<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866</id><updated>2012-01-27T01:57:20.499+07:00</updated><category term='buku puisi Rumah Bersama'/><category term='UN'/><category term='terjemahan'/><category term='workshop'/><category term='puisi'/><category term='pendidikan'/><category term='petani'/><category term='alienasi'/><category term='Rendra'/><category term='ibu'/><category term='ayah'/><category term='ujian'/><category term='petilan puisi Delapanbelas Plus'/><category term='memory'/><category term='kenangan'/><category term='Jak-BAF Berlin'/><category term='penyari'/><category term='ujian nasional'/><category term='Jakarta Berlin Arts Festival'/><category term='puasa'/><category term='ulasan puisi'/><category term='Beberapa Puisiku'/><category term='pinter'/><category term='old poems'/><category term='digresi'/><category term='kosmik'/><category term='sastra'/><category term='sistem'/><title type='text'>S  a  r  e y  a  n  g</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-4102821542851932335</id><published>2011-11-12T14:31:00.004+07:00</published><updated>2011-11-12T14:40:49.250+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ulasan puisi'/><title type='text'>Permaisuri Sang Kiai</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Oleh: &lt;b&gt;Malkan Junaidi&lt;/b&gt;, penyair tinggal di Blitar &lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan banyak kawan di ranah sastra nusantara, jujur saya seringkali merasa paling&lt;i&gt; kuper&lt;/i&gt; dan&lt;i&gt; udik&lt;/i&gt;. Ini, saya tegaskan, bukanlah sejenis sikap &lt;i&gt;tawadhu’&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;low profile&lt;/i&gt; yang keren, namun sangat nyata, dibuktikan dengan luputnya salah satu nama, yaitu M. Faizi selama ini dari meja baca saya. Padahal tidak sedikit ternyata karya yang empunya nama tersebut sudah hasilkan (antara lain &lt;i&gt;18+, Sareyang, Rumah Bersama,&lt;/i&gt; dan yang ter-gress dan sedang kita obrolkan &lt;i&gt;Permaisuri Malamku&lt;/i&gt;). Saya mengenal sang pendekar tahlil asal Madura ini sebelum mengenal karya-karyanya. Image Faizi sebagai pemimpin sebuah pesantren melekat di benak saya lebih dulu sebelum image-nya sebagai seorang penyair. Saya yakin dongengnya akan terdengar berbeda jika dua proses perkenalan ini disungsang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;i&gt;Permaisuri Malamku&lt;/i&gt;, berdasarkan tarikh penciptaannya memuat puisi-puisi yang ditulis di rentang tahun 2006 hingga 2011. Jumlah seluruhnya ada 41 judul, di mana 75% di antaranya ber-&lt;i&gt;setting&lt;/i&gt; dan atau bertemakan ‘malam’. Tentu kita layak penasaran ada apa dengan malam hingga begitu inspiratif bagi kiai penggemar musik rock ini, dan bahkan secara amat romantis ditahbiskannya sebagai sang permaisuri?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih menanyakannya langsung, saya justru menyusun sebuah analogi empiris dengan membuka lagi laci kenangan saya, kembali ke masa-masa di mana saya 24 jam sarungan, di sebuah pesantren kecil di pinggir sebuah desa. Jam setengah sepuluh malam, usai &lt;i&gt;bandongan&lt;/i&gt; kitab-kitab klasik seperti&lt;i&gt; Alfiyah Ibnu Malik&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Fathul Mu’in&lt;/i&gt;, kami para santri membentuk beberapa grup ngobrol, tak ketinggalan lintingan dan (jika ada duit) kopi yang diseduh di cangkir-cangkir bambu. Bahan obrolan bisa apa saja; keluarga di rumah, ilmu-ilmu yang tengah dikaji, kerjaan di sawah atau di kandang ulat, bahkan wanita pujaan pun tak jarang jadi bahan pembicaraan favorit. Suasana terasa lebih magis saat musim pohon kopi berbunga tiba, aromanya yang khas menyelimuti kompleks pesantren. Dari beranda bintang-bintang tampak bagai festival kunang-kunang, bersaing dengan cahaya rembulan. Apakah kiai Faizi memiliki pengalaman yang serupa dengan saya? Tak mustahil.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Penjelajahan pertama saya atas &lt;i&gt;Permaisuri Malamku&lt;/i&gt;, jujur, tak membuahkan hasil yang memuaskan. Baru pada penjelajahan kedua saya memanen beberapa kesadaran penting, antara lain: pertama, ternyata nyaris tak ada puisi bernuansa didaktik dan dogmatis di buku ini, sebagaimana biasa saya temui dalam tradisi &lt;i&gt;nadzoman&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;syiiran&lt;/i&gt; pada kitab-kitab klasik di pesantren. Nyaris tak ada istilah-istilah sufistik, malahan saya dihadang oleh segerombol kata semacam “polaris, zenit, konjugasi, kopula, objektivisme, subjektivitas, voltase, dan amnesia” yang mana sempat membuat saya mengumpat “&lt;i&gt;what the f*ck&lt;/i&gt;!” dan tertawa dalam batin. Kedua, saat saya cermati mayoritas tipografi yang dipakai Faizi, saya melihat tak ada pola yang pasti. Kelihatannya lelaki penggemar Colt T-120 ini sangat cuek perihal tampilan fisik. Tapi ini bisa juga dipandang sebagai semacam pemberontakan terhadap kebakuan yang membelenggu dan keteraturan yang semu, dan oleh karenanya justru menjadi salah satu keunikan dari seorang kiai Faizi. Ketiga dan yang terpenting, citra dan tema yang dominan, yakni “malam”, ternyata hadir dan atau dihadirkan sebagai representasi sikap apresiatif dan kontemplatif ala kiai.&lt;br /&gt;Malam dengan gelap, dingin, sunyi, bintang, dan bulan, adalah maha karya yang mempesona. Menjadi manusia biasa (orang kampung?) yang bisa dan sempat menikmati semua itu, oleh karenanya adalah hal yang sangat disyukuri oleh kiai Faizi:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Indahnya menjadi manusia biasa&lt;br /&gt;yang dapat mendongak dan mendanguk&lt;br /&gt;berpikir dan melihat langit di malam purnama”&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;(Pulang Manaqiban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Manusia modern, menurutnya, barangkali tak pernah bisa-dan-sempat mencicipi keriangan sederhana seperti ini, justru karena mereka terlalu terpesona dengan listrik, penemuan ‘revolusioner’ itu. Faizi menyindir keras orang ‘hebat’ semacam astronom, yang logikanya lebih paham perihal bintang, bulan, dan fenomena malam yang lain, namun tak mendapatkan apa-apa dari keahlian observatif mereka kecuali ketertipuan belaka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;astronom mungkin akan kesulitan memetakan langit&lt;br /&gt;seperti penyair yang hendak menulis sajak liris&lt;br /&gt;lalu terjerumus di jurang prosa:&lt;br /&gt;sebuah kebohongan lain yang lebih digemari&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;(Prosa di Bumi-Langit Tua)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Memang, bagi manusia ‘maju’ seperti kita, agaknya listrik sudah merupakan hal yang niscaya. Kita keukeuh mempertahankan keberadaannya kendati banyak konsekuensi ironis mesti ditanggung. Selain terkikis hebatnya sumber daya alam seperti jamak diketahui, pesona malam pun akhirnya muncul lebih sering sebagai jeda sekilas, sebagai koma kecil di antara dua kalimat panjang. Sangat wajar jika hal ini memantik kerinduan akan kenangan primordial pada diri orang seperti kiai Faizi, di mana kenaifan membuat kehidupan terasa lebih aman dan nyaman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Sejenak, aku ingin kembali ke dulukala&lt;br /&gt;merasakan gelap dan kejujurannya&lt;br /&gt;tapi hanya sebentar listrik kembali menyala&lt;br /&gt;voltase menyentak&lt;br /&gt;aku terlempar&lt;br /&gt;jatuh berdebam di masa kini&lt;br /&gt;yang terang oleh ilmu dan iman&lt;br /&gt;tetapi digelapkan oleh takabur dan tipu daya&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;(Sejenak ke Dulukala)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seorang kiai pada dasarnya memang adalah seorang pemikir, sehingga impresi-impresi sensorik yang ditangkap oleh inderanya tak mungkin hanya berakhir dengan kebengongan dan kata “wah” belaka, melainkan pasti membawa pada sebuah kontemplasi. Al Qur’an, sebagai referensi utama dan standar orientasi moral dan perilaku keseharian seorang muslim, memiliki banyak suplai teks imperatif (implisit maupun eksplisit) berkaitan dengan hal ini, misalnya: “&lt;i&gt;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang,terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal&lt;/i&gt;” (Q.S. Ali Imran: 190), yang selaras dengan salah satu bagian puisi Faizi:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;mengapa titik kecil yang berpikir itu&lt;br /&gt;tak mampu mencari alasan&lt;br /&gt;untuk apa gugusan cahaya raksasa ini dinyalakan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(Surat Cinta Untuk Malam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Memperhatikan alam sekitar, mencermati gejala-gejala yang timbul dan tenggelam, yang mikrokosmos mengingatkan pada yang makrokosmos, yang temporal mengingatkan pada yang eternal, yang nisbi mengingatkan pada yang mutlak, yang relatif mengingatkan pada yang absolut, yang gelap mengingatkan pada yang terang, ketidaktahuan mengingatkan akan adanya kemahatahuan. Singkatnya, hamparan langit dan bumi beserta segenap nomena dan fenomenanya, semua pada akhirnya menjadi samudera metafora yang membawa perahu pemikiran kiai Faizi pada kesadaran eksistensial: siapa aku, kamu, dia, kita? untuk apa aku, kamu, dia, kita ada? dan seterusnya dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akan tetapi seberapa pun keren dan canggih hasil sebuah permenungan, seorang muslim yang taat biasanya menghindar sedapat mungkin dari terperosok ke jurang-jurang kesombongan. Ia memang diajarkan untuk senantiasa rasional, namun dengan tanpa mendewakan rasio, sehingga alih-alih menyatakan berbagai ‘kebenaran’, kiai Faizi justru menegaskan bahwa kita sesungguhnya tengah berdiri di dan bicara dari sudut pandang kita masing-masing. Oleh karena itu perbedaan seringkali harus dibiarkan tetap menjadi perbedaan sebagaimana malam tetap menjadi malam dan siang tetap menjadi siang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;tidak, namaku hanya malam&lt;br /&gt;engkau tak bisa memanggilku di luar itu&lt;br /&gt;yang satu tidak dapat menatap lainnya&lt;br /&gt;sebagaimana ‘tahu’ dan ‘tidak tahu’&lt;br /&gt;tak menemukan bangku untuk duduk bersama&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;(Namaku Malam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berpijak pada pendekatan yang serampangan dan amat tergesa di atas, saya memberanikan diri menghunus dugaan bahwa selama ini kiai Faizi telah berusaha mewujudkan sebuah simbiosis dengan malam dan seluruh muatannya. Simbiosis yang cukup unik, karena ia menahbiskan malam sebagai partner kekuasaan2 dan kemesraan sebagaimana terlihat dari penyimbolan malam sebagai permaisuri. Namun meski terlihat intim dan romantis, hubungan ini menurut saya juga paradoks dan dilematis. Paradoks karena walau dekat dan akrab namun ternyata diselimuti dengan begitu banyak ketidakmengertian “aku diciptakan untuk memahamimu, atau engkau diciptakan untuk menopang wujudku?” (Surat Cinta untuk Malam). Dilematis karena “Engkau mendekat dalam teropong, tapi menjauh dalam pengertian” (Surat Cinta untuk Malam), hingga akhirnya hanya sikap pasrah saja yang bisa ia pilih. Dan kita sama tahu “pasrah” dalam semantika keislaman memiliki nuansa makna yang positip dan merupakan pilihan yang sangat rasional.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Permaisuri malamku&lt;br /&gt;selalu datang dengan tanpa kehadiran&lt;br /&gt;dalam rentang yang tak terjangkau pandang&lt;br /&gt;karena jarak yang menghubungkan aku denganmu&lt;br /&gt;semata patahan-patahan garis&lt;br /&gt;yang tak henti-hentinya digabungkan&lt;br /&gt;dalam sebuah pengandaian&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;(Permaisuri Malamku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Blitar, 17 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-4102821542851932335?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/4102821542851932335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/11/permaisuri-sang-kiai.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/4102821542851932335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/4102821542851932335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/11/permaisuri-sang-kiai.html' title='Permaisuri Sang Kiai'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-6156600351166949138</id><published>2011-11-05T13:27:00.005+07:00</published><updated>2011-11-05T13:40:09.738+07:00</updated><title type='text'>Ternate - Tidore</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Matahari yang lebih dulu bersinar di sini&lt;br /&gt;dan malam yang hangat oleh aer guraka&lt;br /&gt;menandai Ternate sebagai pendar di khatulistiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-6Z1q3_hX0aQ/TrTZHV2FmuI/AAAAAAAAAiE/TlygDj5ZvFc/s1600/Air%2BJErnih.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-6Z1q3_hX0aQ/TrTZHV2FmuI/AAAAAAAAAiE/TlygDj5ZvFc/s200/Air%2BJErnih.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671396550912613090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuas apa namanya yang dapat mencungkil mutiara&lt;br /&gt;yang tersimpan di balik Gamalama?&lt;br /&gt;bukan puisi, pasti&lt;br /&gt;ia bernama rasa memiliki&lt;br /&gt;bahwa tanah ini, menanjak dan menurun&lt;br /&gt;lurus dan menikung&lt;br /&gt;mirip alur cerita yang penuh kejutan&lt;br /&gt;penuh sanjung dan pepindan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xAGFmXUfQDY/TrTZHkLaw0I/AAAAAAAAAiM/pcVoEaOftVI/s1600/Pulau%2BHiri.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-xAGFmXUfQDY/TrTZHkLaw0I/AAAAAAAAAiM/pcVoEaOftVI/s200/Pulau%2BHiri.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671396554760176450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu begitu mencintai laut?” tanyaku&lt;br /&gt;“padahal rempah-rempah tumbuh di darat?”&lt;br /&gt;matamu berkilat dalam ucapan,&lt;br /&gt;“Pulau-pulau memisahkan&lt;br /&gt;bahasa menyenjangkan&lt;br /&gt;laut yang mempersatukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu pergi dari Kie Raha?&lt;br /&gt;tak takutkah kamu ia berpindah letak di dalam peta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-D4y864t4B_I/TrTZIfGDr-I/AAAAAAAAAio/6LOVsXdn258/s1600/Maitara%2Bdan%2BTernate%2Bdari%2BTidore.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-D4y864t4B_I/TrTZIfGDr-I/AAAAAAAAAio/6LOVsXdn258/s200/Maitara%2Bdan%2BTernate%2Bdari%2BTidore.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671396570575384546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu menunjuk langit&lt;br /&gt;ya, aku melihat kabut di puncak Gamalama&lt;br /&gt;pohon-pohon yang lebat seperti jambang&lt;br /&gt;Kamu menunjuk laut&lt;br /&gt;ya, aku melihat air yang jernih kemilau&lt;br /&gt;asin saat dicecap, tawar saat dipandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu diam tak berkata&lt;br /&gt;kamu tersenyum tanda bersuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7opUlSY_K1Q/TrTZH7q1W9I/AAAAAAAAAig/s7PuDZF1-Rg/s1600/Pulau%2BHiri%2Bdari%2BSulamadaha.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-7opUlSY_K1Q/TrTZH7q1W9I/AAAAAAAAAig/s7PuDZF1-Rg/s200/Pulau%2BHiri%2Bdari%2BSulamadaha.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671396561065958354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini telah lama diberi nama&lt;br /&gt;Orang-orang tahu, nama untuk dikenal&lt;br /&gt;meskipun juga demi upaya penaklukan&lt;br /&gt;aku berusaha melihat dan merasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kamu antar aku ke suatu tempat&lt;br /&gt;“Inilah tahi lalat di pelipis khatulistiwa.”&lt;br /&gt;Aku berdercak&lt;br /&gt;“Ah, rupanya, surga itu tak begitu jauh letaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29/10/2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-D4y864t4B_I/TrTZIfGDr-I/AAAAAAAAAio/6LOVsXdn258/s1600/Maitara%2Bdan%2BTernate%2Bdari%2BTidore.JPG"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-6156600351166949138?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/6156600351166949138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/11/ternate-tidore.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/6156600351166949138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/6156600351166949138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/11/ternate-tidore.html' title='Ternate - Tidore'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-6Z1q3_hX0aQ/TrTZHV2FmuI/AAAAAAAAAiE/TlygDj5ZvFc/s72-c/Air%2BJErnih.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-896245347459036781</id><published>2011-07-16T08:32:00.028+07:00</published><updated>2011-11-05T13:42:16.841+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jak-BAF Berlin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta Berlin Arts Festival'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='workshop'/><title type='text'>Jakarta Berlin Arts Festival</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Selama 9 hari, terhitung sejak Sabtu 25 Juni sampai dengan Minggu 3 Juli 2011, saya mengikuti kegiatan seni “Jakarta Berlin Arts Festival”, di Berlin, Jerman. Dalam rangkaian acara itu, saya mengikuti banyak kegiaan seni dan sastra secara khusus. Adapun acara sastra yang melibatkan saya sebagai pemateri adalah; sarasehan di KBRI Jerman (26 Juni 2011), Workshop sastra di Universitas Humboldt dan diskusi sastra di Kulturbraurerei (Literatur Werkstatt) pada tanggal 1 Juli, serta tampil di galeri Berlin Carré Artroom, Alexanderplatz, pada hari terakhir, Sabtu 2 Juli 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kegiatan sastra di Kedutaan Besar RI, Jerman; Literaturwerstatt Kulturbraurerei; workshop di Universitas Humboldt dan baca puisi di Artroom Alexanderplatz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-N-g11BuvQ5k/TiDsYMVWtGI/AAAAAAAAAeI/9qiYt9l3wqY/s1600/Baca%2BPuisi%2Bdi%2BKBRI%2BJerman.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-N-g11BuvQ5k/TiDsYMVWtGI/AAAAAAAAAeI/9qiYt9l3wqY/s320/Baca%2BPuisi%2Bdi%2BKBRI%2BJerman.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629759434584929378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-g5OP_98-dLA/TiDsYWO_HyI/AAAAAAAAAeQ/YKTN162_d2g/s1600/Martin%2BJankowski%252C%2BBirgit%2BSteffan%252C%2BM.%2BFaizi.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-g5OP_98-dLA/TiDsYWO_HyI/AAAAAAAAAeQ/YKTN162_d2g/s320/Martin%2BJankowski%252C%2BBirgit%2BSteffan%252C%2BM.%2BFaizi.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629759437242572578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-7KCSYlK1QIc/TiDtVOSdAoI/AAAAAAAAAe4/_aKySbtt1s4/s1600/Peter%2BSternagel%252C%2BSosiawan%2BLeak%252C%2BSindy%2BHerrmann%2Bdan%2BMaren%2BWilger%2B%2528memamerkan%2Bbuku-buku%2Bpuisi%2B%2BM.%2BFaizi%2529%252C%2Bdan%2BJohannes%2BBunn.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-7KCSYlK1QIc/TiDtVOSdAoI/AAAAAAAAAe4/_aKySbtt1s4/s320/Peter%2BSternagel%252C%2BSosiawan%2BLeak%252C%2BSindy%2BHerrmann%2Bdan%2BMaren%2BWilger%2B%2528memamerkan%2Bbuku-buku%2Bpuisi%2B%2BM.%2BFaizi%2529%252C%2Bdan%2BJohannes%2BBunn.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629760483081650818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-P-tNwvrXbTA/TiDtVHoQhGI/AAAAAAAAAew/88MgrjKDdMQ/s1600/M.%2BFaizi%2Bdan%2BPeter%2BSternagel%252C%2BHumboldt.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 242px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-P-tNwvrXbTA/TiDtVHoQhGI/AAAAAAAAAew/88MgrjKDdMQ/s320/M.%2BFaizi%2Bdan%2BPeter%2BSternagel%252C%2BHumboldt.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629760481294058594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-fS6T_1A3IU8/TiDtU6_TXfI/AAAAAAAAAeo/hK-TKDrtOfc/s1600/workshop%2Bsastra%2Bdi%2BUniversitat%2BHumboldt.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 242px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-fS6T_1A3IU8/TiDtU6_TXfI/AAAAAAAAAeo/hK-TKDrtOfc/s320/workshop%2Bsastra%2Bdi%2BUniversitat%2BHumboldt.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629760477901053426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-eEWW9p2pYqg/TiDsYpcQLqI/AAAAAAAAAeg/_u34ZuSCXpQ/s1600/Martin%2BJankowsi%2Bmembacakan%2Bpuisi%2BM.%2BFaizi%2Bdalam%2Bbahsa%2BJerman.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-eEWW9p2pYqg/TiDsYpcQLqI/AAAAAAAAAeg/_u34ZuSCXpQ/s320/Martin%2BJankowsi%2Bmembacakan%2Bpuisi%2BM.%2BFaizi%2Bdalam%2Bbahsa%2BJerman.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629759442398490274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-fRj9SE-58pA/TiDzbWe15eI/AAAAAAAAAgA/2AiJpE4UfD4/s1600/baca%2Bpuisi%2Bdi%2BBerlin%2BCarr%25C3%25A9%2BArtroom.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 225px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-fRj9SE-58pA/TiDzbWe15eI/AAAAAAAAAgA/2AiJpE4UfD4/s320/baca%2Bpuisi%2Bdi%2BBerlin%2BCarr%25C3%25A9%2BArtroom.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629767185430078946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-WDag_ZB-xsI/TiDzbhn6C7I/AAAAAAAAAgI/-qLq0zu_Rh8/s1600/baca%2Bpuisi%2Bdi%2BBerlin%2BCarr%25C3%25A9%2BArtroom%252C%2BAlexanderplatz.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-WDag_ZB-xsI/TiDzbhn6C7I/AAAAAAAAAgI/-qLq0zu_Rh8/s320/baca%2Bpuisi%2Bdi%2BBerlin%2BCarr%25C3%25A9%2BArtroom%252C%2BAlexanderplatz.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629767188420889522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-oh76FrvA45g/TiEIiiG2o_I/AAAAAAAAAgY/uUTT2vzZiis/s1600/di%2Btempat%2BGoethe%2Bmenulis%2Bpuisi%252C%2BLiepzig.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-oh76FrvA45g/TiEIiiG2o_I/AAAAAAAAAgY/uUTT2vzZiis/s320/di%2Btempat%2BGoethe%2Bmenulis%2Bpuisi%252C%2BLiepzig.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629790398553957362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto terakhir ini bukan dalam rangka festival, ini adalah foto saya di sebuah tempat di Liepziq, sejenis kafe, tempat Johann Wofgang Goethe menulis puisi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-896245347459036781?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/896245347459036781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/07/jakarta-berlin-arts-festival.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/896245347459036781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/896245347459036781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/07/jakarta-berlin-arts-festival.html' title='Jakarta Berlin Arts Festival'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-N-g11BuvQ5k/TiDsYMVWtGI/AAAAAAAAAeI/9qiYt9l3wqY/s72-c/Baca%2BPuisi%2Bdi%2BKBRI%2BJerman.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-8713502252446498724</id><published>2011-07-08T09:27:00.006+07:00</published><updated>2011-07-08T09:55:13.457+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta Berlin Arts Festival'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='old poems'/><title type='text'>Other Old Poems: Translated by Shally Novita</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;br /&gt;NAMA BAGI RUANG, KATA BAGI WAKTU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liburan Dimulai Hari Ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Madrid ke Praha&lt;br /&gt;dari Berlin hingga Venezia&lt;br /&gt;tak kautemukan tempat bermain anak&lt;br /&gt;yang pengetahuannya tentang tempat itu&lt;br /&gt;adalah bertanya&lt;br /&gt;tapi engkau telah menyimpan jawaban:&lt;br /&gt;bahwa liburan adalah kata&lt;br /&gt;untuk memberi nama sebuah ruang&lt;br /&gt;yang segera ditingggalkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini, liburan dimulai, Bu!”&lt;br /&gt;maka hari-hari yang terlewat&lt;br /&gt;berkejaran menuju masa lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal Tak Lagi Berlayar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya engkau paham&lt;br /&gt;jarak bukanlah nama bagi ruang&lt;br /&gt;melainkan kata bagi waktu&lt;br /&gt;yang menemukan makna di perjalanan&lt;br /&gt;bukan pada dermaga yang dituju&lt;br /&gt;karena itu tidak akan pernah kaujumpai&lt;br /&gt;seorang nahkoda yang melipat layar&lt;br /&gt;pada saat kapal telah bersandar&lt;br /&gt;karena ia hanya punya satu tujuan:&lt;br /&gt;mengangkutmu ke mana pun pergi&lt;br /&gt;dan menghantarkanmu pulang kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Kereta Telah Bergerak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kauhabiskan akhir malammu&lt;br /&gt;dengan Antonio’s Song dan My Way&lt;br /&gt;engkau tiba di stasiun pagi sekali&lt;br /&gt;ketika rel-rel baja yang belum memuai itu&lt;br /&gt;bergetar oleh degup jantungmu&lt;br /&gt;seiring lokomotif yang datang tanpa peluit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiket habis, demikian tertulis di loket&lt;br /&gt;ruangan itu tak menyediakan nama&lt;br /&gt;bagi peron yang ditinggal kosong&lt;br /&gt;yang ada hanyalah gerbong-gerbong&lt;br /&gt;bagi mereka yang hendak berangkat kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10/7/2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;NAME FOR SPACE, WORDS FOR TIME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Vacation Starts Today:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;From Madrid to Prague&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;from Berlin to Venice&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;you do not find children's playground&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;whose knowledge of the place&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;was asking&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;but you have saved your answers:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;vacation is a word&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;for calling a space&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;that immediately leaved&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Today, the holiday begins, Mom!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;then the days that be missed&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;chasing each other towards the past&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ships sailed no more:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Surely you understand&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;distance is not the name for the space&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;but the word for the time&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;who finds a meaning in the journey&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;not on the dock designated&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;because of that, you will never meet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;a captain who folds the sail&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;when the ship is leaning&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;because he has only one goal:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;taking you along to anywhere&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;and returned you back&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And Train moves:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;After you spend your evening&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;with Antonio's Song and My Way&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;you arrive at the station early&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;when the steel rails that have not expanded yet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;vibrate by a pounding of your heart&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;as locomotive that arrived without  whistle&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tickets sold out, so written in the booth&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the room was not providing names&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;for the platform that was left empty&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;there are only compartements&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;for those who want to go to work&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERNIKAHAN-PUISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menikahimu:&lt;br /&gt;untuk membuktikan keteguhan hati&lt;br /&gt;memilih belahan jiwa&lt;br /&gt;sebagaimana janji puisi&lt;br /&gt;pada kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25/11/2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;WEDDING-POEM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I married you:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;to prove determination&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;choose soul mates&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;as promise of the poem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;to the words&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;SAIPIANGIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saipiangin,&lt;br /&gt;ringankan tubuh&lt;br /&gt;akulah angin&lt;br /&gt;di mata badai&lt;br /&gt;jangan kaukejar&lt;br /&gt;kakiku seribu&lt;br /&gt;menderu tak bersiru&lt;br /&gt;jangan rintangi&lt;br /&gt;tak ada kata henti&lt;br /&gt;dalam lariku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3/06/2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;SAIPIANGIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saipiangin,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lightens body&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I am the wind&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;in the eye of storm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;don’t pursue me&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I have thousands of feet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;roaring not splatting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;don’t border me&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;there is no stop&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;in my running&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUANG-WAKTU: SEBUAH INTERVAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kafe, 00:13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis berwajah oval&lt;br /&gt;bukan Latin, bukan Meksiko&lt;br /&gt;suka R’NB, benci Flamenco&lt;br /&gt;menghirup tembakau virginia&lt;br /&gt;dalam-dalam&lt;br /&gt;sementara alunan saksofon&lt;br /&gt;sayup-sayup mendayu, sexy…&lt;br /&gt;membuatnya semakin sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kafe yang sepi pengunjung itu&lt;br /&gt;seperti hatinya&lt;br /&gt;dini hari selalu saja mendahului jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Rumah, 02:27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan telah reda, udara lembab basah&lt;br /&gt;serangga muncul menghirup sampah&lt;br /&gt;mencari uap tanah&lt;br /&gt;sebelum panas katulistiwa merebutnya&lt;br /&gt;semua peristiwa&lt;br /&gt;yang tersekap di gigil tubuh&lt;br /&gt;mendesah bersama keluh,&lt;br /&gt;“Hanya pada-Mu aku telanjang&lt;br /&gt;tapi tidak pada manusia&lt;br /&gt;yang mengiraku terlelap dalam dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Luar Keduanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu, sosok lain&lt;br /&gt;dua dunia, dialogis&lt;br /&gt;metafora, teks jamak&lt;br /&gt;pengemis yang loba&lt;br /&gt;punya pilihan belajar puasa;&lt;br /&gt;membenci apa yang dicinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;SPACE-TIME: AN INTERVAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;At the Cafe, 00:13&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oval-faced girl&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;neither Latin, nor Mexico&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;loves R'NB, hates Flamenco&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;deep inhaling a Virginian tobacco&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;while the strains of saxophone&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;grumbling faint, sexy ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;made her more lonely&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;In a cafe without visitors&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;such her heart&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;early days always precede time&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;At Home, 02:27&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The rain has subsided, moist and wet air &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;insects appear inhaling garbage&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;looking for vapor of soil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;before the hot equator takes it&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;all events&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;are locked in a shivering body&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sigh and sigh,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Only in front of Thee I am naked&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;but not to humans&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;which thought I sleep in the world"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Outside Both café and home&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The man, another figure&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;two worlds, dialogue&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;metaphors, plural text&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;a greedy beggar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;have a choice to learn fast;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;to hate what is beloved &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAYI YANG KE-200 JUTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang ke-200 juta telah lahir&lt;br /&gt;Haryono Suyono  tampak berdebar&lt;br /&gt;di dalam teve saat mengabarkan&lt;br /&gt;peristiwa agung ini&lt;br /&gt;kepada seluruh rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari alam azali,&lt;br /&gt;bayi yang ke¬200 juta&lt;br /&gt;membawa secarik kertas yang bercerita&lt;br /&gt;tentang harga pupuk, beras, semen&lt;br /&gt;yang terus melonjak&lt;br /&gt;juga berbagai kerusuhan yang terjadi&lt;br /&gt;membawa petaka di zamannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang ke¬200 juta telah lahir&lt;br /&gt;di antara pesta demokrasi&lt;br /&gt;dalam warna¬warna bendera&lt;br /&gt;dan peristiwa¬peristiwa berdarah&lt;br /&gt;untuk pembangunan yang diagung-agungkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang ke¬200 juta telah lahir&lt;br /&gt;ia menangis untuk Indonesia&lt;br /&gt;karena dalam kesuciannya&lt;br /&gt;sudah menanggung beban hutang negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6/2/1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;THE 200 MILLIONth BABY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The 200 millionth baby has been born&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Haryono Suyono seemed pounding&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;at the TV while preaching&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;this great event&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;to all people&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;From the eternal nature,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the 200 millionth baby&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;brings a piece of paper that describes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;about the price of fertilizer, rice, cement&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;which continue to soar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;also various riots that occurred&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bringing up disastrous in this day&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The 200 millionth baby has been born&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;among democracy party&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;in the colors of flag&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;and bloody incidents&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;for the glory of development &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The 200 millionth baby has been born&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;he cried for Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;because of in his purity&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;has borne the burden of national debt&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CERITA KELUARGA KAMI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, pada zaman dahulu kala&lt;br /&gt;kami hidup terhomat, kaya raya&lt;br /&gt;lalu malapetaka menimpa kami&lt;br /&gt;dari judi ke judi, bertaruh harga diri&lt;br /&gt;bangkrut menuntut kami buka usaha&lt;br /&gt;menjual diri ke negeri manca&lt;br /&gt;dan seperti kebanyakan cerita&lt;br /&gt;kami berhasil; happy ending&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga kami suka menulis kisah&lt;br /&gt;tentang bencana yang datang&lt;br /&gt;waktu kami berfoya-foya&lt;br /&gt;rentenir meminta laba, bankir menagih bunga&lt;br /&gt;menjelaskan detik berlipat usia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bertahun-tahun lamanya&lt;br /&gt;dituakan kolonialisme dan hutang&lt;br /&gt;lalu kami gubah sebuah roman&lt;br /&gt;untuk anak cucu di masa mendatang;&lt;br /&gt;‘pada akhirnya,&lt;br /&gt;mereka hidup berbahagia&lt;br /&gt;untuk selama-lamanya’&lt;br /&gt;begitulah penutup cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa tua yang berbahagia&lt;br /&gt;anak cucu kami menyusun cerita&lt;br /&gt;tentang dua hobi keluarga kami&lt;br /&gt;yang tak sempat ditulis sebelumnya;&lt;br /&gt;menulis dan berhutang&lt;br /&gt;tapi tak suka membaca dan membayar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8/2/2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;OUR FAMILY STORY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Once, in ancient times&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;we were honorable, wealthy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;then disaster struck us&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;from gambling to gambling, betting on self-esteem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;default demands us to open a business&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sell ourselves to foreign country&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;and like some stories&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;we succeeded; happy ending&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Our family loves to write stories&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;of a coming disaster&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;when we spree&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;moneylenders ask earnings, bankers collect interest&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;explain time pleated age&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Over many years&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;getting old by colonialism and debt&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;then we composed a romance&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;for children and grandchildren in the future;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;'in the end,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;they live happily ever after '&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;that's the cover story&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;In the happy old age&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Our grandchildren compose stories&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;about two of our family hobbies&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;that were not previously written;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;writing and owe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;but do not like to read and pay&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAAT AKU MENJADI RABAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah seorang lelaki gimbal&lt;br /&gt;yang menari hingga trans&lt;br /&gt;dalam notasi yang berkeluk&lt;br /&gt;di antara nada&lt;br /&gt;yang tergunting dalam lipatan&lt;br /&gt;yang tak lengkap dalam ketukan&lt;br /&gt;saat trumpet mengalun cerewet&lt;br /&gt;ketika snare dipukul kencang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah saat aku menjadi rabat&lt;br /&gt;jalan tengah idealisme dan pasar&lt;br /&gt;lalu larut dalam harmoni&lt;br /&gt;di antara arus balik kakofoni&lt;br /&gt;saat-saat kutemukan orisinalitas:&lt;br /&gt;adzan di surau, choir di katedral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara mimpi buruk pembajakan&lt;br /&gt;seniman berkarya mencari sesuap makan&lt;br /&gt;di saat yang lain disebut virtuoso&lt;br /&gt;yang lain dihujat karena karya jiplakan&lt;br /&gt;lebih aneh lagi nasib para musisi&lt;br /&gt;yang populer karena akor lugu&lt;br /&gt;boleh idealis tetapi dijamin tak laku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kisah para seniman&lt;br /&gt;yang pernah singgah&lt;br /&gt;di warung kopi dunia yang ramai&lt;br /&gt;menggosip semalam suntuk&lt;br /&gt;bahkan ada yang bertukar teori&lt;br /&gt;bagaimana cara menjiplak&lt;br /&gt;tetapi para penggemar tetap tak tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, maka layaklah bila aku ragu&lt;br /&gt;barangkali sejarah sebenarnya tak ada&lt;br /&gt;kecuali cerita yang tak henti diulang-ulang&lt;br /&gt;dalam lain bentuk dan lain nama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;04/3/2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;WHEN I AM BEING A RABAT (DISCOUNT)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I am a dreadlocks man&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;who danced to tranced&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;in the gnarled notation  between tones&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;which cut in folds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;incomplete in a rap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;when trumpet sound fussy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;when snare was hit hard&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;That's when I became a discount&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;middle path of idealism and the market&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;then dissolved in harmony&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;between backflow of cacophony&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I found an originality:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;call to prayer from mosque, choir in the cathedral &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Among nightmares of piracy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;artist working for something to eat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;when some people called a virtuoso&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;others cursed because of plagiarism&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;more bizarre is the fate of the musicians&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;popular because the innocent chord&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;may be idealistic but are not sell well&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;That is the story of the artists&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;who never stopped&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;in the world crowded coffee shop&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;gossiping all night long&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;some even exchange theories&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;how to cheat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;but the fans still do not know&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Therefore, it's worth when I doubt&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;perhaps there is no real history&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;except that a repeated story &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;in other forms and other names&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PETAK UMPAT&lt;br /&gt;—untuk Dr. Faruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faruk dan aku bermain kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada teks aku sembunyi&lt;br /&gt;ia mencariku dengan teori&lt;br /&gt;aku muncul sebagai bukan&lt;br /&gt;untuk mengelabuhi adalah-nya&lt;br /&gt;tapi ia menemukanku&lt;br /&gt;setelah membalik arah jalan pikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faruk dan aku bermain kata&lt;br /&gt;kami dipermainkan kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4/3/2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;HIDE AND SEEK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-for Dr. Faruk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Faruk and I play words&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;In the text I hide&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;he was looking for me with some theories&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I appeared as a non&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;for his tricking ‘is to be’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;but he found me&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;after turn over the direction of thought&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Faruk and I play words&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;we are tricked by words&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-8713502252446498724?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/8713502252446498724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/07/other-old-poems-translated-by-shally.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/8713502252446498724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/8713502252446498724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/07/other-old-poems-translated-by-shally.html' title='Other Old Poems: Translated by Shally Novita'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-3868307823016692927</id><published>2011-06-06T03:10:00.011+07:00</published><updated>2011-11-12T21:41:58.336+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ulasan puisi'/><title type='text'>Permaisuri Malamku (Ulasan Puisi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-fDTpLMnl8os/TevjuA9j6GI/AAAAAAAAAa8/1bqBcx2kCQE/s1600/Permaisuri%2BMalamku%2B-%2BM.%2BFaizi%2BPamflet.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 243px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-fDTpLMnl8os/TevjuA9j6GI/AAAAAAAAAa8/1bqBcx2kCQE/s320/Permaisuri%2BMalamku%2B-%2BM.%2BFaizi%2BPamflet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614831740119148642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah. telah terbit buku puisi saya yang keempat, "Permaisuri Malamku" (diva Press, Mei, 2011). Buku ini merupakan hasil karya puisi selama kurang lebih 4 tahun. Puisi-puisi dalam buku ini bersifat tematik, yakni merupakan hasil kerja mengamati pemandangan langit malam Lihatlah, bintang-bintang yang berdenyar, mengubit, berkelap-kelip, tampak begitu indah seperti miliaran lampu yang menakjubkan. Mereka membutuhkan ratusan tahun cahaya untuk akhirnya tiba di dalam bola mata. Betapa jauh mereka berada. Betapa lama mereka menempuh perjalanannya, jarak yang sulit dibayangkan oleh satuan yang biasa ditempuh oleh manusia. Dan saya berusaha mengungkapkan ketakjuban itu dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tautan-tautan artikel yang membahas buku puisi ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/malam-kyai-m-faizi-ketakjuban.html"&gt;"Malam (Kyai) M. Faizi: Ketakjuban Astronomis (dan Astrologis?) Dalam Puisi&lt;/a&gt;" oleh Akhmad Nurhadi Moekri&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/mfaizi-pemburu-malam-yang-meninggalkan.html"&gt;"M.Faizi, “Pemburu Malam” yang Meninggalkan Local Color",&lt;/a&gt; oleh Drs. Joko Supriyono, M.Pd.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/tinjauan-astrofisika-terhadap.html"&gt;"Tinjauan Astrofisika Terhadap Permaisuri Malamku"&lt;/a&gt; oleh Muhammad Ali Fakih&lt;/li&gt;&lt;li&gt;"&lt;a href="http://m-faizi.blogspot.com/2011/11/permaisuri-sang-kiai.html"&gt;Permaisuri Sang Kiai&lt;/a&gt;" oleh Malkan Junaidi&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6772725323601977866&amp;amp;postID=98132784744724511#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-3868307823016692927?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/3868307823016692927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/permaisuri-malamku.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3868307823016692927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3868307823016692927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/permaisuri-malamku.html' title='Permaisuri Malamku (Ulasan Puisi)'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-fDTpLMnl8os/TevjuA9j6GI/AAAAAAAAAa8/1bqBcx2kCQE/s72-c/Permaisuri%2BMalamku%2B-%2BM.%2BFaizi%2BPamflet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-98132784744724511</id><published>2011-06-06T03:00:00.001+07:00</published><updated>2011-11-12T14:41:43.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ulasan puisi'/><title type='text'>Tinjauan Astrofisika Terhadap Permaisuri Malamku</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oleh: Muhammad Ali Fakih&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6772725323601977866&amp;amp;postID=98132784744724511#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;" lang="SV"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bahasa universal Astrofisika adalah gelombang elektromagnetik (EM) di mana cahaya hanya bagian di dalamnya, termasuk juga sinar-X, sinar ultraviolet, sinar infra merah, gelombang radio dan lain-lain. Semua benda langit mengisahkan dirinya kepada manusia lewat gelombang EM ini. Sementara, fisika dan matematika jadi juru bicaranya. Kita mengetahui objek-objek langit sepanjang objek-objek itu memancarkan gelombang EM. Objek langit yang panas seperti tumbukan materi dalam nebula atau Lubang Hitam (Black Hole) berkisah lewat pancaran sinar-X, embrio bintang (protostar) berkisah lewat sinar infra merah dan gelombang radio, sementara galaksi-galaksi berkisah lewat cahayanya yang bergeser ke arah merah (red shift).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain objek yang memancarkan sinar sangat pelik untuk sekedar berkisah sedikit tentang dirinya kepada kita. Misalnya materi gelap (dark matter). Materi gelap diduga adalah kumpulan dari lubang hitam yang karena saking kedap dan kuatnya gravitas yang dimilikinya, dark matter dapat memakan bintang-bintang yang ada di sekelilingnya. Seandainya ia tak memakan bintang-bintang itu, kita tidak akan pernah tahu sama sekali tentangnya. Setelah dilakukan penelitian, ternyata, objek-objek yang memancarkan cahaya hanya (baryonik) 4% materinya yang kita kenali, sementara sisanya adalah objek-objek non-baryonik yang meliputi 23% materi gelap dan 73% adalah energi gelap.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dipilihnya Astrofisika sebagai tinjauan terhadap buku kumpulan puisi M. Faizi &lt;i&gt;Permaisuri Malamku &lt;/i&gt;(Diva Press, Mei 2011) ini bukan tanpa alasan. Dalam antologi puisinya ini M. Faizi merenungi banyak hal tentang”langit”, termasuk juga renungan-renungan kecil perangkatnya (fisika dan matematika). Terhadap fenomena ”langit” antara Penyair dan Astrofisikawan berada dalam posisi yang sama dengan – tentu – cara tangkap yang beda. Bila Penyair menangkapnya dengan perasaan, Astrofisikawan dengan pikiran. Perasaan dan pikiran, barangkali, dua hal yang antipodal yang hanya bisa dipertemukan oleh apa yang disebut sebagai ”imajinasi”. Baik Penyair maupun Astrofisikawan ”mereduksi” realitas ”langit” dengan imajinasinya – apa yang ditangkap oleh kita terhadap sesuatu sangat mungkin tidaklah sama dengan sesuatu itu sesungguhnya. Yang membedakan dua sosok ini adalah cara ungkapnya. Jika Penyair mengungkapkannya lewat bahasa puitis, Astrofisikawan lewat bahasa fisis dan matematis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Alam Raya dan Kosmologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada sajak &lt;i&gt;Surat Cinta untuk Malam, &lt;/i&gt;bait kedua, M. Faizi menulis:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya berdiri di bawah kubah langit&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara di &lt;i&gt;Pleiades Menjengkal &lt;/i&gt;bait ketiga:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di bawah kubah besar ini&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan menyatakan &lt;i&gt;langit&lt;/i&gt; seperti sebuah &lt;i&gt;kubah&lt;/i&gt; (boleh kubah masjid atau kubah katedral) Penyair – jika ini benar – mengandaikan alam semesta seperti sebuah bola dan kita hidup di dalamnya. Jika kita berada tepat di tengah-tengah dalam bola tersebut, ketika memandang ke atas, langit tentu berbentuk seperti kubah. Jika betul demikian, maka M. Faizi secara tidak sadar sedang berusaha mengikuti tesis kaum Astrofisikawan modern yang menyatakan bahwa ruang alam semesta berhingga, sebagaimana juga ruang bola yang berhingga: ada ruang di dalam dan ada juga ruang di luar. Oleh Astrofisikawan lainnya, diajukanlah sebuah pertanyaan filosofis dan pelik, jika ruang alam semesta berbatas, lalu apa di luar batas itu? Adakah ruang lain di luar ruang alam semesta kita? Jika ada, ruang apa itu dan bagaimana sifat-sifat fisisnya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada tahun 1922, ahli fisika Rusia, Alexander Friedman, memecahkan persamaan medan gravitasi yang diciptakan oleh Albert Einstein pada 1916, yakni Teori Relativitas Umum (TRU). Rumusan yang kini dikenal sebagai Model Jagad Raya Friedman itu menunjukkan bahwa struktur alam semesta tidaklah statis dan bahwa impuls kecil pun mungkin cukup untuk menyebabkan struktur keseluruhan alam semesta mengembang atau mengerut. Berdasarkan rumusan ini, Astrofisikawan Belgia, George Lemaitre, menyatakan bahwa alam semesta mempunyai permulaan, dari satu titik tak berdimensi (singularitas), mengembang sampai ke entah. Dan pada 1929, Astronom Amerika, Edwin Hubble yang bekerja di Observatorium Mount Wilson California, membuat penemuan paling penting dalam sejarah kosmologi. Ketika mengamati sejumlah bintang melalui teleskop raksasanya, dia menemukan bahwa sinar bintang-bintang bergeser ke arah ujung merah spektrum. Menurut aturan fisika, spektrum berkas sinar yang mendekati titik observasi (bumi) cenderung ke arah ungu, sementara spektrum berkas sinar yang menjauhi titik observasi (bumi) cenderung ke arah merah. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pengamatan Hubble ini menunjukkan bahwa benda-benda angkasa semakin lama semakin menjauh dari kita (di bumi). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tidak lama kemudian, Hubble membuat penemuan penting lagi: bintang-bintang tidak hanya menjauh dari bumi, tetapi juga saling menjauh satu sama lain. Makna penemuan ini adalah bahwa alam semesta mengembang, persis seperti yang telah dirumuskan oleh Friedman dan kemudian ditafsirkan oleh Lemaitre tujuh tahun sebelumnya. Jika alam semesta semakin besar sejalan dengan waktu, jika mundur ke masa lalu berarti alam semesta semakin mengecil, mengecil, menjadi satu titik tak berdimensi sehingga volumenya nol karena tarikan gravitasinya yang sangat besar. Titik tak berdimensi itulah yang memuat seluruh isi, massa dan energi alam semesta yang kita saksikan hari ini. Ketika volume alam semesta nol, apa yang kita sebut sebagai ketiadaan segalanya, tidak boleh tidak, harus diterima. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jadi alam semesta, menurut mazhab ini, muncul dari sebuah ledakan massa luar biasa. Titik tak berdimensi itu meledak, sesuatu yang kini disebut sebagai Dentuman Besar (&lt;i&gt;big bang&lt;/i&gt;), kemudian berekspansi (mengembang) secara massif hingga saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alam semesta mengembang barangkali persis seperti balon udara yang ditiup. Pertanyaannya adalah, bila setiap yang mengembang membutuhkan ruang untuk pengembangannya, lalu ruang apa yang ditempati ruang alam semesta ini untuk mengembang? Adakah ruang di sana kehidupan? Apakah ruang di sana juga mengembang? Jika mengembang, ruang apa yang dijadikan tempat pengembangannya? Begitulah pertanyaan-pertanyaan filosofis kaum Astrofisikawan penentang teori keberhinggan alam semesta. Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin lebih menjurus ke arah mistik, tetapi ini penting dijawab. Hanya saja sayangnya, kaum fisikawan masih belum mampu menjawabnya. Mereka juga tidak mampu menjawab pertanyaan bahwa jika alam semesta berasal dari ketiadaan, bagaimana alam semesta itu kemudian ada dalam bentuk titik singularitas? Jika setiap adanya sesuatu adalah karena ada yang menciptakannya, siapa yang menciptakan alam semesta ini? Ini merupakan pertanyaan tersulit untuk dijawab oleh para fisikawan, sebab menurut mereka, Tuhan bukanlah hipotesis yang menguntungkan secara fisis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam sajak &lt;i&gt;Bagaikan Supernova&lt;/i&gt; M. Faizi menulis: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;nyawa, semisteri antariksa-kah engkau?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut ilmuwan Astrobiologi, nyawa manusia ”berasal dari antariksa”. Ceritanya begini. Pada terbentuknya tata surya awal, sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, proto-bumi (”bayi” bumi) yang masih belum diselimuti atmosfer ditumbuk oleh benda-benda antariksa seperti komet dan asteroid. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es (20% dari massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi, karena rasio deutronium/hidrogen di komet hampir sama dengan rasio deutorium/hidrogen air di bumi, yaitu sekitar 0,0002. Komet yang berdiameter 10 km mempunyai massa total sekitar 500 miliar ton, dengan 20%-nya mengandung air sekitar 100 miliar ton. Sedangkan massa total lautan saat ini sekitar 1,3 juta triliun ton, yakni kira-kira setara dengan 10 juta komet berdiameter 10 km. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara itu, radiasi matahari muda sedang melakukan tugasnya, yakni menimbulkan fenomena cuaca, pembentukan awan dan halilintar di bumi. Atmosfer bumi yang terbentuk oleh unsur pemanasan dari dalam bumi (endogen) dan pemanasan dari luar (ekstrogen) mengolah fenomena tersebut dengan baik. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kawa gas metana (CH4) dan asam amoniak (NH3) yang belum mengandung oksigen bebas, dengan bantuan halilintar, diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik (makhluk bernyawa). Senyawa organik yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di latu. Maka, asal-muasal kehidupan diduga dimulai dari laut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Senyawa-senyawa organik ini kemudian mengatur diri menjadi sel tunggal. Makhluk bersel tunggal yang ada di laut (air) adalah amoeba. Lalu makhluk-makhluk bersel banyak tercipta pula sedemikian sehingga tercipta tumbuh-tumbuhan yang karena proses fotosintasisnya sekitar 2 miliar tahun yang lalu menyebabkan atmosfer bumi mulai terisi dengan oksigen bebas yang membuat bumi &lt;i&gt;perfect &lt;/i&gt;oleh hunian makhluk hidup. Manusia diduga juga tercipta oleh sel-sel yang membentuk dan menyusun diri secara cerdas. Pertanyaannya adalah, betulkan proses ”terciptanya nyawa” demikian adanya? Wallahua’lam bisshawab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam sajak &lt;i&gt;Bagaikan Supernova&lt;/i&gt; M. Faizi juga menulis: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Supernova, supernova!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;aku memanggil, menggigil&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;karena itu yang sedikit kutahu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;yang cemerlang jelang tiada&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Supernova adalah sebuah proses akhir dari kematian bintang (termasuk juga matahari kita, sebab matahari juga termasuk bintang). Bintang bisa bersinar karena adanya reaksi fusi nuklir di intinya. Yang berfusi (bergabung) adalah unsur hidrogen (bahan bakar bintang) yang menghasilkan energi nuklir sedemikian sehingga bintang dapat bersinar. ”Sampah” dari proses fusi itu menjadi unsur helium. Pada masanya hidrogen di inti bintang akan habis menjadi helium, bintang akan mati. Akhir kehidupan bintang tergantung pada massa dan keadaan fisiknya. Ada bintang yang mengakhiri hidupnya dengan meledakkan diri, dan ini yang dinamakan fenomena supernova. Ada pula yang melepaskan materi-materinya ke angkasa, hingga akhirnya menjadi bintang katai putih. Matahari kita, menurut penelitian, tergolong bintang yang akan mengakhiri hidupnya dengan cara yang kedua. Karena supernova adalah akhir riwayat bintang, bagaimana nantinya dengan bumi bila matahari sudah mati? Apakah kala itu bumi sudah kiamat atau belum? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ruang-Waktu dan Relativitas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada sajak &lt;i&gt;Surat Cinta untuk Malam&lt;/i&gt;, M. Faizi menulis:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;kecil bukan pada wujud&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;tetapi pada mata orang yang memandang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 42.6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara pada sajak Berjalan di Malam Hari di tulis:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;wujudku pecah menjadi dua:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;diri yang diam, diri yang berjalan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam teori fisika Newtonian, ruang dan waktu dianggap sebagai dua entitas yang berbeda dan absolut. Benda yang panjangnya 1 meter, tetaplah ia satu meter, baik diamati oleh orang yang diam terhadapnya maupun yang bergerak terhadapnya. Dua jam yang menunjukkan angka yang sama (misalnya 12.00) akan tetap sama meski yang satu ada di bumi dan lainnya di bawa orang ke antariksa. Pada awal abad ke-20, dalam pengamatannya terhadap sinar kosmik yang berhasil menembus atmosfir bumi, fisikawan menemukan fenomena aneh dan tak terduga terhadap sebuah partikel yang kemudian disebut muon yang ikut bersama sinar kosmik itu. Menurut pengamat di bumi, muon meluruh di atas permukaan laut, sedangkan pada kenyataannya muon justru meluruh ketika sampai di laut. Fenomena ini tidak dapat dipecahkan melalui prinsip fisika klasik. Maka kemudian muncullah fisikawan semacam Albert Einstein dan Henri Poincare dengan menggunakan hasil kerja Henrik Lorentz untuk memecahkan paradoks ini sehingga selang beberapa tahun kemudian, muncullah prinsip fisika baru yang dinamakan Teori Relativitas Khusus (TRK). Mengenai siapa pencipta TRK menjadi perdebatan pelik di antara fisikawan. Pada tahun 1900, Poincare berhasil menemukan TRK, diajukan ke Lorentz tahun 1904 dan dipresentasikan pada 5 Juni 1905 pada pertemuan rutin Akademi Ilmu Pengetahuan Perancis. Tetapi pada 1905 dalam makalah TRK-nya Einstein tidak membubuhkan sedikit pun nama Poincare, padahal rumusannya persis sama dengan rumusan Poincare. Entahlah, mengapa sekarang semua fisikawan menganggap penemu TRK itu adalah Einstein, padahal rumusan teoritik yang kita pakai saat ini adalah rumusan Poincare. ET. Whittaker, salah seorang matematikawan terbesar Inggris, menganggap Loretz dan Poincare sebagai penemu sejati TRK.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut TRK, panjang dan waktu tidaklah absolut, tetapi relatif, tergantung kepada pengamatnya. Menurut pengamat yang diam terhadap benda yang panjangnya 1 meter, panjang benda itu 1 meter, tetapi menurut pengamat yang bergerak relatif terhadap benda itu terlihat lebih pendek (konsep ini dinamakan kontraksi panjang). Begitu pula, jam yang dibawa oleh orang ke antariksa, jika kita menganggap kecepatan pesawatnya hampir secepat cahaya, akan terlihat lebih lambat ketimbang dengan jam yang dipegang oleh orang di bumi (konsep ini dinamakan dilatasi waktu). Ini hanya sekedar contoh bebas semata, sementara secara teoritik tidaklah segampang demikian, meskipun hasilnya akan sama. Jadi jarak pengamat terhadap alam fisis, bagi TRK, sangat mempengaruhi terhadap pemehamannya terhadap alam fisis yang diamatinya. Apakah konsep ini menyimpang dari tujuan ilmu fisika yang mensyaratkan memberi keterangan yang tunggal terhadap suatu fenomena alam fisis? Tidak. TRK telah membuktikan bahwa hukum-hukum fisika harus sama-sama dimiliki bagi semua pengamat, baik yang diam terhadap benda maupun pengamat yang bergerak relatif terhadapnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lihatlah betapa dua penggal sajak &lt;i&gt;Surat Cinta untuk Malam &lt;/i&gt;M. Faizi di atas amat sesuai dengan konsep dan prinsip TRK. Apakah M. Faizi terlebih dahulu memehami relativitas atau tidak, ini tidak penting, sebab pemahaman akan hal ini merupakan gejala alam yang hanya dapat ditangkap oleh orang-orang cerdas semacam Einstein, Poincare dan tentu juga M. Faizi. Lebih lanjut, menurut TRK, pernyataan ´saya pergi ke sekolah´dengan ´sekolah pergi ke saya´atau ´bumi bergerak mengelilingi matahari´dengan ´matahari bergerak mengelilingi bumi´adalah setara. Kedua pernyataan ini mengandung arti yang sama. Bagi orang di bumi, dia akan menganggap matahari bergerak mengelilingi bumi, sementara bagi orang di matahari, dia akan menganggap bumi bergerak mengelilingi matahari. Tetapi kalau kita lebih mendukung Copernicus dengan Heliosentrinya yang kemudian dikonvensi oleh Newton berarti kita mengasumsikan gerak yang mutlak (ruang dan waktu absolut), yang tentunya hanya sebuah fiksi bagi Einstein ataupun Poincare. Hanya saja dalam ilmu astronomi, lebih mudah apabila kita menganggap mataharinya yang diam daripada kalau kita menganggap buminya yang diam, persis sebagaimana sebuah perhitungan menjadi lebih mudah kalau menggunakan bilangan desimal. Semua gerak itu relatif, dan semata-mata merupakan masalah konvensi untuk menganggap benda itu sebagai yang diam ataupun bergerak. Lihatlah bagaimana M. Faizi menampilkan konsep filosofis ini dalam dua larik puisi &lt;i&gt;Berjalan di Malam Hari &lt;/i&gt;di atas. Hal yang nampak menggelitik ditampilkan oleh M. Faizi dalam sajak &lt;i&gt;Mertajasa&lt;/i&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam hukum ruang-waktu, kami di sisimu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;tanpa benar-benar tahu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;karena dekat dan jauh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;menyatu, menjadi satu, dalam rahasiamu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagi saya, puisi ini bersifat metafisik. Tetapi marilah kita bawa ke dalam dunia fisik, meski barangkali apa yang dimaksud hukum ruang-waktu oleh M. Faizi dalam puisi ini tidak benar-benar berpijak pada konsep ruang-waktu fisikal. Pertanyaannya, mengapa M. Faizi menggunakan diksi ´ruang-waktu´, bukan ´ruang dan waktu´? Bagi kaum fisikawan, diksi tersebut menimbulkan problem dan implikasi filosofis . ´Ruang-waktu´ cocok dengan fisika modern, sedangkan ´ruang dan waktu´ cocok dengan fisika klasik. TRK sendiri pada dasarnya adalah sebuah revolusi pemikiran tentang ruang-waktu. Pada fisika klasik, baik ruang maupun waktu dianggap entitas yang berbeda dan memiliki spesifikasi fisik yang cocok dengan common sense. Misalkan kita ingin mengatakan di mana dan kapan suatu peristiwa terjadi - misalnya pesawat terbakar - maka harus menyebut empat besaran: garis lintang, garis bujur, ketinggian di atas bumi, dan waktu. Menurut pandangan tradisional, tiga besaran pertama (disebut coordinat Cartesian, sesuai dengan penemunya Rene Descartes) menunjukkan posisi di dalam ruang, sedangkan besaran keempat menunjukkan posisi di dalam waktu. Fisikawan klasik lebih banyak mempersoalkan metode untuk mengukur posisi dalam ruang, sementara mereka menganggap waktu bersifat absolut, universal, tak terpengaruhi oleh pengamat. Jadi, jika pesawat itu terbakar pukul 12.00, maka baik oleh pengamat di bumi maupun pengamat yang ada di bintang Sirius sama saja, yakni pukul 12.00. Sehingga karenanya tidak ada alasan bagi fisikawan klasik mengotak-atik konvensi waktu ini. Metode untuk menetapkan posisi dalam ruang dan metode untuk menetapkan posisi dalam waktu sepenuhnya dapat dilakukan secara terpisah satu sama lain. Karena alasan inilah, konsepnya disebut `ruang dan waktu´. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara bagi fisikawan relativistik, hal itu harus ditolak, karena bagi dua pengamat - yang diam terhadap benda dan yang bergerak relatif terhadapnya - suatu peristiwa memiliki pengukuran yang berbeda, baik coordinat Cartesiannya maupun waktunya. Misalnya, bagi orang di bumi, sinar matahari yang dirasakannya pada pukul 10.08 adalah sinar matahari pada saat itu. Padahal bagi orang di matahari, sinar itu dirasakannya pukul 10.00. Dari sini dianggap bahwa ruang yang satu membutuhkan pengukuran waktu yang berbeda dengan waktu pada ruang yang lain. Apabila kita mengubah cara pengukuran posisi terhadap ruang, maka kita pun juga dapat mengubah selang-waktu di antara dua peristiwanya. Oleh sebabnya, konsep fisika TRK bukanlah `ruang dan waktu`, tetapi `ruang-waktu´. Apakah yang dimaksud oleh M. Faizi dalam sajaknya &lt;i&gt;Mertajasa &lt;/i&gt;itu sesuai dengan TRK atau tidak, saya tidak tahu. Kalau &lt;i&gt;`kami´&lt;/i&gt;dalam sajak itu dianggap sebagai pengamat, sementara &lt;i&gt;’mu’ &lt;/i&gt;adalah yang diamati, larik &lt;i&gt;`dekat dan jauh/ menyatu, menjadi satu, dalam rahasiamu`&lt;/i&gt; menjadi jelas bahwa yang diamati adalah rahasia dari sebuah pengamatan. Dalam hukum ruang-waktunya M. Faizi, &lt;i&gt;`dekat dan jauh` &lt;/i&gt;bukanlah sebuah konsep fisis sedemikian sehingga &lt;i&gt;`kami` &lt;/i&gt;berada &lt;i&gt;`di sisimu`&lt;/i&gt;menjadi nyata dan &lt;i&gt;`tak benar-benar tahu`&lt;/i&gt;satu sama lain. Demikianlah sekedar penafsiran saya, selebihnya ada di pihak pembaca, dan selebihnya lagi, tentu secara agregat ada diri M. Faizi sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cahaya dan Fisika Kuantum&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada sajak &lt;i&gt;Lembar-Lembar Cahaya&lt;/i&gt;, M. Faizi menulis:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lembar-lembar cahaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;dibuka satu demi satu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;menyibak rahasia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;ke rahasia berikutnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cahaya adalah sesuatu yang karenanya kita dapat melihat, menerka dan berpikir tentang `sesuatu yang lain`. Tanpa cahaya, mungkin kita hanya tahu bahwa kita bernafas, punya tubuh yang seperti tangan, kaki dan sebagainya, dan selebihnya kita tak tahu apa-apa. Jika demikian, apakah makna hidup tanpa cahaya? Tanpa cahaya, mungkinkah kita bayangkan akan ada hidup seperti yang kita lihat sekarang? Tidak. Rahasia alam raya ke rahasia alam raya berikutnya - demikian pula alam manusia - dibuka oleh cahaya. Bahkan tanpa cahaya kita tidak akan pernah bisa hidup, karena secara biologis, berfungsinya sistem kehidupan di alam semesta ini sangat tergantung pada eksistensi cahaya. Di dalam konsep fisika optik, fungsi mata adalah menangkap cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda. Berarti tanpa cahaya, kita buta pada segala. Kira-kira prosesnya seperti ini: cahaya menumbuk benda, lalu benda meneruskan cahaya itu ke mata kita sehingga kita dapat melihat benda itu. Jika ditilik dari konsep fisika optik, bait pertama sajak M. Faizi yang berjudul &lt;i&gt;Permaisuri Malamku &lt;/i&gt;yang bertuliskan &lt;i&gt;`Kerlip mata malammu/ jumpalitan jatuh ke cahaya mukaku` &lt;/i&gt;bisa saja menjadi salah. Bukan `cahaya mukaku`yang dapat menangkap `mata malammu`, tetapi `cahaya mukaku`yang dapat ditangkap oleh `mata malammu`. Secara fisis, muka tidak pernah mengeluarkan cahaya (hal ini tentu dikecualikan dengan kejadian yang luar biasa yang terjadi pada beberapa orang, misalnya, para wali yang biasa disebut sebagai karomah). Apabila sajak tersebut bermakna lain, saya tidak tahu. Lalu dalam sajak &lt;i&gt;Bulan Kadru di Jumantara&lt;/i&gt;, M. Faizi mempertanyakan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;apakah cahaya itu materi?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dari manakah asal-muasal cahaya?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pertanyaan ini telah menjurus pada konsep Fisika Kuantum, saudara dekat TRK, yang kurang-lebih membahas tentang cahaya secara lebih teliti. Untuk pertanyaan pertama, fisikawan kuantum akan menjawabnya: ya, cahaya itu materi. Nama materi dari cahaya adalah foton (A. Einstein yang memberikan nama itu). Lebih jelasnya, cahaya adalah gelombang sekaligus materi, sehingga konsepnya sekarang dikenal sebagai dualitas gelombang-materi. Fisika klasik yang mencerminkan `kenyataan fisis`memperlakukan partikel dan gelombang sebagai komponen yang terpisah, oleh karenanya ilmu Mekanika Partikel dengan Mekanika Gelombang terbedakan. Tetapi konsep tradisional ini dilabrak oleh sederet fisikawan modern pencipta Fisika Kuantum, seperti Max Plank, A. Einstein, Erwin Schrodinger, Werner Heisenberg, Neils Bohr dan Lois de Broglie. Menurut mekanika kuantum, dalam skala mikroskopik dari atom dan molekul serta elektron dan inti secara umum atau foton secara khusus, memiliki sifat gelombang sekaligus juga sifat materi. Kita menganggap elektron memiliki muatan dan massa dan berprilaku menurut hukum Mekanika Partikel. Namun demikian, dalam banyak eksperimen didapatkan bahwa elektron memperlihatkan gejala difraksi, interferensi dan polarisasi sebagaimana juga gelombang elektromagnetik. Oleh sebab itu, kita dipaksa menafsirkan elektron yang bergerak sebagai suatu manifestasi gelombang dan berprilaku menurut hukum Mekanika Gelombang. Pada tahun 1924, dalam tesis doktornya, de Broglie berhasil menerangkan dualitas gelombang-materi benda, termasuk juga foton, sehingga karenanya pada 1929 dia mendapatkan hadiah Nobel.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk pertanyaan kedua, yakni tentang asal-usul cahaya, juga telah dijawab oleh fisikawan kuantum. Menurut teori elektromagnetik, muatan listrik (elektron) yang dipercepat akan meradiasikan gelombang elektromagnetik (cahaya tampak adalah bagian kecil dari gelombang ini). Jadi, jika elektron yang geraknya dipercepat maupun diperlambat akan menghasilkan cahaya. Gejala ini dinamakan &lt;i&gt;bremsstrahlung. &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Eksperimen efek fotolistrik oleh Einstein, Sinar-X oleh Roetgen dan efek fotolistrik-balik oleh Compton membuktikan fenomena ini. Gampangnya begini: kita tahu bahwa kabel listrik terdiri dari susunan atom. Sementara dalam struktur atom, ada inti atom yang terdiri dari proton dan neutron, serta elektron mengelilingi inti tersebut sebagaimana planet-planet mengelilingi matahari - ini disebut sebagai model atom Niels Bohr. Orbit-orbit elektron memanifestasikan energinya. Elektron yang lebih dekat dengan inti energinya lebih rendah ketimbang yang lebih jauh dari inti atom. Ketika diberikan energi potensial (misalnya kabel listrik dihubungkan dengan alat pada voltage yang tinggi), elektron pada orbit yang rendah energinya terpantul ke orbit yang lebih tinggi energinya. Dengan demikian, untuk kembali ke orbit semula, si elektron itu harus membuang energi agar sesuai dengan energi orbitnya semula itu. Pada saat pembuangan energi ini, gejala &lt;i&gt;bremsstrahlung &lt;/i&gt;terjadi. Energi yang terbuang tersebut kemudian menjelma sebagai cahaya. Maka tidak heran bila kita memberikan voltage yang tinggi terhadap kabel listrik akan muncul loncatan-loncatan cahaya. Gejala ini tidak hanya terjadi pada kabel listrik semata, tetapi juga terhadap matahari dan bintang-bintang serta segala sesuatu yang merupakan entitas penghasil cahaya. Demikianlah kira-kira cahaya berasal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ulasan di atas hanya sekedar tinjauan singkat yang lebih bersifat sembarang. Puisi kadang lebih enak dibaca ketimbang ditafsirkan atau diulas, meskipun isi dan maknanya tidak dapat dimengerti. Puisi tidak memerlukan distingsi yang alot sebagaimana ilmu Astrofisika misalnya. Tetapi terhadap fenomena ”langit” sepertinya antara Penyair dan Astrofisikawan tidaklah jauh berbeda. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;M. Faizi melukiskan hal ini dengan sangat gemulai dan genit dalam sajaknya yang bertajuk &lt;i&gt;Surat Cinta untuk Malam&lt;/i&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pendar gugus bintang semesta raya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;jika engkaulah alamat kebenaran&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;maka perkenankan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;sepanjang hidupku menjadi malam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 35.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Wallahua’lam Bisshawab.***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Krapyak Yogyakarta, 19 Mei 2011&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr size="1" align="left" width="33%"&gt;    &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6772725323601977866&amp;amp;postID=98132784744724511#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt; Dipresentasikan pada acara bedah buku kumpulan puisi M. Faizi &lt;i&gt;Permaisuri Malamku &lt;/i&gt;(Diva Press, Mei 2011) pada tanggal 21 Mei 2011 di Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6772725323601977866&amp;amp;postID=98132784744724511#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt; Mahasiswa Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2007 dan penggiat Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Sajak-sajaknya sedikit dimuat di media massa dan antologi puisi bersama &lt;i&gt;Mazhab Kutub &lt;/i&gt;(Pustaka Pujangga, 2010).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-98132784744724511?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/98132784744724511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/tinjauan-astrofisika-terhadap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/98132784744724511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/98132784744724511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/tinjauan-astrofisika-terhadap.html' title='Tinjauan Astrofisika Terhadap Permaisuri Malamku'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-2729838128805649108</id><published>2011-06-06T02:52:00.005+07:00</published><updated>2011-11-12T14:41:53.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ulasan puisi'/><title type='text'>Malam (Kyai) M. Faizi:  Ketakjuban Astronomis  (dan Astrologis?) Dalam  Puisi [1]</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Akhmad Nurhadi Moekri, mantan ketua Lesbumi NU Sumenep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kritikus tidak menulis puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bersama kata-kata, ia bersayap , terbang di dahi penyair&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tapi, langit mereka begitu sempit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ketika puisi jadi kehidupan sehari-hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Kata dan Peristiwa)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Saya senang membaca &lt;i style=""&gt;Permaisuri Malamku&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;Rumah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bersama&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;Sareyang&lt;/i&gt;, atau bahkan &lt;i style=""&gt;Delapanbelas Plus&lt;/i&gt;, walaupun judul yang saya tulis berakhir itu sebetulnya belum pernah saya baca. Saya memang senang membaca (Kyai) M. Faizi. Alasannya tentu saja banyak, tetapi alasan yang paling urgen adalah karena ketika saya membaca (Kyai) M. Faizi yang terbaca adalah (Kyai) M. Faizi, bukan D. Zawawi Imron, bukan pula Subagio Sastrowardoyo, Piek Ardijanto Soepriadi, atau Martin Jankowski, apalagi Akhmad Nurhadi Moekri, he, he. Makan kaldu terasa kaldu. Bukan makan rujak terasa &lt;i style=""&gt;hotspot&lt;/i&gt;, eh! &lt;i style=""&gt;hotdog&lt;/i&gt;! &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;‘Malam’ sebagai potensi maupun esensi, denotasi, konotasi, bahkan arti simbolik—dalam jagat puisi—sering digali Penyair. Tidak kurang dari Subagio Sastrowardojo telah melahirkan&lt;i style=""&gt;: Leiden 4/10/78&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;(Malam)&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Malam Penganten&lt;/i&gt;; Piek Ardijanto Soeprijadi telah menghadirkan: &lt;i style=""&gt;Pelabuhan Malam, Lelaki Malam, Dingin Malam; &lt;/i&gt;atau Martin Jankowski: &lt;i style=""&gt;Vollmondnacht an der Kuste van Bali&lt;/i&gt; (Malam Purnama di Pantai Bali), belum lagi dalam jagat drama dan prosa. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Namun demikian, ‘malam’ sebagai tema sentral hadir—sejauh penelitian Penulis—hanya dalam antologi &lt;i style=""&gt;Permaisuri Malamku &lt;/i&gt;oleh (Kyai) M. Faizi. Pak Kyai muda yang penyair, dan tentu saja bersarung dan berkopiah hitam tinggi. Sosok yang terlalu sederhana untuk pribadi cerdas dan unik. Sama sederhananya dengan puisi-puisinya yang arif dengan kedalaman intelektual mamadai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Kesederhanaan yang kaya. Betapa kita disuguhi kata, frasa (idiom), klausa, atau kalimat dengan standar baku. Kita perhatikah kutipan larik-larik berikut: “//Kilatan cahaya yang berpendar/ hidup dan berdenyar/...” (&lt;i style=""&gt;Surat Cinta untuk Malam&lt;/i&gt;); “//kelip mata malammu/jumpalitan jatuh ke cahaya mukaku//” (&lt;i style=""&gt;Permaisuri Malamku&lt;/i&gt;); “//Gemersik pikiran/melayang-layang/menimbuni kesadaranku,.../” (&lt;i style=""&gt;Berjalan di Malam Hari&lt;/i&gt;); “/Namaku malam/kepingan waktu yang membentuk subuh/...” (&lt;i style=""&gt;Namaku&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Malam&lt;/i&gt;); dan banyak lagi. Baris-baris tersebut menampilkan pola kalimat: S-P (Subyek-Predikat), kalimat sederhana dengan diksi sederhana pula. Tentu saja kesederhanaan yang kaya makna. Makna perjalanan spiritualitas dan kepenyairan versi (Kyai) M. Faizi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Perjalanan sampai (atau dimulai dari) pada pengamatan pemandangan langit malam dengan segala fenomena: Galaksi, massa, kecepatan cahaya, gelap, langit, sunyi, dengan segala macam fenomenanya (&lt;i style=""&gt;inherent: &lt;/i&gt;alam, manusia, Tuhan).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Betapa mempesonanya ‘malam’ sampai-sampai Penyair mengirimkan &lt;i style=""&gt;Surat&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt; Cinta untuk Malam &lt;/i&gt;yang dibuka dengan bait&lt;i style=""&gt;:”//&lt;/i&gt;Kilatan cahaya yang berpendar/redup dan berdenyar/seperti jantungku mengatup dan mekar/perkenalkan, aku bernama malam//...” (&lt;i style=""&gt;Surat Cinta untuk Malam&lt;/i&gt;). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;I don’t know&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;why&lt;/i&gt; Kadek Krishna Adidharma menerjemahkannya menjadi &lt;i style=""&gt;Love Poem to Night. &lt;/i&gt;Dalam bahasa Indonesia terdapat perbedaan yang signifikan antara &lt;i style=""&gt;peom&lt;/i&gt; ‘puisi’ dengan &lt;i style=""&gt;letter&lt;/i&gt; ‘surat’. Yang jelas keterpesonaan kepada ‘malam’ tetap mengental sepanjang puisi dalam antologi ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Pesona malam juga mengusik kesadaran Penyair—dan tentu saja menyadarkan kita—akan keterbatasan diri (dan manusia pada umumnya) terasa pada: “ .../aku menakar batas akhir kemampuanku/menjangkau sumber cahaya//” (Permaisuri Malamku); Juga : “/...aku sampai tak mampu /mencapai titik pertemuan cipta/saat gelap berjumpa cahaya//” atau: “//Supernova, Supernova/aku memanggil menggigil/karena itu yang sedikit kutahu/yang cemerlang jelang tiada//” (Bagaikan Supernova). Kemampuan pengamatan (alamiah) manusia terbatas. Demikian juga pemikiran (ilmiah), maupun perenungan (spiritualitas dan seni). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Walhasil, pesona ‘malam’ membangunkan kearifan diri, kejelian dalam melihat isi (baca: esensi, substansi, hakikat, dsb.). Penyair sampai pada: “/...ia yang cemerlang/menang tanpa pertandingan/” (&lt;i style=""&gt;Tong-Batong&lt;/i&gt;); atau: “/...di masa kini/yang terang oleh ilmu dan iman/tetapi digelapkan oleh takabur dan tipu daya//” (&lt;i style=""&gt;Sejenak ke Dulukala&lt;/i&gt;); Sikap arif &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dalam menyikapi benturan tradisi &lt;i style=""&gt;hisab &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;rukyat &lt;/i&gt;dalam penentuan awal bulan Romadhon: “/Menjelang bulan ramadhan/menghitung dan melihat/bersading di atas peterana/untuk sama-sama sepakat/setia, mencintai dan taat/dalam keadaan serba terbatas/” (&lt;i style=""&gt;Menunggu Hilal);&lt;/i&gt; Pada akhirnya sampai pada: “//Fana, fana, fana/sebab yang baka/hanyalah untuk Yang Esa//” (&lt;i style=""&gt;Rukyatul Hilal&lt;/i&gt;).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Antologi &lt;i style=""&gt;Permaisuri Malam&lt;/i&gt; memang buku kumpulan puisi, bukan astronomi apalagi astrologi. Oleh karenanya ia juga memuat sikap kepenyairan yang dianut Penyair tentang hakikat puisi: “.../penyair membalik penaka jadi nirsama/untuk puisi//...” (&lt;i style=""&gt;Ting)&lt;/i&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Penyair sebagai kreator semu dapat saja menciptakan dunia (puisi)nya sendiri, bahkan menciptakan peristiwa: “.../sebab itulah Dimyar menulis puisi/karena sebetulnya ia menciptakan peristiwa/yang hilang saat tidak dibaca/” (&lt;i style=""&gt;Kata dan&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Peristiwa&lt;/i&gt;), atau puisi adalah fakta itu sendiri: “/...di layar komputer/bintang-bintang berdenyar menjadi puisi/” (&lt;i style=""&gt;Menunggui Malam&lt;/i&gt;), hingga Penyair (ikut) memutuskan: &lt;i style=""&gt;Ancestor of Science &lt;/i&gt;adalah puisi: “//&lt;i style=""&gt;experience and imagination/poem and it’s metaphor/represent our ancestors&lt;/i&gt;/&lt;i style=""&gt;ancestor of science/”&lt;/i&gt; (&lt;i style=""&gt;Ancestor of&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Science&lt;/i&gt; ‘Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan’). Sikap kepenyairan ini juga diperlukan dalam rangka lebih memahami puisi-puisi (Kyai) M. Faizi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Sesederhana apa pun puisi (Kyai) M. Faizi, tapi ia telah mampu memperkaya khazanah wawasan puitik—juga estetik—saya (dan kita), termasuk di dalamnya kekayaan fakta, konsep, atau prosedur dalam kosa kata: mengupak, penaka, nirsama, berdenyar, abid, ampai, malim, nalam, layas, dst. Untungnya Penyair cukup berbaik hati dengan mencantumkan &lt;i style=""&gt;Sari Kata&lt;/i&gt; dalam bukunya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Demikian juga upaya menghadirkan beberapa puisinya dalam bahasa Inggris merupakan jawaban terhadap kebutuhan globalisasi yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kita hadapi saat ini. Syukur kalau antologi ini dapat terbit di luar negeri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Langit malam memang fenomenal (sama fenomenalnya dengan langit siang). Kisah Ibrahim AS mencari Tuhan lewat kajian terhadap bintang-bintang, bulan, bahkan matahari. Kisah Muhammad SAW diisrokmikrojkan pada malam hari untuk menerima kewajiban sholat. Serta kisah-kisah lain dapat menjadi sumber ilham yang tidak akan pernah kering untuk digali. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Luar biasa! Penyair—dan kita semua—hidup di bumi, planet mungil yang terselip di antara milyaran galaksi&lt;i style=""&gt;. &lt;/i&gt;Kesadaran ini digetarkan kembali oleh puisi-puisi&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;(Kyai) M. Faizi&lt;i style=""&gt;. Subhanallah wallahu akbar&lt;/i&gt;!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                                                                                                &lt;/span&gt;Sumenep, 13 Mei 2011&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr size="1" align="left" width="33%"&gt;    &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6772725323601977866&amp;amp;postID=2729838128805649108#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Calibri;font-size:10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Disampaikan pada acara Bedah Buku Permaisuri Malamku oleh M.Faizi bertempat di Aula Asy-Syarqawi Annuqayah, Sumenep, pada 18 Mei 2011.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-2729838128805649108?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/2729838128805649108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/malam-kyai-m-faizi-ketakjuban.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/2729838128805649108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/2729838128805649108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/malam-kyai-m-faizi-ketakjuban.html' title='Malam (Kyai) M. Faizi:  Ketakjuban Astronomis  (dan Astrologis?) Dalam  Puisi [1]'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-183899341611086122</id><published>2011-06-06T02:48:00.003+07:00</published><updated>2011-11-12T14:42:01.108+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ulasan puisi'/><title type='text'>M.Faizi, “Pemburu Malam” yang Meninggalkan Local Color</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;oleh &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Drs. Joko Supriyono, M.Pd.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pernyataan M. Faizi tentang kesukaannya dengan malam ditulis dalam pengantar antologi Permaisuri Malamku: “&lt;i style=""&gt;Saya sering bepergian di malam hari, naik sepeda motor ataupun menyusuri jalan setapak, berjalan kaki. Kegiatan-kegiatan ini pun akhirnya menciptakan hasrat tersendiri untuk menyalin emosi dan kedekatan saya terhadap suasana (langit) malam ke dalam puisi. Mati lampu (bukan pemadaman) secara mendadak yang sering terjadi di desa saya juga membantu melancarkan ilham, langsung dari langit malam penuh bintang” &lt;/i&gt;Malam menjadi sangat istimewa sehingga menghasilkan puisi yang judulnya berbicara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“malam” tak kurang dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;15 judul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Permaisuri Malamku, menganggap malam adalah “kekasih” yang sangat dekat, sangat dalam dan sulit diterka maknanya, butuh perjuangan untuk memahaminya, &lt;i style=""&gt;butuh perih untuk menghargai nikmat&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seorang penulis, biasanya terpengaruh oleh warna kedaerahan berupa politik, adat, budaya, dsb. M. Faizi merupakan sosok lain yang lain, &lt;i&gt;local color&lt;/i&gt; benar-benar tidak kelihatan dalam puisi-puisinya. Baik latar belakang daerah, maupun latar belakang agama yang sebenarnya sangat dominan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari. Memang ada puisi yang bersetting religius, tetapi tidak cukup kuat untuk mengatakan M. Faizi terpengaruh oleh keustadannya. Berbeda dengan penyair Madura yang sangat kondang, Abdul Hadi WM, yang warna kedaerahan (local color) nya sebagai &lt;i style=""&gt;wong pesisir &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sangat kental.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ia lebih menonjolkan kode-kode budaya yang di setiap daerah ada. Kesamaan konteks budaya Madura, dengan Jawa , serta daerah lain yang melatarbelekangi puisi, mengisyaratkan bahwa puisi-puisi dalam kumpulan puisi ini &lt;i style=""&gt;go national.&lt;/i&gt; Bisa membumi di negeri bernama Indonesia. Larik-larik puisi ini membuktikan hal itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu, ada kala seberkas cahaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;melintas tinggi di jumantara malam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;membawa curiga dalam hati&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Itu cerawat yang dibawa setan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;seseorang akan buncit perutnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;lalu meninggal dengan sengsara”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Malam, sebagaimana disebutkan dalam Alquran, menjadi saat tepat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perjalanan setan, yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kadang akan menggoda dan memperdaya, serta diperdaya manusia, orang sering menyebutnya santet. Di Kalimantan ada kepala terbang yang konon memakan bayi. Makna cerawat mungkin setara dengan teluh atau santet? Semua yang terkait dengan itu, selalu ada unsur mistiknya, yang cenderung tidak baik (setan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada puisi Lintang Kemukus di Langit Kota, saya berharap ada makna lokal mengenai Lintang Kemukus. Tetapi ternyata tidak saya dapati simbol budaya lokal pada judul ini. Maksud saya hendak saya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sejajarkan dengan makna Lintang Kemukus di Jawa, yang arah sinarnya menunjukkan daerah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang akan terkena musibah. Lintang Kemukus kelihatan sangat terang di sepertiga malam terakhir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Puisi berjudul Malam Gerhana, mengkonotasikan bahwa kejadian yang rutin itu makin meningkatkan keimanan penyair, meskipun masih ada foklore tentang &lt;i style=""&gt;Rahu &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;Randa Kasihan.&lt;/i&gt; Dalam puisi ini tampak keustadan penyair mengalahkan makna, simbul, kode budaya. Dalam foklore Jawa, Gerhana bulan terjadi karena bulan dimakan Buta Ijo, maka diminta untuk menabuh tetabuhan yang ada agar bulan segera lepas dari mulut si raksasa. Mengawinkan dunia mistik (Rahu dan Randa Kasihan) dengan keimanan seorang ustad menjadi sesuatu yang dapat mempertebal keimanannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Satu puisi yang isinya sangat sederhana, rasional, berjudul Hantu Digital. Puisi ini hendak mengisahkan bahwa dengan adanya listrik tempat yang tadinya ditengarai ada hantu menjadi hilang. Orang mengatakan hantunya takut listrik. Listrik identik dengan teknologi. Perkembangan teknologi bisa menggeser hal-hal mistik ke rasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sejak semua sudut jadi terang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hantu pun jarang diceritakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inilah catatn saya yang tentunya masih sangat dangkal, berhubung saya baca puisi-puisi ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sehabis Jumatan kemarin. Isi ulasan yang pendek ini saya harapkan bisa menimbulkan bahan diskusi. Ada beberapa catatan tentang &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Cerawat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rahu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Randa kasihan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Atau menanyakan sekitar proses kreatif penyair&lt;i style=""&gt;. Yang jelas saya menyimpulkan antologi ini bisa dijadihan bahan ajar di sekolah. Tidak ada muara politis, sara, etika. Sebaliknya, bisa membangun karakter siswa.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;-------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;*) tulisan ini disampaikan dalam diskusi buku "Permaisuri Malamku karya M. Faizi" di Rumah Buku Dunia Tera, desa Borobudur, Magelang, 22 Mei 2011.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span&gt;**) Joko Supriyono&lt;/span&gt;,&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt; pernah aktif dalam giat sastra dan budaya melalui INSANI (rubrik Sastra Budaya harian Masa Kini) , pernah menulis puisi, menulis &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;cerpen,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menulis kritik, catatan budaya, pernah jadi wartawan, pernah didaulat Ketua Komisi Sastra, Dewan Kesenian Kabupaten Magelang (akhirnya bubar sendiri), masih menjadi guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Muntilan. Alamat : Kutan, Sedayu, Muntilan, Kabupaten Magelang. CP: 081328187186&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-183899341611086122?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/183899341611086122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/mfaizi-pemburu-malam-yang-meninggalkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/183899341611086122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/183899341611086122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/mfaizi-pemburu-malam-yang-meninggalkan.html' title='M.Faizi, “Pemburu Malam” yang Meninggalkan Local Color'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-3176344521991973873</id><published>2011-06-06T02:17:00.001+07:00</published><updated>2011-06-06T02:17:45.823+07:00</updated><title type='text'>HANTU DIGITAL</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Malam singkat &lt;br /&gt;sejak listrik mengaliri kabel&lt;br /&gt;di atas plafon, di dalam tembok&lt;br /&gt;di balik saklar &lt;br /&gt;menyalakan lampu di mana-mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Listrik mengaliri hidup, memberikan hidup&lt;br /&gt;namun juga mematikan banyak nostalgia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak semua sudut jadi terang &lt;br /&gt;hantu pun jarang diceritakan&lt;br /&gt;imajinasi tumpul&lt;br /&gt;halusinasi dan teror justru muncul dari tombol,&lt;br /&gt;saklar, dan benda-benda digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10/01/2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-3176344521991973873?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/3176344521991973873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/hantu-digital.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3176344521991973873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3176344521991973873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/06/hantu-digital.html' title='HANTU DIGITAL'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-2762715662707703483</id><published>2011-01-08T15:03:00.003+07:00</published><updated>2011-06-06T02:06:52.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kosmik'/><title type='text'>Pleiades Menjengkal</title><content type='html'> &lt;br /&gt;Melihat langit&lt;br /&gt;melalui sisa genangan air hujan sore hari&lt;br /&gt;pleiades berbaris, berbanjar, di jumantara&lt;br /&gt;menjengkal di separuh lengkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak apakah yang kauukur, Pikiran?&lt;br /&gt;aku mengamati cakrawala, mencari cahaya&lt;br /&gt;terkepung di belantara malam &lt;br /&gt;lalu tampak rimbun gugus bintang&lt;br /&gt;sepertinya berjatuhan&lt;br /&gt;serlah, terang, mengerdip, berbinar-binar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah kubah besar ini&lt;br /&gt;aku mendanguk, menekur sendirian&lt;br /&gt;gelap yang mengepung titik nadir&lt;br /&gt;tak ada kekuasaan selain bertanya,&lt;br /&gt;“hingga kapankah diriku bersama malam&lt;br /&gt;hingga kelak para penggali kubur menidurkanku&lt;br /&gt;dalam guguran tanah berkalang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam musim tengkujuh&lt;br /&gt;air di sela genting dan layas yang rapuh&lt;br /&gt;di antara gelegar guntur tanpa ketukan&lt;br /&gt;aku menyusun cerita&lt;br /&gt;gugus bintang dalam puisi malam&lt;br /&gt;untuk anak-anak yang lahir di pagi hari&lt;br /&gt;dan mereka yang mati sebelum matahari tenggelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7/1/2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-2762715662707703483?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/2762715662707703483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/01/pleiades-menjengkal.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/2762715662707703483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/2762715662707703483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2011/01/pleiades-menjengkal.html' title='Pleiades Menjengkal'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-8375892303220191662</id><published>2010-10-03T13:51:00.002+07:00</published><updated>2011-06-06T02:06:11.200+07:00</updated><title type='text'>Hujan Buatan</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Basah pikirku, &lt;br /&gt;basah khayalku&lt;br /&gt;kehujanan di dalam ruang amnesiamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelegar guntur, salam pembuka langit murung&lt;br /&gt;menuntun kelupaan pada cucian di jemuran &lt;br /&gt;dua ember penuh popok&lt;br /&gt;kain pel yang berhari-hari di halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghitung rintik hujan&lt;br /&gt;lalu mengalikannya dengan degup jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basah pikirku&lt;br /&gt;basah khayalku&lt;br /&gt;aku pun keluar kamar, berhujan-hujanan&lt;br /&gt;memandikan tubuh dari masa lalu&lt;br /&gt;dan pada hujan yang menggurat kemarau&lt;br /&gt;di kening siang&lt;br /&gt;lamat-lamat kudengar tangisan musim&lt;br /&gt;untuk cuaca yang salah pada jadwal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan buatan, Amnesia&lt;br /&gt;memandikan pikiran dan khayalan&lt;br /&gt;pada jadwal yang terpaut berbulan-bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9/4/2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-8375892303220191662?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/8375892303220191662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/10/hujan-buatan.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/8375892303220191662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/8375892303220191662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/10/hujan-buatan.html' title='Hujan Buatan'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-7777730827945986306</id><published>2010-09-12T12:51:00.004+07:00</published><updated>2011-06-06T02:05:02.466+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kosmik'/><title type='text'>Malam Kedua Lebaran</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Venus di langit barat daya&lt;br /&gt;sejengkal di atas bulan sabit&lt;br /&gt;seperti buah ceri &lt;br /&gt;dijatuhkan ke mangkuk puding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelap di sekelilingnya&lt;br /&gt;dan perasaan dingin orang yang memandang&lt;br /&gt;membuat suasana Isya&lt;br /&gt;mendadak tengah malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melintas lewat&lt;br /&gt;di dekat maqbarah leluhur Sumber Anyar&lt;br /&gt;merasakan geletar aneh di dalam tanya:&lt;br /&gt;suatu saat, aku akan dimakamkan seperti mereka&lt;br /&gt;besok atau kelak, &lt;br /&gt;adakah orang yang akan mengirimku doa&lt;br /&gt;seperti langit mengirim bintang dan bulan&lt;br /&gt;di malam kedua lebaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11/09/2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-7777730827945986306?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/7777730827945986306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/09/malam-kedua-lebaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/7777730827945986306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/7777730827945986306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/09/malam-kedua-lebaran.html' title='Malam Kedua Lebaran'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-147070923293845255</id><published>2010-08-10T18:23:00.005+07:00</published><updated>2010-08-10T18:30:02.440+07:00</updated><title type='text'>Ru'yatul Hilal</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Hilal&lt;br /&gt;mengapung di antara dua kutub berketegangan&lt;br /&gt;lalu tenggelam&lt;br /&gt;di dalam satu keraguan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilal,&lt;br /&gt;bulan sabit mengiris langit&lt;br /&gt;untuk membelah jadi dua&lt;br /&gt;sekerat buat mata&lt;br /&gt;sekerat lagi untuk angka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ru’yatul hilal&lt;br /&gt;mengapung lalu tenggelam&lt;br /&gt;di dalam dua kubangan&lt;br /&gt;angka dan pandangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fana, fana, fana&lt;br /&gt;sebab yang baka&lt;br /&gt;hanyalah untuk Yang Esa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28/09/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(posting ulang dari &lt;a href="http://m-faizi.blogspot.com/2008/01/puisi-2007.html"&gt;sini&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-147070923293845255?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/147070923293845255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/08/ruyatul-hilal.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/147070923293845255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/147070923293845255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/08/ruyatul-hilal.html' title='Ru&apos;yatul Hilal'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-212760987489351841</id><published>2010-07-24T22:25:00.003+07:00</published><updated>2011-06-06T02:02:41.760+07:00</updated><title type='text'>Bintang-Bintang yang Gugup</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 102);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;Sesekali, rasanya ingin kubersihkan langit&lt;br /&gt;dari serakan bintang dan nebula&lt;br /&gt;lalu menyatukannya kembali dalam tangkup&lt;br /&gt;dan mengucurkannya di wajahmu:&lt;br /&gt;kerakal langit yang berbinar-binar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam di alamanak puluhan&lt;br /&gt;aku melihat ke atas,&lt;br /&gt;menikmati langit tanpa teropong&lt;br /&gt;di lingkup cahaya bulan keperakan&lt;br /&gt;melihat bintang-bintang yang gugup&lt;br /&gt;gugusan cahaya yang lebih kecil dari bola mata&lt;br /&gt;meskipun ia lebih besar dari imajinasiku&lt;br /&gt;juga pengetahuanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinestesia,&lt;br /&gt;demi sensasi aneh yang ingin kurasa&lt;br /&gt;sesekali aku ingin mengajakmu&lt;br /&gt;melihat bintang dan nebula&lt;br /&gt;tidak melalui indra yang semestinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11/03/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-212760987489351841?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/212760987489351841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/07/bintang-bintang-yang-gugup.html#comment-form' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/212760987489351841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/212760987489351841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/07/bintang-bintang-yang-gugup.html' title='Bintang-Bintang yang Gugup'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-2773831987847153722</id><published>2010-04-25T13:07:00.003+07:00</published><updated>2011-06-06T02:01:25.658+07:00</updated><title type='text'>Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="color: rgb(102, 102, 102);" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:#33CCCC; 	font-weight:bold;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p style="color: rgb(102, 102, 102);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Kilatan berkas cahaya di langit&lt;br /&gt;melintas rendah sehabis Maghrib&lt;br /&gt;“Seorang malim segera pergi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bukan meteor, itu bukan benda langit&lt;br /&gt;hanya cahaya yang melintas dekat&lt;br /&gt;selepas ghurub&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ada kala seberkas cahaya&lt;br /&gt;melintas tinggi di jumantara malam&lt;br /&gt;membawa curiga dalam hati&lt;br /&gt;“Itu cerawat yang dibawa setan&lt;br /&gt;seseorang akan buncit perutnya&lt;br /&gt;lalu meninggal dengan sengsara”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga bukan benda langit&lt;br /&gt;sebab, ia tak jatuh melayang ke bumi&lt;br /&gt;membuat kerusakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami belajar pada alam&lt;br /&gt;membaca tanda duaja dan perubahan&lt;br /&gt;pada angin, pada cahaya dan gelap&lt;br /&gt;pada nanar, pada mimpi dan kenyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan beranak-pinak&lt;br /&gt;dari pengalaman dan khayalan&lt;br /&gt;kami belajar melapangkan ruang penafsiran&lt;br /&gt;belakangan, sarjana-sarjana setelah kami&lt;br /&gt;mencari wahyu-wahyu ilmiah&lt;br /&gt;di laboratorium dan perpustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman dan khayalan&lt;br /&gt;puisi dan pepindannya&lt;br /&gt;merupakan leluhur kami&lt;br /&gt;nenek moyang ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25/08/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-2773831987847153722?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/2773831987847153722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/04/nenek-moyang-ilmu-pengetahuan.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/2773831987847153722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/2773831987847153722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/04/nenek-moyang-ilmu-pengetahuan.html' title='Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-7659629656925851068</id><published>2010-02-16T08:00:00.009+07:00</published><updated>2011-06-06T01:59:18.195+07:00</updated><title type='text'>Lembar-Lembar Cahaya</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.1pt 33.0cm; 	margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Lembar-lembar cahaya&lt;br /&gt;dibuka satu demi satu&lt;br /&gt;menyibak rahasia&lt;br /&gt;ke rahasia berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayang-dayang malam&lt;br /&gt;mengipasi bumi dengan hujan buatan:&lt;br /&gt;hujan bintang-bintang,&lt;br /&gt;dan serbuk cahaya bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuka lembaran&lt;br /&gt;pada halaman ke-11 almanak kamariah&lt;br /&gt;rehat sejenak, seteguk dzikrayat&lt;br /&gt;perjamuan untuk syaikh dari Jilan&lt;br /&gt;tapi harus kubuka selembar lagi&lt;br /&gt;agar tiba di tanggal lahir sang Nabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai,&lt;br /&gt;kini aku tiba di lembar cahaya itu&lt;br /&gt;saat ada bayang-bayang tak terlihat&lt;br /&gt;melintas di atas puadai bulan Maulid&lt;br /&gt;mengiringmu membacakan puisi tak sembarang puisi&lt;br /&gt;burdah-barzanji, puisi shalawat nabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shallu ‘ala Muhammad!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahumma shalli wa sallim wa barik alaih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16/2/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-7659629656925851068?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/7659629656925851068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/02/lembar-lembar-cahaya.html#comment-form' title='18 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/7659629656925851068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/7659629656925851068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/02/lembar-lembar-cahaya.html' title='Lembar-Lembar Cahaya'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-3791050332526033362</id><published>2010-01-08T23:37:00.007+07:00</published><updated>2010-04-25T22:57:17.238+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ayah'/><title type='text'>Andai Ayahku Masih Ada</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah engkau menangis untuk ayahmu?&lt;br /&gt;selagi dia di dekatmu, menangislah&lt;br /&gt;pikirkan semua amal kebajikanmu&lt;br /&gt;lalu takarlah dengan kebaikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah engkau bekerja untuk ayahmu?&lt;br /&gt;selagi dia di dekatmu, berbuatlah&lt;br /&gt;andai seluruh hidupmu kaupersembah&lt;br /&gt;belum cukup bekerja menukar upah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah engkau berpikir untuk ayahmu?&lt;br /&gt;selagi ada kesempatan, berpikirlah&lt;br /&gt;karena jika ia mendahuluimu&lt;br /&gt;engkau hanya akan diganggu pikiran itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ayahku telah tiada&lt;br /&gt;aku menangisi kepergiannya&lt;br /&gt;tapi ia tak mendengar tangisku&lt;br /&gt;karena isak dan air mataku&lt;br /&gt;hanya menggema di telingaku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menghendaki kepergiannya&lt;br /&gt;tapi maut menjemput&lt;br /&gt;memberi tahu aku laksana mimpi&lt;br /&gt;dan kepergian ayahku sebagai kesadarannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah engkau menangis untuk ayahamu?&lt;br /&gt;karena ia bekerja untuk menghidupimu dan&lt;br /&gt;engkau hidup tanpa berterima kasih padanya?&lt;br /&gt;berpikirlah, menangislah, dan bekerjalah selagi bisa&lt;br /&gt;itulah cara yang baik mencicil kebaikan&lt;br /&gt;karena sesungguhnya,&lt;br /&gt;seluruh hidupmu adalah utang&lt;br /&gt;yang tidak mungkin lunas akan terbayar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7/12/2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-3791050332526033362?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/3791050332526033362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/01/andai-ayahku-masih-ada.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3791050332526033362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3791050332526033362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2010/01/andai-ayahku-masih-ada.html' title='Andai Ayahku Masih Ada'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-3433870803512187357</id><published>2009-12-31T01:52:00.003+07:00</published><updated>2011-06-06T01:57:51.695+07:00</updated><title type='text'>Di Maqbarah Tebu Ireng</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;—من لم يحـزن بموت العـالم فهو منـافـق— &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku mencium karomah di sini&lt;br /&gt;wewangian yang tersedak&lt;br /&gt;manakala aku terlalu dalam menarik napas&lt;br /&gt;tapi terlalu menyengat&lt;br /&gt;kalau kubiar saja melintas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di maqbarah ini,&lt;br /&gt;betapa tubuh jadi kaku&lt;br /&gt;melihat senarai nama&lt;br /&gt;ulama-ulama yang berjuang membela negara&lt;br /&gt;ataupun yang gugur melawan kebodohan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri yang membaca dan menghapal Al-Quran&lt;br /&gt;para tamu, dan juga mereka yang hadir&lt;br /&gt;di luar batas mata-penglihatan&lt;br /&gt;berkumpul di sini, di maqbarah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergidik:&lt;br /&gt;adalah ilmu sebagai tanju&lt;br /&gt;merawat si empunya dari gelap waktu&lt;br /&gt;aku menakik:&lt;br /&gt;adalah istiqamah ‘ainul karomah&lt;br /&gt;kemuliaanlah bagi seisi maqbarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, serasa seseorang menepuk bahu&lt;br /&gt;saat aku meninggalkan tempat itu&lt;br /&gt;seolah melarangku pergi&lt;br /&gt;“Hendak ke mana?”&lt;br /&gt;aku tak menjawab dan terus melangkah&lt;br /&gt;ke luar areal maqbarah&lt;br /&gt;menjejak, tertunduk memandang ke bawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alangkah bahagia engkau, Tanah&lt;br /&gt;dipilih alim-ulama jadi maqbarah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23/8/2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-3433870803512187357?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/3433870803512187357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/12/di-maqbarah-tebu-ireng.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3433870803512187357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3433870803512187357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/12/di-maqbarah-tebu-ireng.html' title='Di Maqbarah Tebu Ireng'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-4286808526609652340</id><published>2009-12-28T00:53:00.007+07:00</published><updated>2011-06-06T01:56:37.399+07:00</updated><title type='text'>Mertajasa</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah engkau mendengar salamku?&lt;br /&gt;atau mencium wangi dupaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang &lt;br /&gt;menabur bunga &lt;br /&gt;menabur doa&lt;br /&gt;tanpa benar-benar tahu&lt;br /&gt;apa sesungguhnya yang terjadi di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hukum ruang-waktu, kami di sisimu&lt;br /&gt;tanpa benar-benar tahu&lt;br /&gt;karena dekat dan jauh&lt;br /&gt;menyatu, menjadi satu, dalam rahasiamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7/11/2009 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-4286808526609652340?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/4286808526609652340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/12/mertajasa.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/4286808526609652340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/4286808526609652340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/12/mertajasa.html' title='Mertajasa'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-1286120421754095797</id><published>2009-12-06T01:27:00.002+07:00</published><updated>2011-06-06T01:55:15.624+07:00</updated><title type='text'>MALAM: BERJALAN DI PEMATANG</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan saat malam&lt;br /&gt;di sempadan tanah perdikan&lt;br /&gt;menelusuri pematang demi pematang&lt;br /&gt;malam ke-16 kala itu&lt;br /&gt;purnama lebih gemilang&lt;br /&gt;daripada satu malam sebelumnya&lt;br /&gt;karena langit cerah dan terang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendongak untuk melihat&lt;br /&gt;hamparan langit yang biasa&lt;br /&gt;lalu menunduk ke dalam puisi&lt;br /&gt;takjub&lt;br /&gt;karena menulis adalah mengamati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan di pematang,&lt;br /&gt;malam-malam di bawah sinar purnama gemilang&lt;br /&gt;aku berandai: cahaya kota dipindah ke kampung&lt;br /&gt;atau desa menjadi kota karena pemekaran&lt;br /&gt;lalu kesibukan berseliweran&lt;br /&gt;siang dan malam hanya beda warna&lt;br /&gt;bukan pada jam dan jadwal kerjanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, malam!&lt;br /&gt;polusi cahaya melukai aura gelapnya&lt;br /&gt;oh, bulan!&lt;br /&gt;cantik tidak berarti harus bersinar&lt;br /&gt;malam dan purnama di pematang&lt;br /&gt;hanya indah di saat rendah cahaya,&lt;br /&gt;saat gelap dan terang&lt;br /&gt;berpadu dan bersalam sesuai kodratnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4/11/2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-1286120421754095797?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/1286120421754095797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/12/mandi-cahaya.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/1286120421754095797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/1286120421754095797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/12/mandi-cahaya.html' title='MALAM: BERJALAN DI PEMATANG'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-3622202137675186631</id><published>2009-11-16T02:00:00.002+07:00</published><updated>2009-11-16T02:03:42.336+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibu'/><title type='text'>Setelah Menjadi Ibu</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Setelah menjadi ibu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Widadah lalu pergi selamanya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Usai operasi, melahirkan dua anak kembarnya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Widadah telah pergi meninggalkan hidup&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;saat sang buah hati baru saja belajar menjalaninya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Widadah baru saja menjadi ibu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lalu ia meninggalkan hidup, tangisan, dua yatim,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;kesedihan yang berkepanjangan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Setelah menjadi ibu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Widadah lalu pergi selamanya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;usai menyerahkan napas&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;untuk kedua anak kembarnya&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Itulah ibu&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;entahlah anak&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;16/11/2009&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-3622202137675186631?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/3622202137675186631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/11/setelah-menjadi-ibu.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3622202137675186631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3622202137675186631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/11/setelah-menjadi-ibu.html' title='Setelah Menjadi Ibu'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-1605811047179149811</id><published>2009-11-01T11:04:00.003+07:00</published><updated>2011-06-06T01:52:41.322+07:00</updated><title type='text'>BAGAIKAN SUPERNOVA</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Membaringkan engkau&lt;br /&gt;di balai-balai bambu depan rumah&lt;br /&gt;di bawah rimbun pohon leci&lt;br /&gt;sebatang kara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bulan menyerlah&lt;br /&gt;sebelum tanggal 15 almanak kamariah&lt;br /&gt;datang membelah&lt;br /&gt;aku mengintip bintang-bintang&lt;br /&gt;berguguran seperti serpihan salju&lt;br /&gt;merambah bumi Asia di garis khatulistiwa&lt;br /&gt;seperti senyum makhluk bersayap&lt;br /&gt;yang entah dengan tamsil apa akan kuungkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, saat engkau pergi&lt;br /&gt;tak terlihat gugusan kabut, galaksi&lt;br /&gt;yang biasanya menghablur dalam mata telanjang&lt;br /&gt;di saat cerah pada mataku yang lamur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, manakala jasadmu telah dipendam&lt;br /&gt;diperam bersama wangi tanah berkalang&lt;br /&gt;di saat ruh pergi ke atas atau ke entah&lt;br /&gt;aku mendesah:&lt;br /&gt;nyawa, semisteri antariksa-kah engkau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supernova, supernova!&lt;br /&gt;aku memanggil, menggigil&lt;br /&gt;karena itu yang sedikit kutahu&lt;br /&gt;yang cemerlang jelang tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31/08/2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-1605811047179149811?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/1605811047179149811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/11/supernova.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/1605811047179149811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/1605811047179149811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/11/supernova.html' title='BAGAIKAN SUPERNOVA'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-5995869299906196234</id><published>2009-08-23T02:10:00.000+07:00</published><updated>2009-08-23T02:11:43.852+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Puasa Tahun Ini</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Traditional Arabic"; 	panose-1:2 1 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:178; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:24577 0 0 0 64 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	line-height:17.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	text-autospace:none; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:14.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Traditional Arabic"; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Puasa kali ini sama seperti tahun lalu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;yang membedakan hanyalah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;usia bertambah jumlah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Malam tarawih, masih seperti tahun lalu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;sholat sunnat yang terasa berat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;dan shaf-shaf berkurang di malam likuran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;malam-malam lailatul qadar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ada yang tidak berpuasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;makan-minum di tempat umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;sambil tersenyum hampir ketawa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;“puasa ‘kan hanya untuk orang tua?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Puasa untuk yang percaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;bahwa setahun penuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;telah banyak racun mengendap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;dalam sel-sel tubuh kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;bukan karena makanan kurang gizi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;ataupun minuman yang tercemar polusi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;tapi karena tak higienis di mata syariat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;sebab haram atau syubhat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;31/10/2004&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-5995869299906196234?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/5995869299906196234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/08/puasa-tahun-ini.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/5995869299906196234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/5995869299906196234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/08/puasa-tahun-ini.html' title='Puasa Tahun Ini'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-7149928681601102186</id><published>2009-08-09T02:01:00.005+07:00</published><updated>2009-08-09T02:38:56.926+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rendra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='alienasi'/><title type='text'>Mengenang Rendra</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Traditional Arabic"; 	panose-1:2 1 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:178; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:24577 0 0 0 64 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	line-height:17.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	text-autospace:none; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:14.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Traditional Arabic"; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.1pt 33.0cm; 	margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.1pt 33.0cm; 	margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kepergian si Burung Merak, WS Rendra, Kamis 6 Agustus 2009, membuat saya teringat 14 tahun yang silam, saat untuk pertama kalianya saya berjumpa dengannya dalam sebuah acara budaya. Saya, sejujurnya, tidak mengenal banyak perihal sastraawan ini, WS Rendra. Saya hanya sekali berjabat tangan dengannya, lalu mengikuti acaranya, dalam rangka peresmian Gorong-Gorong Budaya di Sawangan, Depok. Waktu itu, saya diajak oleh Mas Jadul Maula dan Mas Mathori A. Elwa menjumpai Hasif Amini dan Sitok Srengenge. Kenangan saat itu, 2 April 1995, pada saat ini, kucoba reka-reka kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sajak Seonggok Jagung”-nya WS Rendra adalah sajak pertama yang memperkenalkan saya dengan beliau. Saya sangat terkesan dengan sajak ini, meskipun sebelumnya juga pernah terbuai dengan “Rick dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Corona&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;” semasa SLTA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak ini melukiskan alienasi, potret manusia yang terasing, atau sengaja menjauh, dari lingkungannya. Saya melihat, dan bahkan turut merasakan, betapa para mahasiswa seperti saya, di kala itu, akan punya perasaan aneh campur sedih semacam “Sajak Seonggok Jagung” ini, jika direnungkan. Maka, dengan sangat mantap saya katakan, bahwa puisi tersebut kemudian membuat saya terinspirasi untuk menulis puisi “Bila Aku Pulang Nanti” berikut ini (yang dsaya tulis beberapa bulan sebelum pertemaun itu). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;BILA AKU PULANG NANTI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;—salam hormat untuk W.S. Rendra &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bila kelak aku kembali &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;setelah lulus menjadi sarjana &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;apa yang akan aku berikan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;jika anak-anak itu menyambutku &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dengan senyum polos&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;meminta bercerita tentang kota &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kampus dan mahasiswa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalau aku pulang nanti &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;apa yang akan aku berikan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;jika yang mereka pinta &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;bukan toga dan skripsi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;bukan catatan dan diktat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;yang terarsip rapi? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika aku pulang nanti &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dengan sekoper piagam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dan makalah-makalah seminar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;apa yang akan aku berikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;jika yang mereka pinta bukanlah gelar?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah aku pulang nanti &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tiba di kampung halaman &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dengan perasaan berbunga-bunga &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;apa yang mesti aku katakan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;jika telah habis &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;apa yang harus kukatakan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;jika harus belajar lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;apa yang akan dikatakan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;10/1994 &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-7149928681601102186?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/7149928681601102186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/08/mengenang-rendra.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/7149928681601102186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/7149928681601102186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/08/mengenang-rendra.html' title='Mengenang Rendra'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-3508365901386319744</id><published>2009-08-01T08:11:00.007+07:00</published><updated>2009-08-02T22:27:35.124+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pinter'/><title type='text'>Kisah Pak Madi, Budi,  dan Kancil yang Suka Mencuri Timun</title><content type='html'>Betul, lirisme telah menguasai jagad perpuisian tanah air. Tidak seorang pun yang luput dari ketetarikan untuk menulis gaya begini. Yang membedakan hanyalah kekerapan, konsistensi, kecenderungan. Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad telah melakukan penjelajahan untuk menemukan ramuan-ramuan baru, dengan cita rasa yang segar, tetapi tetap saja, aroma lirisme menguap dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirisme itu mendayu, tetapi gagah&lt;br /&gt;lirisme itu menyayat, tetapi nikmat&lt;br /&gt;saya pun turut, larut, dan juga menulis 'ala wazni lirisme, tetapi sesekali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;slengekan &lt;/span&gt;dan sembarang, meletup dan wajib pula tertuang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;KISAH PAK MADI, BUDI, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;DAN KANCIL YANG SUKA MENCURI TIMUN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kerbau Pak Madi ada tiga ekor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dari dulu, hanya tiga ekor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Budi anak Pak Madi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;masuk perguruan tinggi favorit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;seekor kerbau keluar kandang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;modal pintar ternyata cukup mahal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pak Madi membanggakan Budi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;seperti ia mengandalkan kerbaunya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ia rela membayar mahal, demi fasilitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;buat apa biaya minim &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tetapi sarana serbamiskin?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pak Madi berbahagia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Budi sukses meraih beasiswa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;lulus dan langsung bekerja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;karena sangat pintar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Budi dilamar perusahaan multinasional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kini Pak Madi buka usaha baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tandur palawija, menanam mentimun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tapi sayang, ada kancil yang selalu mencurinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pak Madi seorang diri, tak mampu menjaga taninya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sementara Budi berda di luar negeri &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sebab terlalu pintar, ia tak dapat membantu ayahnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;orang pintar selalu jadi komoditas non-migas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;karena itu, Budi lebih bangga jadi Eropa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dari pada punya KTP Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dan karena itu, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ia bahagia bersama anak-bininya di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kerbau Pak Madi tiada lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mentimun pun habis sama sekali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kancil yang cerdik dan pintar mencuri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;atau Pak Madi yang bodoh dan mudah dikibuli?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oh, pendidikanku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mencetak siswa &lt;i&gt;pinter&lt;/i&gt; seperti kancil, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;nanti &lt;i&gt;kepinteren&lt;/i&gt;, malah &lt;i&gt;meminteri&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;seharusnya, pendidikan menanamkan moral &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;karena moral adalah modal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dan kancil tidak mau mencuri moral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ia hanya suka mencuri timun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4/2/2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-3508365901386319744?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/3508365901386319744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/08/kisah-pak-madi-budi-dan-kancil-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3508365901386319744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3508365901386319744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/08/kisah-pak-madi-budi-dan-kancil-yang.html' title='Kisah Pak Madi, Budi,  dan Kancil yang Suka Mencuri Timun'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-4355071795793233041</id><published>2009-06-06T02:11:00.004+07:00</published><updated>2011-07-24T00:55:10.005+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kenangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ayah'/><title type='text'>JEMPUTAN</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;                                                         —Terminal Bis Tirtonadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, di terminal ini&lt;br /&gt;masa lalu tiba-tiba membayang&lt;br /&gt;déjà vu, dalam lirik pilu reminiscence&lt;br /&gt;suasana hangat di gagang telepon&lt;br /&gt;setiap lepas pukul 20 lewat sekian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, aku Pulang..”&lt;br /&gt;“Ya, aku jemput!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cakap kelu&lt;br /&gt;bertahun lalu&lt;br /&gt;romansa&lt;br /&gt;memorabilia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, di Terminal Tirtonadi&lt;br /&gt;selepas pukul 20 lewat sekian&lt;br /&gt;seperti pada tahun-tahun yang silam&lt;br /&gt;aku mencari, di mana letak wartel itu?&lt;br /&gt;aku ingin menelepon seseorang:&lt;br /&gt;“Yah, aku pulang&lt;br /&gt;jemput aku besok pagi..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, wartel itu tak ada&lt;br /&gt;nomer tujuan juga tiada&lt;br /&gt;seiiring pula tak kubayangkan:&lt;br /&gt;siapakah yang akan menggubit&lt;br /&gt;menyambutku pulang&lt;br /&gt;begitu kaki menjejak tanah&lt;br /&gt;di pertigaan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, aku pulang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terisak&lt;br /&gt;alangkah mahal jemputan&lt;br /&gt;bagi sebuah kepergian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4/06/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-4355071795793233041?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/4355071795793233041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/06/jemputan.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/4355071795793233041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/4355071795793233041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/06/jemputan.html' title='JEMPUTAN'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-4118195238331985685</id><published>2009-05-12T05:42:00.007+07:00</published><updated>2009-05-12T09:14:33.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='digresi'/><title type='text'>DIGRESI DALAM ROMAN HIDUPMU</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita panjangmu&lt;br /&gt;bab-bab dibuang oleh redaktur&lt;br /&gt;aku menjadi orang ketiga&lt;br /&gt;dalam roman yang kaususun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kutahu dalam imajinasi&lt;br /&gt;adalah mereka-reka jalan cerita&lt;br /&gt;ke mana hendak aku akan kauletakkan&lt;br /&gt;dalam konflik batinmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah roman terakhirmu&lt;br /&gt;yang untuk pertama kalinya&lt;br /&gt;meletakkan aku sebagai tokoh utama&lt;br /&gt;dari sudut pandang orang pertama&lt;br /&gt;dan sebelum roman itu diterbitkan&lt;br /&gt;engkau mengutip diktum objektivisme:&lt;br /&gt;“membuang sebanyak mungkin yang tidak kausuka&lt;br /&gt;bukan menambah sebanyak mungkin yang engkau cinta”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hmm…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;jadilah aku digresi,&lt;br /&gt;serpihan cerita tak perlu&lt;br /&gt;maka sebagai cerita,&lt;br /&gt;romanmu telah kehilangan roh prosa&lt;br /&gt;ia telah menjadi lirik&lt;br /&gt;yang hanya butuh pendengar,&lt;br /&gt;tak butuh pembaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5/11/2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-4118195238331985685?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/4118195238331985685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/05/digresi-dalam-roman-hidupmu.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/4118195238331985685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/4118195238331985685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/05/digresi-dalam-roman-hidupmu.html' title='DIGRESI DALAM ROMAN HIDUPMU'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-6661239898589118168</id><published>2009-04-20T07:22:00.002+07:00</published><updated>2009-04-20T07:25:11.562+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ujian nasional'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ujian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UN'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Untuk adik-adik kelas akhir SLTA, saya ucapkan "selamat menempuh ujian nasional, semoga selamat sampai tujuan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UJIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihlah jawaban di bawah ini yang menurut Anda paling benar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Di bawah ini, yang mengacu kepada nasib bangsa Indonesia saat ini adalah, kecuali:&lt;br /&gt;A. Stabilitas nasional&lt;br /&gt;B. Biaya pengobatan dan kesehatan gratis&lt;br /&gt;C. Pendidikan murah dan merata&lt;br /&gt;D. Pajak dipergunakan sesuai mestinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sejak lengsernya rezim Orde Baru, kondisi pemerintahan kita berada dalam keadaan:&lt;br /&gt;A. Rupiah bersaing dengan dolar&lt;br /&gt;B. Harga BBM sangat terjangkau&lt;br /&gt;C. Korupsi diberantas ke akar-akarnya&lt;br /&gt;D. Semua pencoleng dipenjara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki kualitas hidup rakyatnya adalah:&lt;br /&gt;A. Diberi pinjaman supaya ngutang tanpa membayar&lt;br /&gt;B. Disubsidi beras agar tidak mengamuk ketika lapar&lt;br /&gt;C. Diberi janji-janji, meskipun nanti diingkari&lt;br /&gt;D. Dibiarkan menuntut, tetapi kehendak dibatasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku masih sibuk berpikir:&lt;br /&gt;‘sekolahnya beda, gurunya beda&lt;br /&gt;fasilitas dan prasarananya pun berbeda&lt;br /&gt;kok standar penilaiannya bisa sama?’&lt;br /&gt;tiba-tiba, kriiing…&lt;br /&gt;waktu habis, jawaban dikumpulkan&lt;br /&gt;padahal belum semua soal kukerjakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku deg-degan&lt;br /&gt;sebab kusadar semua yang kuinginkan&lt;br /&gt;tidak tersedia di dalam kotak lembar jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14/5/2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-6661239898589118168?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/6661239898589118168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/04/untuk-adik-adik-kelas-akhir-slta-saya.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/6661239898589118168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/6661239898589118168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/04/untuk-adik-adik-kelas-akhir-slta-saya.html' title=''/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-9187618465724312406</id><published>2009-04-16T06:05:00.002+07:00</published><updated>2009-04-16T06:07:39.044+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petani'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penyari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memory'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;AKU, KEAGUNGANKU, DAN KELUPAAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa agung diriku&lt;br /&gt;betapa aku diciptakan oleh diriku sendiri&lt;br /&gt;si pemimpi yang dapat mewujudkan semua mimpi&lt;br /&gt;tapi tak dapat menciptakan kesadarannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku digerakkan oleh sekeping &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chip&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;yang menabung semesta data;&lt;br /&gt;seperti data dalam memori&lt;br /&gt;yang diam dan bergerak&lt;br /&gt;seperti degup jantung&lt;br /&gt;aku yang menciptakan, aku yang mengendali&lt;br /&gt;tapi dialah yang memberi nilainya&lt;br /&gt;aku memberinya sistem, nadi, kelenjar, pikiran&lt;br /&gt;karena kehidupan adalah sebuah hierarki sistemis&lt;br /&gt;sistem yang beranak-pinak sistem&lt;br /&gt;sistem yang menciptakan dan diciptakan oleh sistem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah kubah langit, jagad semesta&lt;br /&gt;sistem yang rapi, dawam, terkendali&lt;br /&gt;sistem yang terkontrol, semilyar data&lt;br /&gt;dalam kungkung kangkang “kun”&lt;br /&gt;masya Allah “fayakun”&lt;br /&gt;kita bergerak dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;database&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;membangun peradaban angka-angka&lt;br /&gt;ringkas dan mampat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk agung ini dapat menciptakan apapun&lt;br /&gt;ia menciptakan sistem sebagai bagiannya&lt;br /&gt;sistem yang menciptakan sistem&lt;br /&gt;yang menciptakan sistem&lt;br /&gt;yang menciptakan sistem&lt;br /&gt;yang menciptakan…&lt;br /&gt;ia menciptakan kehidupan pada benda-benda&lt;br /&gt;instrumentalia, komputerisasi, hidup dan mati&lt;br /&gt;dengan dan oleh data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dapat mewujudkan semua mimpi&lt;br /&gt;makhluk agung ini tidak dapat melawan lupa&lt;br /&gt;sementara basis sistem adalah kesadaran&lt;br /&gt;rahasia penciptaan ada pada kelupaan&lt;br /&gt;siapakah yang mampu melawan lupa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memori dan sistem tak punya perasaan&lt;br /&gt;sistemisasi berusaha melawan kelupaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, betapa agung diriku&lt;br /&gt;yang mampu mewujudkan mimpi-mimpi&lt;br /&gt;tapi tak bisa memimpikan kesadaran&lt;br /&gt;dari kelupaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15/12//2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;PETANI DAN PENYAIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani? Bukan-nya buruh tani?&lt;br /&gt;mereka yang punya nyali&lt;br /&gt;berani menukar otot dengan napasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subsidi? Subsidi apa?&lt;br /&gt;subsidi buat apa jika lahan sudah tak ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruh tani membanting tulang&lt;br /&gt;melawan harga tengkulak dan penimbun&lt;br /&gt;melawan harga yang ditentukan pembeli&lt;br /&gt;alangkah gelapnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat miskin memang selalu ada&lt;br /&gt;untuk memberi perimbangan bagi kaum kaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pialang cemas pada fluktuasi&lt;br /&gt;tidak takut pada yang lain&lt;br /&gt;para petani mengkhawatirkan hama&lt;br /&gt;tidak takut pada yang lain&lt;br /&gt;kaum terpelajar memprihatinkan pestisida&lt;br /&gt;tidak takut pada yang lain&lt;br /&gt;sementara buruh tani tidak takut pada apa pun&lt;br /&gt;apa yang hendak ditakutkan?&lt;br /&gt;tak mungkin: takut pada diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barisan buruh tani, maaf&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ini bukan untuk para petani&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;jika ratapanku kurang mewakili&lt;br /&gt;karena saya juga sedang berduka&lt;br /&gt;atas lahan bahasa yang penuh pestisida&lt;br /&gt;atas berton-ton lema tanpa diketahui nasabnya&lt;br /&gt;juga barangkali karena saya bukan penyair&lt;br /&gt;hanya buruh kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17/05/2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-9187618465724312406?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/9187618465724312406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/04/aku-keagunganku-dan-kelupaan-betapa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/9187618465724312406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/9187618465724312406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/04/aku-keagunganku-dan-kelupaan-betapa.html' title=''/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-993555388840540368</id><published>2009-01-27T00:10:00.000+07:00</published><updated>2009-01-27T00:19:26.319+07:00</updated><title type='text'>LIRIK PALESTINA</title><content type='html'>&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Palestina!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai bunda bagi bermilyar manusia. Gerangan apakah yang membuat air matamu berlinang tak selesai-selesai? Duka maha laksana apa kautanggung sehingga tangismu bagaikan drama tanpa penghujung; lakon panjang anak-anak menyandang senjata, bermain bersama martir, sementara para ibu menjadi janda di waktu muda, atau mati sebelum melihat anaknya dewasa, para pejuang yang gagah karena cinta tanah air, meskipun lemah karena hidupnya semakin rengkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke manakah anak cucumu jauh melanglang? Adakah para Yahudi itu tahu bahwa tanahmu selalu gembur karena basah oleh air mata, sementara engkau, ibu pertiwi yang menghidupinya, tersengal bila melenguh, tersendat saat bernapas, menahan sesak, memikul tragedi abadi semenjak awal mula drama kehidupan dimulai? Adakah para Kristiani itu membesuk engkau terbaring, terbujur, terlentang menahan sakit, mungkinkah mereka akan melupakanmu; tempat yang sangat mereka agungkan itu? Mungkinkah kaum Muslimin melupakanmu; tanah penuh sejarah tempat tonggak perjuangan ditancapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mungkin derita ini adalah hikmah mulia yang terselubung kasat mata? Namun, mengapa mereka bertikai, ataukah hal itu merupakan wujud rasa cinta pada bundanya sebagai pembelaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang, kecuali lirik ini, aku tak punya sapu tangan bagi air matamu yang tak habis berlinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palestina!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai bunda bagi bermilyar manusia. Apa kabar Yerusalem, yang kian tua oleh usia, tapi selalu muda untuk dicinta? Para nabi yang pernah singgah di sini, kalau saja sekarang mereka ada, sanggupkah tidak menangis ketika melihat kota­kotamu porak­poranda, bergelimang darah, bermandikan peluru, sementara di lain tempat, anak-anakmu hidup mewah dan pesta pora? Dan apakah pernah terbayang oleh nenek moyangmu para Punisia, bahwa bumi yang dulu mereka temukan itu bakal menjadi sebuah tanah subur bagi tumbuhnya pertikaian? Apakah mereka pernah menduga kalau tanah yang mereka puja selalu menangis tak ada habis­habisnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palestina!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini aku tak tahu, apakah dunia cukup kaya menyediakan air mata untuk menangis atas drama lukamu yang tak terhingga? Sampai saat ini aku tak tahu, dengan doa apa aku memohon kesejahteraan untukmu. Atau karena aku memang tak tahu, jangan-jangan pada kesedihanmu itulah terletak kebahagiaan semesta, dan di lukamu itulah, dunia mencurahkan isi hatinya yang kancap oleh air mata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang, kecuali lirik ini, aku tak punya sapu tangan bagi air matamu yang tak habis berlinang. Sampai saat ini aku tak punya cerita untuk melipur lara ataupun kata-kata yang tepat untuk mengucapkan belasungkawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia, mari hentikan drama Palestina. Turunkan layar dan akhiri pertunjukan. Cukup pedih mata menangis. Cukup perih hati teriris.&lt;br /&gt;Berakhirlah penderitaanmu, Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai dan sejahtera bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:170%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;(dicuplik dari buku kumpulan lirik "Sareyang", Pustaka Jaya, 2005)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-993555388840540368?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/993555388840540368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/01/lirik-palestina.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/993555388840540368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/993555388840540368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2009/01/lirik-palestina.html' title='LIRIK PALESTINA'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-1110063003392272650</id><published>2008-11-18T12:46:00.006+07:00</published><updated>2009-06-26T06:56:00.352+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='terjemahan'/><title type='text'>Under a Brigde of Night</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-size:180%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Love Poem to Night&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;("Surat Cinta untuk Malam")&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;translated by Kadek Krishna Adidharma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The flash of light refracts&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dims and rumbles&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;like my heart, closing and blooming&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;introductions, my name is night!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I stand below the sky’s dome&lt;br /&gt;locking gaze with polaris&lt;br /&gt;zenith, is this my poetic sky?&lt;br /&gt;a sky of simile not unraveled&lt;br /&gt;as spellings at alphabet’s mercy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, I will move further&lt;br /&gt;to draw a conclusion to the long journey&lt;br /&gt;the universe’s light years in the eyeball:&lt;br /&gt;a conclusion in simile&lt;br /&gt;because, a theory’s job is only to&lt;br /&gt;return the mind to a juvenile state&lt;br /&gt;to always be wrong&lt;br /&gt;in making the right decision&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I am designing an exactitude&lt;br /&gt;limp steps: scientific&lt;br /&gt;experiments and assumptions&lt;br /&gt;I try to walk towards you&lt;br /&gt;the truth in impermanence&lt;br /&gt;and mistake in violence”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The stars in the sky&lt;br /&gt;how beautiful my light&lt;br /&gt;from nadir to zenith&lt;br /&gt;only the length of an outstretched palm&lt;br /&gt;small not in shape&lt;br /&gt;but in the eyes of the beholder&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You come closer with a telescope&lt;br /&gt;but move away in understanding&lt;br /&gt;we move; closer-further&lt;br /&gt;thinking in simile&lt;br /&gt;developing in unreachedness&lt;br /&gt;not sure in which galaxy&lt;br /&gt;our truth will cross paths&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lets keep locking our gaze&lt;br /&gt;so one day you and I will know&lt;br /&gt;I was created to understand you&lt;br /&gt;or you are created to support my shape?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stars in the night sky&lt;br /&gt;don’t you wink&lt;br /&gt;and you don’t slip away&lt;br /&gt;you, billions of stars looking here&lt;br /&gt;smiling in wonder gazing at us:&lt;br /&gt;why can the small thinking dot&lt;br /&gt;not find any reason&lt;br /&gt;why this giant light arrangement is set alight!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The splash and haze of galaxies&lt;br /&gt;if you are the address of truth&lt;br /&gt;then please allow&lt;br /&gt;my entire life to be night&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14/08/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);font-size:180%;" &gt;&lt;br /&gt;My Night Queen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;("Permaisuri Malamku")&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;translated by Kadek Krishna Adidharma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The twinkle of your night eyes&lt;br /&gt;somersaults down to my glowing face&lt;br /&gt;We are not together, it’s true&lt;br /&gt;because the space where I sit&lt;br /&gt;behind this table gazing at the horizon&lt;br /&gt;is so far from the limits of your dimension&lt;br /&gt;we are both objects, alive&lt;br /&gt;but different by definition&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here, I lay alone&lt;br /&gt;gazing at you, refracted crystal spread&lt;br /&gt;beautiful for your random&lt;br /&gt;twinkle, somersaulting stars out there&lt;br /&gt;I measure the final limit of my abilities&lt;br /&gt;to reach the light’s source&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Night wakes me&lt;br /&gt;to a desire to count&lt;br /&gt;between dark and cold&lt;br /&gt;or day and anxiety&lt;br /&gt;then I write a letter to you:&lt;br /&gt;night is the sun sinking beyond the horizon&lt;br /&gt;though it doesn’t truly sink&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, your wink&lt;br /&gt;thousand stars, somersault in an instant&lt;br /&gt;and I will soon count fate&lt;br /&gt;its true, we cannot be together&lt;br /&gt;what to me is space, to you is time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I extend my fingers&lt;br /&gt;cupping hands catching&lt;br /&gt;heart beating in alarm&lt;br /&gt;stars raining upon&lt;br /&gt;the wide yard of my dreams&lt;br /&gt;spreading you to the eves of my dreams&lt;br /&gt;I count the moments&lt;br /&gt;sharing with time&lt;br /&gt;becoming one with your night&lt;br /&gt;in an incomplete memory&lt;br /&gt;when light holds meaning for dark&lt;br /&gt;and I let solitude wound me:&lt;br /&gt;pain is necessary to appreciate pleasure&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My night queen&lt;br /&gt;always arriving with no presence&lt;br /&gt;in an expanse unreachable by sight&lt;br /&gt;because the distance that connects you and I&lt;br /&gt;are merely broken lines&lt;br /&gt;incessantly connected&lt;br /&gt;by simile&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27/06/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:180%;" &gt;No More Secrets on Earth&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;("Di Bumi Tak Ada Lagi Rahasia")&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;translated by Kadek Krishna Adidharma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Earth&lt;br /&gt;home to all of us&lt;br /&gt;is a shadow&lt;br /&gt;whose limits will disappear&lt;br /&gt;when the source of light is extinguished&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And, there are no more secrets here&lt;br /&gt;that move in the mind&lt;br /&gt;that beat in the heart&lt;br /&gt;stolen and sold&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secrets flee&lt;br /&gt;from the face of this earth&lt;br /&gt;sacred and profane&lt;br /&gt;maya and real&lt;br /&gt;values limit thinning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here there are no more secrets&lt;br /&gt;only in the sky, God’s secret remains locked&lt;br /&gt;while on earth,&lt;br /&gt;it hopes to hide in poetry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21/07/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);font-size:180%;" &gt;My Name is Night&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;("Namaku Malam")&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;translated by Kadek Krishna Adidharma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My name is night&lt;br /&gt;a shard of time that shapes dawn&lt;br /&gt;you are sunrise, red smote by the sun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Day, what do they seek?&lt;br /&gt;nothing, but light&lt;br /&gt;until the lost find it&lt;br /&gt;until secrets are revealed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We sit back to back&lt;br /&gt;facing west-east&lt;br /&gt;then, we both utter&lt;br /&gt;“how we long to look at each other!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then, where is grey and shadow?&lt;br /&gt;no, my name is only night&lt;br /&gt;you cannot call me beyond that&lt;br /&gt;the one cannot gaze at the other&lt;br /&gt;as ‘knowing’ and ‘not knowing’&lt;br /&gt;have no place to sit together&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21/09/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;**taken from "Reason for Harmony",&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 102, 0);" href="http://ubudwritersfestival.com/"&gt;Ubud Writers and Readers Festival&lt;/a&gt; (UWRF) 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51); font-weight: bold;"&gt;SURAT CINTA UNTUK MALAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilatan cahaya yang berpendar&lt;br /&gt;redup dan berdenyar&lt;br /&gt;seperti jantungku, mengatup dan mekar&lt;br /&gt;perkenalkan, aku bernama malam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berdiri di bawah kubah langit&lt;br /&gt;beradu pandang dengan polaris&lt;br /&gt;zenit, inikah langitku yang puitis?&lt;br /&gt;langit ibarat yang tak tersingkap&lt;br /&gt;sebagai ejaan di ujung abjad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, saya akan bergerak menjauh&lt;br /&gt;untuk membuat kesimpulan lama perjalanan&lt;br /&gt;tahun cahaya semesta dalam bola mata:&lt;br /&gt;kesimpulan dalam pengandaian&lt;br /&gt;sebab, tugas teori hanya untuk&lt;br /&gt;meremajakan akal-pikiran&lt;br /&gt;agar selalu salah&lt;br /&gt;dalam mengambil keputusan benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya merancang sebuah kepastian&lt;br /&gt;langkah tertatih: ujicoba dan praduga&lt;br /&gt;sains, saya berjalan ke arahmu&lt;br /&gt;yang benar dalam kesementaraan&lt;br /&gt;dan salah dalam ketegangan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang-bintang di langit&lt;br /&gt;alangkah indah cahayaku&lt;br /&gt;dari nadir menuju zenit&lt;br /&gt;hanya sejengkal&lt;br /&gt;kecil bukan pada wujudnya&lt;br /&gt;tapi pada mata orang yang memandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau mendekat dalam teropong&lt;br /&gt;tapi menjauh dalam pengertian&lt;br /&gt;kita bergerak; mendekat-menjauh&lt;br /&gt;berpikir dalam pengandaian&lt;br /&gt;berkembang dalam ketakterjangkauan&lt;br /&gt;entah di galaksi mana&lt;br /&gt;kebenaran kita akan saling berpapasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari kita terus beradu pandang&lt;br /&gt;hingga kelak engkau dan saya sama-sama tahu&lt;br /&gt;saya diciptakan untuk memahamimu&lt;br /&gt;atau engkau diciptakan untuk menopang wujudku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bintang-bintang di langit malam&lt;br /&gt;janganlah berkedip&lt;br /&gt;dan engkau tak berkesip&lt;br /&gt;kalian, bermilyar-milyar mata memandang ke mari&lt;br /&gt;tersenyum takjub memandang kami:&lt;br /&gt;mengapa titik kecil yang berpikir itu&lt;br /&gt;tak mampu mencari alasan&lt;br /&gt;untuk apa gugusan cahaya raksasa ini dinyalakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percik-pendar gugus bintang semesta raya&lt;br /&gt;jika engkaulah alamat kebenaran&lt;br /&gt;maka perkenankan,&lt;br /&gt;sepanjang hidupku menjadi malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14/08/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;PERMAISURI MALAMKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerlip mata malammu&lt;br /&gt;jumpalitan jatuh ke cahaya mukaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang tidak saling bersama&lt;br /&gt;sebab ruang tempat aku duduk&lt;br /&gt;di balik meja melihat cakrawala&lt;br /&gt;begitu jauh pada batas dimensimu&lt;br /&gt;kita, sama-sama benda yang hidup&lt;br /&gt;tapi berbeda dalam pengertiannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, aku telentang sendiri&lt;br /&gt;menatapmu, pendar-pendar kristal bertabur&lt;br /&gt;yang indah karena berserakan&lt;br /&gt;kelipnya, jumpalitan bintang-bintang di sana&lt;br /&gt;aku menakar batas akhir kemampuanku&lt;br /&gt;menjangkau sumber cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam membangunkanku&lt;br /&gt;pada kehendak membuat perhitungan&lt;br /&gt;antara gelap dan kebekuan&lt;br /&gt;atau siang dan kecemasan&lt;br /&gt;lalu kutulis sebuah surat untukmu:&lt;br /&gt;malam adalah matahari terbenam&lt;br /&gt;meski tak sungguh-sungguh terbenam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kedip matamu&lt;br /&gt;ribuan bintang, jumpalitan dalam sekejap&lt;br /&gt;dan aku segera menghitung nasib&lt;br /&gt;memang benar, kita tidak bisa bersama&lt;br /&gt;bagiku ruang, bagimu waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujulurkan jemari&lt;br /&gt;menangkap dengan tangkup&lt;br /&gt;berdebar dalam takut&lt;br /&gt;hujan bintang-bintang&lt;br /&gt;ke halaman luas mimpiku&lt;br /&gt;menghamburkanmu ke serambi tidurku&lt;br /&gt;aku menghitung-hitung saat&lt;br /&gt;berbagi dua dengan waktu&lt;br /&gt;menjadi satu dengan malammu&lt;br /&gt;dalam ingatan yang tak lengkap&lt;br /&gt;saat cahaya bermakna bagi gelap&lt;br /&gt;dan kubiarkan sepi melukaiku:&lt;br /&gt;butuh perih untuk menghargai nikmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permaisuri malamku&lt;br /&gt;selalu datang dengan tanpa kehadiran&lt;br /&gt;dalam rentang yang tak terjangkau pandang&lt;br /&gt;karena jarak yang menghubungkan aku denganmu&lt;br /&gt;semata patahan-patahan garis&lt;br /&gt;yang tak henti-hentinya digabungkan&lt;br /&gt;dalam sebuah pengandaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27/06/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;DI BUMI TAK ADA LAGI RAHASIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi&lt;br /&gt;rumah sekalian kami&lt;br /&gt;adalah bayangan&lt;br /&gt;yang batasnya akan raib&lt;br /&gt;saat sumber cahaya dipadamkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, rahasia-rahasia tak ada lagi di sini&lt;br /&gt;yang bergerak dalam pikiran&lt;br /&gt;yang berdetak dalam hati&lt;br /&gt;saling dicuri dan diperjualbelikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia-rahasia menyingkir&lt;br /&gt;dari muka bumi ini&lt;br /&gt;yang sakral dan profan&lt;br /&gt;yang maya dan nyata&lt;br /&gt;semakin tipis batas nilainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini tak ada lagi rahasia&lt;br /&gt;hanya di langit, rahasia Tuhan tetap terkunci&lt;br /&gt;sedangkan di bumi,&lt;br /&gt;berharap sembunyi pada puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21/07/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;NAMAKU MALAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku malam&lt;br /&gt;kepingan waktu yang membentuk subuh&lt;br /&gt;engkau fajar, merah ditempa matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang, apa yang mereka cari?&lt;br /&gt;tak ada, selain cahaya&lt;br /&gt;hingga yang hilang didapatkannya&lt;br /&gt;hingga rahasia menjadi terbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita duduk beradu punggung&lt;br /&gt;menghadap barat-timur&lt;br /&gt;lalu, kita sama-sama berucap&lt;br /&gt;“ingin rasanya kita bisa saling menghadap!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di manakah kelabu dan temaram?&lt;br /&gt;tidak, namaku hanya malam&lt;br /&gt;engkau tak bisa memanggilku di luar itu&lt;br /&gt;yang satu tidak dapat menatap lainnya&lt;br /&gt;sebagaimana ‘tahu’ dan ‘tidak tahu’&lt;br /&gt;tak ada tempat untuk duduk bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21/09/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSABAJA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-update:auto; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:18.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.1pt 33.0cm; 	margin:79.4pt 3.0cm 70.9pt 5.0cm; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} -&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-1110063003392272650?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/1110063003392272650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/11/diinggriskan.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/1110063003392272650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/1110063003392272650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/11/diinggriskan.html' title='Under a Brigde of Night'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-8542095126321087485</id><published>2008-08-05T00:46:00.000+07:00</published><updated>2008-11-22T04:30:48.019+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0); font-weight: bold;"&gt;PESANTREN SEBAGAI IKON PENDIDIKAN NONFORMAL&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh M. Faizi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Untuk memberikan gambaran umum atas tulisan saya, anggaplah sebagai abstrak, perlu saya awali tulisan ini dengan sebuah anekdot seputar hubungan kiai-santri. Anekdot ini, meskipun tidak semua redaksi bahasanya ditulis apa adanya, sedikitnya menggambarkan hal-hal yang terjadi secara khas dalam suatu hubungan di lingkungan pesantren. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Cerita datang dari Probolinggo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pada suatu hari, almaghfurlah Kiai Zaini Mun’im (Paiton) menugaskan salah seorang santrinya pergi ke &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; Kraksaan, sebuah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kecamatan yang terletak kurang lebih 8 kilometer ke arah barat, untuk sebuah keperluan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kebetulan, santri tersebut—sebut saja namanya Khadim—merupakan salah seorang pelayan di ndalem Kiai Zaini. Dengan segala ketundukannya, ketika ada perintah, Khadim langsung bergegas tanpa menyanggah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saat tiba waktunya, Kiai Zaini memanggil Khadim. “Ini, kamu bawa!” kata Kiai Zaini sambil mengeluarkan kuda dan menyerahkannya kepada Khadim. Seraya menundukkan kepala, Khadim menuntun kuda itu. Di kejauhan, Khadim dan kudanya menghilang dari pandangan di tikungan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tetapi, apa sebetulnya yang terjadi?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Khadim menuntun kuda itu dari Paiton sampai Kraksaan. Bukannya Khadim tidak dapat menunggang kuda, melainkan karena perintah kiai yang ia terima adalah: “membawa” kuda, ia tidak diperintah untuk menungganginya! Khadim rela pergi-pulang berjalan kaki sambil menuntun kudanya sejauh 16 kilometer hanya karena sebuah faktor: cangkolang!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Cangkolang (bahasa Madura) merupakan salah satu matriks penting dalam tradisi pesantren yang mengistimewakannya dengan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kepemimpinan lembaga atau institusi pendidikan yang lain. Cangkolang, secara sederhana, dapat diartikan sebagai anti-lancang dan perasaan malu/sungkan untuk melakukan tindakan yang dianggap melangkahi otoritas orang tua (di pesantren: kiai). Cangkolang, yang oleh masyarakat pesantren ditalikan dengan faktor barokah, menjadi kesepakatan bersama sebagai aturan tidak tertulis. Pada akhirnya, cangkolang didasarkan bukan pada faktor sungkan/lancang semata, tetapi juga pada faktor barokah juga menjadi “teks yang tersembunyi” di baliknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kisah di atas memang konyol. Tetapi, di balik kisah itu ada sebuah pesan, bahwa perintah guru (kiai) adalah segala-galanya. Selebihnya, betapa figur seorang kiai begitu kuat dan begitu wibawa di mata santrinya, yang setia mengabdi serta melayaninya demi mengharap barokah dari pengabdian itu sendiri. Tampaknya, tak ada perintah atau instruksi dari atasan mana pun yang sedemikian gagahnya mampu menyuruh orang lain tanpa imbalan material sedahsyat perintah seorang kiai kepada santrinya!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Memang, anekdot tersebut saya kutip dari teks berlatar Madura yang notabene mengenal dan mempraktekkan prinsip bhada pakon, bhada pakan (ada perintah, ada upah), tetapi ia tidak berlaku dalam hal pengabdian. Ia merupakan salah satu prinsip dalam pendidikan pesantren. Sebab, meskipun pengabdian juga mengharap “upah”, namun upah tersebut adalah tabungan akhirat: dalam bentuk barokah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; anggapan yang muncul berdasarkan gejala umum di lapangan: satu hal yang menarik dari seorang santri adalah kepribadiannya. Tentunya, karakteristik khas di sini sebatas pada selera personal saja. Asumsi ini, tentu juga di mata kelompok yang sebagian itu, merupakan hal menarik: terutama untuk memunculkan silogisme tentang bentuk dan model pendidikan yang meraka jalani.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dulu, jika saya bertemu dengan seorang walisantri yang hendak mengantar anaknya mondok ke pesantren, mereka selalu mengistilahkannya dengan “memperbaiki diri”, bukan mencari ilmu. Istilah “memperbaiki diri” kemudian disimplifikasi menjadi “tirakat”. Tirakat membutuhkan ketabahan dan perbaikan “akhlak” karena akhlak bersifat dinamis, tidak seperti “fitrah” yang paten dari sono-nya. Karena itu, ada ungkapan “akhlak terpuji” dan ada pula lawannya: “akhlak tercela”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Santri seperti Khadim di atas mungkin sama sekali tidak tahu, atau tidak mau tahu-menahu, dengan hal itu. Santri seperti mereka berangkat ke pesantren nawaitu mengabdi demi mendapatkan barokah, memperbaiki diri, tirakat demi keluhuran budi, dan bukan nawaitu menjadi politisi atau profesi lainnya selain santri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Meskipun niat awal para santri datang ke pesantren adalah untuk mencari barokah, namun pesantren telah terbukti melahirkan berbagai macam profesi santri: penulis, pemikir, politisi, pengamat ekonomi, dan lain sebagainya. Unsur-unsur seperti barokah, penerapan pengabdian bagi santri, lingkungan religius, serta figur kiai yang menjadi pusat kegiatan di dalamnya, menjadi faktor utama bagaimana watak dan karakter seorang santri dibentuk. Singkatnya, pesantren menjadi lembaga pendidikan yang “melahirkan”, bukan “menciptakan”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Memakai peci, bawahan sarung, alas kakinya bakiak (terompah), membawa kitab gundul, belajarnya di musholla: itulah citra sepintas ciri seorang santri. Meskipun identifikasi ini sangat fisikis, namun semua hal itu telah menjadi simbol yang mudah dikenali, bahkan menjadi ikon yang digunakan oleh beberapa antropolog untuk mencirikan kaum santri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya yang pernah nyantri di bebebrapa pesantren di Jawa, merasakan kesan kumuh terkadang disandangkan pada kelompok ini, meskipun stereotip ini, setidaknya dalam pandangan sementara saya, lebih terkesan sebagai proyek minor untuk menghasilkan sebuah kesimpulan inferior. Atau, boleh jadi kesan ini tercipta—bukan diciptakan—karena kaum santri yang cenderung menolak hal-hal yang bersifat formal (karena figur mereka, kiai, juga merupakan figur pimpinan nonformal, bukan pejabat). Pencitraan semacam sejatinya cukup ampuh untuk membunuh karakter santri, namun di balik itu ia justru menghidupkan perlawanan. Sebab, ciri khas justru akan muncul ketika ia telah dikategorisasi, salah satunya melalui pencitraan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dengan begitu, mudah rasanya membuat ketegorisasi: identifikasi fisikis di atas (sarung, peci, kitab kuning, dan bakiak, dll.) biasanya dianggap sebagai busana resmi atau—kata anak sekarang—“dress code” santri, tetapi justru menjadi tidak formal ketika dihadapkan langsung dan berbaur dengan komunitas “formal” lainnya yang secara fisik menolak keberadaannya. Mana ada orang bersarung dan berpeci di Senayan? Di mal atau dalam rapat-rapat kedinasan? Ah, ada-ada saja! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Anggapan formal/tidak formal sebetulnya lebih merupakan bias pandangan. Sebab, pesantren (terutama pendidikan salafi di awal kemunculan pesantren di Nusantara) sendiri merupakan pendidikan “tidak formal”, dan lembaga pendidikan tua yang masyhur sejak Raden Rahmat membina pesantren Ampel Denta di Surabaya. Salah satu buktinya adalah: pada awalnya, sistem pendidikan pesantren tidak mengenal kelas (nonklasikal). Tingkat pendidikannya pukul rata. Jika kiai mulang kitab, semua yang mengikuti pengajiannya tanpa terkecuali, dari anak-anak hingga kakek-kakek pun tidak masalah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt; anggapan yang pernah saya dengar langsung dari seorang teman yang kebetulan sama sekali tidak mengenal pesantren, hidup di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; metropolitan dan kuliah di sebuah universitas. Baginya, setiap orang yang belajar agama adalah santri. Saya kira, dia tidak sendirian. Banyak orang yang juga beranggapan demikian dan tidak tahu-menahu bahwa santri identik dengan hanya mereka yang belajar di pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Satu hal lagi, pesantren adalah lembaga pendidikan yang dipimpin oleh seorang (atau lebih; berbentuk dewan) pengasuh yang disebut kiai. Kiai disyaratkan harus mumpuni, menguasai semua ilmu agama, terutama tauhid, fiqh, dan tasawuf. Di pesantren, keputusan tertinggi berada padanya. Peran dan posisi kiai/guru yang nyaris sentral dan segala-galanya. Hal ini disebabkan karena pada umumnya, sistem pendidikan pesantren memiliki “kitab suci” yang sama, yaitu Ta’lim al-Muta’allim; sebuah kitab yang berisi tatacara menjadi murid. Dalam kitab tersebut, guru memang begitu diagungkan. Kitab tersebut telah menempatkan seorang guru begitu terhormat, dan begitu tinggi, dan segala-galanya. Posisi guru/kiai yang demikian itu nyaris—ingat, bukan sama sekali—seperti kitab suci: jauh dari kritik, bukan tanpa kritik! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pendidikan pesantren, meskipun nama pesantren sendiri diturunkan dari Bahasa Sanskerta yang “tidak islami”, tetapi di kemudian hari, pesantren/santri mengalami penyempitan makna: hanya identik dengan pendidikan agama Islam. Untuk itu, agar ilmu agama yang diperoleh santri benar-benar berasal keringat yang halal dan murni, banyak kiai yang membiayai santri dan pesantrennya dengan dana dari kocek pribadi. Santri hanya menyumbang ala kadarnya, atau bahkan tidak sama sekali. Hal inilah yang membuat pesantren begitu mandiri dan steril dari kepentingan luar pesantren. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Namun, seiring dengan perjalanan waktu, di saat pemerintah menanggung semua biaya pendidikan, termasuk diniyah (madrasah keagamaan di pesantren), atau pesantren sendiri yang mengizinkan sistem pendidikan formal di dalamnya, pelan-pelan perubahan terjadi, baik pandangan masyarakat tentang pesantren maupun pandangan pesantren pada pendidikan formal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Seiring dengan itu pula, ilmu-ilmu pembelajaran modern bermunculan teori quantum hingga revolusi belajar yang menganggap tidak ada siswa yang bodoh karena mereka pasti punya potensi tersembunyi yang dapat digali: demikianlah slogannya. Semua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;siswa bisa cerdas, terampil, berwawasan, dewasa, dan semua itu dapat dicapai dalam kurun waktu serbasingkat. Model pembelajaran jenis ini memposisikan guru “hanya” sebagai pengarah/pendamping. Ini berbeda dengan di pesantren. Guru tetaplah seorang figur, bukan pendamping, apalagi teman belajar. Guru menjadi sentral pembelajaran karena sejatinya dia hanyalah perantara dalam menularkan ilmu, lebih dari itu seorang guru bertugas untuk menyampaikan nilai dan moral (barokah). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Karena itu, metode quantum mungkin akan dianggap melawan sunnatullah. Sebab percepatan bertentangan dengan pengabdian yang menuntut seseorang harus ikhlas dan tabah dalam menjalani proses pendidikan. Ini sesuai dengan prinsip masyarakat ketika memondokkan anaknya: seseorang yang datang ke pesantren bukanlah untuk mencari ilmu, tetapi memperbaiki diri; bukan mondok, tetapi tirakat; karena tugas pesantren adalah memanusiakan manusia, bukan menciptakan bagaimana seseorang bisa pintar, tetapi terlepas dari kendali moral: pintar mengakali dan pintar menipu. Na’udzubillah!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Faktor Mistis Bernama Barokah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam sistem pendidikan pesantren, banyak hal yang—dalam sementara pandangan orang yang tidak mengalaminya secara langsung—tampak mustahil dan tidak masuk akal, sebut saja satu bagiannya: barokah!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Salah satu butir dalam model pembelajaran baru adalah sistem rolling, alias tukar tempat. Suatu waktu, di sebuah workshop yang saya ikuti di lembaga tempat saya mengajar, pemateri workshop memberikan contoh sistem rolling ini untuk menghindari kebosanan siswa dalam belajar, dan agar pula ada pemerataan informasi: bangku dalam ruang kelas dibuat melingkar atau tempat duduk siswa saling ditukar. Tetapi, betapa kaget pemateri tersebut manakala salah seorang peserta workshop (guru) menolaknya karena hal itu, menurutnya, bertentangan dengan Ta’limul Muta’allim yang antara lain menuntut seorang murid (pencari ilmu) supaya anteng/tidak berpindah-pindah tempat. Sikap anteng ini merupakan salah satu bagian dari istiqamah (kedisiplinan) yang pada akhirnya akan menentukan pula pada efek barokah. Sebab, dengan istiqamah, seorang pencari ilmu akan lebih mudah mendapat barokah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam pandangan masyarakat, akhlak yang baik merupakan tujuan seorang santri menuju pemuncak penjelajahan spiritualnya. Jadi, puncak itu tidak terletak pada kapasitas atau prestasi intelektualnya. Dengan akhlak yang baik, niat yang tulus, barokah akan lebih mudah diraih. Pada intinya, mengharapkan barokah merupakan keyakinan adanya faktor mistis bagi pencari ilmu: bahwa tugas seorang santri adalah “mencari tahu”, bukan “harus tahu”. Tugas santri adalah niat yang ikhlas; soal ganjaran itu urusan Allah yang akan membalas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam tradisi pesantren, barokah begitu sakral dan misterius. Ia adalah misteri ilahiah yang—demi kesakralannya—terkadang dibiarkan “tidak dirasionalisasi”. Meskipun, dengan analogi hukum sebab-akibat, nyatanya barokah tetap rasional: bahwa kebaikan selalui dibalas dengan kebaikan. Hanya saja, balasannya mungkin tidak sama, bahkan mungkin lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Umumnya, kaum santri memahami barokah sebagai khairun ilahiyyun la ya’lamuhu illallah (kebaikan ilahiah—dengan motif transendental—yang tidak diketahui oleh siapa pun melainkan Allah semata), atau diringkas menjadi ziyadatul khair alias “bonus” kebaikan, sejenis doorprize yang diberikan Allah melalui perbuatan, orang, ataupun tindak-tanduk, yang didapat seseorang karena ia telah melakukan suatu amal kebajikan/kebaikan, apa pun bentuknya. Walaupun, di mata sekuler, barokah bisa saja dianggap keberuntungan (hoki) dan di mata masyarakat awam barangkali hanya sebagai tuah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Berdasarkan cerita-cerita, tampaknya barokah memiliki satu kata kunci lagi: “ikhlas”. Misalnya, kisah seorang santri yang sepanjang masa kesantriannya hanya mengabdi menjadi pelayan kiai, baik itu sebagai pendamping di kala bepergian, sebagai khadam, atau bahkan gembala ternaknya. Banyak cerita yang berlatar kisah semacam itu. Misalnya, sebut saja Najmuddin, yang sepanjang hidupnya hanya menjadi pelayan dapur Kiai Musyaffak. Ketika pulang ke desanya, Najmuddin didaulat masyarakat kampung menjadi kiai di desa. Santri pun berduyun memohon agar dia meneroka tanah baru dan membuka kampung persantrian yang baru. Bahkan, terkadang, masyarakat menyediakan tanah sekaligus bangunannya untuk dihuni.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sialnya, bagi beberapa orang, barokah justru dicitrakan buruk dengan dijadikan temeng/dalih dan “tempat pelarian yang aman”. Misalnya, jika ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;seorang santri yang “berdarah biru” (memiliki trah/keturunan kiai) yang berhasil dalam intelektualitasnya, masyarakat awam dengan mudah menganggapnya “sudah dari sono”-nya. Misalnya, kisah Kiai Muzammil di Jember yang astronom. Dengan latar belakang pendidikan salaf (seratus persen pendidikan agama), Kiai Muzammil ternyata dapat membuat teropong bintang. Tetapi, kerap dilupakan bahwa bahwa Kiai Muzammil sebetulnya juga memiliki dasar ketertarikan pada astronomi serta selera sains yang kuat. Dengan mempelajarinya secara otodidak, lalu mampu, sejatinya Kiai Muzammil memperoleh semua itu bukan dengan tanpa susah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jika disederhanakan, barokah merupakan “buah kebaikan”, sejenis sebab-akibat, atau bentuk altruisme dalam lain hal, plus satu catatan lagi: semua kebaikan yang diproduksinya itu berasal dari “ketulusan dalam pengabdian”. Seseorang yang berbuat kebaikan, akan diganjar dengan kebaikan yang lain. Prinsip ini sebetulnya merupakan slogan populer yang diketahui bersama. Tetapi, nilai pengabdian inilah yang terasa berat. Sebab, secara kasar, ia berarti rodi: bekerja tanpa dibayar meskipun sebetulnya bayarannya akan dikembalikan nanti di kemudian hari. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di banyak pesantren, terutama pesantren salafi, ada hapalan Alfiyah Ibnu Malik (pelajaran tata bahasa Arab; berupa larik-larik pelajaran bergenre puisi). Materi ini dianggap sulit karena dua hal: karena pemahamannya juga karena harus dihapal, 1000 larik jumlahnya. Bagi banyak santri, pemahaman menjadi prioritas nomor sekian karena yang terpenting adalah barokah kitab/muallif-nya (pengarangnya). Tidak heran jika muncul slogan: iso gak iso sing penting barokah! Mau ngerti atau tidak, terserah!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Yang penting barokah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Keinginan yang besar terhadap barokah kerap kali ditempuh para santri melalui berbagai cara dan laku yang berat sekali. Antara lain tirakat dan riyadah batiniah (ritual batin). Semua itu dilakukan seorang santri demi kematangan pribadi yang pada akhirnya—dengan banyak bukti yang tidak dapat disebut satu per satu di sini—berhasil. Mereka mendapatkan “doorprize dari Tuhan” yang menakjubkan: barokah!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tirakat dan riyadah yang berat ada kalanya menghasikan figur santri yang bukan saja berkompeten, melainkan multitalent, bahkan polymath. Merekalah yang beruntung mendapatkan “ilmu ladunni”, yaitu peringkat tertinggi dalam proses pencarian ilmu seorang santri (murid). Dengan ladunni ini, ia menjadi seorang ilmuwan. Bagai sebuah keajaiban, ia tahu segala hal, terutama hal-hal yang berikaitan dengan ilmu-ilmu agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Seperti diungkapkan dalam bait puisi Alfiyah yang populer di pesantren, wa fi ladunni ladunni qalla wa fi / qadni wa qathni al-hadzfu aydhan qad yafi, “Sebetulnya ilmu ladunni bukan suatu hal yang mustahil, hanya saja ia jarang ditemukan”. Prinsipnya, setiap manusia punya potensi ilmu pengetahuan, atau dapat menyerap ilmu yang dipelajarinya secara maksimal. Bayangkan, jika sekali baca atau sekali dengar semua orang dapat paham. Betapa dapat dengan seorang murid akan menjadi pandai? Nah, dalam konsep ladunni, sejatinya kita bisa dapat sedemikian itu. Namun, karena selubung yang menyelimuti hati, tidak mudah bagi seseorang dengan mudah untuk paham. Maka, berkat doa dan kerja keras serta kebaikan, dapatlah kita barokah, dan ia akan turut menguak selubung itu perlahan-lahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Secara metaforis, barokah dapat dimiliki dan ditularkan oleh selain Allah. Tetapi, secara literal barokah tetaplah milik Allah yang diberikan “melalui” orang/perbuatan baik. Karena seorang kiai memiliki “pangkat” yang lebih tinggi di mata Allah, juga karena doa-doanya karena kiai dianggap lebih dekat dengan Dzat Yang Maha Mengetahui, maka setiap santri berharap mendapat barokah melalui bakti dan mengaji kepada kiai. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Akan tetapi sebaliknya, jika ada santri yang tidak mengindahkan atau kerap melanggar perintah seorang kiai, maka hatinya akan semakin terselubungi. Dengan demikian, semakin teballah tirai yang menutupi. Jika barokah diumpamakan sebagai cahaya, ia tak dapat menembus hati seorang pencari ilmu yang hatinya telah terselubungi semacam ini. Bahkan, ia hanya mendapatkan tulah (imbalan keburukan) dari perbuatannya, lebih-lebih kelak ketika ia telah pulang ke masyarakatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Longlife Pengabdian &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pengabdian memang bukan hanya milik pesantren. Namun, prinsip ini menemukan kekhasannya di pesantren. Ia merupakan satu dari sekian hal yang membuat santri lebih mandiri. Biasanya, meskipun tidak semua pesantren menerapkan, sebelum lulus dari jenjang terakhir pendidikan di sebuah pesantren, seorang santri diharuskan mengabdikan diri—berbentuk guru yang diperbantukan/guru tugas—di pesantren tersebut, dan lebih-lebih di pesantren lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Model pengabdian ini mirip Kuliah Kerja Nyata (KKN) di perguruan tinggi, hanya saja rentang waktu pengabdiannya lebih lama. Secara teknis, model pengabdian ini merupakan kerja sama antara pengurus pesantren dengan pihak alumni atau lembaga-lembaga lain yang membutuhkan. Mereka bertugas kurang lebih 1 hingga 2 tahun.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dengan menjadi seorang “guru bantu”, tugas seorang santri yang diabdikan tidak semata-mata mengajar, melainkan juga menjadi ustadz/guru agama di kampung orang. Dengan demikian, tugas dia tidak hanya mengajar, melainkan harus dapat turut dan berbaur langsung dengan kehidupan masyarakat yang kompleks. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pengabdian telah muncul seiring dengan lahirnya pesantren itu sendiri. Bahkan di awal kemunculannya, lembaga pendidikan ini memang berdiri dan berbasis pada masyarakat dengan dasar pengabdian. Seorang pengasuh bertugas semata-mata pengabdian, tanpa imbalan. Maka tidak heran jika ditemukan kiai yang menanggung santri dengan ambil alih fungsi orang tua: mendidiknya, mengawasinya selama 24 jam, lengkap dengan akomodasi dan komsumsinya secara gratis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pada masa-masa Orde Baru, dengan mudah dapat kita temukan guru-guru yang mengajar di pesantren tanpa sepeser pun bayaran. Sebab, sumbangan biaya pendidikan yang didapat dari santri tidak realistis jika masih harus disisihkan untuk menggaji guru. Para guru itu mengajar, sementara madrasah cukup memberinya kudapan atau secangkir teh sebelum jam pelajaran dimulai, serta sekali makan di saat jam istirahat. Di akhir tahun pelajaran, mereka diberi kenang-kenangan, kadang-kadang berupa peci dan sarung, atau secarik kain yang cukup buat kemeja panjang. Cukup. Itu saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Namun, perubahan drastis terjadi semenjak 1998. Kemiskinan yang mendera bangsa ini begitu terasa hingga ke masyarakat kelas bawah. Puncaknya terjadi saat pemerintah mencabut subsidi BBM dan mengalihkannya pada biaya operasional pendidikan. Tidak bisa tidak, pesantren yang juga melaksanakan kegiatan pendidikan formal kini harus “menggaji” guru sesuai dengan dana yang telah tersedia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Namun, perubahan itu bukan berarti pertanda matinya “guru abdi”. Sebab, masih banyak pesantren yang menerapkan sistem salafi menolak subsidi itu. Rupanya, image Orde Baru yang kotor masih melekat pada pemerintah. Sehingga, apa pun yang datang dari pemerintah cenderung dianggap kurang murni/diragukan (syubhat). Padahal, untuk memperoleh ilmu yang barokah dan manfaat harus didukung oleh struktur dan infrastruktur yang serbahalal. Karena itu, jangankan dana yang haram, syubhat pun terlarang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Jamaah dan Kebersamaan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pesantren dengan sistem pengajaran dan pembelajaran salafi yang menganut sistem pendidikan kelas atau nonkelas (pengajian/sorogan), semi-modern, atau bahkan pesantren modern sekalipun, pada dasarnya visi dan misi-nya tetaplah sama: mengantarkan santri pada kehidupan yang lebih baik, terutama dalam hal pendidikan agamanya. Sementara konsep terpenting dalam beragama adalah jamaah (kebersamaan). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Nilai jamaah di pesantren sangat ditentukan oleh keragaman komunitas mereka, akulturasi. Mereka berbaur dengan komunitas lain dari latar beragam budaya berbeda. Santri yang di rumahnya biasa membawa mobil pribadi atau jalan kaki, yang makan malam di restoran atau yang setiap harinya haris bekerja sendiri, setiba di pesantren mungkin akan tinggal sebilik serta makan nasi yang sama. Jika melanggar peraturan, mereka sama-sama harus menguras bak mandi atau berdiri membaca Surah Yasin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kebersamaan selama 24 jam membuat santri lebih mudah bergaul dan akrab dengan siapa pun. Berbaur dalam kebersamaan akan berdampak besar dalam pembentukan karakter santri, terutama pada pembentukan sikap adaptasi dan toleransinya. Dan puncak teori jamaah ini menemukan pengejawantahannya yang hakiki pada “shalat berjamaah” yang pasti diterapkan di semua pondok pesantren. Melalui penelitian ilmiah, konon, sel-sel dalam tubuh akan menemukan signifikansinya saat melangsungkan shalat berjamaah, yakni shalat bersama-sama yang dalam agama Islam sangat dianjurkan dengan “iming-iming” ganjaran 27 derajat berbanding 1 jika shalat sendirian. Menurut Tariq Ali, kekerapan jumlah pertemuan, seperti pada dalam shalat berjamaah, akan meningkatkan semangat kebersamaan dan rasa persaudaraan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam kebersaman ini, didukung dengan keharusan shalat berjamaah, proses pembentukan watak kolektif berlangsung dengan baik. Sekarang bandingkan dengan anak yang hanya tujuh jam (atau kurang) menghabiskan waktu di sekolah, lalu sisanya terlepas dari pengawasan karena orang tuanya sibuk sendiri, sedangkan sang anak juga sibuk dengan jadwal nongkrongnya. Teknik quantum apakah yang dapat membentuk karakter anak jika ia selalu berada di luar pengawasan? Mampukah ia mengurus dirinya sendiri pada usia di mana ia lebih mendambakan kebebasan sebebas-bebasnya? Jika ada jawaban “ada” bagi pertanyaan di atas, pasti itu hanya sebuah perkecualian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Kiai Sebagai Nabi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Panji Taufik, tetangga saya, bercerita. Baru-baru ini, untuk sebuah kepentingan profil Kiai Abdullah Sajjad Guluk-Guluk (wafat melawan tentara Belanda) yang kesohor kepribadiannya, ia hendak melakukan wawancara. Ia mencari informan. Dari penelusuran itu ia menemukan satu nama: Kiai Mannan yang tinggal di Dasuk, Sumenep, sebagai salah satu saksi hidupnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Berharap banyak mendapat informasi penting tentang Kiai Sajjad dari Kiai Mannan, setiba di Dasuk, ternyata Kiai Mannan tidak di tempat. Kata keluarganya, Kiai Mannan pergi ke suatu desa untuk membangun sebuah mushalla bagi seorang pemuka agama di sana yang kebetulan digurukan masyarakat. Semua biaya, termasuk bahan material dan ongkos kerja, semuanya ditanggung Kiai Mannan yang disisihkan dari kocek pribadi. Perlu diketahui, usia Kiai Mannan sudah di atas 70 tahun, dan ia juga bukan orang yang berkecukupan. Ia orang miskin, petani biasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dari peristiwa itu, Panji Taufik berkesimpulan, alangkah hebat peran Kiai Sajjad dalam memberi sugesti dan memotivasi santrinya dahulu. Ia cukup melihat sosok Kiai Mannan sebagai bayangannya, dan sikap Kiai Sajjad tentu lebih dari itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kisah di atas cukup memberikan informasi kepada kita bahwa figur kiai bagi masyarakat benar-benar harus menjadi nabi, atau bayang-bayangnya. Bukan saja dalam konsep, melainkan dalam kenyataan sehari-hari. Ia merupakan personifikasi idealisme kaum romantik saat bekerja, tetapi secara konkret mengerjakan apa yang dikatakannya dan mengamalkan apa yang diteladankannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kiai merupakan figur sentral di pesantren. Jika kiai dianggap bayang-bayang Allah di bumi, maka santri seharusnya menjadi bayang-bayang kiainya. Apa yang dilakukan oleh kiai sepatutnya juga dilakukan oleh santrinya. Karena itu, kiai selalu diidolakan dan dielu-elukan. Tetapi, kiai bukanlah selebritas. Sebab, jarak yang merenggangkannya dengan santri bukanlah kawalan body guard, melainkan ketakziman yang dimunculkan sendiri oleh santri karena ilmu sang kiai, keluhuran akhlaknya, atau karena pertimbangan “pangkat”-nya di sisi Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Singkat kata, kiai menjadi moral force bagi santri. Kiai menjadi idola santri. Ia menjadi figur masyarakat. Semua itu harus dipertahankannya. Sebab, dengan jalan inilah sugesti dan motivasi bisa disuntikkan dengan mudah. Seperti halnya seorang dokter dengan kapasitasnya yang memberikan sugesti sebagai penyembuhan yang utama, demikian pula dengan seorang kiai. Apa saja yang diucapkannya sama halnya dengan kondisi hipnosa di mana seseorang pasti mendengarkannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sikap disiplin atau istiqamah merupakan identitas terpenting kiai. Misalnya, bagaimana seorang kiai bangun tengah malam, membangunkan santri-santrinya untuk sahr layali (bangun malam untuk shalat), dilanjutkan shalat shubuh, mengaji kitab atau Al-Qur’an. Aktivitas terus berlangsung hingga shalat Duha tiba, memungkasi ritualnya saat matahari menyingsing setinggi penggalah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Figur sentral dan ketokohan seorang kiai pada akhirnya tidak saja bersinar di lingkungan santri, melainkan juga mencakup masyarakat sekitarnya. Dengan begitu, tugas kiai sejatinya amat berat karena ia juga dituntut bisa beradaptasi dengan nilai-nilai lokal sehingga tidak terjadi tabrakan nilai dan budaya. Kiai tidak sekadar butuh intelegensi, melainkan juga emotional quotient dan rohani yang matang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Untuk contoh ini, saya menyimpan satu cerita lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di Madura, pernah terjadi sebuah kasus: dua keluarga memperseterukan suatu hal. Karena tidak ditemukan pemecahan, diputuskanlah untuk duel satu lawan satu (sebagai perwakilan antarkeluarga). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Perlu diketahui, di beberapa tempat (meskipun hal ini hanya terjadi pada zaman dulu), duel pertaruhan harga diri yang disebut juga carok ini biasanya disaksikan oleh aparat keamanan. Mereka hanya mengamankan jalannya pertarungan. Ironis memang. Sebab, kerap kali mereka akan turut menjadi korban jika melerai karena hal itu akan dianggap sebagai tindakan “terlalu jauh ikut campur urusan keluarga orang lain”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menjelang hari H, satu dari dua kelompok yang bertikai, acabis (sowan) kepada seorang kiai. Sang Kiai pun menyuruh berdamai. Namun, orang tersebut datang ke kiai rupanya hanya membawa “pemberitahuan”, bukan untuk mencari jalan pemecahan. Dan karena merasa tak mampu lagi, akhirnya kiai memberi nasihat begini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Kamu percaya saran saya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ya, Kiai.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jika begitu, baca ini.” Kiai itu kemudian memberikan sebuah amalan yang harus dibaca sebelum duel berlangsung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Terus, apa langkah saya, Kiai?” tanya orang itu lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Sudah. Itu sudah cukup bagimu. Tetapi, ada satu lagi yang perlu kamu jaga. Kamu tidak boleh menyerang lawan lebih dulu. Sebab, yang menyerang duluan berarti marah, dan yang marah akan kalah!” tandas kiai itu mantap.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di lain waktu, dalam waktu yang hampir bersamaan, pihak lawan juga mendatangi kiai yang sama. Maka, sang kiai pun juga berpesan kepadanya dengan pesan yang sama: tidak boleh menyerang lawan lebih dulu. Sebab, yang menyerang duluan berarti marah, dan orang yang dikuasai amarah pasti akan kalah!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Alhamdulillah. Seperti sebuah film yang menggunakan teknik “akhir luar duga”, pada hari H ternyata tidak terjadi apa-apa. Sebab, kedua seteru sama-sama percaya pada pesan sang kiai, bahwa yang menyerang lebih dulu berarti marah, dan yang marah akan kalah. Hanya figur dan tokoh dengan kematangan batinlah yang dapat melakukan instruksi semacam ini. Dan prasyarat sejenis itu, di mata masyarakat, hanya ada pada seorang kiai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Catatan Akhir &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tampaknya, sistem pendidikan di pesantren memang menyimpan banyak faktor yang membedakannya dengan sitem pendidikan non-pesantren. Di antara faktor-faktor tersebut adalah adanya atmosfer mistis-religius yang dibingkai dalam sebuah dalil la ya’lamuhu illallah (hanya Allah yang tahu), seperti barokah dan tulah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di samping itu, kiai sebagai figur sentral pemimpinnya, konsep jamaah, serta model karantina, menjadi bagian penting lain yang mencitrakan pesantren berbeda. Setelah kita tahu semua itu, maka tidak mengherankan jika dikatakan bahwa melalui sistem itu pesantren telah berhasil menciptakan santri yang berkarakter, mandiri, dan toleran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Lebih dari itu, berbeda dengan lembaga pendidikan pada umumnya, pesantren tampak seperti “rumah tangga raksasa”. Di sana, santri diawasi penuh dari pagi hingga kembali pagi. Proses transfer of knowledge telah diperankan sekolah, namun transfer of value—yang justru paling dominan dalam pembentukan karakter anak—diperankan oleh pesantren sehingga kedua unsur ini sama-sama dapat berlangsung baik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menurut Kiai Idris Jauhari, salah seorang pengasuh pesantren di Madura, pembentukan karakter seorang santri nyaris dibentuk oleh lingkungan kamar, dengan kawan dan pergaulan sesama santri, bukan di ruang-ruang kelas. Sepertinya, beberapa komponen pendukung seperti ini hanya dimiliki oleh pesantren dan tidak lembaga yang lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di pesantren, seorang santri dididik bermasyarakat. Mereka dituntut mampu bergaul dengan kejamakan kawan-kawannya. Semua itu berlangsung di tempat dan lingkungan (religius) yang terkontrol (jika nongkrong dan diskusi biasanya di serambi masjid, bukan di diskotek), informasi dan komunikasi pun dapat dikendalikan: dipilih, tidak memilih sendiri. Kalaupun mereka nakal, setiap saat mereka akan melihat teladan, baik itu kiai, guru, atau rekannya. Hal itu akan membentuk cara bergaul dan etiketnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di masa penjajahan dulu, pesantren menjadi markas Lasykar Sabilillah untuk melawan penjajahan. Sebelum dan pascakemerdekaan, pesantren menjadi lembaga pendidikan yang berjasa besar dalam melawan kebodohan. Semua itu dilakukan secara mandiri, dengan biaya sendiri. Kini, saatnya bertanya: jika semua amal di atas adalah sebuah utang, kapan dibayar? Jika moral harus dibayar moral, maka jika pembayaran itu dalam bentuk dana subsidi pendidikan sepertinya belum sepadan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya kira, para pengambil kebijakan di bidang politik pendidikan perlu melirik sistem taklim (pengajaran) dan tadris (pendidikan) ala pesantren. Sebagai khazanah lokal Nusantara yang usianya cukup tua, selayaknya unsur pendidikan pesantren patut menjadi bagian pertimbangan dalam pengambilan kebijakan sistem pendidikan kita. Sekadar contoh, di saat kita sibuk dengan pengembangan unsur afektif dan psikomotorik (karena selama ini terlalu cenderung pada unsur kognitif), sejak dulu pesantren telah menerapkan ketiga-tiganya sekaligus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ya, tentu tidak semua yang telah saya tulis di atas itu dapat memuaskan semua pihak. Terutama mereka yang ikut memunculkan tudingan bahwa pesantren ikut menciptakan akar-akar radikalisme dan kekerasan dalam beragama. Saya kira, akar-akar seperti ini selalu muncul dari reduksi pemahaman. Dan reduksi semacam ini selalu muncul dari ketidakmampuan menganalisa sumber asli, sumber otentik agama Islam: Al-Qur’an dan hadits. Padahal, kaum santri mempelajari Islam bukan dari buku terjemahan, melainkan langsung ke sumber aslinya. Lalu, pesantren macam apa yang mereka buat? Adakah itu pesantren “proyek”, pseudo-pesantren yang dibikin untuk merusak citra pesantren? Itulah pertanyaan hati kecil saya yang tidak menarik jika saya jawab sendiri dalam tulisan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sekali lagi, tentu tidak semua orang akan menganggukkan kepala atas apa yang saya tulis ini, dan sedang mereka baca. Bahkan, beberapa butir yang saya tulis, seperti barokah, bisa jadi tampak tidak masuk akal karena tidak empiris. Sementara penelitian ilmiah hanya mampu melihat dan menerima hal-hal yang empiris. Lalu, bagaimana merasionalisasikan hal-hal yang tidak empiris dengan hujjah yang empiris dan bukti kasatmata? Signifikansi tidak terjadi di dalam wacana, tetapi saat dipertentangkan dengan hal yang nyata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Karena itu, jika tertarik, datanglah ke pesantren. Saya yang berlatar pendidikan pesantren dan non-pesantren, saat ini seperti seorang pelayan toko. Kepada Anda saya berkata: “Lihat-lihat dulu ndak apa-apa, kok. Jika cocok, ya, baru dibeli!” &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;dimuat di BASIS, Agustus-September 2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-8542095126321087485?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/8542095126321087485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/08/ala-santri.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/8542095126321087485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/8542095126321087485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/08/ala-santri.html' title=''/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-1641240648935806378</id><published>2008-08-04T23:16:00.000+07:00</published><updated>2008-11-22T04:32:45.971+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;SILSILAH INTELEKTUALISME DAN SASTRA DI PESANTREN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(sebuah perambahan atas tradisi pesantren, sastra, dan sastra pesantren)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh M. Faizi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;Pesantren merupakan salah satu kekayaan khazanah pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang cenderung pada keagamaan, pemondokan (karantina), serta penerapan pola pendidikan selama 24 jam merupakan salah satu keunikannya. Karena itu pulalah, pesantren dianggap sebagai pengejawantahan local genus pendidikan Nusantara yang sejati.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;Kekayaan lektur dan intelektualisme pesantren dibuktikan dengan banyaknya kitab-kitab turats yang ditulis oleh para mushannif (pengarang) berlatar pesantren. Karya-karya ini tidak saja populer di Indonesia, melainkan juga hingga ke tanah Arab. Di antara para pengarang tersebut antara lain adalah: Syekh Abdus Shamad Al-Falimbani, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Yasin al-Fadani, Kiai Ihsan Jampes, Kiai Ma’shum Ali, Kiai Hasyim Asy'ari, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;Di samping khazanah intelektualisme, pesantren juga dekat dengan tradisi susastra, khususnya puisi. Bahkan, puisi (syi’ir) menjadi ruh bagi hampir seluruh aktivitas keilmuannya. Berbagai macam disiplin ilmu keagamaan diajarkan melalui bait-bait puisi (nadham). Syi’ir-syi’ir ‘ilmi ini tidak saja dipelajari, melainkan juga dihapalkan. Tradisi nadham dan hapalan menjadi dua serangkai yang nyaris tidak dapat dipisahkan. Sehingga, jika dikatakan seseorang belajar ‘Amrithi atau Alfiyah, maka sejatinya dia sedang belajar ilmu nahwu melalaui puisi-puisi ‘ilmi itu dengan cara menghapalkannya sekaligus.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;Di samping itu, silsilah akar sastra di pesantren yang lainnya adalah diba’. Pembacaan antologi puisi karya Imam Abdurrahman Ad-Dayba’i ini dilakukan seminggu sekali oleh masyarakat pesantren. Diba’, bahkan secara “magis”, juga dianggap sebagai doa untuk kepentingan penyembuhan dan doa keselamatan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;Belakangan, muncul istilah sastra pesantren. Wacana ini berkembang sekitar tahun 2000-an, tepatnya ketika Abdurrahman wahid (Gus Dur) menjabat sebagai presiden RI. Besar kemungkinan, kepresidenan Abdurrahman Wahid menjadi pertanda bagi bangkitnya kelompok masyarakat yang bergerak di jalur kultural (pesantren) yang selama Orde Baru mereka tidak memiliki kesempatan. Gus Dur menjadi juru bicara orang-orang pesantren untuk masyarakat nonpesantren, termasuk masyarakat asing.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;Akan tetapi, ternyata, wacana sastra pesantren tidak pernah tuntas dibahas. Di satu sisi, sastra pesantren dianggap sebagai nama bagi genre (yang secara teoretis, hal ini tidak mendapatkan alasan pendukung), sementara di sisi yang lain sastra pesantren dianggap sebagai bagian dari “gosip sastra”; dan di sisi lain lagi, penamaan tersebut dianggap sebagai usaha para sastrawan, wartawan, juga pemerhati kesusastraan sekadar untuk menandai para sastrawan yang lahir/berlatar pendidikan di pesantren dan atau pula karya sastra, baik puisi maupun prosa, yang mengangkat tema, latar, serta visi-misi yang senantiasa mengacu pada pesantren dan nilai-nilai kesantrian.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kata-kata kunci:&lt;/span&gt; Intelektualisme. Sastra. Pesantren&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Berpuluh-puluh tahun lamanya, di negeri ini, dan terutama pada era Orde Baru, orang-orang pesantren selalu dicekam oleh perasaan minder dalam segala aspek kehidupannya. Tidak hanya minder, mereka juga merasa tidak mempunyai wilayah yang memadai untuk mengembangkan karir: politik, ekonomi, dan bahkan di ranah pendidikan sekalipun: suatu ranah yang seharusnya menjadi dasar pijakannya. Sebab, dalam banyak penelitian, pesantren dianggap sebagai pralambang model pendidikan sejati di Nusantara.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Secara lahiriah, orang-orang pesantren ini dapat dengan mudah dikenali. Kelompok ini dapat dicirikan dengan peci, bawahan sarung, alas kaki bakiak (terompah), ke mana-mana membawa kitab gundul, belajar di musholla, dan seterusnya. Memang, identifikasi ini tampaknya istimewa dan mudah diingat karena telah menjadi “kode” yang digunakan oleh beberapa antropolog untuk mencirikan kaum santri (M. Faizi: 2007). Meskipun pencitraan ini realistis, namun ada kesan inferioritas di sana. Sebab, pencitraan seperti di atas, galibnya, juga disertai dengan pencitraan yang berhubungan dengan klenik, berbau kuno/klasik, dan seolah-olah anti-modernitas. Tak heran, banyak orang yang mengait-ngaitkan pesantren dengan hal-hal yang hanya berlandaskan keyakinan mistis, takhyul, dan tidak mau mengikuti perkembangan zaman.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Beruntung, sejak Abdurrahaman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, sedikit demi sedikit, kaum santri seolah-olah baru saja mendapatkan juru bicara terbaiknya untuk memperbaiki citra miring tersebut itu, terutama kepada masyarakat/pers asing dan kaum cerdik-pandai, bahwa santri (pesantren) tidak sekumuh dan tidak sekuno seperti yang ada di dalam benak pencitraan mereka. Walaupun dalam jagad politik Gus Dur kerap kali melakukan manuver-manuver yang cenderung kontra-produktif sehingga banyak ditentang oleh banyak kelompok masyarakat, namun dalam hal menyuarakan identitas santri dan kepesantrenan kepada publik non-pesantren, tidak ada yang keberatan jika dikatakan bahwa Gus Dur-lah yang punya peran vital. Data-data yang telah digali dan ditera oleh Mastuhu dalam Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren maupun Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren itu telah disempurkan dengan baik olehnya, lalu disampaikan secara lugas dan meyakinkan bagi orang-orang non-pesantren, bahkan termasuk kepada mereka yang selama ini “memusuhi” pesantren.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;TRADISI INTELEKTUALISME DI PESANTEN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Dalam laporan-laporan penelitian, dengan data-data yang valid dan akurat, disebutkan bahwa tradisi (keilmuan) di pesantren sangatlah kaya. Bahkan, ada pula yang telah sampai pada kesimpulan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang asli Nusantara dengan khazanah intelektual yang luar biasa. Salah satu dari kekayaan itu adalah model pendidikan 24 jam, yakni model pengasramaan (karantina/pondok). Ironisnya, saat ini, model pendidikan karantina (asrama/pondok) telah diterjemahkan dan diusung ke Barat, dan justru maju lebih pesat. Sementara pesantren telah dilupakan oleh banyak orang, bahwa model pendidikan ini merupakan model pendidikannya yang sejati.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Di samping itu, tesis yang menyatakan bahwa “tradisi keilmuan di pesantren sangatlah kuat” tidak dapat terbantahkan. Akar intelektualisme tokoh-tokoh pesantren, kitab-kitab yang dikarang/ditulis maupun yang diajarkan; tradisi keilmuan—terutama agama—menjadi identitas pesantren yang paling penting. Salah satu ciri penting lainnya adalah tradisi menghapal puisi-puisi berbahasa Arab (syi’ir/nadham).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Transformasi ilmu pengetahuan ini terus-menerus berlangsung di pesantren, juga dari luar ke pesantren, maupun sebaliknya. Akan tetapi, sebelum itu, perlu dicatat bahwa silsilah ilmu pengetahuan ini secara umum dibentuk melalui dua fase. Fase pertama, yakni penyebaran Islam di Nusantara, terjadi pada abad ke-13 sampai abad 15 M. Fase kedua, berlangsung pada abad ke-18 sampai awal abad 20. Pada fase ini, ulama-ulama menuntut ilmu ke pusat Islam di Timur Tengah dan membawanya pulang kembali ke negeri asal mereka (Zamiel el-Muttaqien: 2005). Ulama-ulama ini kemudian menjadi tokoh dan banyak memberikan warna pada kehidupan masyarakat, termasuk mengambil peran dalam memperkenalkan dan kemudian mengajarkan sumber-sumber referensi agama Islam yang tentunya dari Bahasa Arab.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Tradisi keilmuan pesantren berbasis agama (Islam) notabene berasal dari tanah Arab (Baghdad, Hijaz, Mesir, dll.). Karena itu, hampir semua sumber otoritatif untuk itu menggunakan bahasa Arab. Di pesantren, para santri mempelajari bahasa Arab agar dapat mendalami ilmu pengetahuan tersebut langsung pada sumber aslinya, yakni kitab-kitab turats yang hampir seluruhnya menggunakan bahasa ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Sumber rujukan ini berbentuk dua macam; natsar (prosa) dan syi’ir/nadham (puisi/versifikasi). Inilah cetak biru yang dapat kita mulai untuk membicarakan perihal hubungan kelit-kelindan antara pesantren dan sastra pada akhirnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Dalam mempelajari ilmu, penggunaan teknik hapalan lebih bersifat dasar alasan, bukan asas tujuan. Karena, tujuan utamanya adalah memahami, sementara hapalan, yang tentu saja dimaksudkan untuk lebih mudah mengingat, juga menjadi acuan/referensi sebagai argumen, siapa tahu suatu saat dibutuhkan sebagai dalil/jawaban. Dan umumnya, yang dihapalkan oleh para santri ini adalah syi’ir/nadham.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Pada zaman Jahiliyah, seorang juru bicara kabilah adalah seorang penyair. Dan penyair ini memiliki peranan penting untuk menentukan penghargaan dan penghormatan kabilah lain kepada kabilahnya. Karena itulah, mengarang syi’ir/nadham, dalam tradisi Arab sejak zaman Jahiliyah, merupakan suatu kebanggaan. Bahkan, tradisi sastra Arab identik dengan puisi. Fenomena adu puisi di momen sastra “Pasar ‘Ukkaz” dan juga puisi-puisi terbait digantungkan di Ka’bah (mu’allaqat) merupakan bukti nyata yang dicatat oleh para ahli sejarah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Meskipun orang-orang Jahiliyah pandai menggubah puisi, namun teori penciptaan puisi baru “terlembagakan” dan dikenal sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri setelah munculnya Al-Khalil bin Ahmad. Dialah peletak batu pertama ‘Ilmu ‘Arudl, sebuah disiplin ilmu yang membahasa perihal penciptaan rima dan matra dalam puisi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Salah satu keunggulan tradisi bersastra dalam masyarakat Arab ini adalah penyajian konsep/teori disiplin suatu ilmu melalui puisi. Teori-teori itu dipaparkan melalui bait-bait puisi, dihimpun, dan diberi judul dalam suatu kitab. Hampir tak ada satu pun disiplin ilmu di dunia ini yang ditulis menggunakan media puisi, kecuali oleh mereka. Lazimnya, yang kita tahu adalah: disiplin ilmu disajikan melalui gaya penulisan prosa (deskripsi-eksposisi). Memang betul, banyak buku pengetahuan yang ditulis dengan bahasa “puitis”. Namun, sekali lagi, hanya sebatas puitis, bukan puisi. Sementara orang Arab menuliskan gagasan ilmiahnya secara konseptual melalui media puisi. Ini adalah sebuah tradisi yang luhur dan ajaib. Yang paling masyhur bagi kita antara lain adalah buku kumpulan puisi “Alfiyah” karya Ibnu Malik. Kitab ini berisi 1000 larik puisi tentang ilmu tata bahasa Arab (gramatika). Mendampingi “Alfiyah”, ada pula nadham Maqshud, puisi yang mempelajari ilmu konjugasi/perubahan bentuk kata.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Setelah orang-orang nonmuslim dan Eropa berhasil menghancurkan pusat-pusat tamaddun Islam di Irak (Baghdad), Andalusia, juga Turki, lalu mengusung kekayaan intelektualnya ke negeri-negeri mereka, kini tinggal satu yang tersisa, yang senantiasa gemilang di Timur (Arab): itulah “transformasi ilmu pengetahuan melalui puisi”. Inilah satu kekayaan, keunikan, dan keajaiban yang tidak dapat diterapkan dalam kehidupan ilmiah mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Tradisi “tansformasi ilmu pengetahuan melalui puisi” merupakan keistimewaan, bahkan, barangkali merupakan acuan paling dasar dari semua pembicaran tentang silsilah/referensi ilmiah di pesantren. Berbagai disiplin ilmu pengetahuan diturunkan melalui puisi, mulai dari teori-teori hukum fiqh, gramatika, teori rima dan matra, hingga linguistik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Sekadar perbandingan: para pemikir, filsuf, dan tokoh-tokoh garda depan, seperti Nietszche dan Camus, serta juga banyak filsuf besar yang lain, kerap kali menyampaikan gagasan dan pemikirannya secara umum melalui karya sastra, seperti Zarathustra dan La Paste misalnya. Namun, karya pemikiran mereka itu berbentuk prosa, bukan puisi. Prosa yang puitis sekali pun tetaplah prosa, bukan puisi. Jarang, atau bahkan mungkin nyaris tiada, dari kalangan Barat (non-Arab) yang benar-benar berhasil dalam menuliskan teori disiplin ilmu tertentu secara konseptual dan praksis melalui puisi. Kalaupun ada, barangkali silsilah rujukannya dapat dipastikan juga dari tradisi Arab juga.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa khazanah pemikiran Arab-Islam Klasik juga memiliki pucuk silsilah dari tradisi intelektualisme Yunani Kuno, namun orang-orang Arab telah berhasil memodifikasi, menerjemahkan, dan menyadur karya-karya para pemikir Yunani tersebut lalu menjaganya dalam sebuah tradisi intelektual yang terus berlangsung hingga hari ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Berkebalikan dengan itu semua, hampir setiap para pemikir Arab dapat dipastikan punya dasar bersastra yang kuat. Di Arab, terutama dalam tradisi kehidupan ilmiah klasik, tokoh-tokoh ilmu pengetahuan biasanya juga seorang “merangkap” sebagai sastrawan: seorang fisikawan sekaligus sastrawan; atau musikus juga sebagai penyair; dan seterusnya. Sebut saja nama Al-Farabi yang disandingkan tanpa jarak dengan musik. Namun begitu, ia juga dikenal sebagai filosof dan juga seniman. Demikian pula dengan Kamaluddin ad-Dumairi, filosof yang ahli biologi ini juga dikenal luas di Eropa sebagai pakar susastra.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Lebih dari itu, para ilmuwan Arab-Islam adalah polymath, dan sebagian lagi juga poliglot. Secara umum, mereka dapat dan pernah menulis karya sastra, terutama anotolgi puisi. Bahkan, disebutkan bahwa Syihabuddin Ahmad bin Majid yang dikenal sebagai pelaut, juga menulis dua antologi puisi (diwan) penting; Al-Qashidah li Ibni Majid dan al-Qashidatul Musammah bil Mahriyyah. Konon, dialah yang menolong Vasco Da Gama menemukan Tanjung Harapan. Ia bahkan memetakan cara melakukan pelayaran di berbagai kawasan yang berbeda untuk melintasi Laut Merah. Perlu dicatat: ia menuliskan teori pelayaran itu dalam bait-bait puisi! Bahkan, beberapa orang yakin kalau oang-orang Portugis tidak akan pernah dapat melintasi Samudra Hindia andai tanpa bantuan petunjuk dari puisi Syihabuddin ibnu Majid ini. Kini, puisi tersebut dimuseumkan dalam sebuah manuskrip yang tesimpan di sebuah institut di Leningrad (Saint Petersburg), Rusia (Muhammad Ali Usman, 2007: 215-216).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Imam mazhab (fiqh) yang paling populer di Nusantara, yaitu Imam Syafi’i, juga menulis puisi. Belakangan, beberapa puisinya telah diterbitkan ulang dalam cetakan baru yang diberi judul “Diwan asy-Syafi’i.” Demikian juga Abu Nuwas, yang dikenal luas sebagai cendekia jenaka, tetapi juga sering kali dinisbatkan sebagai filsuf/tokoh sufi, juga menulis puisi. Antologi puisinya yang paling masyhur adalah kumpulan puisi khamriyyat (anggur-isme).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Dalam banyak hal, puisi jauh lebih dekat kepada masyarakat santri (pesantren) di Indonesia daripada genre sastra yang lain. Tradisi ini, kalau dirunut, sepenuhnya mengakar pada tradisi Arab tadi, dan bukan lainnya, kecuali hanya mungkin perkecualian semata, seperti dari tradisi Inggris atau Belanda. Puisi, dalam pengertian nadham, sangat akrab dengan masyarakat meskipun tidak berarti ia menjadi bukti kalau selera bersastra Indonesia sepenuhnya didasarkan pada tradisi ini. Namun, yang pasti, puisi yang mula-mula berkembang sangat identik dengan Arabisme, dan Arabisme—awal mulanya—senantiasa identik dengan keislaman: kira-kira, demikianlah silsilah penjabarannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Di Madura misalnya, tradisi bersya’ir (syi’ir) cukup kuat tertanam dalam di kehidupan masyarakat, bahkan di luar pesantren sekalipun. Kecenderungan ini sepenuhnya dapat dimaklumi dengan mengetahui bahwa bahasa Arab—bagi masyarakat pesantren—nyaris menyerupai “bahasa kedua”. Bahkan, pada beberapa masyarakat di lingkungan pesantren di Madura, tidak sulit untuk menemukan orang yang kefasihan bahasa Arabnya lebih baik daripada ketika dia menggunakan bahasa Indonesia. Menurut Jack Goody, kasus serupa sebenarnya juga tampak di daerah Afrika Barat, dengan pengecualian atas beberapa pengucapan beberapa suku gurun Arab. Pendidikan muslim tradisional mengambil posisi di dalam bahasa Kitab, lebih Arabis, melebihi pengucapan penduduk setempat (Goody, 1987:194).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Sebetulnya, akar sejarah ini berkembang dan diturunkan dari tradisi Melayu yang segala seluk-beluknya sangat kental dengan nuansa keislaman. Hal ini tidak terjadi di Jawa yang identik dengan Hindu. Keterpengaruhan orang-orang Melayu cukup nampak dalam hal-hal penggunaan mereka terhadap term-term (peristilahan/kata kunci berbahasa Arab), juga seperti halnya dapat dengan mudah kita temukan dalam diksi-diksi Melayu lama. Sebagaiamana dinyatakan oleh Amin Sweeney, mayoritas penggunaan peristilahan untuk konsep asli dalam beberapa penulisan adalah bahasa Arab (Sweeney, 1987:199).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Silsilah akar sastra yang lain di pesantren adalah diba’. Pembacaan antologi puisi karya Imam Abdurrahman Ad-Dayba’i ini nyaris dilakukan setiap minggu oleh masyarakat pesantren, bahkan terkadang hingga dua kali seminggu. Selebihnya, tradisi pembacaan diba’ ini biasanya juga dihelat pada acara pernikahan dan acara-acara ritual yang lain. Puisi-puisi ini bukan sekadar dibaca, melainkan juga dihapalkan. Diba’, bahkan secara “magis”, juga dianggap sebagai doa untuk kepentingan penyembuhan dan keselamatan. Adalah sebuah keyakinan yang luar biasa di sini: membacakan puisi sebagai doa penyembuhan!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Tradisi syi’ir/nadham dan hapalan adalah dua serangkai yang nyaris tidak dapat dipisahkan. Sehingga, jika dikatakan seseorang belajar ‘Amrithi atau Alfiyah, maka sejatinya dia sedang belajar ilmu nahwu melalaui puisi-puisi ‘ilmi itu dengan cara menghapalkannya sekaligus.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Demikianlah, sesungguhnya gambaran di atas cukup signifikan untuk dijadikan sebagai gambaran kedekatan orang-orang pesantren/santri dengan tradisi sastra, nadham, dan kelisanan dalam konteks disiplin keilmuan. Kemampuan berikutnya ditunjukkan dengan baik oleh civitas pesantren dalam bentuk kompetensi di bidang karang-mengarang, sastra maupun non-sastra. Para kiai, dan sebagian juga oleh santri, menyusun kitab; baik berupa nadham (puisi) maupun natsar (prosa). Sebagian karya-karya mereka diajarkan, dicetak, dan juga diterbitkan, meskipun hanya mencakup dan tersebar di lingkungan terbatas (di lingkungan pesantren tersebut).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Akan tetapi, tak jarang karya ulama yang melampaui batas lingkungannya. Banyak kiai yang menulis kitab dan diterbitkan untuk umum, bahkan masyhur tidak saja di tanah air (Nusantara), melainkan hingga ke luar negeri, bahkan hingga jauh di tanah Arab. Terutama karya-karya ulama zaman dahulu. Sebut saja misalnya Syekh Abdus Shamad Al-Falimbani, Syekh Nawawi al-Bantani (Nihayat az-Zain, Marahu Labid/Tafsir Munir), Syekh Yasin al-Fadani (Fawaidul Janiyyah, Hasyiyah Faraidul Bahiyyah), Kiai Ihsan Jampes (Siraj at-Thalibin), Kiai Ma’shum Ali (Amtsilat at-Thashrif), Kiai Hasyim Asy'ari (At-Tanbihat al-Wajibat) dan juga, yang muncul belakangan, Shohib Khaironi El Jawy yang menulis kitab panduan tata bahasa Arab dengan metode skema dan diagram yang memudahkan pembaca yang ingin mendalami ilmu nahwu-sharaf. Kitab karangannya ini, Audhlahul Manahij, bahkan telah “diakui” kompetensinya di negara-negara Arab (Em Syuhada’: 2008). Ulama-ulama Nusantara yang disebutkan di atas telah berkiprah cukup baik dalam tradisi kepengarangan di tanah air dan luar negeri. Selengkapnya, biodata mereka antara lain dieksiklopedikan oleh Mastuki HS dan Ishom El-Saha dalam buku “Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Keemasan Pesantren”, dan sebagian juga disitir dalam “Transformasi Otoritas Keagamaan: Pengalaman di Indonesia”, suntingan Jajat Burhanuddin dan Ahmad Baedowi: diterbitkan oleh Gramedia—kerjasama dengan PPIM-UIN Jakarta dan Basic Education Project (DEPAG), tahun 2003.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Pada perkembangan berikutnya, pesantren mengalami banyak pembenahan. Pembenahan ini tidak saja terjadi pada ranah kurikulum, melainkan juga pada “ideologi kepesantrenan”. Tradisi salaf dan modern kemudian mengemuka dan menjadi wacana khusus. Seiring dengan wacana ini, para penulis dan tokoh dari kedua model institusi ini pun bermunculan. Biasanya, para penulis dari pesantren salaf menulis kitab (nadham) dan para penulis dari pesantren non-salaf menulis karyanya dalam bahasa Indonesia, baik berupa puisi maupun prosa; baik fiksi maupun non-fiksi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Akan tetapi, jika dihitung dari usia awal mula pesantren dikenal di Nusantara, bahkan sebagai cikal-bakal model lembaga pendidikan “asli” Nusantara, munculnya penulis-penulis berlatar pesantren ini terhitung lambat (dengan catatan: jika yang dimaksud “menulis” itu adalah “menulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia”). Nama-nama tokoh, yang nota bene merupakan penulis (eseis/sastrawan), seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholis Madjid, maupun Emha Ainun Nadjib, muncul dan berkiprah dalam kancah pemikiran penting di tanah air. Belakangan, muncul nama Kiai Muhyiddin, Agoes Masyhuri, Kiai Husein, Said Agil Siradj, dll.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Meskipun para penulis tersebut tidak menekuni bidang karya sastra secara khusus, tetapi dapat dipastikan kalau selama bergelut di pesantren dahulu, pastilah tradisi kepengarangan mereka diawali dari tradisi menulis karya sastra, menulis puisi dan cerpen misalnya. Sebab, di samping seperti telah diungkap di muka, tradisi bersastra begitu kuat di mana pun pesantren, bahkan bukti-bukti untuk itu masih terekam dalam jejak yang jelas hingga saat ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Ada pula beberapa penulis yang memang secara khusus menekuni jalan hidupnya di jalur kesusastraan. Sebut saja nama Djamil Suherman, Gus Mus, M. Fudoli Zaini, Zainal Arifin Toha, dan seterusnya. Dan jika dihitung siapa saja santri/alumni yang menjadi sastrawan/penyair, yang lahir dan pernah belajar di pesantren meskipun mereka sendiri tidak mengangkat tema-tema kepesantrenan, bahkan mungkin secara ekstrem “menolak” nilai-nilai kepesantrenan, barangkali jumlahnya akan ada sekian puluh, atau mungkin ratusan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;SASTRA DAN SASTRA PESANTREN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Tidak dapat disangkal, suka atau tidak suka, Gus Dur-lah yang telah membukakan pintu gerbang kepesantrenan: pintu tempat orang-orang luar masuk dan melihat-lihat pesantren, dan dia pulalah yang mengajak civitas pesantren untuk keluar dan menunjukkan diri kepada dunia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Sebelum pemerintahan Gus Dur, kalaupun banyak penulis yang berasal dari pesantren, publik tidak pernah mengenal mereka dengan baik karena para penulis (sastrawan) itu memang tidak menampakkan diri. Di era presiden RI ke-4 itulah orang-orang pesantren, terutama yang bergerak di bidang kebudayaan dan kesusastraan mulai dipertimbangkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Memang betul, bahwa beberapa nama yang disebut di atas telah dikenal sebelum kepemimpinan Gus Dur, namun di era Gus Dur lah, setidaknya, para penulis/sastrawan menemukan rasa percaya dirinya semakin membaik. Lihatlah misalnya, kini banyak sekali kita temukan para penulis yang merasa mantab untuk membubuhkan identitas setelah namanya dengan, misalnya, “penulis/penyair adalah alumni pesantren ini”, atau “pernah nyantri di pesantren anu”. Dulu, di era Orde Baru, rasanya sangat asing jika ada yang menuliskan identitas diri semacam itu: bisa disebabkan karena minder, atau karena “pesantren” dianggap tidak akan memberikan nilai tambah bagi popularitas, bahkan justru mengambrukkannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Walaupun pencitraan pesantren telah diangkat dalam karya sastra puluhan tahun yang lalu, lewat karya Djamil Suherman, maupun Saifuddin Zuhri, dan juga M. Fudoli Zaini, namun wacana “sastra pesantren” sama sekali tidak pernah diperbincangkan. Istilah ini, meskipun terus diperdebatkan hingga hari ini, secara praktis muncul sejak adanya kecenderungan dari penulis-penulis alumni pesantren, atau yang berlatar pesantren, dan atau pelajar yang sedang mondok (status santri di sebuah pondok pesantren), mulai menulis di koran dan secara meyakinkan mewartakan identitas dirinya sebagai orang pesantren. Jadi, bisa dipastikan, awal mula kemunculannya, bukunlah dilartarbelakangi oleh isu kesastraan, melainkan oleh isu gagasan (tema, seting) dan personal (sastrawannya).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Wacana sastra pesantren semakin kuat manakala beberapa penerbit di Jogjakarta, termasuk di antaranya Navila, secara konsisten menerbitkan karya-karya sastra terjemahan dari Timur Tengah, yang barangkali, dianggap masih punya kekerabatan silsilah yang dekat dengan dunia pesantren (faktor bahasa Arab). Meskipun alasan ini terasa agak naif, namun nyatanya upaya Navila untuk itu tetap konsisten. Navila menerbitkan dan menerjemahkan karya-karya dari bahasa Arab, seperti karya-karya Musthafa Lutfi, Syekh Nizhami, dan banyak penulis Arab (terutama Mesir) lain. Cara ini ditempuh untuk membidik konsumen santri/pesantren. Tidak hanya menerbitkan karya-karya sastra Arab, Navila juga melakukan silaturrahmi ke pesantren-pesantren. Penerbit ini bahkan juga memprakarsai lahirnya majalah “Fadilah” yang secara tegas mengusung slogan “majalah sastra pesantren”. Tetapi, sayang, “Fadilah” akhirnya gulung tikar sebelum mencapai usia selusin edisi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Sebelumnya, LKiS pernah memprakasai terbitnya majalah “Kinanah”, sebuah majalah hasil kerjasama lembaga kajian dan penerbit itu dengan para pelajar/mahasiswa Indonesia Mesir, yang kala itu—kalau tak salah—diawaki, di antaranya oleh Aguk Irawan dan Habiburrahman. “Kinanah” diproyeksikan sebagai media sastra bagi santri, khususnya bagi mereka yang ingin menuangkan gagasan di bidang karya sastra, dan juga sebagai media silaturrahim para pelajar Indonesia dengan rekan-rekan mereka yang berada di Mesir. Majalah yang muncul di awal-awal tahun 2000-an ini, meskipun terbit kurang dari tiga kali, juga menjadi catatan penting sebagai titik mula munculnya wacana sastra pesantren.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Selepas itu, mungkin karena “Kinanah” dianggap mati suri, pada awal tahun 2003 Jadul Maula dan LKiS tetap berniat baik untuk menindaklajuti isu ini. Bertempat di pendopo LKiS Sorowajan, bersama Sholeh UG dari Navila, LKiS mengundang tokoh-tokoh kesusastraan yang diangap paling bertanggungjawab terhadap wacana ini. Kala itu, yang hadir antara lain adalah Acep Zamzam Noor, Zainal Arifin Toha, Aning Ayu Kusuma, Hamdi Salad, Ahmad Fikri, dll. Saat itu, dihelat sebuah acara peluncuran buku terbitan Gita Nagari yang diberi label “buku sastra pesantren”, sebuah buku bunga rampai yang dikatapengantari oleh Ahmad Tohari: Kopiah dan Kun Fayakun (2003).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Dalam kesempatan itu, Acep Zamzam Noor menyatakan kurang setuju dengan pelabelan “sastra pesantren” atau “sastra santri”. Sebab, pelabelan ini, menurutnya, akan menjadi beban yang berat bagi para penulis kalangan pesantren untuk selalu menggarap tema-tema tertentu, misalnya soal kehidupan pesantren atau tema-tema yang berbau dakwah. Bukan hanya beban, bahkan pelabelan ini bisa jadi menghambat kreativitas penulisnya itu sendiri. Menurutnya, ukuran sastra sebagai karya adalah kreativitas, tanpa harus mempedulikan siapa dan dari kalangan mana penulisnya, begitu juga tema yang diangkatnya (Acep Zamzam Noor: 2006).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Respon awal gagasan Navila ini sangat baik. Dengan niat baik hendak mengangkat martabat pesantren dalam wacana kesusastraan di tanah air, serta didasari oleh keinginan yang kuat untuk mengumpulkan dan mencari penulis-penulis berbakat dari pesantren, Navila mengirimkan “undangan untuk menulis” kepada sekitar 200 pesantren. Terbukti, responnya cukup positif. Sekitar 40 pesantren meresponnya dengan mengirimkan karya-karya para santrinya. Setelah melalui proses pilah-pilih, akhirnya 17 cerpen dikumpulkan dalam buku Kopiyah dan Kun Fayakun (Neneng Yanti, 2003).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Hampir bersamaan dengan usaha Navila, Diva Press, juga di Jogjakarta, melakukan hal yang serupa. Bedanya, Diva lebih meringkaskan ruang lingkup penulisnya. Penerbit Diva meminta beberapa santri, terutama di Madura (Annuqayah Guluk-Guluk dan Al-Amien Prenduan) dan akhrinya menerbitkan beberapa buku kumpulan cerita pendek. Di antaranya adalah Balada Seorang Virgie, Ayah, dan antologi Harapan yang Terkoyak. Ketiga kumpulan cerpen ini terbit pada bulan dan tahun yang sama; September 2002.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Setelah itu, hampir tiga tahunan lamanya, isu sastra pesantren seolah-olah sepi pembicaraan, kecuali hanya letupan-letupan kecil di koran saja. Baru pada akhir tahun 2005-an, muncullah nama Matapena (kelompok LKiS), sebuah penerbit yang memunculkan wacana sastra pesantren kembali dengan membubuhi embel-embel “pop”: sastra pop pesantren!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Tampaknya, kemunculan penerbit dan wacana ini diproyeksikan untuk mengimbangi dua arus besar gelombang produk-produk bacaan pop yang menyerbu wilayah pembaca remaja, tak terkecuali para remaja santri di pesantren. Fenomena buku best seller nasional sejak tahun 2003-an yang dipegang oleh penulis-penulis pendatang baru seperti Esti yang menulis Fairish dan Dyan dengan Dealova ataupun Nothing But Love yang ditulis Laire inilah yang menjadi pemantik utamanya. Salah satu pemainnya, yaitu Gramedia, pada tahun itu langsung merajai pasar buku fiksi remaja di Indonesia (M. Faizi: 2005). Tanpa harus perlu mendebatkan soal kualitas, setidaknya, secara finansial, ketiga nama di atas menjadi tambang emas bagi penulis dan penerbit. Secara “ideologis”, tema, seting, bahkan semuanya, karya-karya sejenis ini jauh berbeda dengan dunia kesantrian. Itulah karya “fiksi populer”, tanpa imbuhan kata lagi di belakangnya, begitulah jenis ini dikenal. Di samping Gramedia, pabrik fiksi untuk jenis ini antara lain adalah Gagas Media, Kata Kita, Diva, Galang, dsb.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Sementara Gramedia dan kelompok penerbit fiksi populer lainnya mengangkat tema kehidupan “remaja-metropolitan-sekolah/kampus” (“metropop”), di lajur sebelah ada kelompok DarMizan, Asy-Syamil, dkk. Mereka membawa semangat “islami”, tetapi latar karya produk pada umumnya menampilkan fenomena “remaja-kota-kampus”. Fiksi populer islami, fiksi islami, atau “fikri” (fiksi remaja islami): demikian istilahnya (ada tambahan kata “islami”-nya). Gayanya membidik segmen remaja dan secara kental bercorak unsur keislaman, serta mengemban “misi dakwah”. Produk-produk model inilah yang mula-mula melabelkan gelar “islami” untuk terbitannya: cerpen islami, novel islami, dll.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Untuk itu, Matapena seolah-olah hendak menempuh jalur “santri-Islam-pesantren/desa” demi mendekatakan “jagad bacaan” dengan “realitas pembaca”. Produk mereka itulah yang kemudian disebut “sastra pop pesantren”. Terbit pertama kali dengan novel “Santri Semelekete” karya Ma’rifatun Baroroh, Matapena menuai sukses. “Genre” ini sukses mendapat hati di pembaca santri pada khususnya yang selama ini hanya mendapat suguhan chicklit/teenlit dan novel-novel berbendera “islami” itu. Selanjutnya, Matapena menerbitkan karya-karya yang lain, di antaranya “Bola-Bola Santri” (Shachree M Daroini), “Kidung Cinta Puisi Pegon” (Pijer Sri Laswiji), dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;PERDEBATAN SASTRA PESANTREN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Kini, semakin jauh pembahasan, yang kita dapatkan justru definisi yang semakin mengabur. Ketika disandingkan dengan kata “sastra” ataupun frase “sastra pop”, kata “pesantren” semakin tampak hanya sebagai institusi semata: pesantren sebagai sebuah latar/seting, sedangkan aktivitas kelembagaannya sebagai tema.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Nah, untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa sesungguhnya sastra pesantren itu, maka kita harus mempersoalkannya (seperti diisyaratkan oleh Faruk HT, seorang kritukus sastra Indonesia kontemporer) melalui beberapa pertanyaan: apakah definisi “pesantren” dalam konteks pembicaraan “sastra pesantren” itu memang sesuai dengan apa yang dipikirkan dan dialami oleh “orang pesantren”? Pesantren: apakah pesantren yang dimaksud suatu tempat, suatu ideologi, suatu tipe doktrin, atau kesatuan sosial, komunal, dan kultural? Apakah seseorang yang mengekspos kehidupan homoseks di pesantren dan ditulis dalam sebuah karya (novel/cerpen) dapat disebut sebagai sastra pesantren? Bisa saja. Tapi, apakah pemahaman sejenis ini dapat disetujui oleh civitas pesantren?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Lazim diketahui, term sastra pesantren didefinisikan sebagai produk/karya sastra yang bertema keislaman, kesantrian, dan kepesantrenan; atau diidentifikasi sebagai karya sastra yang berurusan dengan nilai keislaman; atau karya sastra para pengarang yang punya pengalaman kehidupan pesantren, karya pengarang berbahasa Indonesia yang bermuatan tema keislaman, kesantrian, atau kepesantrenan; atau pula pengarang yang punya hubungan sejarah atau silsilah dengan pesantren. Dalam pandangan Ridwan Munawwar (Ridwan Munawwar, 2007), kategori di atas tampaknya menghendaki tema/wilayah pembahasan sastra pesantren ke arah tema-tema nilai esoterik keagamaan; cinta illahiyyah, pengalaman-pengalaman sufistik, cinta sosial (habluminannaas), atau ekspresi dan impresi transendental keindahan alam semesta (makrokosmos).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Meskipun demikian istilah “sastra pesantren” lazim didefinisikan, tampaknya ada pula yang melebarkan pengertiannya, seperti pendapat salah seorang dosen di UIN Jojga, Damami. Ia justru mengacukan wacana sastra pesantren kepada kitab-kitab klasik produk kiai/santri di pesantren, dengan menyebut contoh Siraj at-Talibin-nya Kiai Ihsan dan kitab Al-Miftah sebagai contoh dari produk sastra pesantren itu. Hal yang hampir senada juga dilansir oleh D. Zawawi Imron dalam kesempatan seminar di dalam rangkaian Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) XIII 27-30 September 2004 di Surabaya. D. Zawawi Imron menjelaskan bahwa keberadaan sastra yang lahir dari lingkungan pesantren merupakan bagian tak terpisahkan dari sastra Indonesia. Baginya, sastra pesantren itu telah hadir sejak masuknya Islam di Indonesia sekitar abad ke-12 sekaligus merupakan bagian tak terpisahkan dari sastra Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kategori penyebutan sastra pesantren selalu dititikberatkan pada unsur personal, pada pengaranganya, bukan pada latar dan temanya. Akan tetapi, ketika ia menyebut beberapa nama (Djamil Suherman, Syu’bah Asa, Fudoli Zaini , Emha Ainun Nadjib, KH Mustofa Bisri, Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Abidah El-Khalieqy, Mathori A Elwa, Hamdi Salad, Nasruddin Anshory, juga Kuswaidi Syafi’ie), mudah dipahami bahwa yang dimaksudkan D. Zawawi Imron dengan “sastra pesantren” adalah “sastrawan santri”, yakni sastrawan yang punya latar pesantren meskipun karya-karyanya tidak selalu bernuansa kesantrian dan kepersantrenan. Orientasinya bertumpu pada pengarang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Bagi Ahmad Tohari, definisi sastra pesantren dititikberatkan pada gagasan yang dibawanya. Sastra pesantren adalah pengejawantahan “ma” dalam ayat lillahi ma fissamawati wa ma fil ardhi dan dikemas dengan kualitas sastra yang “horison”, yang lalu membinarkan kekuasaan Tuhan atas “ma” di langit dan bumi. Dengan begitu, Islam muncul sebagai nilai yang universal, melampaui simbol dan nilai-nilai normatif. Sastra pesantren harus membawa misi “pembebasan”. Intinya, Tohari sepakat bawah setiap produk yang membawa pesan pencerahan, maka itulah sastra pesantren; tak peduli dari latar belakang apa (agama/budaya/bangsa) karya itu lahir.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Pernyaatan tersebut selaras dengan statemen Jamal D. Rahman yang dapat dijadikan garis bawah, bahwa salah satu ciri “kepesantrenan”, termasuk pula dalam sastra, adalah “unsur perlawanan”. Misalnya, perlawanan kaum santri pada kolonial yang nota bene non-muslim. Salah satu contohnya adalah: jika dulu kolonial menggunakan celana, maka santri menggunakan sarung. Semangat ini tentu dapat diterjemahkan oleh para sastrawan ke dalam karya sastra dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Gambaran umum yang tampaknya cukup baik hadir sebagai jawaban bagi perdebatan sastra pesantren adalah pendapat Zainal Arifin Toha. Menurutnya, sastra pesantren adalah karya sastra yang ditulis, baik oleh orang pesantren maupun luar pesantren, yang mengangkat pandangan-dunia pesantren, baik terhadap dunia pesantren itu sendiri, maupun dunia luar pesantren (Aba Ahmad Mujtaba: 2003). Pernyataan ini menyempit pada persoalan sastra dan urusan kepesantrenan. Artinya, bagaimana pun, membicarakan sastra jika itu dikaitkan dengan pesantren, haruslah tetap memegang kata kunci “pesantren”: pandangan-dunia pesantren.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Walaupun definisi sastra pesantren sudah cukup banyak didedah, pada awal-awal munculnya wacana ini di media massa, pengertian sastra pesantren cukup membingungkan banyak orang, bahkan termasuk para sastrawan senior dan pakar sastra. Di antara mereka adalah Taufik Ismail yang kaget karena tiba-tiba ada istilah baru bernama “sastra pesantren”; Suminto A. Sayuti yang enggan memeberikan definisi, hingga Radhar Panca Dahana yang beranggapan bahwa penamaan “sastra pesantren” bersifat problematis dan sengaja dibuat-buat untuk sekedar membedakan diri dari yang lain, mencoba-coba membentuk karakter sendiri. Menurut Binhad Nurrohmat, definisi sastra pesantren itu tetap rancu dan problematik. Sebab, apa yang dimaksud dengan karya/genre sastra pesantren selama ini tidak jauh berbeda dengan karya sastra lain pada umumnya kecuali hanya pada persoalan tema. Padahal, tema bukanlah ukuran pembentuk genre sastra. Menurutnya, identifikasi pada apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu sebatas berurusan dengan aktualisasi tema atau latar belakang pengarangnya yang berhubungan dengan keislaman, kesantrian, dan kepesantrenan; dan bukan berdasarkan unsur-unsur atau kecenderungan “bentuk” kesusastraan yang khas dimiliki oleh apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu (Binhad Nurrohmat, 2007).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Dari sekian pendapat di atas, cukup jelas untuk membuat asumsi awal, bahwa wacana sastra pesantren belum punya definisi yang meyakinkan dan dapat dipertanggungjawabkan dalam teori kesusastraan, tetapi telah kuat mengakar dalam “gosip” kesusastraan di tanah air. Lebih-lebih, masih ada kejanggalan dalam setiap pembicaraan sastra pesantren: pembicaraan sastra pesantren cenderung hanya mengacu kepada produk fiksi/prosa, dan sangat sedikit yang mengaitkannya dengan produk puisi. Kalaupun ada, maka sastra pesantren genre puisi yang dimaksud pastilah merupakan nadhaman (yang notabene berbahasa Arab) kitab-kitab ajian di pesantren. Padahal, jika ditilik dari sejarahnya, sebagaimana dilukiskan dalam paragraf-paragraf di muka, cikal-bakal tradisi sastra di pesantren justru diawali dari wacana sastra genre puisi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Sampai di sini, kita dapat membuat kesimpulan sementara atas dua gagasan penting tentang sastra pesantren. Pertama, sesuai dengan “gosip” yang berkembang di dalam media, yang dimaksud sastra pesantren adalah karya santri yang lahir dan atau berkreativitas di pesantren dan atau yang kini tengah mekar di luar pesantren; kedua, gagasan yang khas pesantren, sejenis nubuwah yang harus disampaiakan kepada khalayak ramai; wa bil-khusus, mengemban gagasan dan cara pandang kepesantrenan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Atas dasar pernyataan di atas, semakin sulit bagi kita untuk membedakan sastra pesantren dengan “sastra profetik” seperti yang telah digagas oleh Kuntowijoyo di awal tahun 90-an itu. Lebih jauh lagi, kita dapat mengajukan pertanyaan: apa yang dapat diistimewakan sastra pesantren daripada “sastra Islam” atau “sastra islami” jika kategori tema yang diusungnya relatif sama? Tentunya, pembahasan ini harus ditarik lebih jauh lagi pada persoalan sastra Islam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Polemik dan perdebatan tentang sastra dan kesenian Islam sejatinya telah lama digulirakan. Di antara forum yang sempat menggulirkannya secara serius adalah Festival Istiqlal pada tahun 1990-an dulu. Majelis seni/sastra—tentunya dengan embel-embel “Islam”—pun ramai dibicarakan, didebat, ditanggapi, seperti biasanya: lama-kelamaan menjadi sepi, hilang dengan sendirinya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Memang, sulit rasanya melekatkan institusi (agama) pada kegiatan sastra sebagai sebuah genre, seperti Sastra Islam, Sastra Hindu, Sastra Kristen, dan seterusnya. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena kagiatan bersastra atau produk sastra itu sendiri lebih berkait-erat dengan “unsur dalaman”, yakni nilai (keislaman/keagamaan). Penggunaan istilah nisbah, seperti Sastra Islami (dan bukan “Sastra Islam”), agaknya lebih mudah dipahami. Kalaupun ia tetap akan digunakan, istilah tersebut akan beralih-fungsi sebagai nama bagi era lahirnya karya (periodisasi). Misalnya; Sastra Jahiliyah, Sastra Abbasiyah, Sastra Klasik, Sastra Angkatan ’45, dan seterusnya. Ini menjadi galib dan lazim karena penggunaan istilah sastra dan label yang mengikutinya itu berhubungan dengan masa dan produk sastra yang dihasilkannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;CATATAN AKHIR&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Berdasarkan pernyataan-pernyataan dan gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan isu/wacana sastra pesantren yang selama ini diperdebatkan adalah “sastra pesantren” sebagai sebuah produk karya sastra saja atau juga sebagai genre, atau subgenre. Perkembangan perdebatan itu mencakup tiga orientasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Yang pertama adalah orientasi yang didasarkan pada “siapa”, yakni pada sastrawan (penulisnya): berdasarkan kategori ini, yang disebut karya sastra pesantren adalah karya yang ditulis oleh santri/kiai/civitas pesantren, dan atau juga yang punya silsilah sosial/intelektual dengan pesantren. Contoh untuk ini maka kita dapat menyebut nama Ahmad Tohari dan Jamal D. Rahman, meskipun karya-karya mereka tidak menyebut dan bernuansa pesantren secara langsung). Tampaknya, kategori ini lebih pas jika dikelompokkan dengan sebutan “sastrawan santri”, yaitu civitas pesantren (santri/alumni) yang menulis karya sastra. Bahkan, jika kita kembangkan bahwa penulis sastra pesantren yang penting adalah civitas pesantren (santri/alumni), maka tentu novel Mairil (Syarifuddin) dan Kuda Ranjang (Binhad Nurrohmat) yang nota bene dirisihkan oleh orang-orang pesantren karena mengekspos ketabuan seks akan dikategorikan ke dalam peristilahan sastra pesantren.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Orientasi yang lain adalah berdasarkan tema/seting, yakni sastra pesantren yang diasumsikan berdasarkan seting/latar cerita dan tema. Nah, barangkali, untuk mengambil contoh kategori ini akan sangat banyak. Novel “Geni Jora” karya Abidah el-Khalieqy dan “Hubbu” karya Mashuri (keduanya sama-sama memenangkan lomba penulisan novel/roman yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun yang berbeda) adalah salah satu contohnya, mengingat seting cerita yang diangkat adalah seting pesantren. Lebih-lebih, jika kita berikan contoh novel-novel pop remaja Matapena yang memang secara khusus mengangkat tema dan latar pesantren, seperti Bola-Bola Santri (Sachree M. Daroini) dan Jerawat Santri (Isma Kazee), dan seterusnya, maka ini juga masuk dalam contoh.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Orientasi yang ketiga: apabila sastra pesantren harus dikelompokkan berdasarkan genrenya—dengan tetap bertahan pada definisi genre dalam pandangan sarjana-sarjana sastra—maka yang dimaksud sastra pesantren adalah nadhaman, syi’iran, yang nota bene berbahasa Arab dan bahasa daerah (Jawa, Sunda, Madura), dan bukan berbahasa Indonesia. Sebab, hanya genre syi’ir ini yang dapat kita kelompkkan pada genre, yakni jenis produk karya sastra (seperti puisi dan prosa), dan temanya jelas-jelas mengangkat masalah-masalah (ilmu-ilmu) keagamaan dan bahasa (nahwu-sharraf).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Kalau definisi sastra pesantren ditarik lebih keluar, misalnya dengan menyitir pernyatan bahwa karya sastra pesantren adalah setiap karya yang menyiratkan nuansa sufistik, risalah keagamaan, dan seterusnya, tentu kita tidak boleh keberatan untuk memasukkan karya-karya Abdul Hadi WM di dalamnya, meksipun dia sendiri bukanlah civitas pesantren. Bahkan, secara lebih ekstrem, kita juga harus merelakan karya-karya Romo Mangunwijaya, Rabindranath Tagore, hingga Khalil Gibran, sebagai karya yang berlabel “sastra pesantren” meskipun mereka sendiri adalah non-muslim. Itu artinya, sastra pesantren tak jauh adalah berbeda dengan sastra profetik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Definisi sastra pesantren yang berkembang di media pada saat ini tentu bukan sekadar karya-karya santri yang ada/berproses kreatif di pesantren. Kelengkapan definisi ini adalah: lebih-lebih jika hasil karya tulis mereka menyiratkan spirit religiusitas yang “khas” santri dan sudut pandang nilai-nilai kepesantrenan. Lebih gamblang, sastra pesantren adalah karya sastra santri yang bertema hal-ihwal kesantrian dan kepesantrenan dengan membawa semangat kesantrian (religiusitas), baik secara langsung maupun tidak.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Oleh karena itu, membuat kategori (definisi dan pelabelan) untuk produk-produk karya sastra yang ditulis oleh sastrawan santri, sastrawan muslim, atau kiai, dengan memberi nama “sastra pesantren” adalah sah-sah saja sebatas itu sekadar untuk kepentingan “pemberian nama” untuk ditandai, bukan untuk dijadikan sebagai eksklusivitas sebagai proklamasi atas munculnya sebuah genre. Karena sesungguhnya, kita belum menemukan secara pasti apakah produk yang kita sebut dengan sastra pesantren itu, apakah itu nadham/puisi/syi’ir ataupun prosa (novel/cerpen) dalam bentuk kekhasan sebagai sebuah produk, dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Nama pesantren begitu besar dan punya pengaruh yang kuat dalam akar sejarah dan tradisi bangsa Indonesia. Karena itu, pesantren dan segala yang berhubungan dengan pesantren pasti “layak dijual”. Salah satu trik dagangnya adalah dengan cara diberi nama. Kita tidak benar-benar tahu, apa yang sesungguhnya terjadi di luar kita. Barangkali, penamaan dan kategorisasi sastra pesantren hanya kebutuhan media untuk memudahkan “pemberian nama” itu. Atau juga—tapi ini prasangka buruk—karena faktor “politik sastra” dan “politik kapitalisme” sehingga kita mudah dipermainkan setelah “diberi nama” (semoga saja tidak). Kita mengakui nama itu karena hegemoni media, dan kaum civitas pesantren tidak dapat berbuat apa-apa lagi dengan yang dibuatnya, kecuali harus menyetujui terhadap si pemberi nama.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Atau, pemberian nama itu hanya sekadar untuk memudahkan pengelompokan, yang entah itu untuk kepentignan penelitian ilmiah atau untuk kepentingan-kepentingan “politik” lainnya?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Setiap orang berhak memberi nama, membuat kategori. Setiap kategori bisa didasarkan atas definisi yang beragam. Terbukti, kata pesantren dalam sastra pesantren saja masih ambivalen; apakah sebagai lembaga pendidikan, sebagai ideologi, ataukah sebagai sebuah sistem tanda kebudayaan? Ini mengingatkan kita pada genre musik, yang nota bene lebih mudah dikategorikan genrenya. Sebab, musik punya banyak instrumen penilaian untuk itu; tempo, alat yang dipakai, ketukan, ritme, serta unsur-unsur yang lain. Terbukti, kategorisasi genre yang dilekatkan media/pengamat musik tidak serta-merta disetujui oleh kelompok musik yang diberi nama.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Saat melangsungkan tur dunia untuk promo “black cover album” pada tahun 1993 lalu, Metallica disebut-sebut sebagai grup musik beraliran “thrash metal” oleh pers Indonesia. Namun, James Hetfield tidak terima ketika mengatahui hal itu dan ia ngotot untuk tetap menyebut musiknya sebagai “heavy metal”; Konon, Rhoma Irama yang menjadi ikon dangdut di tanah air tiba-tiba dinobatkan sebagai gitaris rock terbaik dalam subuah survei pers di luar negeri karena gaya musik/permainan yang lebih dekat pada Ritchie Balckmore (Deep Purple) daripada pada jenis musik dangdut sendiri; Khalil Gibran yang di Indonesia dianggap penyair dengan banyak sekali melahirkan puisi sebetulnya dia tidak pernah menulis puisi kecuali hanya satu, Al-Mawakib. Hal ini disebabkan karena puisi bagi orang Arab—kala itu—adalah nadham/syi’ir (yang harus ditentukan oleh ‘aruld, termasuk qafiyah dan bahar, sebagai disiplin ilmu yang baku untuk menulis puisi) dan tidak seperti puisi dalam pengertian benak orang Indonesia yang melihatnya dari sudut pandang teori sastra yang nota bene bukan dari Arab (Barat).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Itulah beberapa contoh kasus penamaan. Semua perdebatan dan anggapan itu tidak sekadar karena dasar pertimbagan tema saja, melainkan disebabkan oleh sesuatu yang jauh lebih prinsip: genre. Tapi, begitulah penamaan! Dalam proses itu, reduksi akan selalu saja terjadi. Dan yang demikian itulah yang sedang menimpa kita: telah lama kita tahu, Mazhab Praha, Mazhab Yale, Mazhab Frankfurt, hingga Mazhab Rawamangun pun (bahkan, yang terakhir mungkin perlu juga disertakan: Mazhab DKJ) selalu punya orientasi dalam melihat sebuah karya sastra. Dan kita tetap menerimanya begitu saja setelah lebih dulu bergulat melalui pemahaman-ketakpahaman. Beda persepsi, perbedaan kategori, dan salah paham memang selalu diawali dari letak kita berdiri untuk melihat objek dalam sebuah sudut titik pandang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Memberikan definisi sastra pesantren berdasarkan kategori sebagai jenis produk karya sastra (genre) yang telah kita lihat hingga saat ini, dari karya “Perjalanan ke Akhirat”-nya Djamil Suherman hingga “Ronggeng Dukuh Paruk”-nya Ahmad Tohari; dari “Tadarus”-nya Kiai Mustofa Bisri hingga novel-novel sastra pop pesantren yang diterbitkan oleh Matapena itu, belumlah memuaskan. Akan tetapi, jika hanya berdasarkan kategori wacana sastra, dan jika memang itu yang dimaksudkan, maka tentu demikianlah adanya sastra pesantren itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Atau, mungkin kita tetap masih harus menuggu sampai suatu saat ada sebuah karya yang benar-benar memiliki trade mark atau karakteristik kepesantrenan dalam arti sesempit-semptinya, sekhusus-khususnya, dan karya itu belum pernah ditulis oleh orang lain sebelumnya. Artinya, karya itu menjadi sebuah “genre” yang “direstui” oleh teori sastra sekaligus menjadi isu yang disepakati sebagai wacana sastra. Sehingga, “alamat kelahiran” yang pertama kali muncul itu, akan menjadi satu-satunya mercu suar yang dapat diliahat oleh semua orang yang ada di bawahnya. Kemudian, orang-orang itu akan merasa yakin, itulah “sastra pesantren”. Pada akhrinya, ia akan menjadi acuan, menjadi referensi, menjadi pakem: sehingga untuk disebut sebagai “sastra pesantren”, sebuah karya haruslah punya karakteristik seperti mercu suar itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Jika tidak ada orang yang mau segera berbuat untuk itu, maka pilihannya adalah menunggu. Padahal, semua orang tahu: menunggu adalah pekerjaan yang benar-benar membosankan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;SUMBER BACAAN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Goody, Jack, 1987. The Inteface Between the Written and the Oral, Cambridge University Press&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Sweeney, Amin, 1987. A Full Hearing, University of California Press&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Yanti, KH., Neneng. 2002. Perdebatan di Seputar Isu Sastra Pesantren. Makalah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;El-Muttaqien, M. Zamiel. Akar Tradisi Sastra Pesantren. Kompas Jatim 11/06/2005&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Aba Ahmad Mujtaba, Sastra Pesantren: Harapan Kenyataan dan Tantangan, Majalah Fadilah edisi VII Desemebr 2003&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Faizi, M. 2007. Pesantren Ikon Pendidikan Nonformal. Majalah Basis Juli-Agustus 2007.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;_____________. Chicklit dan Minat Baca Remaja, Jawa Pos 29-05-2005&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Mastuki HS, M.Ag, dan Ishom El-Saha, M.Ag, (ed.), 2003. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Keemasan Pesantren. Jakarta: Diva Pustaka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;‘Usman, Muhammad ‘Ali. 2007. Para Ilmuwan Muslim Paling Berpengaruh Terhadap Peradaban Dunia. Jogjakarta: Diva&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Em Syuhada’, Secercah Sinar dari Lirboyo, Jawa Pos 20 Apr 2008&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Kompas, Sastra Pesantren Bagian dari Sastra Indonesia, edisi 29 September 2004&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Sumber URL:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Nurrohmat, Binhad. Gincu Merah Sastra Pesantren. Suara Karya Online; 24/03/07. URL= http://www.suarakarya-online.com/news.html. diakses pada tanggal 05/05/08&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Munawwar, Ridwan. Ledakan Sastra Pesantren Mutakhir: Cinta, Kritisisme, dan Industri. Suara Karya Online; 03/03/07. URL= www.suarakarya-online.com/news.html?id=167741; diakses pada tanggal 05/05/08&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Http://www.indomedia.com/bernas/2009/14/UTAMA/14hib1.htm: Sastra Pesantren Saatnya “Membuka Diri”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Acep Zamzam Noor. Pesantren, Sastra, dan Pilkada. 25 Januari 2006.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;URL=http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=573&amp;amp;page=2: diakses pada 05/05/2008.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;amp;menu=news_view&amp;amp;news_id=4373: Tinggal Bagaimana Sastra Pesantren Memberi Kekhasan Sikap. Sabtu, 18 Februari 2006 12:15: diakses pada 05/05/2008.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:130%;" &gt;http://www.masjidistiqlal.com/index.php?modul=text&amp;amp;page=detail&amp;amp;textID=2919; Dalam Sejarahnya Budaya Pesantren Bersebrangan dengan Perkotaan; Rabu, 16 safar 1428 H / 6 maret 2007; diakses pada 05/05/2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;[artikel ini telah dimuat di Jurnal Anil ISLAM, edisi ke-1, Juni 2008]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-1641240648935806378?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/1641240648935806378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/08/silsilah-intelektualisme-dan-sastra-di.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/1641240648935806378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/1641240648935806378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/08/silsilah-intelektualisme-dan-sastra-di.html' title=''/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-2919483817479777148</id><published>2008-02-01T03:59:00.000+07:00</published><updated>2008-02-09T23:51:50.153+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku puisi Rumah Bersama'/><title type='text'>Rumah Bersama</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERMAISURI MALAMKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerlip mata malammu&lt;br /&gt;jumpalitan jatuh ke cahaya mukaku&lt;br /&gt;Kita memang tidak saling bersama&lt;br /&gt;sebab ruang tempat aku duduk&lt;br /&gt;di balik meja melihat cakrawala&lt;br /&gt;begitu jauh pada batas dimensimu&lt;br /&gt;kita, sama-sama benda yang hidup&lt;br /&gt;tapi berbeda dalam pengertiannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, aku telentang sendiri&lt;br /&gt;menatapmu, pendar-pendar kristal bertabur&lt;br /&gt;yang indah karena berserakan&lt;br /&gt;kelipnya, jumpalitan bintang-bintang di sana&lt;br /&gt;aku menakar batas akhir kemampuanku&lt;br /&gt;menjangkau sumber cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam membangunkanku&lt;br /&gt;pada kehendak membuat perhitungan&lt;br /&gt;antara gelap dan kebekuan&lt;br /&gt;atau siang dan kecemasan&lt;br /&gt;lalu kutulis sebuah surat untukmu:&lt;br /&gt;malam adalah matahari terbenam&lt;br /&gt;meski tak sungguh-sungguh terbenam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kedip matamu&lt;br /&gt;ribuan bintang, jumpalitan dalam sekejap&lt;br /&gt;dan aku segera menghitung nasib&lt;br /&gt;memang benar, kita tidak bisa bersama&lt;br /&gt;bagiku ruang, bagimu waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujulurkan jemari&lt;br /&gt;menangkap dengan tangkup&lt;br /&gt;berdebar dalam takut&lt;br /&gt;hujan bintang-bintang&lt;br /&gt;ke halaman luas mimpiku&lt;br /&gt;menghamburkanmu ke serambi tidurku&lt;br /&gt;aku menghitung-hitung saat&lt;br /&gt;berbagi dua dengan waktu&lt;br /&gt;menjadi satu dengan malammu&lt;br /&gt;dalam ingatan yang tak lengkap&lt;br /&gt;saat cahaya bermakna bagi gelap&lt;br /&gt;dan kubiarkan sepi melukaiku:&lt;br /&gt;butuh perih untuk menghargai nikmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permaisuri malamku&lt;br /&gt;selalu datang dengan tanpa kehadiran&lt;br /&gt;dalam rentang yang tak terjangkau pandang&lt;br /&gt;karena jarak yang menghubungkan aku denganmu&lt;br /&gt;semata patahan-patahan garis&lt;br /&gt;yang tak henti-hentinya digabungkan&lt;br /&gt;dalam sebuah pengandaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27/06/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;BERJALAN DI MALAM HARI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemersik pikiran&lt;br /&gt;melayang-layang&lt;br /&gt;menimbuni kesadaranku, satu-satu&lt;br /&gt;berjalan di malam hari&lt;br /&gt;perjalanan magrib menuju pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam melepas penat&lt;br /&gt;menelungkup di perut waktu, rehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam, mengulur gelap dan sunyi&lt;br /&gt;igauan pemimpi yang tandas&lt;br /&gt;meneguk anggur mandam kepayang lelap&lt;br /&gt;kuli waktu, setiap detik dalam 24 jam&lt;br /&gt;melipatgandakan kesempatannya&lt;br /&gt;malam, beribu kilometer berjarak&lt;br /&gt;pada tapak kaki menjejak&lt;br /&gt;bergegas, merencanakan cita-cita hidup di dunia:&lt;br /&gt;bekerja, dan tak henti-hentinya bekerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengang, menuju pagi&lt;br /&gt;titik embun mengeras&lt;br /&gt;molekul jam menetas&lt;br /&gt;mewarnai wangi dan buram dini hari&lt;br /&gt;seseorang yang bertahan hidup&lt;br /&gt;hanya karena tegar mencari kayu&lt;br /&gt;menguji kesetiaannya sebelum pagi&lt;br /&gt;pada ujung lalang yang menusuk kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran terus melayang, luruh&lt;br /&gt;bersinggung dengan diri yang gaduh&lt;br /&gt;di manakah tenangmu disimpan?&lt;br /&gt;apakah pada sajadah di pijakan kaki&lt;br /&gt;hingga aku limbung saat berdiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelisah dalam pikiran&lt;br /&gt;kantuk dalam pikiran&lt;br /&gt;sakit dan sendiri dalam pikiran&lt;br /&gt;mencapai-capai tak sampai&lt;br /&gt;di mana subuhmu tersimpan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelap di luar, terang di dalam&lt;br /&gt;wujudku pecah menjadi dua:&lt;br /&gt;diri yang diam, diri yang berjalan&lt;br /&gt;satu dalam ruang&lt;br /&gt;yang lainnya menjelajahi&lt;br /&gt;jengkal demi jengkal ingatan&lt;br /&gt;mengukur jarak antara siang dan malam&lt;br /&gt;sepanjang aku sampai tak mampu&lt;br /&gt;mencapai titik pertemuan cipta&lt;br /&gt;saat gelap berjumpa cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28/06/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RUSUK LANGIT LANCARAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juli menyeka keningnya&lt;br /&gt;keringat musim yang ditinggal dingin&lt;br /&gt;berbulir, seperti bintang kemukus&lt;br /&gt;memerciki ladang-ladang tembakau&lt;br /&gt;lalu, langit hilang warna dasarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusuk langit Lancaran, sebelah kanan&lt;br /&gt;patah oleh hempasan musim&lt;br /&gt;kemarau, kemarau&lt;br /&gt;engkau membara di dalam pikiran&lt;br /&gt;tetapi seperti pandai besi menempa nasibnya&lt;br /&gt;di situlah percik api hidup kami dinyalakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusuk-rusuk langit berpentalan&lt;br /&gt;berserakan di lahan tandus&lt;br /&gt;di mana air dan nyawa&lt;br /&gt;nyaris berimbang dalam selisih harga&lt;br /&gt;lalu, burung-burung gagak itu&lt;br /&gt;datang mengumumkan kecemasan&lt;br /&gt;melayang-layang dari semua penjuru angin&lt;br /&gt;membekukan ketakutan kami untuk ingin&lt;br /&gt;mereka merabunkan mata&lt;br /&gt;agar kuat mengisap udara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusuk langit bulan Juli, Lancaran&lt;br /&gt;kubacakan untuknya mantra-mantra&lt;br /&gt;agar para peneluh dari masa silam&lt;br /&gt;berduyun-duyun mengembalikan sejarah&lt;br /&gt;yang hilang dicuri cuaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, ke langit yang lampang&lt;br /&gt;ada luka besar, berlubang&lt;br /&gt;kini, kita bebas melihat&lt;br /&gt;bagaimana langit menghirup&lt;br /&gt;udara bumi kami yang mulai berkarat&lt;br /&gt;menggumpal, lalu jadilah hujan keringat&lt;br /&gt;untuk memandikan jenazah para petani:&lt;br /&gt;pahlawan yang dikubur di luar ingatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11/07/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEJENGKAL LAGI MENYENTUH LANGIT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jentik petir&lt;br /&gt;jemari langit&lt;br /&gt;yang menggigil&lt;br /&gt;saat menghunjam titik nadir&lt;br /&gt;menggetarkan keberadaanku&lt;br /&gt;sebagai manusia yang selalu berpikir&lt;br /&gt;melalui panas dan dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang musim, sepanjang hidup&lt;br /&gt;langit-bumi bertukar kabar&lt;br /&gt;tentang keinginan-keinginan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bumi,&lt;br /&gt;kujentikkan jemari ke langit&lt;br /&gt;mencari napas nenek moyang&lt;br /&gt;yang pergi untuk melupakan batas-ruang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari langit,&lt;br /&gt;petir menusuk ke sebalik bumi&lt;br /&gt;menjentik syahwat di tanah maksiat&lt;br /&gt;yang menjadi kerak di dalam otak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam, sejengkal lagi pagi&lt;br /&gt;hidup, sejengkal lagi mati&lt;br /&gt;dan, hup, bismillah kubaca&lt;br /&gt;aku melambung, pulang ke rumahku&lt;br /&gt;bersama petir kembali ke angkasa&lt;br /&gt;sampai sejengkal lagi menyentuh langit&lt;br /&gt;biar dapat kulihat dunia&lt;br /&gt;lebih kecil dari yang semestinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22/06/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DI BUMI TAK ADA LAGI RAHASIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi&lt;br /&gt;rumah sekalian kami&lt;br /&gt;adalah bayangan&lt;br /&gt;yang batasnya akan raib&lt;br /&gt;saat sumber cahaya dipadamkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, rahasia-rahasia tak ada lagi di sini&lt;br /&gt;yang bergerak dalam pikiran&lt;br /&gt;yang berdetak dalam hati&lt;br /&gt;saling dicuri dan diperjualbelikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia-rahasia menyingkir&lt;br /&gt;dari muka bumi ini&lt;br /&gt;yang sakral dan profan&lt;br /&gt;yang maya dan nyata&lt;br /&gt;semakin tipis batas nilainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini tak ada lagi rahasia&lt;br /&gt;hanya di langit, rahasia Tuhan tetap terkunci&lt;br /&gt;sedangkan di bumi,&lt;br /&gt;berharap sembunyi pada puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21/07/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PATAPAN-NUSANTARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke lengkung langit timur&lt;br /&gt;tengah malam, saat jemari para pahlawan&lt;br /&gt;mengusap ubun-ubun Nusantara di muka bumi&lt;br /&gt;ujung gerigi ulir bintang mengukir&lt;br /&gt;gugusan rejang rajah tapak kaki peziarah&lt;br /&gt;aku datang, Patapan&lt;br /&gt;pejalan ribuan mil ke tanah silam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan masa lalumu:&lt;br /&gt;berbaring, beradu punggung di hening pucuk tidur&lt;br /&gt;agar dalam mata yang sama-sama mengatup&lt;br /&gt;ada titik yang sama-sama dipandang, kegelapan&lt;br /&gt;meski bunga mimpi tak sama saat menguncup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan di pematang-pematang kertas&lt;br /&gt;yang berdenyar oleh tinta sajak-sajakmu&lt;br /&gt;kurasakan tapak kaki melesak, jejak berkerak&lt;br /&gt;ujung apakah namanya&lt;br /&gt;bagi pengembara yang lupa langkah kakinya?&lt;br /&gt;engkau membacakan kitab hayat bait terakhir:&lt;br /&gt;batas apakah namanya, jika gerak adalah berpikir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa lengang para pertapa&lt;br /&gt;mengangkut bermilyar kubik debu&lt;br /&gt;bersamaku, tiba di selasarmu:&lt;br /&gt;oh, lama nian tak ada tamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan mata sembab kesedihanmu:&lt;br /&gt;seperti tembarau dan rumput gelagah&lt;br /&gt;menyuling embun surgawi dari pancuran langit&lt;br /&gt;serupa lidah sidang fakir saat mencecap ludah&lt;br /&gt;lumpuh dan tabah, tapi tak mau jika harus menadah&lt;br /&gt;namun aku kecut takut bersama jerit&lt;br /&gt;sementara engkau tegar menantang sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup derana di negeri gemah ripah loh jinawi&lt;br /&gt;tentu tidak seperti degup majas di dalam puisi&lt;br /&gt;karenanya, Nusantara harus dipetakan kembali&lt;br /&gt;agar masa lalu dan mata sembab kesedihanmu&lt;br /&gt;menjadi ibukota seluruh fakir-miskin rakyatnya&lt;br /&gt;di dataran tinggi keinginan para pahlawan&lt;br /&gt;yang tak terkabul karena tamak-loba manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah yang tertinggi, Patapan&lt;br /&gt;sebab hanya di tempat yang tertinggi&lt;br /&gt;semburat cahaya sempana langit Nusantara&lt;br /&gt;tiba pertama kali di muka bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CANDIN-MANDANGIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbangkan oleh angin gending&lt;br /&gt;melayang-layang di atas buih&lt;br /&gt;untuk mengunjungi seorang kawan&lt;br /&gt;yang bertapa mencari napas Bangsacara&lt;br /&gt;di Gili Mandangin&lt;br /&gt;di bawah purnama gemilang&lt;br /&gt;dengan kepungan awan putih ledang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, di pulau yang diterbangkan angin&lt;br /&gt;nyaliku habis oleh tunggu&lt;br /&gt;karena harus pulang&lt;br /&gt;sebelum bunga-bunga laut merekah&lt;br /&gt;padahal, ia hanya sekali&lt;br /&gt;dalam lama dan panjang penantian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti seorang pelaut&lt;br /&gt;yang berlayar lalu pulang dengan tangkapan&lt;br /&gt;tiba-tiba aku ingat sesuatu&lt;br /&gt;yang menghabiskan semua niat&lt;br /&gt;untuk bertahan:&lt;br /&gt;seorang Ragapadmi&lt;br /&gt;dengan kesendirian sebagai kecantikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;07/10/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;WARNA LAUT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki Tanglok&lt;br /&gt;dengan sesuap kecut dalam ucap&lt;br /&gt;membawa degup laut ke darat&lt;br /&gt;degup rindu menjelang sekarat&lt;br /&gt;aku akan tiba di hatimu kembali&lt;br /&gt;dengan selamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayar, alangkah gagah&lt;br /&gt;bukan karena laut yang tak bertepi&lt;br /&gt;tetapi karena aroma matahari&lt;br /&gt;di dalam tiap tarikan napasnya&lt;br /&gt;terasa berbumbu, kuat sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, aku tak benar-benar ingin&lt;br /&gt;melukiskan perjalanan itu sekarang&lt;br /&gt;sebab cerita tentang warna laut&lt;br /&gt;tak akan sepenuhnya utuh&lt;br /&gt;andai kuceritakan ia kembali di darat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08/10/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUMPAH PENYAIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, aku pergi mengembara&lt;br /&gt;mencari kembali rumah bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata berdesing, di jalanan&lt;br /&gt;membawa kisah veteran&lt;br /&gt;yang bertahan hidup melawan lupa&lt;br /&gt;dan para penyair yang takut&lt;br /&gt;pada hantu-hantu pikiran&lt;br /&gt;mematuk khayalnya&lt;br /&gt;berusaha melupakan kenyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, aku memohon ampun&lt;br /&gt;atas lacur bahasa yang hancur&lt;br /&gt;sebab merendahkan leluri leluhur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, aku kembali pulang&lt;br /&gt;ke rumah yang lama kutinggalakan&lt;br /&gt;rumah rumpun bahasa ratusan&lt;br /&gt;rumah bersama suku berinda&lt;br /&gt;sampai aku benar-benar jadi tua&lt;br /&gt;mengatak kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair yang tak berdaya&lt;br /&gt;menguapkan cinta dan citra tanah air&lt;br /&gt;kapankah nikmat menggubah syair&lt;br /&gt;agar seluruh kata menyebut Allah&lt;br /&gt;dalam berdzikir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, aku pulang ke rumah bijana&lt;br /&gt;pulang ke rumah kita:&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28/10/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SALAM UNTUK PENYAIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlindung dari silap kelih penyair&lt;br /&gt;yang melihat sembilu seperti belati&lt;br /&gt;karena pandangannya adalah “seperti”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlindung dari khayal penyair&lt;br /&gt;yang mabuk mandam sajak-sajaknya&lt;br /&gt;lalu mengatakan separuh puisi&lt;br /&gt;dan menyimpannya separuh lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlindung dari sajak penyair&lt;br /&gt;yang menyepuh hak kepada batil&lt;br /&gt;karena kebenaran yang disamarkan&lt;br /&gt;pada majas menipu tafsir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlindung kepada Allah&lt;br /&gt;yang melaungkan jalan pulang&lt;br /&gt;bagi puisi di rimba bahasa&lt;br /&gt;menulis sekarang untuk esok dan lusa&lt;br /&gt;membaca yang fana untuk yang baka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hidupnya sebatas usia&lt;br /&gt;tentu dia bukan penyair&lt;br /&gt;karena kata dalam sajak&lt;br /&gt;selalu habis di ujung larik bait terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(bersambung…)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8-10/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SURGA DUNIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga adalah kehendak&lt;br /&gt;dan dunia adalah keterbatasannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga dunia, fuh!&lt;br /&gt;sajak indah persebalikan&lt;br /&gt;sumpah serapah yang terkabulkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentang, di saat satelit memangkas jarak&lt;br /&gt;akal, di saat komputer menggantikan otak&lt;br /&gt;akhirnya, kehendak terbatas&lt;br /&gt;pada ketakterbatasannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga dunia&lt;br /&gt;dan sajak persebalikan itu adalah:&lt;br /&gt;bukan lautan, hanya kolam lumpur&lt;br /&gt;tak ada perang, gempa pun jadi&lt;br /&gt;rakyat terdidik, menipu kian cerdik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehendak yang tak terbatas itu&lt;br /&gt;oh, surga dunia&lt;br /&gt;siapakah yang benar-benar ingin hidup&lt;br /&gt;untuk selama-lamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12/01/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;‘ALA WAZNI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya pen-ja-hat,&lt;br /&gt;dengan alasan sering tertangkap&lt;br /&gt;nama diganti dengan yang lain&lt;br /&gt;kadang koruptor, kadang maling&lt;br /&gt;nama lama diduga tak sehat&lt;br /&gt;sebab mengandung huruf ‘illat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi membuang faktor sial&lt;br /&gt;dan menaikkan nilai jual&lt;br /&gt;sebuah nama perlu diganti&lt;br /&gt;walaupun tetap sama arti&lt;br /&gt;penodong dan penjilat sama jahat&lt;br /&gt;beda teganya&lt;br /&gt;perampok dan koruptor sama kotor&lt;br /&gt;beda nyalinya&lt;br /&gt;kalau saja kepergok petugas&lt;br /&gt;akan menerima terapi penjara&lt;br /&gt;meskipun tak sama rawat inapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganti nama, mentalnya sama&lt;br /&gt;ganti naskah, lakonnya sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari satu akar kata&lt;br /&gt;nama dibentuk aneka rupa&lt;br /&gt;perampok, koruptor, penodong, penjilat&lt;br /&gt;matra wazan-nya pasti punya nilai cacat&lt;br /&gt;jika ditasrif selalu mengandung huruf ‘illat&lt;br /&gt;‘ala wazni pen-ja-hat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16/6/2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MATTALI DAN MARKOYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali ini, perkenankan diriku&lt;br /&gt;menyampaikan kembali cercaan mereka&lt;br /&gt;yang membenci karena kita dianggap beda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau yang gagah dan kekar&lt;br /&gt;mereka bilang selalu tertinggal&lt;br /&gt;kalian yang cantik tanpa kosmetik&lt;br /&gt;kata mereka norak saat berdandan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, kejam betul mereka menilai&lt;br /&gt;apalagi bila kita semakin dipojokkan:&lt;br /&gt;menghamburkan duit untuk jajan&lt;br /&gt;tetapi pelit untuk urusan keilmuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mattali-Mattali zaman sekarang&lt;br /&gt;bercita-cita jadi bintang televisi&lt;br /&gt;mungkin karena impresi masa muda&lt;br /&gt;yang penting tenar, akibat urusan balakangan&lt;br /&gt;lupa pada kisah Kurt Cobain&lt;br /&gt;yang tak tahan menanggung namanya&lt;br /&gt;karena popularitas yang sangat cepat&lt;br /&gt;menyulap hidup berubah 180 derajat&lt;br /&gt;atau John Lennon yang mati dibedil fansnya&lt;br /&gt;dia yang dulu ketika jaya&lt;br /&gt;mengaku lebih terkenal daripada tuhannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Markoya-Markoya zaman sekarang&lt;br /&gt;mengidolakan Britney dan Agnes Monica&lt;br /&gt;bukan pada Aisyah atau Khadijah&lt;br /&gt;lebih kenal Florence Nightingale&lt;br /&gt;daripada Laila al-Ghaffariyah&lt;br /&gt;kini, mereka tidak pemalu seperti dulu&lt;br /&gt;sebab gaul, nonton sinetron, dan juga maju&lt;br /&gt;tapi sayangnya, bila datang si hidung belang&lt;br /&gt;dengan busa di mulut dan jurus gombal maut&lt;br /&gt;Markoya sekarang ternyata lebih mudah ditipu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taretan Maduraku!&lt;br /&gt;atas dakwaan mereka&lt;br /&gt;aku sakit hati tak bisa menerima&lt;br /&gt;aku tak mau bangsaku dianggap nomer dua&lt;br /&gt;tapi yang bikin lebih sakit hati&lt;br /&gt;saat aku berjumpa dengan mereka&lt;br /&gt;berbangga-banga mengaku lainnya&lt;br /&gt;karena minder kalau mengaku orang Madura!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taretan Maduraku!&lt;br /&gt;kalau kalian mau sekuler-sekuleran&lt;br /&gt;sudah keduluan Perancis&lt;br /&gt;dan kalau mau sombong-sombongan&lt;br /&gt;selalu kalah pada Amrik&lt;br /&gt;lalu, mengapa harus menjadi orang lain&lt;br /&gt;jika bisa menjadi diri sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mattali dan Markoya-ku&lt;br /&gt;mohon maaf jika ini kauanggap petuah&lt;br /&gt;sebab ini puisi, bukan khotbah&lt;br /&gt;hanya karena aku merasa tak tahan&lt;br /&gt;jika anggota keluarga besarku disepelekan&lt;br /&gt;agar tak jadi genus terakhir sebelum punah&lt;br /&gt;lalu Madura terhapus dari kitab sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taretan Maduraku!&lt;br /&gt;sekali ini ada baiknya kita bertanya:&lt;br /&gt;jika Arab punya Yasser Arafat&lt;br /&gt;dan Afrika punya Nelson Mandella&lt;br /&gt;lalu, Madura melahirkanmu sebagai apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27/8/2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘ala wazni, secara harfiah, berarti “sama dengan…”. Di dalam Ilmu Tashrif (sistem perubahan bentuk kata; konjugasi) ‘ala wazni digunakan untuk menimbang suatu kata pada kata dasar acuannya (wazan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mattali dan Markoya adalah sebagian nama tokoh di dalam drama radio yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Sumenep (Madura). Drama radio ini sangat populer sejak tahun 1980-an.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-2919483817479777148?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/2919483817479777148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/01/rumah-bersama.html#comment-form' title='24 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/2919483817479777148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/2919483817479777148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/01/rumah-bersama.html' title='Rumah Bersama'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>24</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-7797373773731204312</id><published>2008-02-01T03:55:00.001+07:00</published><updated>2008-02-10T00:18:41.716+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petilan puisi Delapanbelas Plus'/><title type='text'>18 +</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 TAHUN KEMUDIAN…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan belas tahun kemudian&lt;br /&gt;hidup menemukan gairah&lt;br /&gt;seperti kuncup lalu merekah&lt;br /&gt;tapi hanya sebentar&lt;br /&gt;sebab ia berada di persimpangan;&lt;br /&gt;antara irama hidup yang mengalir lambat&lt;br /&gt;dan musim rontok yang datang cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, datanglah masa setelah itu&lt;br /&gt;lelaki­lelaki, wanita­wanita&lt;br /&gt;senyum­senyum, gaya­gaya&lt;br /&gt;di atas catwalk bertabur bunga&lt;br /&gt;dan di luar itu&lt;br /&gt;yang lain melempar dadu&lt;br /&gt;di meja usia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun, satu­satu, berangsur samar&lt;br /&gt;yang dulu tunggal, kini taksa&lt;br /&gt;saat berita dan prosa menjadi puisi&lt;br /&gt;karena yang literal jadi metafora&lt;br /&gt;sementara mata kata mengerdip&lt;br /&gt;pada gemerlap tubuh dunia&lt;br /&gt;berubah,berubah ke apapun warna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan belas tahun kemudian&lt;br /&gt;kelenjar­kelenjar kian mengembang&lt;br /&gt;jantung berdenyut seperti hiphop&lt;br /&gt;melampaui segala genre pop&lt;br /&gt;dan hidup menjadi lebih terasa:&lt;br /&gt;dandan tampil beda&lt;br /&gt;rajin spa, sauna, mandi bunga&lt;br /&gt;menawar usia dengan surga&lt;br /&gt;hingga suatu ketika datanglah orang­orang&lt;br /&gt;berjalan terbungkuk memikul tanya&lt;br /&gt;‘benarkah hidup berangkat tua?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah awal cerita dimulai&lt;br /&gt;seperti halnya mereka, aku pun sama&lt;br /&gt;mencari sesuatu yang tak ada di dalam diri&lt;br /&gt;seperti guru­guruku, dan seterusnya&lt;br /&gt;hingga aku pun berubah&lt;br /&gt;bertanya sambil berbenah&lt;br /&gt;lalu berhenti di suatu puisi:&lt;br /&gt;itulah rasa bagi kata&lt;br /&gt;itulah darah bagi luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10/2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENANTIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu seseorang&lt;br /&gt;ketika hari senja&lt;br /&gt;sampai datang padaku gelap&lt;br /&gt;dan meyakinkannya tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu seseorang&lt;br /&gt;ketika daun-daun menguning&lt;br /&gt;dan musim hujan mengabariku,&lt;br /&gt;“Ia tak mungkin kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu seseorang&lt;br /&gt;ketika usia semakin lapuk&lt;br /&gt;hingga datang padaku sekarat&lt;br /&gt;dan memberiku air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu seseorang&lt;br /&gt;yang membiru kurindu&lt;br /&gt;membawa badik karat&lt;br /&gt;berlumur cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4/1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAYANGMU ABADI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kuasa lagi kutanggung gelisah&lt;br /&gt;meski rindu tetap membiru&lt;br /&gt;aku mengungsi darimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal cahaya semburat fajar&lt;br /&gt;engkau menjadi titik bias matahari&lt;br /&gt;kesadaran penghujung mimpi&lt;br /&gt;sebab silau aku menjauh ke gelap malam&lt;br /&gt;namun engkau pun rembulan&lt;br /&gt;menyelimutiku dalam geletar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menembus hari aku berlari&lt;br /&gt;meninggalkanmu dalam segala gemerlap&lt;br /&gt;aku menghilang dalam halimun sunyi&lt;br /&gt;tetapi engkau menjelma sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengungsi darimu&lt;br /&gt;memasuki gua demi gua, aku bertapa&lt;br /&gt;membentang sayap ke alam moksa&lt;br /&gt;aku samadi, tapi engkau pula tercipta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3/1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MELODRAMA GADIS DESA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis berambut ikal, dikepang&lt;br /&gt;duduk berteleku pada nasib&lt;br /&gt;di bawah langit pesta panen&lt;br /&gt;‘kenapa Dewi Sri tak kunjung datang?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akan berangkat ke kota&lt;br /&gt;sebab di desa&lt;br /&gt;langit tak lagi berwarna&lt;br /&gt;sawah ladang diserang hama&lt;br /&gt;kali kering berampas kerikil&lt;br /&gt;ia melihat dunia&lt;br /&gt;hanya sebutir jagung&lt;br /&gt;tak ada harganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis desa benar-benar berangkat ke kota&lt;br /&gt;tempat kelak ia terpedaya&lt;br /&gt;di mana air mata menetes percuma&lt;br /&gt;namun saat ini ia tak tahu&lt;br /&gt;karena peristiwa itu&lt;br /&gt;berada di akhir cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10/06/1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JANGAN BERCINTA DENGAN PENYAIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghuni sunyimu&lt;br /&gt;dengan simponi angin mengiringi pencari kayu&lt;br /&gt;engkau melambung ke angkasa&lt;br /&gt;langit yang entah berbatas mana&lt;br /&gt;lalu, kutitikkan untukmu puisi:&lt;br /&gt;setetes madu lebah putih&lt;br /&gt;dari rimba tempat Arjuna mengelana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kekasih paling kekasih,”&lt;br /&gt;begitulah bisikan penyair&lt;br /&gt;tapi karena engkau terlanjur percaya&lt;br /&gt;pada kata-kata para pujangga zaman romantik&lt;br /&gt;maka tak juga jera&lt;br /&gt;engkau menjadi yang kesekian,&lt;br /&gt;yang keberapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, bilang!&lt;br /&gt;“Aku musuh penyair, aku musuh penyair&lt;br /&gt;mereka yang lahir dan mati di taman bunga&lt;br /&gt;tanpa pernah tahu, kalau dunia ini sepenuhnya neraka!”&lt;br /&gt;sekarang, katakan!&lt;br /&gt;bahwa cinta adalah Rahwana&lt;br /&gt;dan Shinta tak pernah lahir untuk Rama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertualanglah dengan siapa&lt;br /&gt;sampai engkau merasa yakin&lt;br /&gt;bahwa selain aku,&lt;br /&gt;semua yang membual padamu&lt;br /&gt;adalah bajingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6/2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PELAYARAN I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermil-mil jauh kutinggalkan dermaga&lt;br /&gt;dengan dayung patah dan layar cabik&lt;br /&gt;namun jika seseorang telah lama menunggu&lt;br /&gt;dengan dekapnya yang hangat&lt;br /&gt;di dasar samudera&lt;br /&gt;karamkan kapalku&lt;br /&gt;kirim aku badai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1994&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PALESTINA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik rintih Palestina&lt;br /&gt;terdengar jerit seorang pemuda&lt;br /&gt;yang membenamnya dalam sejarah tangis&lt;br /&gt;dan gugur air mata&lt;br /&gt;seperti layu kemboja&lt;br /&gt;bernisan lengang amis darah&lt;br /&gt;pergi bersama angin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lorong-lorong Jericho&lt;br /&gt;detak maut lewat bergegas&lt;br /&gt;melintas di antara grafiti gelap&lt;br /&gt;yang menyimpan sejuta murka&lt;br /&gt;sementara Israel memburu mahasiswa&lt;br /&gt;Intifadah bentrok di jalur Gaza&lt;br /&gt;kepada anaknya, seorang pejuang berkata&lt;br /&gt;“Semalam aku mimpi Musa&lt;br /&gt;membawa tongkat dan kitab&lt;br /&gt;hendak bertitah di puncak Sinai&lt;br /&gt;: sebab apa damai masih berdarah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, tinggallah belasungkawa yang basi&lt;br /&gt;mengalun perih tak tertakar&lt;br /&gt;maka lagukanlah himne tangis&lt;br /&gt;lewat kesempitan cinta yang terjual&lt;br /&gt;meski air mata bukanlah jawaban&lt;br /&gt;tapi karena tak satu pun elegi&lt;br /&gt;maupun balada&lt;br /&gt;yang melebihi nyeri Pelestina!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1994/1995&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PUISI UNTUK PENGGODA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di cuaca 23°c&lt;br /&gt;aroma pleasure-mu menyalak&lt;br /&gt;aku tersedak&lt;br /&gt;bikin gagap&lt;br /&gt;memilih senyum ketimbang berucap&lt;br /&gt;aku berdecak, tapi tak kagum&lt;br /&gt;hanya coba menyanjung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kuteringat&lt;br /&gt;indahnya menentukan kencan pertama;&lt;br /&gt;saat paling berkesan&lt;br /&gt;tapi mudah kulupakan&lt;br /&gt;karena ternyata&lt;br /&gt;keindahan itu lebih mudah kudapat&lt;br /&gt;di dalam kota metropol hatiku&lt;br /&gt;seorang diri saja&lt;br /&gt;belajar menjadi tunanetra&lt;br /&gt;ketika gagap berucap&lt;br /&gt;melihat tak dapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, perawan&lt;br /&gt;sorry banget,&lt;br /&gt;aku nggak tergoda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9/2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SAJAK KERAGUAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kuucapkan padamu&lt;br /&gt;kata-kata Hamlet pada Ophelia;&lt;br /&gt;‘janganlah bimbang bahwa aku cinta’&lt;br /&gt;seperti itu pula aku&lt;br /&gt;pada cahaya matamu yang laut&lt;br /&gt;aku bimbang&lt;br /&gt;pada senyummu yang ajaib&lt;br /&gt;aku ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika engkau ucapkan padaku&lt;br /&gt;kata-kata Ismail pada Ibrahim&lt;br /&gt;maka benar-benar aku telah menjadi&lt;br /&gt;seorang filsuf yang terkulai&lt;br /&gt;oleh sengatan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENCARIMU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintamu adalah gelombang&lt;br /&gt;tapi ia adalah pantai&lt;br /&gt;yang membuatnya jadi buih lalu tiada&lt;br /&gt;cintamu adalah hujan&lt;br /&gt;tapi ia menjadi bumi&lt;br /&gt;yang menyerapnya sepanjang musim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kaubacakan aku sajak dua seuntai;&lt;br /&gt;senyum dan air mata&lt;br /&gt;sebagai ritus abadi&lt;br /&gt;bagi pesta di persimpangan musim&lt;br /&gt;aku terperanjat dalam igau&lt;br /&gt;akukah ia yang kausebut udara&lt;br /&gt;dalam pusaran angin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintamu adalah keraguanku&lt;br /&gt;seperti isyarat perenjak yang terusir&lt;br /&gt;dari jalanan tengah kota&lt;br /&gt;sepanjang trotoar sepi aku mencari&lt;br /&gt;sepanjang jangkauan khayal aku menggapai&lt;br /&gt;hingga mimpi usai dalam bimbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja harus kucari cinta dengan filsafat,&lt;br /&gt;engkaukah kebenaran itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5/1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SAIPIANGIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saipiangin,&lt;br /&gt;ringankan tubuh&lt;br /&gt;akulah angin&lt;br /&gt;di mata badai&lt;br /&gt;jangan kaukejar&lt;br /&gt;kakiku seribu&lt;br /&gt;menderu tak bersiru&lt;br /&gt;jangan rintangi&lt;br /&gt;tak ada kata henti&lt;br /&gt;dalam lariku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3/06/2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UMMI, MARI OBATI LUKA ANAKMU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi, mari obati luka anakmu&lt;br /&gt;nyeri di hati tak kunjung usai&lt;br /&gt;kiamat akan datang hari ini&lt;br /&gt;mari dekap, aku dalam takut&lt;br /&gt;biarkan darahku memancar ke langit pucat&lt;br /&gt;melukis samudera cinta yang mengarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi, inikah dunia yang kaujanjikan&lt;br /&gt;setelah kausepuh dalam sembilan bulan?&lt;br /&gt;kilaunya membuatku menangis&lt;br /&gt;seperti Adam terusir dari Sorga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi, mari segera obati lukaku&lt;br /&gt;aku ingin tersedu sedan di pelukanmu&lt;br /&gt;perjalanan sia-sia, lelah adanya&lt;br /&gt;kaki tertusuk duri&lt;br /&gt;hati berbalut kabut&lt;br /&gt;mata buta sepanjang abad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi, mari obati luka anakmu&lt;br /&gt;karena hanya engkau yang berdoa&lt;br /&gt;di antara lolong seribu serigala&lt;br /&gt;hanya engkau yang dekap aku&lt;br /&gt;ketika seribu gigil dikirim angin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi, mari obati lukaku&lt;br /&gt;aku akan segera menangisi&lt;br /&gt;kepekat-gelapan duka dunia&lt;br /&gt;dalam se-dzarrah dada ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi, mari obati lukaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12/1995&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3869&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusuri aspal hotmix&lt;br /&gt;dalam kegelapan&lt;br /&gt;melaju, melesat mendahului jam&lt;br /&gt;ratusan kilometer terasa sejengkal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trailer, bus, wagon, sedan&lt;br /&gt;menjadi instrumentasi malam&lt;br /&gt;tetapi tetap harus didahului&lt;br /&gt;biar ajal terus membuntuti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29/8/98&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KE TANAH MELAYU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah terpuruk begitu jauh&lt;br /&gt;ketika surat yang kaukirim&lt;br /&gt;dari Pulau Penyengat&lt;br /&gt;menaburkan sepeti mutiara&lt;br /&gt;bagai buih disibak kapal&lt;br /&gt;di pantai Dumai&lt;br /&gt;tapi para nelayan membiarkannya&lt;br /&gt;dipatuk camar&lt;br /&gt;karena Bagansiapiapi&lt;br /&gt;tak lagi menyalakan mercusuar&lt;br /&gt;mereka pingsan dengan kail jala terbiar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya mereka telah lupa&lt;br /&gt;menawar pukat dengan semangkuk garam&lt;br /&gt;tentu bukan karena said dan tengku&lt;br /&gt;menatapnya dengan diam&lt;br /&gt;atau karena angin laut meniup kabar&lt;br /&gt;dari Batam: igauan dari jauh&lt;br /&gt;tapi mungkin karena tak tahu&lt;br /&gt;Raja Ali Haji pernah menulis Gurindam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu larut aku terperangkap&lt;br /&gt;dalam halimun rasa dan kata&lt;br /&gt;saat kaubangunkan aku&lt;br /&gt;dengan ‘Semalam di Malaya’&lt;br /&gt;begitu jauh aku tersesat di Batanghari&lt;br /&gt;mendayung syair perahu Hamzah Fansuri&lt;br /&gt;hendak menemuimu yang terisak sendiri&lt;br /&gt;tapi jangan sambut aku dengan upacara&lt;br /&gt;karena aku membawa luka&lt;br /&gt;karena aku hanyalah pengembara yang hina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1/1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MALAM DI JAKARTA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam turun di Jakarta&lt;br /&gt;sebelum maghrib, sebelum jamnya&lt;br /&gt;kontainer panjang dari luar&lt;br /&gt;mengangkut berjibun masalah&lt;br /&gt;mengirim babu-babu, buruh kasar, dan banyak lagi&lt;br /&gt;hendak pulang kampung&lt;br /&gt;ke bukan kampungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam cepat berangkat tua&lt;br /&gt;merkuri pecah sebelum menyala&lt;br /&gt;dan gelap, sekental kopi tubruk&lt;br /&gt;menemani gelandangan, menunggu pagi&lt;br /&gt;dan di negeri aneh ini&lt;br /&gt;—bahkan aneh sekali,&lt;br /&gt;pagi tak pernah datang lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tak sudi pergi&lt;br /&gt;subuh tak mau datang&lt;br /&gt;siapa yang berangkat kerja?&lt;br /&gt;Jakarta ditutup untuk umum!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;03/05/2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PADA DETIK PERTAMA MILENIUM KETIGA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada detik pertama milenium ketiga&lt;br /&gt;sepatah subhanallah lantun dari sepasang bibir&lt;br /&gt;yang merah dikecup dzikir&lt;br /&gt;“Inilah milenium agama, kapitalisme telah renta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada detik pertama dari dua ribu tahun kelahiran Isa&lt;br /&gt;satu gelombang ultrasonik memancar&lt;br /&gt;dari mulut seorang ulama yang menukil kisah nabi-nabi&lt;br /&gt;dan kabar kiamat pun dikumandangkan;&lt;br /&gt;“Ia tiba sebentar lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada detik pertama milenium ketiga&lt;br /&gt;Abrahah dan Fir’aun, si kembar anak Adam&lt;br /&gt;lahir kembali, tertawa lalu menyiapkan bala tentara&lt;br /&gt;Abrahah ke Timur Tengah, Fir’aun ke Asia Tenggara&lt;br /&gt;pada detik pertama dari sejengkal jarak ke Perang Dunia ketiga&lt;br /&gt;segunung api meruyak ke penjuru dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada detik pertama milenium ketiga&lt;br /&gt;kitab-kitab suci semua agama dibacakan&lt;br /&gt;bersama itu, dawai-dawai semua harpa kematian didentingkan&lt;br /&gt;pada kejap pertama, di detik pertama milenium ketiga&lt;br /&gt;bersaksilah sangkala; “Rapatkan semua pintu. Tutup semua jendela.&lt;br /&gt;Sudah saatnya wasiat ditulis, cukup tua usia dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11/1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PADA DUA BELAS KELUK GURINDAMMU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;­­mengenang Raja Ali Haji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dua belas keluk gurindammu&lt;br /&gt;aku akan mengalir seperti air&lt;br /&gt;membaca ikan, batu di sungaimu&lt;br /&gt;aku akan bertiup laksana angin&lt;br /&gt;meraba luas angkasamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dua belas keluk gurindammu&lt;br /&gt;menggali catatan hari­hari&lt;br /&gt;yang lepuh tertimbun jauh&lt;br /&gt;membaca tanda­tanda&lt;br /&gt;yang samar tersisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dua belas keluk gurindammu&lt;br /&gt;aku mencari dirimu&lt;br /&gt;di saat tak mengerti lagi&lt;br /&gt;pada isyarat cahaya&lt;br /&gt;yang kautawarkan tak henti­henti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1/1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DITULISKANNYA SEJARAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;---Thariq Bin Ziyad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menaklukkan Andalusia&lt;br /&gt;Thariq Bin Ziyad kembali ke Gibraltar&lt;br /&gt;memandang laut, mengirim kabar ke jazirah Arab&lt;br /&gt;bersama deburnya, ia nyanyikan kemenangan&lt;br /&gt;“…betapa luar biasa besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arkian, bersujudlah&lt;br /&gt;berlalu di hadapannya&lt;br /&gt;angin menuliskan Cordoba dan Alhambra&lt;br /&gt;di atas pasir&lt;br /&gt;dia sadar, tulisan itu, sebentar kemudian,&lt;br /&gt;dihapus lidah ombak yang datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorang anak cucunya pun tahu&lt;br /&gt;bahwa Thariq, sebelum meninggal, sudah menulis pesan;&lt;br /&gt;“Bila kalian hanya menjadi sisi suatu kutub&lt;br /&gt;di antara neraca kuantitas peradaban&lt;br /&gt;niscaya hanyalah sebutir pasir&lt;br /&gt;di sepanjang pantai kemegahan dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu yang melesat-lesat&lt;br /&gt;membisikkan kalimat Thariq yang tak sempat terkata&lt;br /&gt;pada belahan bumi Asia&lt;br /&gt;“Sejarah dan penyesalan terlanjur sepakat&lt;br /&gt;untuk terjadi dan ditulis pada setiap usai peristiwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11/1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TENGAH MALAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam sunyi&lt;br /&gt;mimpi buruk membangunkanku&lt;br /&gt;dari cengkeram taring pekatnya&lt;br /&gt;aku takut, Gusti&lt;br /&gt;ingin bersujud dan menangis pada­Mu&lt;br /&gt;tapi kantuk mata&lt;br /&gt;mengalahkan segala­galanya&lt;br /&gt;aku hanya mohon ampun;&lt;br /&gt;aku meneruskan tidur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4/1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M-18&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyulutmu purnama&lt;br /&gt;sepanjang perbani adalah wujudmu wanita&lt;br /&gt;“Di labirin hidup, akulah sepercik api&lt;br /&gt;berkilat di tepinya yang gulita,”&lt;br /&gt;katamu datar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyanjungmu pesona&lt;br /&gt;sepanjang sejarah menuliskanmu luka&lt;br /&gt;“Aku percaya padamu&lt;br /&gt;tapi tidak pada cinta&lt;br /&gt;karena pada akhirnya&lt;br /&gt;hanya akan menguasai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyulapmu sajak&lt;br /&gt;engkau hilang bentuk rima dan matra&lt;br /&gt;“Aku percaya padamu&lt;br /&gt;tapi tidak pada puisi,”&lt;br /&gt;katamu menyela&lt;br /&gt;“karena pada akhirnya&lt;br /&gt;hanya akan melukai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9/2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AKU BUKAN SEORANG WIRA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku yakin&lt;br /&gt;engkau tahu sebenarnya&lt;br /&gt;uap asmara yang kausimpan&lt;br /&gt;dalam tabung hati seorang perempuan&lt;br /&gt;hanyalah sepatah kata bila diucap&lt;br /&gt;yang tak dapat membasahkan bibir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan seseorang datang untuk mengucapkan cinta&lt;br /&gt;meski kausadar ia mungkin mendua&lt;br /&gt;sebab itu jangan tunggu aku&lt;br /&gt;membawa setangkai mawar merah menyala&lt;br /&gt;lalu kaubayangkan diriku&lt;br /&gt;sesosok wira laksamana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kapan, aku akan datang&lt;br /&gt;tapi tidak untuk mengucapkan cinta&lt;br /&gt;sebab aku yakin&lt;br /&gt;engkau tahu sebenarnya&lt;br /&gt;pada saat itu aku sedang berdusta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok atau lusa&lt;br /&gt;orang-orang akan berdatangan&lt;br /&gt;sambutlah, mereka adalah para wira&lt;br /&gt;tapi aku yakin&lt;br /&gt;engkau tahu sebenarnya&lt;br /&gt;aku hanyalah seorang prajurit&lt;br /&gt;yang terusir dari medan laga&lt;br /&gt;dari dadanya darah mengucur&lt;br /&gt;dan engkau telah mengobati luka-lukanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09/2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PULANG KE RUMAHMU &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya seutas kenangan&lt;br /&gt;dawai cinta kecapi mimpi&lt;br /&gt;mainkanlah ia&lt;br /&gt;hingga larut ke masa silam&lt;br /&gt;lari lagu ke legenda&lt;br /&gt;engkau menyebutnya mitologi cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya seutas rindu&lt;br /&gt;jalan pulang ke rumahmu;&lt;br /&gt;angin senyap dini hari&lt;br /&gt;aku talah memainkannya&lt;br /&gt;dengan semangat serangga&lt;br /&gt;mencari makna malam&lt;br /&gt;yang sekejap menjadi pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7/1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M-17&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku&lt;br /&gt;engkau memang bukan segalanya&lt;br /&gt;tapi nyaris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10/1997&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-7797373773731204312?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/7797373773731204312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/01/18.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/7797373773731204312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/7797373773731204312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/01/18.html' title='18 +'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-3678672731594565279</id><published>2008-01-31T15:45:00.002+07:00</published><updated>2010-08-10T18:22:40.914+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beberapa Puisiku'/><title type='text'>Puisi Baru</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURAT CINTA UNTUK MALAM &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilatan cahaya yang berpendar&lt;br /&gt;redup dan berdenyar&lt;br /&gt;seperti jantungku, mengatup dan mekar&lt;br /&gt;perkenalkan, aku bernama malam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berdiri di bawah kubah langit&lt;br /&gt;beradu pandang dengan polaris&lt;br /&gt;zenit, inikah langitku yang puitis?&lt;br /&gt;langit ibarat yang tak tersingkap&lt;br /&gt;sebagai ejaan di ujung abjad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, saya akan bergerak menjauh&lt;br /&gt;untuk membuat kesimpulan lama perjalanan&lt;br /&gt;tahun cahaya semesta dalam bola mata:&lt;br /&gt;kesimpulan dalam pengandaian&lt;br /&gt;sebab, tugas teori hanya untuk&lt;br /&gt;meremajakan akal-pikiran&lt;br /&gt;agar selalu salah&lt;br /&gt;dalam mengambil keputusan benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya merancang sebuah kepastian&lt;br /&gt;langkah tertatih: ujicoba dan praduga&lt;br /&gt;sains, saya berjalan ke arahmu&lt;br /&gt;yang benar dalam kesementaraan&lt;br /&gt;dan salah dalam ketegangan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang-bintang di langit&lt;br /&gt;alangkah indah cahayaku&lt;br /&gt;dari nadir menuju zenit&lt;br /&gt;hanya sejengkal&lt;br /&gt;kecil bukan pada wujudnya&lt;br /&gt;tapi pada mata orang yang memandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau mendekat dalam teropong&lt;br /&gt;tapi menjauh dalam pengertian&lt;br /&gt;kita bergerak; mendekat-menjauh&lt;br /&gt;berpikir dalam pengandaian&lt;br /&gt;berkembang dalam ketakterjangkauan&lt;br /&gt;entah di galaksi mana&lt;br /&gt;kebenaran kita akan saling berpapasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari kita terus beradu pandang&lt;br /&gt;hingga kelak engkau dan saya sama-sama tahu&lt;br /&gt;saya diciptakan untuk memahamimu&lt;br /&gt;atau engkau diciptakan untuk menopang wujudku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bintang-bintang di langit malam&lt;br /&gt;janganlah berkedip&lt;br /&gt;dan engkau tak berkesip&lt;br /&gt;kalian, bermilyar-milyar mata memandang ke mari&lt;br /&gt;tersenyum takjub memandang kami:&lt;br /&gt;mengapa titik kecil yang berpikir itu&lt;br /&gt;tak mampu mencari alasan&lt;br /&gt;untuk apa gugusan cahaya raksasa ini dinyalakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percik-pendar gugus bintang semesta raya&lt;br /&gt;jika engkaulah alamat kebenaran&lt;br /&gt;maka perkenankan,&lt;br /&gt;sepanjang hidupku menjadi malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14/08/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NAMA-ALIEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai suatu saat kelak&lt;br /&gt;engkau datang menitip jejak&lt;br /&gt;di lempeng tanah tempat aku berpijak&lt;br /&gt;aku tahu, tujuanmu menyatakan diri&lt;br /&gt;sebagai maujud yang kunamai&lt;br /&gt;yang diciptakan dan tak menciptakan diri&lt;br /&gt;punya dunia-yang-dibuatkan&lt;br /&gt;tapi engkau akan menjadi tidak berdaya&lt;br /&gt;karena aku yang memberimu nama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alien, oh, nama&lt;br /&gt;gerangan rahasia apakah di balik nama&lt;br /&gt;dan penamaan atas benda-benda tercipta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya,&lt;br /&gt;kekuatanku adalah memberi nama&lt;br /&gt;karena penamaan adalah penemuan&lt;br /&gt;aku tak menciptakan dari ketiadaan&lt;br /&gt;hanya memberi nama sebagai ingatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insan, oh, lupa&lt;br /&gt;lalu jadilah objek penamaan&lt;br /&gt;karena engkau tak menamaiku&lt;br /&gt;padahal, akulah subjek yang pelupa&lt;br /&gt;memberi nama banyak benda&lt;br /&gt;itulah kekuatanku&lt;br /&gt;setelah itu, segera melupakannya&lt;br /&gt;dan itulah kemuliaanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alien, ayo, namai aku&lt;br /&gt;insan, subjek maha-alpa&lt;br /&gt;sejuta ilmu&lt;br /&gt;semilyar lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14/08/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;VIRUS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang&lt;br /&gt;ini dataku, duniamu!&lt;br /&gt;sistemku bergerak&lt;br /&gt;giga dan terra berderak&lt;br /&gt;tetapi, ia tidak bisa berpikir&lt;br /&gt;si imun atau si badi tiada beda&lt;br /&gt;sepanjang engkau serupa dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali aku memindaimu&lt;br /&gt;engkau selalu menjadi diriku&lt;br /&gt;aku tak kenal-kenal&lt;br /&gt;“tak diundang, tapi selalu bertamu’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani membajak sawah&lt;br /&gt;lanun membajak laut&lt;br /&gt;aku membajak software&lt;br /&gt;aku menciptakanmu&lt;br /&gt;engkau digdaya, aku perdaya&lt;br /&gt;tapi engkau menundukkanku&lt;br /&gt;engkau culas, aku manja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm, aku tak kenal ciptaanku sendiri&lt;br /&gt;ah, genit benar sampeyan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai tuan yang tidak begitu pintar&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;scan completed&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;no virus(es) found on your computer&lt;/span&gt;, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1/05/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NAMAKU MALAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku malam&lt;br /&gt;kepingan waktu yang membentuk subuh&lt;br /&gt;engkau fajar, merah ditempa matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang, apa yang mereka cari?&lt;br /&gt;tak ada, selain cahaya&lt;br /&gt;hingga yang hilang didapatkannya&lt;br /&gt;hingga rahasia menjadi terbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita duduk beradu punggung&lt;br /&gt;menghadap barat-timur&lt;br /&gt;lalu, kita sama-sama berucap&lt;br /&gt;“ingin rasanya kita bisa saling menghadap!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di manakah kelabu dan temaram?&lt;br /&gt;tidak, namaku hanya malam&lt;br /&gt;engkau tak bisa memanggilku di luar itu&lt;br /&gt;yang satu tidak dapat menatap lainnya&lt;br /&gt;sebagaimana ‘tahu’ dan ‘tidak tahu’&lt;br /&gt;tak ada tempat untuk duduk bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21/09/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RU’YATUL HILAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilal&lt;br /&gt;mengapung di antara dua kutub berketegangan&lt;br /&gt;lalu tenggelam&lt;br /&gt;di dalam satu keraguan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilal,&lt;br /&gt;bulan sabit mengiris langit&lt;br /&gt;untuk membelah jadi dua&lt;br /&gt;sekerat buat mata&lt;br /&gt;sekerat lagi untuk angka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ru’yatul hilal&lt;br /&gt;mengapung lalu tenggelam&lt;br /&gt;di dalam dua kubangan&lt;br /&gt;angka dan pandangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fana, fana, fana&lt;br /&gt;sebab yang baka&lt;br /&gt;hanyalah untuk Yang Esa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28/09/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ULAR-TANGGA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kocok-kocok-kocok, lemparkan dadunya&lt;br /&gt;jika bagus, naiki tangga, naik tahta&lt;br /&gt;nasib buruk, ikuti ularnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka tangga, tak suka ularnya&lt;br /&gt;saya mau puncak, tak mau dasarnya&lt;br /&gt;saya ingin sukses, tak mau kerjanya&lt;br /&gt;bisa? bisa saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kocok-kocok-kocok, mainkan ular-tangga&lt;br /&gt;tapi permainan ini tak cocok&lt;br /&gt;untuk orang dewasa&lt;br /&gt;karena tak perlu akal-akalan&lt;br /&gt;kalau ingin kaya cepat&lt;br /&gt;pakailah otak atau tipu muslihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha, lebih baik main monopoli saja&lt;br /&gt;kalian, lemparkan dadu&lt;br /&gt;saya tunggu di kotak “kesempatan”&lt;br /&gt;mumpung saya lagi dapat kartu&lt;br /&gt;“dibesakan dari penjara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1/10/2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-3678672731594565279?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/3678672731594565279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/01/puisi-2007.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3678672731594565279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/3678672731594565279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/01/puisi-2007.html' title='Puisi Baru'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6772725323601977866.post-9085962330683918031</id><published>2008-01-31T15:14:00.000+07:00</published><updated>2008-02-10T00:13:51.709+07:00</updated><title type='text'>Sareyang</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik Sareyang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah Sareyang.&lt;br /&gt;Akulah anak kecil dekil yang berjalan sendiri di pinggiran sejarah. Tak ada orang yang menghiraukanku, kecuali dengan sebelah mata memandang.&lt;br /&gt;“Untuk apa berteriak bagi kebenaran, Sareyang?”&lt;br /&gt;Tapi, aku tak mau diam. Walau telinga tersumbat, biarpun mata tersilap, aku akan tetap berdiri, sekalipun hanya seorang diri di hadapan kebisingan dunia, walaupun serak suaraku, hanya gumam, bahkan mungkin cuma bisikan yang lenyap terbawa angin.&lt;br /&gt;Akulah Sareyang.&lt;br /&gt;Sebuah tanju bagi gerhana sepanjang waktu.&lt;br /&gt;Air merta jiwa bagi kemarau seabad lama.&lt;br /&gt;Melalui malam dan sunyi, yang menjadi guru dalam mengajarkan cahaya dan kebisingan, aku menyeberangi kosmis, mencari percik api bernyala matahari.&lt;br /&gt;“Di mana akan kautemukan itu, Sareyang?”&lt;br /&gt;Dengan mata menerawang, meradai dan menghilau atas kekalahan, lindap di bawah bayang­bayang ilmu pengetahuan, aku mencari nyanyian di antara deru bising kehidupan.&lt;br /&gt;“Tetapi, masihkah para wali membisik, Sareyang?”&lt;br /&gt;Dengan mata nyalang, aku menatap langit, membaca catatan masa silam; sejarah menyajikan tamsil dan teladan, namun mulut masih cedal. Walau hati merangkum rahasia semesta raya, bahkan hingga ke sebalik fisika, tapi kekuatan sepasang mata cuma mampu menangkap gemerlap mayapada.&lt;br /&gt;Akulah Sareyang.&lt;br /&gt;Sebuah lagu bagi hiruk-pikuk sepanjang waktu.&lt;br /&gt;Cerita pelipur lara bagi kemelut sepanjang masa.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Aku melambung lepas, menembus atmosfer, melampaui batas dunia, lalu melepaskan diri dari hukum bumi, tetapi pada akhirnya hinggap kembali di dasar hati. Memanjatkan doa untuk orang tua, para guru, kawan-kawan, serta mereka yang mungkin telah terlupa; selamatkan kami dan anak cucu kami dari kemarau panjang di dalam dada; kemarau di luar musim, kemarau di dalam batin.&lt;br /&gt;Berjalan tertatih menghitung langkah.&lt;br /&gt;Hati merintih pikiran membuncah.&lt;br /&gt;Manusia sepercik cahaya dari surga. Tersesat di Kota Benda yang gulita. Diberikan untuknya pelita. Namun, ia terpasah senantiasa. Diberikan untuknya air, dan ia tak habis-habis dahaga.&lt;br /&gt;Sareyang.&lt;br /&gt;Sebuah tanju bagi gerhana sepanjang waktu.&lt;br /&gt;Air merta jiwa bagi kemarau seabad lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lirik Untuk Ayah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah..&lt;br /&gt;Bila kulihat engkau tekun bekerja, tangan kotor penuh debu, peluh mengucur dan letih tegas tersurat di wajahmu, dadaku terasa sesak melihat diri yang kukuh tapi malas. Aku malu, tenaga penuh tapi hasrat tiada. Mengapa engkau begitu tekun, padahal asin keringat yang engkau cucurkan justru aku yang merasakan manisnya. Untuk siapa engkau terus bekerja bila tidak untuk anaknya?&lt;br /&gt;Ayah,&lt;br /&gt;Kapankah datang waktunya, aku ingin membanting tulang dan engkau cukup istirahat saja. Biar kutangung semua urusan duniawi dan aku akan mendampingimu menghabiskan hari-hari tua nanti. Namun, cukupkah dengan begitu aku membalas? Memang, balas tidak engkau pinta, tapi pamrih mesti kurasa. Kutahu sejulang gunung engkau berbudi, tapi bisaku hanyalah mendaki.&lt;br /&gt;Ayah,&lt;br /&gt;Habis puja memuja. Habis rasa merasa. Tak ada neraca menakar jasa. Tiada padan membalas cinta. Selama mulut mampu berucap, selama hati masih mendetap, tekadku berbakti dan selalu berdoa, bahkan hingga kelak engkau tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lirik Untuk Bunda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda,&lt;br /&gt;Seperti angin bertiup, bagai air mengalir, laksana cahaya menelusup, aku mencari lalu menemukan nyala cintamu yang tak pernah kuntum, bahkan terus bergolak. Untuk melukiskan jasamu, aku menyusun puisi, seloka, pantun, dan bentuk bunga kata­kata. Dari zaman dahulu, para penyair dan penganjur kebaikan menyanjungmu dengan berbagai tamsil dan teladan, tentang cintamu yang tak terkira dan kasihmu yang tak tertara. Bahkan bila kutulis madah pujian, tetapi aku merasa itu cuma bualan, meskipun engkau akan menganggapnya tulus karena kasihmu tak bergantung apa pun balas.&lt;br /&gt;Bunda, belas kasihmu tak tepermana, walau balasku sepenggal cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda,&lt;br /&gt;Aku berhutang kepadamu, meskipun lunas tidak kautagih. Engkau telah memberiku nilai yang tidak mungkin aku bayar. Adakah yang layak dipersembahkan untukmu selain mengabdi dan berbakti? Bahkan rasanya tak cukup, karena kasih dan budimu tak mungkin terbalas. Terkadang aku merasa seorang Malin Kundang; lupa bunda mengandung, tak ingat dari mana berasal. Alangkah celaka. Namun, bila itu kuingat kembali, barulah aku menyesal dan menangis. Engkau mengandung, melahirkan, dan membesarkanku dengan air mata.&lt;br /&gt;Bunda,&lt;br /&gt;Kasih sayangmu adalah samudera, langit, daratan bahkan bumi keseluruhan tak terpeta. Cinta kasihmu tak akan cukup bila diwakilkan pada perlambang-perlambang bunyi, konfigurasi gerak ataupun pada puncak keindahan kata-kata. Cintamu pada anak tak mungkin sepadan terbalas, karena bagi ruang hati di dalam dirinya, kasih sayangmu terlampau besar, bahkan berada di luar takar.&lt;br /&gt;Bunda,&lt;br /&gt;Aku, anakmu, juga semua orang yang pernah dilahirkan, hanya dapat melukiskan cintamu seperti malam hendak melukis matahari. Teramat banyak puisi, lagu, dan madah puja­puji yang mengagungkanmu. Aku merasa kelu bahkan bisu untuk melakukannya. Karena apakah guna bila kata­kata yang hendak kususun itu justru lebih dahulu kaubaca di dalam pikiranku? Sebab itulah, pujianku bukanlah kata­kata, tetapi adalah dengan menjadi diri yang engkau restui, serta percaya bahwa untuk anaknya, seorang bunda tak akan pernah berhenti berdoa.&lt;br /&gt;Mulialah engkau, Bunda, dan bahagialah aku, lahir sebagai anakmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku Datang Padamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kecemerlanganmu yang maha, aku akan bertamu membawa hina. Karena dengan begitu, engkau akan tampak semakin mulia.&lt;br /&gt;Padamu, aku akan datang dengan redup muka; pengemis buruk meminta iba. Karena dengan begitu, engkau akan tampak semakin agung di puncak pesona.&lt;br /&gt;Padamu, aku akan datang berkunjung membawa kekurangan-kekurangan. Karena dengan begitu, yang tampak padamu hanyalah keistimewaan.&lt;br /&gt;Padamu, aku akan datang membawa gelap. Karena dengan begitu, cahayamu akan tampak makin berkilauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perbani &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, bagi kedatanganmu, adalah penantianku yang terakhir kali. Bekal kesabaran tinggal sekerat, sementara rindu semakin berkarat. Menunggu sepanjang kemarau. Gelisah dan galau sesuntuk musim. Hari-hari mengalir membawa kekosongan. Hasrat membara susut mengalir.&lt;br /&gt;Kapankah engkau datang?&lt;br /&gt;Bahkan hingga hujan awal tengkujuh tumpah ruah, menguapkan segar aroma tanah, memandikan bumi dari panas dan gerah, mengabarkan berbunganya jagung dan kedelai, engkau tak juga datang. Tapi, aku membatin dengan bangga; adakah yang lebih perkasa daripada seorang penanti setia?&lt;br /&gt;Hujan mengertap. Cahaya lindap. Hariku gelap. Rindu terlumat.&lt;br /&gt;Aku membuka jendela; menangkap musim, meraba cuaca. Engkau tetap tak terjamah. Tersiksa batinku resah. Sementara di luar, aku mendengar tetes air hujan menyajakkan sakit hati.&lt;br /&gt;Luka di dasar hatiku&lt;br /&gt;perih dan pedih dalam menunggu&lt;br /&gt;siang berlalu menyimpan berita&lt;br /&gt;malam lantun bersama sepi&lt;br /&gt;hari-hari menikam tepat ke ulu hati&lt;br /&gt;dalam hal melukai&lt;br /&gt;kesepian lebih tajam daripada belati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, dengan semangat kelaki-lakianku, aku menengadah. Memohon kesabaran dalam menunggu. Biar kapan pun tak akan jemu. Aku berdoa, agar dengan kelemahanku aku mampu berdiri perkasa, dengan kekuatan penuh sebagai penanti setia.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Di pertengahan bulan, hunjam hujan menghunjam. Deru angin menderu. Sambar petir menyambar. Lampu membeku, pergi cahaya. Rumah pun gelap berlurub gulita. Di luar, angin bertiup menderakkan rumpun bambu. Dan langkisan datang mendahului halimbubu.&lt;br /&gt;Ketika hujan benar­benar deras, ketika halilintar menyambar dan guntur menggelegar susul-menyusul, kukuakkan pintu dan jendela. Menyambutmu dengan rindu kancap di dada.&lt;br /&gt;Di langit yang gelap membentang, dari balik tetes hujan tebal, aku melihatmu datang; perbani yang perawan. Tapi, cahayamu masih seperti di musim lalu, bersinar dalam terang purnama di musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lirik Untuk Kiai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suram sinar tanju di saka surau, berkelit dari angin, berjuang melawan gelap. Cahayanya menguntum. Bila lewat semilir, ia seolah menunggu padam. Dari balik kaca bermandi jelaga, sinarnya membias ke wajahmu. Menyiratkan siluet ketekunan dan garis tepi perjuangan pada air mukamu yang tenang. Sementara aku tak henti dan terus membaca perjuanganmu, bagaimana kauajari aku menikmati perjuangan itu sendiri.&lt;br /&gt;“Bacalah, Nak, mulailah mengeja!”&lt;br /&gt;Aku merunduk. Kening hampir menyentuh buku.&lt;br /&gt;“Aiu, babibu, tatitu.”&lt;br /&gt;Aku barulah batu.&lt;br /&gt;“Hahihu, wawiwu, yayiyu.”&lt;br /&gt;Angin mencari halimbubu.&lt;br /&gt;Jangankan membaca, mengeja pun gagap.&lt;br /&gt;Jangankan mengerti, belajar pun gelap.&lt;br /&gt;Bila hidup banyak memberi pilihan, mengapa jalan ini yang kautempuh, menuju ujung perjalanan yang begitu jauh? Badan letih tak terkira sedangkan panas membakar tanah berdebu. Kaki melepuh, wajah mengeruh, tapi semangatmu menjadikan hidup ini penuh gairah.&lt;br /&gt;Serangkum angin, melalui sela-sela anyaman bambu dinding surau, menyelusup, menambah hati risau. Hari semakin malam. Sekarang lagi purnama. Alangkah asyiknya bermain di pematang, begitu semua anak punya pikiran.&lt;br /&gt;“Kita lanjutkan besok malam. Tutup kitabmu dan berdoalah!”&lt;br /&gt;Dalam hati aku berteriak kegirangan.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Surau itu masih memancarkan cahaya, meskipun redup bertahan hidup. Aku selalu ingat, kiai masih duduk bersila di mihrab. Barangkali ia menyelesaikan dzikir rutinnya yang panjang. Atau terkantuk-kantuk lalu tertidur karena keletihan. Mungkin, ia sedang mengulang-ulang doa panjang pada bibirnya yang kering. Aku yakin, kiai akan selalu memohon agar Allah sudi melapangkan hati para santrinya sehingga cahaya-Nya masuk ke relung setiap rongga dada, lalu kembali memancar menjadi pesona di jiwa. Bukan kecerdasan yang membuat sombong, juga kepandaian yang bisa menipu, tapi ilmu manfaat yang akan memberi selamat.&lt;br /&gt;Pada ratusan jarak di peta, tapi sejengkal cuma di dada, di antara rentang waktu menahun, masih jelas dalam anganku semua tingkah dan lakunya, sikap dan pituturnya. Dan aku pun bertekad bulat tak akan henti mengingatnya dalam segala suasana. Memang, saat itu telah lalu, tapi aku selalu menghadirkannya di ruang hatiku, setiap waktu.&lt;br /&gt;Angin mendesir, merkuri tetap menyala. Cahayanya nyalang di hadapan apa pun angin. Sementara komputer menggantikannya, mendidikku menjadi guru sekaligus muridnya.&lt;br /&gt;Kiai, pada beberapa masa berikutnya, cahayamu masih kulihat mengerdip di kejauhan, dipisahkan waktu, dalam ruang beratus sekat, hingga ia tampak cuma sepercik tanju menjelang padam, tapi di dadaku, lebih kobar dari nyala api apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menara Tertinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau adalah menara yang tinggi menjulang. Di bawahnya, orang-orang memandangmu mendongakkan kepala. Di tempat itu, engkaulah yang tertinggi karena hanya engkau yang menjulang sendiri.&lt;br /&gt;Engkau adalah mercu suar tempat pelaut menaruh harap. Engkau adalah mata angin bagi para pengelana. Engkau adalah gedung pencakar langit tempat berkumpul para pelaku bisnis. Engkau adalah menara pemancar yang menyebarkan sinyal dan gelombang.&lt;br /&gt;Engkau bagai seorang alim tempat bertanya, tapi suatu ketika engkau kehabisan kata-kata. Mungkin engkau seperti sumur tempat air ditimba, namun kelak kemarau akan membuatmu tinggal batu-batu saja. Atau, engkau adalah ia yang apa pun dipunya, namun di suatu masa, barangkali orang-orang tidak akan mendatangimu lagi meminta iba, karena engkau telah menjadi seorang miskin papa.&lt;br /&gt;Sesungguhnya, engkau adalah sebuah menara yang menjulang tinggi, tapi di dalam dirimu saja. Ia sendiri, menjadi pentunjuk bagi dirimu saja. Itulah sebuah menara yang kaubangun bertahun-tahun dengan pengetahuan dan pengalaman. Engkau selalu merasakan dirimu menjulang paling tinggi. Tapi, engkau tak tahu, mungkin di lain waktu, di lain tempat, ada menara lain yang menjulang lebih tinggi, hingga puncaknya tidak kelihatan.&lt;br /&gt;Engkau adalah menara yang menjulang tinggi. Ia hanya sendiri di dalam hati. Engkau adalah menara tertinggi, namun di dalam dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hikmah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rata cahaya lampu merata.&lt;br /&gt;Menebar panas dan silau di mata.&lt;br /&gt;Laron-laron mendekat, menghampirinya. Mereka mencari cahaya yang benar-benar terang, menuntun jalan untuk terbang. Karena kegelapan adalah bentuk segala siksaan tak terhingga.&lt;br /&gt;Satu datang berganti yang lain. Begitulah, satu persatu, kawanan itu mati. Namun, mereka tak jera dan tetap mendekati.&lt;br /&gt;“Aku lahir untuk meraih cahaya. Setelah itu, aku lega melepas nyawa.”&lt;br /&gt;Laron lain datang dan mereka tak sempat membawa berita untuk kawannya. Semua laron datang dan tak pulang kembali. Semua laron lahir, lalu mati.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Lampu dan cahaya.&lt;br /&gt;Laron dan mati.&lt;br /&gt;Manusia dari jauh melihat, mempelajari teladan yang sungguh mumpuni. Manusia dari jauh melihat, tapi tidak sanggup menghayati. Sudah terlalu banyak mursyid, sufi, kiai, dan para mufti menuturkan hikmah, memberi petuah, namun keangkuhan telah benar-benar membuat hatinya mati.&lt;br /&gt;Laron datang mendekati cahaya lampu, dari gelap mencari terang, meskipun pada akhirnya mati. Manusia juga datang mendekati cahaya hikmah, tapi hikmah tak pernah membakar, hanya menyinari. Akan tetapi, banyak manusia yang tak mau mendekati. Ia berada di kejauhan, melihat saja, atau bahkan berdiri beradu punggung dengannya.&lt;br /&gt;Lampu dan hikmah sama­sama menebarkan cahaya.&lt;br /&gt;Laron mencari cahaya lampu lalu sekarat ketika mendekat. Sementara manusia melihat cahaya hikmah dan mereka melepuh ketika menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lirik Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapkan bibirku tasbih setelah tergagap melihat pesona. Gerakkan hatiku tahmid manakala tak silap melihat benda. Allah, getarkan semua anasir kemanusiaanku manakala hendak mengaku kuasa dengan raga tanpa daya.&lt;br /&gt;Cinta yang Engkau letakkan pada kecuraman jiwa, adalah anugerah yang sangat besar. Bias sinarnya terlalu tajam hingga aku tersilau dan aku terbuta. Aku ingin bersuci, membasuh luka dari debu dunia. Mencuci diri dari buaian benda. Terlampau naif menyebut diri seorang kamil sementara masih membanggakan hal-hal yang batil.&lt;br /&gt;Namun, jangan beri aku cinta bila ia akan berakhir benci, karena Engkau menganugerahkannya demi menciptakan damai di bumi. Sementara bila ia telah membutakanku, maka pada akhirnya akan berujung dendam dan dengki. Gusti, tanamkan ia di setiap ruas rusuk, dalam panjang urat nadi, dalam tiap denyut jantung, di pusat energi hati.&lt;br /&gt;Dosa dan kesalahan yang kulakukan, benci dan dendam yang kuperam, telah membuat mata hatiku semakin lamur, tak sanggup membaca petunjuk yang Kauberi. Padahal aku tak henti belajar mencintai seperti orang­orang yang Kaupilih. Mencintai musuh seperti Isa, atau pemaaf seperti Muhammad. Sering aku dicibir karena hal itu dianggap musykil.&lt;br /&gt;Namun, ya Allah!&lt;br /&gt;Aku hanya percaya pada­Mu.&lt;br /&gt;Tak ada yang tak mungkin bila Kaumau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lirik Karbala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali kututup telinga, kudengar gemuruh dari jauh, seperti suara riuh. Adakah itu suara engkau yang menangis tak habis-habis, atau hati saudara-saudara tercinta yang meretas tak tuntas-tuntas, atau pula kekasih yang disakiti tak henti-henti? Suaramukah itu, Karbala?&lt;br /&gt;Dalam jarak waktu merentang, tangis rintihmu menyayat terdengar. Di hati, tidak di telinga. Di jiwa, tidak di raga. Perih luka kautanggung. Alangkah dahsyat siksa kaupikul. Namun, aku yakin, pada tiap tetes air mata berlinang, adalah pelipur bagi hati yang risau.&lt;br /&gt;Karbala!&lt;br /&gt;Iris cabikan pedang, mencipta lukisan luka sangsai. Semakin perihlah terasa, karena saudara menjadi lawan. Di tempatmu, duhai gelanggang terkuaknya hijab paling samar, antara salah dan benar, nyawa-nyawa telah diberangkatkan menuju persemayaman suci. Tempat mukim para nabi dan wali-wali.&lt;br /&gt;Wahai wilayah tak terpeta. Setitik debu di rahim dunia. Kesaksianmu adalah semua wilayah jagad raya. Menyelimuti luas padang batin manusia. Karbala; bagai sekulum bibir yang mengucapkan sepatah kata dengan lantang di antara ribuan bait puisi berdarah yang rancu terdengar. Laksana nyanyian kesetiaan tanpa penghabisan. Melantunkan irama merdu Tuhan bagi telinga yang terkuak untuk kebenaran.&lt;br /&gt;Dalam jarak waktu merentang, masih kudengar ratapan dan rintihan para kerabat, menembus kemelut pikiran, melintasi apa pun kebisingan.&lt;br /&gt;Karbala!&lt;br /&gt;Meskipun suaramu kadang lirih terdengar, sesayup sampai, bahkan seringkali hilang, namun di telingaku tetap mengiang. Benar nyatanya, seorang yang turut merasakan tragedimu yang pedih, yang tak terlukis perih, hari-harinya adalah asyura; hari di mana kereta kencana diberangkatkan menuju surga.&lt;br /&gt;Pada hari itu, merah darah membanjiri tanah, agar padangmu yang gersang jadilah gembur. Bersamaan saat, di kepalamu, Allah menyemat mahkota bertatah permata. Jadi, terhiburlah. Engkau telah terpilih sebagai tempat tumpahnya darah para pejuang Allah. Maka, tak usah tangisi Husin, ia tetaplah muhsin. Tak perlu dicari siapa yang lalim. Jangan caci Syammar. Tak perlu dibakar dendam, sebab pemaaf adalah pemenang.&lt;br /&gt;Karbala!&lt;br /&gt;Lama engkau berlalu. Kesedihanmu mulai terlupa, namun tak mungkin terhapus dari hati yang penuh nestapa. Sebab kisah yang telah kautulis di muka bumi ini adalah ikhtisar dari berbagai teladan tentang kesabaran dan kesetiaan yang dapat dimengerti oleh jiwa yang tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lirik Palestina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palestina!&lt;br /&gt;Wahai bunda bagi bermilyar manusia. Gerangan apakah yang membuat air matamu berlinang tak selesai-selesai? Duka maha laksana apa kautanggung sehingga tangismu bagaikan drama tanpa penghujung; lakon panjang anak-anak menyandang senjata, bermain bersama martir, sementara para ibu menjadi janda di waktu muda, atau mati sebelum melihat anaknya dewasa, para pejuang yang gagah karena cinta tanah air, meskipun lemah karena hidupnya semakin rengkah?&lt;br /&gt;Ke manakah anak cucumu jauh melanglang? Adakah para Yahudi itu tahu bahwa tanahmu selalu gembur karena basah oleh air mata, sementara engkau, ibu pertiwi yang menghidupinya, tersengal bila melenguh, tersendat saat bernapas, menahan sesak, memikul tragedi abadi semenjak awal mula drama kehidupan dimulai? Adakah para Kristiani itu membesuk engkau terbaring, terbujur, terlentang menahan sakit, mungkinkah mereka akan melupakanmu; tempat yang sangat mereka agungkan itu? Mungkinkah kaum Muslimin melupakanmu; tanah penuh sejarah tempat tonggak perjuangan ditancapkan?&lt;br /&gt;Apakah mungkin derita ini adalah hikmah mulia yang terselubung kasat mata? Namun, mengapa mereka bertikai, ataukah hal itu merupakan wujud rasa cinta pada bundanya sebagai pembelaan?&lt;br /&gt;Hingga sekarang, kecuali lirik ini, aku tak punya sapu tangan bagi air matamu yang tak habis berlinang.&lt;br /&gt;Palestina!&lt;br /&gt;Duhai bunda bagi bermilyar manusia. Apa kabar Yerusalem, yang kian tua oleh usia, tapi selalu muda untuk dicinta? Para nabi yang pernah singgah di sini, kalau saja sekarang mereka ada, sanggupkah tidak menangis ketika melihat kota­kotamu porak­poranda, bergelimang darah, bermandikan peluru, sementara di lain tempat, anak-anakmu hidup mewah dan pesta pora? Dan apakah pernah terbayang oleh nenek moyangmu para Punisia, bahwa bumi yang dulu mereka temukan itu bakal menjadi sebuah tanah subur bagi tumbuhnya pertikaian? Apakah mereka pernah menduga kalau tanah yang mereka puja selalu menangis tak ada habis­habisnya?&lt;br /&gt;Palestina!&lt;br /&gt;Sampai saat ini aku tak tahu, apakah dunia cukup kaya menyediakan air mata untuk menangis atas drama lukamu yang tak terhingga? Sampai saat ini aku tak tahu, dengan doa apa aku memohon kesejahteraan untukmu. Atau karena aku memang tak tahu, jangan-jangan pada kesedihanmu itulah terletak kebahagiaan semesta, dan di lukamu itulah, dunia mencurahkan isi hatinya yang kancap oleh air mata?&lt;br /&gt;Hingga sekarang, kecuali lirik ini, aku tak punya sapu tangan bagi air matamu yang tak habis berlinang. Sampai saat ini aku tak punya cerita untuk melipur lara ataupun kata-kata yang tepat untuk mengucapkan belasungkawa.&lt;br /&gt;Dunia, mari hentikan drama Palestina. Turunkan layar dan akhiri pertunjukan. Cukup pedih mata menangis. Cukup perih hati teriris.&lt;br /&gt;Berakhirlah penderitaanmu, Palestina.&lt;br /&gt;Damai dan sejahtera bagimu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Kaututup Pintumu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sedang engkau renungkan di dalam bilikmu, Kawan? Apakah tak bosan mendekam sendirian? Supaya bisa bertukar kabar denganmu dan bisa saling bertamu, mari kita saling bacakan catatan harian, lalu saling bertanya; apa kabar?&lt;br /&gt;Jangan pintu dan jendela rumahmu rapat kaukunci. Cobalah sekali waktu dibuka, supaya angin segar masuk ke dalam. Lihatlah ke luar, siapa tahu pisang yang dulu masih menghijau, kini telah kuning tandanya matang. Sebaiknya engkau juga tahu, rumput di halaman sudah liar meranggas. Tak sedap dipandang, saatnya dipangkas.&lt;br /&gt;Kesendirian adalah waktu yang tepat untuk munajat. Engkau akan merasa nikmat bila maksudmu hendak berkhalwat. Pikiranmu bisa bebas sebebas-bebas dan emosimu lepas selepas-lepas. Atau, mungkinkah engkau menyepi, mencari inspirasi di dalam sunyi, menunggu esok dengan sendiri? Demikian aku bermungkin. Engkau memilih sendiri, menunggu makhluk bersayap, di tengah malam saat dunia lelap dan matamu nanap, ketika insan terlena sementara engkau bertahan jaga.&lt;br /&gt;Tapi, jangan pintu dan jendela rumahmu rapat kaukunci. Ada baiknya ia kaubuka. Siapa tahu dunia telah berubah warna. Engkau tak gagap bila semua telah bermalih rupa. Ada baiknya kaulihat di luar, siapa tahu anak-anak semakin binal. Kini, bahkan sesama saudara saling berperang. Jangan-jangan engkau juga belum tahu, nilai nyawa semakin tiada harganya. Supaya engkau juga paham, mata dunia kini merah sembab karena air mata.&lt;br /&gt;Jangan kaututup selalu pintu dan jendelamu. Sekali waktu, bukalah ia. Hirup udara segar dan sapalah sekelilingmu; apa kabar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lirik Masa Tua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa hidup terasa sekejap, dan usia habis dalam sesaat. Tahun-tahun berlalu bagai selintas. Semua itu, dalam kesementaraan ini, cuma hinggap, lalu lewat.&lt;br /&gt;Bagi seorang alim, hidup terasa sebentar. Ia ingin hidup lebih lama lagi untuk beribadah dan berbuat kebajikan. Sementara bagi orang yang baru saja siuman dari mabuk dunia, seolah ia baru terjaga dari tidur pulasnya. Sementara maut kian mendekat dan tak sempat terpikir taubat. Bagi orang yang terlena, hidup benar-benar tak pernah benar terasa. Nikmat dan keasyikannya menyelimuti selaput hati, selaput otak, dan selaput mata. Karena itu, hidup tampak selalu segar dan indahnya maha.&lt;br /&gt;Masa tua,&lt;br /&gt;Jangan engkau datang di saat aku belum mengerti rasa asin dan engkau sudah lepas manakala garam di tangan masih segenggam. Kini aku bertanya, adakah nanti aku akan menjadi angkuh dan sangat perasa karena menganggap diri paling kenyang makan asam garam kehidupan, akibatnya lupa pada arah datangnya kebenaran?&lt;br /&gt;Masa tua adalah muara bagi sungai-sungai yang mengalir dari jantung kehidupan. Sebentar kemudian, akan dicapainya laut. Sungai-sungai mengalir ke laut. Begitu pula, hidup mengalir menuju maut.&lt;br /&gt;Ya. Duhai, Masa tua.&lt;br /&gt;Sungai-sungai mengalir ke laut.&lt;br /&gt;Hidup bergulir menuju maut.&lt;br /&gt;Engkaulah muara itu, wahai masa tua; di mana ampas dan saripati dikecap, di mana pengalaman dan kenyataan disesap.&lt;br /&gt;Pada suatu saat nanti, akan datang suatu masa. Itulah masa tua; masa yang mana hidup kian meredup dan usia di ambang maut. Itulah masa yang mana orang­orang akan menyesal; kenapa tak dari dulu beramal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rumah yang Sepi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupku dikungkung hiruk­pikuk, di antara himpitan dinding Kota Benda. Sakit batin, sakit lahir. Maka, kuputuskan pergi untuk mencari sepetak huma yang lain. Hingga akhirnya, kutemukan sebuah padang yang luas dan indah. Tanahnya subur, udaranya segar. Tak teringat lagi berapa tahun panjang perjalanan kutempuh dan berapa lama sudah usia terlewat. Rasa letih dan jemu hilang serta merta begitu kudapati sebuah padang dengan pemandangan memesona. Sedap dipandang mata.&lt;br /&gt;Di salah satu tepinya, aku membangun sebuah rumah kecil. Di atas sebidang tanah dengan halaman dan kebun belakang yang luas. Di tempat yang sepi itu, aku menemukan ketenangan yang benar-benar. Tak ada berisik orang-orang memaki, ataupun bisik-bisik orang-orang memfitnah. Sebab, di sana aku seorang diri.&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian, datanglah orang­orang, satu demi satu, kelompok-kolompok, suku, kafilah, dan imigran. Mereka menjadi tetanggaku. Maka, gaduhlah tempat sunyi itu. Aku tak betah dan akhirnya pindah. Hasratku cuma satu, mencari rumah yang sakinah. Yaitu, tempat yang dapat membebaskanku dari segala gelisah.&lt;br /&gt;Aku pergi melanglang. Mencari tempat yang sepi dan tenang. Tapi, setelah banyak tempat kutemukan, setelah banyak rumah aku huni, setelah banyak tetangga berdampingan, setelah ramai hiruk-pikuk kurasakan, tak ada lagi tempat kudapat, tak ada lagi tujuan kujelang.&lt;br /&gt;Tanpa mengenal putus asa, aku terus mencari tempat yang kudambakan itu. Sebuah tempat yang benar-benar tersembunyi, juga sunyi. Supaya tenang ketika berpikir sehingga nyaman bila berdzikir. Hingga akhirnya kutemukan sebuah rumah mungil yang sepi. Letaknya dekat sekali. Di sudut terkucil di lubuk hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sareyang di Penghujung Zaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di batas akhir pikiran tentang benda, aku melihat lain inti dunia. Kata hati menyebut cinta, namun lain bibir bicara.&lt;br /&gt;Sareyang, engkau berpejam mata di akhir zaman, mendambakan air kesejukan dari kahyangan; air yang dipercikkan para bidadari dari Firdaus dan Taman Aden, jadilah hujan, tumbuhlah rumput. Angin memperkawinkan putik bunga, maka mekarlah kehidupan, berkembanglah dunia. Dan air surgawi itu, tak boleh habis dalam sekejap. Janganlah ia kauteguk tandas. Ingatlah esok hari, siapa tahu kemarau panjang datang kembali.&lt;br /&gt;Di batas akhir pikiran tentang masa, kembali kosong ke purwakala. Di sana, yang hampa jadi bermakna. Teori­teori mencari bukti. Rumus­rumus menyangsikan angka. Sepi bergerak mencari bunyi. Segalanya kemudian kehilangan makna. Segalanya kemudian kembali meraba arti.&lt;br /&gt;Yang dulu dibenci kini dicinta.&lt;br /&gt;Yang dulu dicaci kini dipuja.&lt;br /&gt;Ke mana pergi logika? Rasionalitas dan kenyataan sama­sama mengeluarkan senjata, siap menikam. Inikah akhir sejarah? Kitab hidup sudah selesai dibaca. Kini saatnya mukadimah harus lagi dibuka.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Inilah dunia, dan beginilah permainan itu, Sareyang.&lt;br /&gt;Buka matamu dan tataplah semua benda yang ada di panggung drama ini. Orang-orang berjalan beriringan, susul-menyusul, lalu sikat­menyikat, akal­mengakali. Yang maju memimpin, yang kolot tertinggal. Yang kuat berkuasa, yang lemah menghamba. Pikiran beradu; Timur dan Barat. Agama-agama mencari titik persambungan iman. Paham-paham pun bermunculan; Kiri dan Kanan. Namun, ini zaman sudah cukup kenyang menampung pengalaman, sejarah, dan peristiwa dari masa silam. Maka kelahiranmu ke dunia adalah untuk membaca kembali kitab sejarah umat manusia dan peradabannya, semenjak Adam bertemu Hawa, semenjak Ibrahim menemukan Tuhannya, semenjak Isa diperdebatkan hingga Muhammad lahir menjadi penghabisan.&lt;br /&gt;Dunia adalah roda berputar.&lt;br /&gt;Bila diam akan tergilas.&lt;br /&gt;Engkau berpikir jadilah kendali.&lt;br /&gt;Engkau membaca tahulah kemudi.&lt;br /&gt;Sareyang, engkau lahir di penghujung zaman, saat cahaya-cahaya semakin muram. Ketika benda berkuasa dan gelap melanda, hanya nurani satu-satunya tanju yang menyala di segala cuaca. Maka, dengannya kaubuka pintu hati. Membaca peristiwa, menakar waktu, mencari makna tentang kelahiran, nasib, dan surga. Sesungguhnya, manusia adalah para pelaku utama di dalam maha drama kehidupan.&lt;br /&gt;Yang berpikir akan bebas bergerak.&lt;br /&gt;Yang berdiam akan mati berserak.&lt;br /&gt;Sareyang!&lt;br /&gt;Nasib bukan harga mati dan hidup adalah sebuah permainan. Ubahlah ia pada apa saja kaumau, atau ia akan menjadikanmu apa pun permainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puncak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin engkau pernah mendengar kisah tentang pendakian Edmund Hillary dan Tenzing Norgay yang pertama kali mencapai puncak Himalaya. Aku juga pernah mendengar cerita tentang Neil Armstrong. Kabarnya, dialah manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan. Mereka sama-sama telah tiba di puncak yang berbeda dalam ketinggian, tetapi sama dalam kemauan.&lt;br /&gt;Manusia selalu ingin mencapai suatu puncak tertinggi di dalam hidupnya. Masing­masing mereka memiliki puncak bagi ketinggian maksud dan keinginannya. Bagi pedagang, puncak adalah keuntungan dan kekayaan. Bagi seniman, puncak adalah karya besar. Bagi ilmuwan, puncak adalah penemuan. Dan bagi politikus, puncak adalah pemecahan.&lt;br /&gt;Namun, mereka semua dapat menjadi pencinta; ia yang tak memiliki puncak bagi keinginannya. Karena seorang pencinta yang telah mencapai puncak akan hambar hidupnya. Sebab itu, ia harus terus mendaki tanpa mengenal henti.&lt;br /&gt;Manusia mendambakan kebenaran dengan semangat dan cinta pada suatu alam yang mana ia akan mencapai suatu puncak yang menjadi akhir dari segala keinginan. Untuk itu, mereka harus terus mendaki. Dan pendakian itu akan cukup banyak menguras tenaga dan pikiran. Mereka akan terus berjuang menuju titik akhir yang tidak mereka ketahui kapan, di mana.&lt;br /&gt;Setelah napas terengah, daya habis sama sekali, bekulah darah. Pada akhirnya, sampailah mereka di puncak pendakian. Puncak itu adalah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lirik Kematian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbaring. Dada sesak. Panas sekujur tubuh. Dalam ketakutan yang maha, bagai seorang calon tamu malaikat di dalam kubur, kurasakan kulit pori-pori mengisut. Mata kuyu menunggu maut.&lt;br /&gt;Aku bangkit dari pembaringan. Melawan daya yang tak ada, melawan takut yang membayang. Tak akan pasrah kepada nasib. Tak akan menyerah kepada sakit. Aku tak mau mati. Aku mau tidur dan bangun ketika tak ada lagi penyakit di muka bumi.&lt;br /&gt;Aku tak mau mati!&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan melahirkan berbagai teori, obat, dan penemuan­penemuan di bidang kedokteran yang begitu cemerlang. Dan dengan kecerdasannya, manusia punya alasan untuk hidup abadi dan menolak untuk mati.&lt;br /&gt;Lalu, muncul tanya dalam hati.&lt;br /&gt;Gejala apakah ini? Bagaimana sebenarnya tugas utama ilmu pengetahuan menyelesaikan permasalahan? Bagaimana tugas filsafat mencari persoalan secara mengakar? Adakah agama sudah mempersiapkan jawaban?&lt;br /&gt;Manusia takut mati karena daya pikat dunia. Pesonanya sungguh luar biasa. Hari-hari yang penuh gemerlap, suka-cita, kesenangan, dan gelak tawa. Itulah dunia; rumah paling mewah tempat segala kenikmatan dapat dijumpa. Berhambur dan berdansalah di halamannya. Karena bila ajal tiba, segala impian dan kesenangan akan menjadi percuma.&lt;br /&gt;Setelah lama merenung, aku kembali bertanya; bukankah kematian diciptakan Tuhan untuk membatasi kemampuan ilmu pengetahuan? Bukankah kematian diciptakan Tuhan untuk membatasi nalar karena ia berada di luar batas capai akal?&lt;br /&gt;Dalam renung panjang, tafakur mendalam, bertanya-jawab dengan diri, tentang jiwa abadi, tentang alam semesta, tentang nyawa, hidup di dunia, alam baka, surga dan neraka, aku menemukan kepastian.&lt;br /&gt;”Aku selalu siap pulang kembali ke tanah. Dunia ini hanya tempat sekejap singgah. Tempat melepas suntuk dan sekadar lelah.”&lt;br /&gt;Kini, aku tahu, bahwa kematian diciptakan Tuhan untuk menjelaskan pada manusia, agar dengan akalnya ia berpikir dan dengan hatinya ia merasa, bahwa ada suatu keabadian yang lebih indah daripada kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Munajat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyalakan kembali tanjuku, ya Allah.&lt;br /&gt;Sudah habis damar untuk membakar, sudah tutung sumbu menahun. Tak ada lagi harapan cahaya. Waktu dan cuaca membuat tanju tinggal jelaga. Maka, kegelapan adalah satu-satunya yang kupunya.&lt;br /&gt;Dulu, saat cahayanya masih melimpah, aku pancarkan sinarnya merata ke semua penjuru rumah. Bahkan, membias melewati pintu dan jendela, jatuh di halaman. Pekarangan pun terang-benderang. Kini minyak dan damar begitu sulit kudapat. Mestinya aku menadah pada-Mu; satu-satunya tempat aku meminta. Aku barulah tahu, alangkah kegelapan begitu menyiksa, setelah pergi semua cahaya.&lt;br /&gt;Kini, aku cuma bisa meraba. Hilang arah, hilang tujuan. Rumah tempat aku bernaung dan bilik tempat aku menyepi terasa lebih asing daripada segala penjara dunia. Betapa asing diriku di rumah sendiri, betapa asing diriku di hadapanku sendiri.&lt;br /&gt;Aku ingin menangis, tapi dapatkah air mata menyulap gelap jadi cahaya? Aku menyesal, namun alangkah memalukan. Masa lalu sudah cukup banyak mamberi tamsil dan teladan. Aku hendak bermunajat, tapi apalah artinya bila tanpa seiring taubat.&lt;br /&gt;Nyalakan kembali tanjuku, ya Allah.&lt;br /&gt;Diri memang bejat dan selalu berbuat jahat. Manusia mencari cahaya, tapi menunggu lebih dulu gelap datang melanda. Amal kebajikan sangat terasa berat bila tidak bersama ikhlas.&lt;br /&gt;Di manakah letak cahaya bagi manusia?&lt;br /&gt;Apakah kebaikan memang harus didahului kesalahan dan penyesalan? Apakah Rabi’ah dan Rumi harus lebih dulu meneguk tandas anggur duniawi yang madu di lidah, tapi racun di hati, hingga akhirnya mereka mengecap setetes kautsar-Mu yang membuat mabuk mandam di samudera kasih-Mu? Apakah aku harus lebih dahulu berada jauh di seberang-Mu sebelum akhirnya menjadi pencinta yang tak kenal apa pun selain Kekasihnya?&lt;br /&gt;Kegelapan memang benar-benar menakutkan. Tak ada jalan lain kutuju kecuali Engkau nyalakan kembali tanjuku. Aku tahu Engkau pasti berkenan, hanya saja aku biarkan lampuku padam, memilih gelap daripada terang.&lt;br /&gt;Sejarah telah memberi banyak pelajaran, tetapi aku mengejanya dengan lidah cedal dan terbata-bata. Bahkan, andaipun aku mampu membaca, tapi enggan ketika tengah bermandi cahaya, tak pernah sadar kecuali setelah dirundung malapetaka.&lt;br /&gt;Inikah nasibku? Atau memang begitukah manusia?&lt;br /&gt;Mataku telah lamur, hatiku telah tumpul, sementara beban berjibun haruslah kupikul. Dan sekarang, membaca aku tak dapat, mendengar telinga tersumbat. Kegelapan adalah segala ketakutanku. Aku tak dapat lagi berbuat apa pun sampai Engkau nyalakan lagi tanjuku sebagaimana Engkau nyalakan dahulu semenjak aku masih di rahim ibu.&lt;br /&gt;Nyalakan lagi tanjuku, ya Allah.&lt;br /&gt;Aku pengemis dan Engkau Pemberi.&lt;br /&gt;Aku kegelapan dan Engkau Cahaya.&lt;br /&gt;Aku pengemis yang tidak selamanya menadah.&lt;br /&gt;Tapi, Engkaulah Pemberi yang tak henti mengasihi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6772725323601977866-9085962330683918031?l=m-faizi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://m-faizi.blogspot.com/feeds/9085962330683918031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/01/sareyang.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/9085962330683918031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6772725323601977866/posts/default/9085962330683918031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://m-faizi.blogspot.com/2008/01/sareyang.html' title='Sareyang'/><author><name>M. Faizi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04164259858931820201</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-flDJGFAEX8o/TvQm4AEQUTI/AAAAAAAAAjc/mRmkKhshgjc/s220/Caleg%2BPateros.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry></feed>
