berbeda dalam ketinggian, tetapi sama dalam kemauan.

Manusia selalu ingin mencapai suatu puncak tertinggi di dalam hidupnya. Masing¬masing mereka memiliki puncak bagi ketinggian maksud dan keinginannya. Bagi pedagang, puncak adalah keuntungan dan kekayaan. Bagi seniman, puncak adalah karya besar. Bagi ilmuwan, puncak adalah penemuan. Dan bagi politikus, puncak adalah pemecahan.

Namun, mereka semua dapat menjadi pencinta; ia yang tak memiliki puncak bagi keinginannya. Karena seorang pencinta yang telah mencapai puncak akan hambar hidupnya. Sebab itu, ia harus terus mendaki tanpa mengenal henti.

Manusia mendambakan kebenaran dengan semangat dan cinta pada suatu alam yang mana ia akan mencapai suatu puncak yang menjadi akhir dari segala keinginan. Untuk itu, mereka harus terus mendaki. Dan pendakian itu akan cukup banyak menguras tenaga dan pikiran. Mereka akan terus berjuang menuju titik akhir yang tidak mereka ketahui kapan, di mana.

Setelah napas terengah, daya habis sama sekali, bekulah darah. Pada akhirnya, sampailah mereka di puncak pendakian. Puncak itu adalah mati.


Lirik Kematian

Aku terbaring. Dada sesak. Panas sekujur tubuh. Dalam ketakutan yang maha, bagai seorang calon tamu malaikat di dalam kubur, kurasakan kulit pori-pori mengisut. Mata kuyu menunggu maut.

Aku bangkit dari pembaringan. Melawan daya yang tak ada, melawan takut yang membayang. Tak akan pasrah kepada nasib. Tak akan menyerah kepada sakit. Aku tak mau mati. Aku mau tidur dan bangun ketika tak ada lagi penyakit di muka bumi.
Aku tak mau mati!

Ilmu pengetahuan melahirkan berbagai teori, obat, dan penemuan¬penemuan di bidang kedokteran yang begitu cemerlang. Dan dengan kecerdasannya, manusia punya alasan untuk hidup abadi dan menolak untuk mati.

Lalu, muncul tanya dalam hati.
Gejala apakah ini? Bagaimana sebenarnya tugas utama ilmu pengetahuan menyelesaikan permasalahan? Bagaimana tugas filsafat mencari persoalan secara mengakar? Adakah agama sudah mempersiapkan jawaban?

Manusia takut mati karena daya pikat dunia. Pesonanya sungguh luar biasa. Hari-hari yang penuh gemerlap, suka-cita, kesenangan, dan gelak tawa. Itulah dunia; rumah paling mewah tempat segala kenikmatan dapat dijumpa. Berhambur dan berdansalah di halamannya. Karena bila ajal tiba, segala impian dan kesenangan akan menjadi percuma.

Setelah lama merenung, aku kembali bertanya; bukankah kematian diciptakan Tuhan untuk membatasi kemampuan ilmu pengetahuan? Bukankah kematian diciptakan Tuhan untuk membatasi nalar karena ia berada di luar batas capai akal?

Dalam renung panjang, tafakur mendalam, bertanya-jawab dengan diri, tentang jiwa abadi, tentang alam semesta, tentang nyawa, hidup di dunia, alam baka, surga dan neraka, aku menemukan kepastian.
”Aku selalu siap pulang kembali ke tanah. Dunia ini hanya tempat sekejap singgah. Tempat melepas suntuk dan sekadar lelah.”

Kini, aku tahu, bahwa kematian diciptakan Tuhan untuk menjelaskan pada manusia, agar dengan akalnya ia berpikir dan dengan hatinya ia merasa, bahwa ada suatu keabadian yang lebih indah daripada kehidupan.


Munajat

Nyalakan kembali tanjuku, ya Allah.
Sudah habis damar untuk membakar, sudah tutung sumbu menahun. Tak ada lagi harapan cahaya. Waktu dan cuaca membuat tanju tinggal jelaga. Maka, kegelapan adalah satu-satunya yang kupunya.

Dulu, saat cahayanya masih melimpah, aku pancarkan sinarnya merata ke semua penjuru rumah. Bahkan, membias melewati pintu dan jendela, jatuh di halaman. Pekarangan pun terang-benderang. Kini minyak dan damar begitu sulit kudapat. Mestinya aku menadah pada-Mu; satu-satunya tempat aku meminta. Aku barulah tahu, alangkah kegelapan begitu menyiksa, setelah pergi semua cahaya.

Kini, aku cuma bisa meraba. Hilang arah, hilang tujuan. Rumah tempat aku bernaung dan bilik tempat aku menyepi terasa lebih asing daripada segala penjara dunia. Betapa asing diriku di rumah sendiri, betapa asing diriku di hadapanku sendiri.

Aku ingin menangis, tapi dapatkah air mata menyulap gelap jadi cahaya? Aku menyesal, namun alangkah memalukan. Masa lalu sudah cukup banyak mamberi tamsil dan teladan. Aku hendak bermunajat, tapi apalah artinya bila tanpa seiring taubat.
Nyalakan kembali tanjuku, ya Allah.

Diri memang bejat dan selalu berbuat jahat. Manusia mencari cahaya, tapi menunggu lebih dulu gelap datang melanda. Amal kebajikan sangat terasa berat bila tidak bersama ikhlas.

Di manakah letak cahaya bagi manusia?

Apakah kebaikan memang harus didahului kesalahan dan penyesalan? Apakah Rabi’ah dan Rumi harus lebih dulu meneguk tandas anggur duniawi yang madu di lidah, tapi racun di hati, hingga akhirnya mereka mengecap setetes kautsar-Mu yang membuat mabuk mandam di samudera kasih-Mu? Apakah aku harus lebih dahulu berada jauh di seberang-Mu sebelum akhirnya menjadi pencinta yang tak kenal apa pun selain Kekasihnya?

Kegelapan memang benar-benar menakutkan. Tak ada jalan lain kutuju kecuali Engkau nyalakan kembali tanjuku. Aku tahu Engkau pasti berkenan, hanya saja aku biarkan lampuku padam, memilih gelap daripada terang.

Sejarah telah memberi banyak pelajaran, tetapi aku mengejanya dengan lidah cedal dan terbata-bata. Bahkan, andaipun aku mampu membaca, tapi enggan ketika tengah bermandi cahaya, tak pernah sadar kecuali setelah dirundung malapetaka.
Inikah nasibku? Atau memang begitukah manusia?

Mataku telah lamur, hatiku telah tumpul, sementara beban berjibun haruslah kupikul. Dan sekarang, membaca aku tak dapat, mendengar telinga tersumbat. Kegelapan adalah segala ketakutanku. Aku tak dapat lagi berbuat apa pun sampai Engkau nyalakan lagi tanjuku sebagaimana Engkau nyalakan dahulu semenjak aku masih di rahim ibu.

Nyalakan lagi tanjuku, ya Allah.
Aku pengemis dan Engkau Pemberi.
Aku kegelapan dan Engkau Cahaya.
Aku pengemis yang tidak selamanya menadah.
Tapi, Engkaulah Pemberi yang tak henti mengasihi.

*Lirik-lirik di atas ini dikutip dari buku  "Sareyang: Lirik Penunggu Kesunyian", Pustaka Jaya, 2005

5 komentar:

  1. Keren Abiez Ka'dintoh Gus......

    (Isom adeknya Itqo Sayuqi)

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Kaupun Pergi membawa kekalahan dan kemenangan
    Barsama Abu Jahal dan Para Nabi
    Nyaris tak ada air yang kautinggal
    Malah yang kutahu,
    hanya batu, batu, dan batu yang kauwariskan
    Tapi bagaimanapun.....
    Aku tak lebih dari tetesan "Kencing"-mu.
    Ayahku......!

    Karduluk, Jum'at Manis 26 Aqgustus 2011

    BalasHapus
  4. Basri Muda: terima kasih sudah muncul di sini

    BalasHapus

Terima Kasih Jika Anda Mau Berkomentar untuk Persahabatan...